cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 39 No 2 (2021): Juni" : 7 Documents clear
Kanabis dan Penggunaannya dalam Terapi Nyeri Kronis Madonna Damayanthie Datu; Jokevin Prasetyadhi
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.393 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.203

Abstract

Nyeri kronis adalah "nyeri tanpa nilai biologis nyata” yang bertahan hingga lebih dari 3 bulan. Pasien yang menderita nyeri kronis sering kali memiliki penyakit biologis yang tidak dapat dipisahkan dari faktor kognitif, afektif, perilaku, dan sosial sehingga memiliki dampak negatif terhadap kualitas hidup. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan cara penanganan nyeri yang adekuat dengan efek samping seminimal mungkin. Bunga dari tanaman kanabis (Cannabis sativa) telah mulai digunakan sebagai analgesia nyeri kronis, namun efikasinya masih kontroversial. Konstituen utama kanabis seperti delta 9-tetrahydrocannabinol (THC), cannabidiol (CBD), dan cannabinol (CBN) telah diketahui memiliki kontribusi terhadap mekanisme mengurangi nyeri. Sediaan kanabis bervariasi dengan rasio THC/CBD yang berbeda-beda, disertai dengan potensi efek samping pada berbagai sistem organ. Rute pemberian yang paling umum adalah inhalasi dan oral. Walaupun kanabis dapat digunakan sebagai salah satu penanganan nyeri kronis, namun dalam penggunaannya dapat berpotensi disalahgunakan hingga menyebabkan efek psikotik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang baik mengenai farmakologi kanabis agar dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan nyeri kronis.
Efek Efedrin 10 mg atau Ondansetron 4 mg Sebagai Profilaksis Hipotensi Pasca Anestesi Spinal pada Seksio Sesarea: Sebuah Uji Acak Tersamar Tunggal Albertus Magnus Mario Holiwono; Hisbullah; Syamsul Hilal Salam
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1358.017 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.204

Abstract

Latar Belakang: Persalinan melalui Seksio Caesaria (SC) merupakan prosedur operasi yang semakin sering digunakan di negara berkembang saat ini. Hipotensi pasca anestesi spinal pada pembedahan Seksio Sesaria sering terjadi dan dapat menyebabkan gangguan kesadaran dan kolaps kardiovaskular. Efedrin dan Ondansetron telah dilaporkan dapat mencegah hipotensi setelah anestesi spinal. Namun, hingga saat ini masih terdapat kontroversi mengenai penggunaannya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Efedrin atau Ondansetron profilaksis terhadap hipotensi pasca anestesi spinal pada pembedahan Seksio Sesarea. Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar tunggal tiga kelompok, dilakukan pada pasien yang menjalani SC pada bulan Maret hingga Juni 2020 pada RS afiliasi. Kelompok intervensi mendapatkan Efedrin 10mg atau Ondansetron 4mg intravena, dan NaCl 0.9% sebagai pembanding. Pengukuran data hemodinamik (sistol, diastol, MAP, dan laju nadi) dilakukan setiap 2 menit dalam 18 menit pertama dan dilanjutkan setiap 10 menit sampai prosedur pembedahan selesai. Kejadian efek samping mulai dicatat setelah anestesi spinal hingga 24 jam pascabedah. Jumlah rescue dengan Efedrin antar kelompok juga dicatat. Uji t berpasangan dilakukan untuk melihat perbedaan antar waktu. Uji ANOVA dilakukan untuk melihat perbedaan antar kelompok pada unit waktu dengan tingkat kepercayaan 95% Hasil: Penurunan profil diastol dan MAP lebih sedikit pada kelompok Efedrin dan Ondansetron dibandingkan kelompok kontrol. Laju nadi lebih rendah secara umum pada kelompok Efedrin dan Ondansetron. Enam sampel pada kelompok efedrin dan ondansetron, dan sepuluh sampel pada kontrol mendapatkan rescue vasopressor. Total rescue pada kelompok efedrin, odansetron dan kontrol adalah 75mg, 110mg, dan 145mg. Total sampel yang mengalami mual pada kelompok efedrin, ondansentron, dan kotrol adalah 4 sampel, 2 sampel, dan 6 sampel. Simpulan: Pemberian Efedrin 10mg atau Ondansetron 4mg profilaksis mengurangi hipotensi pasca spinal, mengurangi kebutuhan rescue terutama pada pemberian Efedrin, dan mengurangi kejadian mual muntah terutama pada pemberian Ondansetron.
Comparison of C-MAC® Video Laryngoscope and Macintosh Conventional Laryngoscope for Nasotracheal Intubation Convenience in Adult Malay Race Population Aldy Heriwardito; Rahendra; Ananto Wiji Wicaksono
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.923 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.209

Abstract

Background: Nasotracheal intubation is a widely used airway management method, especially in oral surgeries. Various devices were found to perform intubation techniques, such as video laryngoscopes. C-MAC® video laryngoscope enables better glottis visualization compared to the Machintosh conventional laryngoscope. C-MAC® demonstrates higher success rates of orotracheal intubation especially in difficult airway cases. However, this device has not been commonly used in nasotracheal intubation yet. Methods: A single blinded randomized clinical trial study of 86 subjects were done to compare the use of C-MAC® video laryngoscope and Macintosh conventional laryngoscope with reference to their success rates of intubation and duration of nasotracheal intubation in adult Malay patients. Patients with difficult airway, pregnancy, acute ischemic heart disease, heart failure, second- or third-degree block, uncontrolled hypertension, Guillen Barre syndrome, Myasthenia Gravis, and contraindications to nasotracheal intubation were excluded. Results: C-MAC® demonstrated a higher success rate at first attempt of intubation (RR 1,265, 95% CI (1,084-1,475)) and required a shorter duration of intubation (p value <0.001) compared to the Macintosh conventional laryngoscopes in adult Malay. Conclusion: In adult Malay patients, nasotracheal intubation is better performed with the C-MAC® video laryngoscope compared to the Macintosh conventional laryngoscope. High rate of successful first attempt and shorter duration of the process indicate more convenient and easier intubation.
Prediksi Kesulitan Penempatan Jarum Spinal Berdasarkan Gambaran Radiologis dan Penanda Anatomis pada Pasien Bedah Urologi Adhrie Sugiarto; Madeline Marpaung
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.976 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.215

Abstract

Latar belakang: Penyuntikan berulang pada prosedur anestesi spinal berkaitan dengan tingginya angka komplikasi dan ketidaknyamanan pasien. Sistem prediksi pra-operatif yang akurat terhadap kesulitan penempatan jarum spinal dapat mengurangi insiden penyuntikan berulang sehingga mengurangi risiko komplikasi pada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan memprediksi kesulitan penempatan jarum spinal berdasarkan gambaran radiologis dan penanda anatomis pada pasien bedah urologi. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik terhadap pasien bedah urologi yang menjalani anestesi spinal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada bulan April-Mei 2015. Sebanyak 109 subjek diambil dengan metode consecutive sampling. Data pasien (usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, status fisik, gambaran radiologis vertebra lumbal, dan kualitas penanda anatomis tulang belakang), jumlah penusukan kulit, dan re-direksi jarum spinal, serta angka kesulitan penempatan jarum spinal dicatat. Kesulitan penempatan jarum spinal ditentukan berdasarkan jumlah penusukan kulit dan re-direksi jarum spinal. Variabel yang signifikan ditentukan melalui uji Pearson’s Chi-square dan uji Fisher, kemudian dilanjutkan analisis multivariat dengan metode regresi logistik untuk melihat hubungan antara kesulitan penempatan jarum spinal dengan variabel-variabel yang signifikan. Hasil: Faktor usia memiliki hubungan yang bermakna pada analisis bivariat (p=0,028). Kualitas penanda anatomis dan gambaran radiologis vertebra lumbal memiliki nilai prediksi terhadap kesulitan penempatan jarum spinal (p=0,000 dan p=0,006). Hasil uji kalibrasi menunjukkan kualitas prediksi yang baik. Dari uji diskriminasi didapatkan AUC sebesar 0,84 (IK 95% 0,751-0,929). Simpulan: Kualitas penanda anatomis dan gambaran radiologis vertebra lumbal mampu memprediksi kesulitan penempatan jarum spinal dengan tepat pada pasien bedah urologi.
Hubungan Waktu Intubasi terhadap Tingkat Mortalitas Pasien dengan COVID-19 Berat: Sebuah Tinjauan Sistematis Riyadh Firdaus; Sandy Theresia; Ryan Austin; Rani Tiara
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.547 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.223

Abstract

Pendahuluan. Severe acute respiratory syndrome coronaviruses 2 (SARS-CoV-2) yang dikenal dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19) mulai menginfeksi manusia pada akhir tahun 2019. Orang yang terinfeksi dapat menunjukkan keadaan asimtomatik hingga keadaan mengancam nyawa. Keadaan acute respiratory distress syndrome (ARDS) merupakan kondisi berat pada infeksi COVID-19 yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, di antaranya adalah pertimbangan untuk dilakukan intubasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan hubungan waktu dilakukannya intubasi terhadap tingkat mortalitas dari pasien COVID-19 yang terintubasi. Metode. Penelitian tinjauan sistematik ini dibuat berdasarkan panduan PRISMA-P. Data dikumpulkan dari basis data Pubmed, Cochrane Library, dan ProQuest dengan kriteria inklusi berupa penelitian randomized control trial dan studi kohort yang meneliti tindakan intubasi pada pasien dengan COVID-19. Dari sebanyak sebanyak 8.297, didapatkan 3 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada tinjauan literatur. Hasil. Dari ketiga literatur yang kami lakukan analisis, didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai kapan dilakukannya intubasi dengan angka kejadian mortalitas pasien COVID-19. Baik pada intubasi yang dilakukan lebih awal ataupun pada intubasi yang lebih lambat. Karakteristik pasien usia tua dan memiliki komorbiditas dapat memperburuk keadaan yang membuat angka mortalitas pada kelompok tersebut lebih tinggi. Kesimpulan. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, intubasi lebih awal (<8 jam) tidak menurunkan angka mortalitas pada pasien COVID-19, sehingga masih diperlukan penelitian lebih lanjut terkait faktor prediktif lainnya.
Perbandingan Efektivitas Penggunaan Vibration Anesthesia Device (VAD) dengan Krim Campuran Eutektik (EMLA) dalam Mengurangi Nyeri Pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) Anas Alatas; Irfan Meison Hadi; Eddy Harijanto
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.777 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.225

Abstract

Latar Belakang: Pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC) merupakan salah satu prosedur invasif terbanyak yang dilakukan di rumah sakit dan sering menyebabkan rasa nyeri pada pasien. Berbagai cara diterapkan dalam mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan saat pemasangan PIVC, antara lain dengan penggunaan Vibration Anesthesia Device (VAD) dan krim campuran eutektik (EMLA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas VAD dibandingkan dengan pemberian EMLA untuk mengurangi nyeri pada saat pemasangan PIVC. Metode: Penelitian ini adalah uji eksperimental tidak tersamar pada pasien yang akan direncanakan menjalani pembedahan mata di kamar operasi Kirana RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo selama bulan September – Oktober 2018. Sebanyak 56 subjek diambil dengan metode consecutive sampling dan dibagi ke dalam 2 kelompok. Pasien secara acak dilakukan pemasangan PIVC dengan bantuan Vibration Anesthesia Device (VAD) atau dengan krim campuran eutektik (EMLA). Keefektifan akan dinilai dari skala nyeri visual analog scale (VAS) dan perbedaan frekuensi nadi sebelum dan sesudah dilakukan tindakan. Analisis data dilakukan dengan uji T dan Mann Whitney. Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna dalam skala VAS yang dilaporkan oleh subjek dari kelompok VAD 13.65 (10.25 -18.17) dan EMLA 12.57 (8.97 – 17.61) dengan nilai p=0.706. Perubahan frekuensi nadi antara kedua kelompok tidak menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p=0,557). Didapatkan peningkatan frekuensi nadi yang lebih tinggi pada kelompok VAD 2 (-3 – 19) dibandingkan kelompok EMLA 2 (-3 – 16). Simpulan: VAD sama efektif dibandingkan dengan EMLA dalam mengurangi nyeri pada pemasangan Peripheral Intravenous Catheter (PIVC).
Video Laryngoscope: To Be or Not (Yet) To Be Used? Mayang Indah Lestari
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 39 No 2 (2021): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.032 KB) | DOI: 10.55497/majanestcricar.v39i2.231

Abstract

In the June/July issue of MACC magazine, an article titled “Comparison of C-MAC® video laryngoscope and Macintosh conventional laryngoscope for nasotracheal intubation convenience in adult Malay race population”, wishes to present to readers, specifically anaesthesiologists, three main points. First, the authors show their outstanding contribution to anaesthesiology research and intensive therapy in Indonesia, particularly regarding airway management. On this occasion, the authors explicitly want to show a comparison of convenience between video laryngoscopes and conventional laryngoscopes in adults, which in reality has not been widely studied.

Page 1 of 1 | Total Record : 7