cover
Contact Name
Bangkit Ary Pratama
Contact Email
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Phone
+6285326333050
Journal Mail Official
ijms@poltekkesbhaktimulia.ac.id
Editorial Address
Kompleks Perkantoran Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia Jalan Raya Solo-Sukoharjo Km.09 Dukuh Ngepeng, Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah Kode Pos 57527
Location
Kab. sukoharjo,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS)
ISSN : -     EISSN : 26230038     DOI : https://doi.org/10.55181/ijms
Core Subject : Health, Engineering,
Indonesian Journal on Medical Science (IJMS) (https://doi.org/10.55181/ijms) terbit pertama Vol. 1 No.1 Januari 2014. Setiap edisi terdiri dari kurang lebih 100 halaman, yang artikelnya disajikan dalam bahasa Indonesia, kecuali judul dan abstrak disertai dengan bahasa inggris. Mekanisme peer-reviewer dilakukan dengan cara setiap artikel yang diajukan harus direview oleh dua reviewer yang ditunjuk oleh editor. Fokus dan Lingkup : IJMS adalah jurnal terbitan berkala nasional yang memuat artikel penelitian (research article) dibidang kesehatan. IJMS : Jurnal kesehatan diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovas ilmiah dibidang kesehatan kepada para praktisi dan akademisi di bidang kesehatan. IJMS merupakan jurnal peer reveiwer dan open acces journal yang berfokus pada kesehatan. Fokus ini meliputi daerah dan ruang lingkup yang terkait Keperawatan Kebidanan Fisioterapi Farmasi Gizi Masyarakat Kesehatan Masyarakat
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020" : 15 Documents clear
Uji Daya Analgetik Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona Muricata L) Terhadap Mencit Jantan Galur Swiss Anom Parmadi; Novi Indah Aderita; Widy Septianingsih - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.217 KB)

Abstract

Abstract: One of the traditional plants used as painkillers or analgesics is soursop leaves because of the content of the alkaloid chemical, tannins. Pain is a disturbing and uncomfortable condition for the sufferer, but pain can be used as a sign of tissue damage. Pain caused by mechanical, chemical or physical stimuli (heat, electricity) can cause tissue damage. This study aims to determine the effect of soursop leaf ethanol extract as an analgesic and prove that soursop leaf ethanol extract can reduce the amount of stretching in mice induced with acetic acid. This research is an experimental research. With variations in the ethanol extract of soursop (Annona muricata L.) leaves in mice. The analysis was carried out by observing organoleptic extracts and the amount of stretching caused after acetic acid induction and% analgesic power. Data analysis techniques using the ANOVA one-way test with the help of the SPSS program. The ethanol extract of Soursop leaves has analgesic effect. The results of the Post Hoc Test (LSD) analysis between positive control (acetosal) 65 mg / kgBW, Soursop leaf extract 1.5 g / kgBW, 3 g / kgBW showed significant values 0.0001 <from 0.05 and soursop leaf extract 6 g / kgBB shows a significant value of 0.019 <0.05 which means that there are significant differences between treatment groups. The results of the increase in the analgesic effect on soursop leaf extract dose of 1.5 g / kgBB 14.38%, dose of 3g / kgBB 20.8%, dose of 6g / kgBB 30.16%.Keyword : Ethanol Extract Soursop Leaves, Analgesic Power, Mice. Abstrak: Salah satu tanaman tradisional yang dimanfaatkan sebagai antinyeri atau analgetik adalah daun sirsak karena kandungan zat kimia alkaloid, tanin. Nyeri merupakan keadaan yang menganggu dan tidak nyaman bagi penderita nya, namun nyeri dapat digunakan sebagai tanda adanya kerusakan jaringan. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis (kalor, listrik) dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak etanol daun sirsak sebagai analgetik serta membuktikan bahwa ekstrak etanol daun sirsak dapat mengurangi jumlah geliat pada mencit yang diinduksi dengan asam asetat. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Dengan variasi dosis ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) pada mencit. Analisis dilakukan dengan  mengamati organoleptis ekstrak dan jumlah geliat yang ditimbulkan setelah diinduksi asam asetat serta % daya analgetik. Teknik analisis data mengunakan uji one-way ANOVA dengan bantuan program SPSS. Ekstrak etanol daun Sirsak memiliki efek analgetik. Hasil dari analisis Post Hoc Test (LSD) antara kontrol positif (asetosal) 65 mg/kgBB, Ekstrak daun sirsak 1,5 g/kgBB, 3 g/kgBB menunjukan nilai signifikan 0,0001 < dari 0,05 dan ekstrak daun sirsak 6 g/kgBB menunjukan nilai signifikan 0,019 < 0,05 yang berarti menunjukan ada perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan. Hasil presentase kenaikan efek analgetik pada ekstrak daun sirsak dosis 1,5 g/kgBB 14,38%, dosis 3 g/kgBB 20,8%, dosis 6 g/kgBB 30,16%.Kata kunci : Ekstrak Etanol Daun Sirsak, Daya Analgetik, Mencit
Hubungan Ketepatan Terminologi Medis Terhadap Keakuratan Kode Diagnosis Pasien Rujukan Berdasarkan ICD-10 Di Puskesmas Baki Sukoharjo Triwulan IV Tahun 2019 Bangkit Ary Pratama - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.089 KB)

Abstract

Abstract: The use of medical terminology is also one of the important things in supporting codingfication because it is a means of communication between medical professions, in writing a diagnosis must be in accordance with the correct terminology that is based on ICD-10. The purpose of this study was to determine the relationship between the accuracy of medical terminology and the accuracy of diagnosis codes for referral patients based on ICD-10 in Puskesmas Baki Sukoharjo in the fourth quarter of 2019. This type of research was analytic with a sample of 94 and a population of 1615 forms. The research instrument used observation guidelines, interviews and ICD-10 books. The results showed from a sample of 94 diagnoses and their codes, there were 27 (29%) precise terminology and 67 (71%) incorrect terminology, and an accurate outpatient diagnosis code of 24 (26%) and an inaccurate outpatient diagnosis code of 70 (74%) code. From the Chi-Square Test statistic, the p-value was 0.022. The conclusion of this study is that there is a relationship between the accuracy of medical terminology with the accuracy of the diagnosis code for referral patients based on ICD-10 in Puskesmas Baki Sukoharjo in the fourth quarter of 2019.Keyword: accuracy, medical terminology, accuracy, diagnosis code, ICD-10 Abstrak: Penggunaan terminologi medis juga menjadi salah satu hal penting dalam menunjang kodefikasi karena merupakan sarana komunikasi antar profesi medis, dalam penulisan diagnosis harus sesuai terminologi yang benar yaitu berdasarkan ICD-10. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ketepatan terminologi medis terhadap keakuratan kode diagnosis pasien rujukan berdasarkan ICD-10 di Puskesmas Baki Sukoharjo triwulan IV tahun 2019. Jenis penelitian adalah analitik dengan sampel sebanyak 94 dan populasi yaitu 1615 formulir. Instrumen penelitian dengan menggunakan pedoman observasi,wawancara dan buku ICD-10. Hasil penelitian menunjukkan dari sampel sebanyak 94 diagnosis serta kodenya, terdapat 27 (29%) terminologi tepat dan 67 (71%) terminologi tidak tepat, serta kode diagnosis rawat jalan akurat sebanyak 24 (26%) dan kode diagnosis rawat jalan tidak akurat sebanyak 70 (74%)  kode. Dari hasil uji statistik Chi-Square Test, diperoleh nilai p-value sebesar 0,022. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ketepatan terminologi medis dengan keakuratan kode diagnosis pasien rujukan berdasarkan ICD-10 di Puskesmas Baki Sukoharjo triwulan IV tahun 2019.Kata kunci:  ketepatan, terminologi medis, keakuratan, kode diagnosis, ICD-10
Daya Anthelmintik Ekstrak Etanol Daun Andong (Cordyline Fruticosa) Terhadap Cacing Gelang Ayam (Ascardia Galli) Secara In Vitro Umu Chabibah; Siwi Hastuti - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.53 KB)

Abstract

Abstract: Andong leaves (Cordyline fruticose) contain phenol compounds, flavonoids, saponins, tannins, sesquiterpenes, and triterpenoids. The content of these compounds is thought to kill worms. The number of chicken roundworms used was 8 worms per treatment group. In this study there were 1 negative control (0.1 ml DMSO + NaCl 0.9% solvent), 1 positive control (5 ml pyrantel pamoate + 0.1 ml DMSO + 0.9% Nacl solvent), and 10 series of dose dilution, 1 gram of ethanol extract of andong leaves + 0.1 ml DMSO and diluted with 0.9% NaCl, counted the number of chicken worms that died during 24 hours of treatment then calculated the percentage of death by probit analysis using SPSS 16.0 for windows to determine the LC50 value of andong leaf extract. This research uses maceration method with the weight of 24.83 gram thick extract and the obtained obtained is 12.415% w / w. The results of the control (+) worm death time for each group (8 tails) were 8 hours, for control (-) worm death time in each group (8 tails) which was 18 hours, the results of the dose dilution series showed that for a concentration of 100 mg / ml (initial dose) causes the highest percentage of worm deaths, for a concentration of 0.1953125 mg / ml causes the lowest percentage of worm deaths. It can be concluded that the higher concentration of extract can cause high number of deaths in worms. The results of this study were analyzed using SPSS 16.0 for windows showing the LC50 was 19,248 mg / ml.Keywords: Cordyline fruticosa, anthelmintic power test, in vitro method, Ascardia galli. Abstrak: Daun andong (Cordyline fruticosa) mengandung senyawa Fenol, Flavonoid, Saponin, Tanin, Seskuiterpen, dan Triterpenoid. Dari kandungan senyawa tersebut diduga dapat membunuh cacing. Jumlah cacing gelang ayam yang digunakan adalah 8 ekor cacing tiap kelompok perlakuan. Pada penelitian ini terdapat 1 kontrol negatif (0,1 ml pelarut DMSO + NaCl 0,9%), 1 kontrol positif (5ml pirantel pamoat + 0,1 ml pelarut DMSO + 0,9% Nacl), dan 10 seri pengenceran dosis, 1 gram ekstrak etanol daun andong+ 0,1 ml DMSO dan dilakukan pengenceran dengan NaCl 0,9%, menghitung jumlah cacing ayam yang mati selama 24 jam perlakuan kemudian dihitung persentase kematiannya dengan analisis probit menggunakan SPSS 16.0 for windows untuk menentukan nilai LC50 ekstrak daun andong. Penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan berat ekstrak kental 24,83 gram dan randemen yang didapat yaitu 12,415 % b/b. Hasil penelitian dari kontrol (+) waktu kematian cacing setiap kelompok (8 ekor) yaitu 8 jam, untuk kontrol (-) waktu kematian cacing pada setiap kelompok (8 ekor) yaitu 18 jam, Hasil dari seri pengenceran dosis menunjukan bahwa untuk konsentrasi 100mg/ml (dosis awal) menyebabkan prosentasi kematian tertinggi pada cacing, untuk konsentrasi 0,1953125 mg/ml menyebabkan prosentase kematian cacing dengan angka terendah. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak dapat menyebabkan kematian dengan jumlah tinggi pada cacing. Hasil penelitian ini dianalisis menggunakan SPSS 16.0 for windows  menunjukan LC50  adalah 19,248 mg/mlKata kunci : Cordyline fruticosa, uji daya anthelmintik, metode in vitro, Ascardia galli.
Pijat Kaki Dan Pisang Ambon Atasi Masalah Perilaku Mencari Pertolongan Kesehatan Pada Keluarga Hipertensi Noviyanti Savitri; Tutik Yuliyanti - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.603 KB)

Abstract

Abstract: Lack of community knowledge about the treatment of hypertension results in families making behavioral efforts seeking health help. One effort to utilize health services to improve the level of health with non-pharmacological treatment is foot massage therapy and consumption of ambon bananas. This study aims to describe the management of foot massage and administration of ambon bananas with behavioral problems seeking health help in families with hypertension. This type of descriptive research using a nursing process approach, the method of collecting research subjects with Purposive Sampling was conducted on 5 subjects. The assessment obtained historical data of having hypertension since 3 years, rarely checking blood pressure unless you feel dizziness that is unbearable, have not been able to increase the degree of health higher, lack of understanding about the disease, have difficulty sleeping at night and feel heavy in the neck, dizziness, still consume excess salt and goat meat, lazy to exercise, stress the disease is sustainable, like drinking coffee and smoking. TTV: average BP: 150 / 100-90 mmHg, pulse: 80-100 times / minute, respiration: 16-24 times/ minute, temperature: 36.50-37.50C. Nursing problems in managing health care seeking behavior are related to lack of knowledge about health care. Nursing plan with foot massage therapy and ambon banana. Nursing measures to assess the improvement of health status, observing TTV, foot massage and giving ambon bananas. The results after foot massage for 6 visits for 2 weeks and giving ambon bananas for 5 consecutive days the behavior problems seeking health help was resolved. Conclusion: the act of foot massage and giving ambon bananas to the family can reduce high blood pressure.Keywords: Therapy of foot massage, Ambon banana, health seeking behavior, hypertension Abstrak: Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang perawatan hipertensi berakibat keluarga melakukan upaya perilaku mencari pertolongan kesehatan. Salah satu upaya pemanfaatan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajad kesehatan dengan pengobatan non farmakologis yaitu terapi pijat kaki dan komsumsi pisang ambon. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penatalaksanaan pijat  kaki dan pemberian pisang ambon dengan masalah perilaku mencari pertolongan kesehatan pada keluarga yang mengalami hipertensi. Jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, metode pengambilan data subjek penelitian dengan Purposive Sampling dilakukan terhadap 5 subjek. Pengkajian didapatkan data riwayat mengalami hipertensi sejak 3 tahun, jarang memeriksakan tekanan darah kecuali jika merasakan pusing yang tidak tertahankan, belum dapat meningkatkan derajat kesehatan yang lebih tinggi, kurang mengerti tentang penyakitnya, mengalami sulit tidur pada malam hari dan terasa berat di tengkuk, pusing, masih mengkonsumsi garam berlebih dan daging kambing,  malas untuk berolahraga, stres penyakitnya berkelanjutan, suka minum kopi dan merokok. TTV : TD rata – rata  : 150/100-90 mmHg,  nadi : 80-100 kali/menit, respirasi : 16-24 kali/menit, suhu: 36,50- 37,50C. Masalah keperawatan penatalaksanaan perilaku mencari pertolongan kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan terhadap  perawatan kesehatan. Rencana keperawatan dengan terapi pijat kaki dan pemberian pisang ambon. Tindakan keperawatan melakukan pengkajian terhadap peningkatan derajad kesehatan, mengobservasi TTV,melakukan pijat kaki dan pemberian pisang ambon. Hasil setelah dilakukan pijat kaki selama 6 kali kunjungan selama 2 minggu  dan pemberian pisang ambon selama 5 hari secara berturut-turut masalah perilaku mencari pertolongan kesehatan teratasi.Simpulan: tindakan pijat kaki dan pemberian pisang ambon pada keluarga dapat menurunkan tekanan darah tinggi.Kata kunci : Terapi pijat kaki, pisang ambon, perilaku mencari pertolongan kesehatan, hipertensi
Konseling Parenting Sebagai Upaya Menurunkan Kejadian Gangguan Psikologis Post Partum Surati Ningsih - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.862 KB)

Abstract

Abstract : Primipara have tendency experience of the post partum psychology problems, because limitted knowledge abaut  parenting. 50% of post partum have tendency to be post [artum blues and still be uncared by midwife. This study aimed to know the difference of Postpartum psychological disorders in intervention and control group.This was a randomized controlled trial with posttest-only control group design conducted at BPM Sri Rahayu Singkil Boyolali. A sample of postpartum mothers with gestational age ≥ 37 weeks was selected for this study by simple random sampling. The data on postpartum psychologi-cal disorder was measured by Edinburgh Postnatal Depression Scale and tested by in-dependent t-test. Result : Postpartum psychological disorders was lower in intervention group than control group and it was statistically significant (p = 0,01). Conclusion: Counseling of parenting is effective to reduce post partum psychological disorderKeywords :counseling, parenting, post partum psychological disorder Abstrak : Primipara mempuyai kesenderungan mengalami gangguan psikologis post partumdikarenakan kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi peran barunya sebagai orang tua. 50% ibu post partum mempunyai kecenderungan mengalami post partum blues dan hal ini masih terabaikan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kejadian ganguan psikologis post partum pada kelompok perlakuan (dengan konseling parenting) dan kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan post tes-only control group design. Subyek penelitian adalah primigravida dengan umur kehmilan ≥ 37 minggu di BPM Sri Rahayu Singkil Boyolali dengan menggunakan simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar EPDS (Edinburgh Postnatal Depression Scale) dan analisis data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian ganguan psikologis post partum pada kelompok perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol. Analisis menggunakan independent sampe t-test didapatkan nilai p = 0,01. Kesimpulan : konseling parenting efektif menurunkan kejadian ganguan psikologis post partum. Kata kunci : Konseling, Parenting, Gangguan Psikologis Post Partum
Kelengkapan Informed Consent Pada Pasien Operasi Hernia Ditinjau Dari Aspek Hukum Di RSUD Wonogiri Bekti Suharto; Labib Muttaqin - Universitas Muhammadiyah Surakarta; Niken Ambarwati - Poltekkes Bhakti Mulia
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.448 KB)

Abstract

Abstract : Approval of Medical Action (informed consent) is an agreement given by the patient or immediate family after getting a full explanation of the Medical Actions to be performed on the patient. The information contained in the Medical Action Form (informed consent) must be clear and complete. This study aims to determine the completeness of filling the Medical Action Form (informed consent) in hernia surgery patients in terms of the legal aspects of the Regional General Hospital (RGH) dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. This type of research is descriptive research using observation and interview methods, and using a retrospective approach. The results showed that of the 70 medical record documents in hernia surgery patients that had been analyzed were all incomplete. The highest incompleteness in the patient's identity reaches 100% and the lowest item in the type of information is the alternative items and risks there are 81.43% or 57 informed consent forms. This happens because of the weak coordination between the medical records officer and other units, especially doctors and nurses.Keyword: informed consent, legal aspects, health workers, patients.Abstrak : Persetujuan Tindakan Kedokteran (informed consent) merupakan suatu persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai Tindakan Kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien. Informasi yang terkandung dalam Formulir Tindakan Kedokteran (informed consent) harus jelas dan lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan pengisian Formulir Tindakan Kedokteran (informed consent) pada pasien operasi hernia di tinjau dari aspek hukum di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode observasi dan wawancara, serta menggunakan pendekatan retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 dokumen rekam medis pada pasien operasi hernia yang telah dianalisis seluruhnya belum lengkap. Ketidaklengkapan tertinggi pada identitas pasien mencapai 100% dan item terendah pada jenis informasi yaitu butir alternatif dan risiko terdapat 81,43% atau 57 formulir Persetujuan Tindakan Kedokteran (informed consent). Hal ini terjadi karena lemahnya koordinasi antara petugas rekam medis dengan unit lain khususnya dokter dan perawat.Keyword: informed consent, aspek hukum, tenaga kesehatan, pasien.
Pola Peresepan Pada Pasien Hepatitis B Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten Tahun 2019 Fredika Ayu Syahputri; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.622 KB)

Abstract

Abstract : Hepatitis B attacks all ages and races throughout the world. Hepatitis B can attack with or without hepatitis symptoms. The high rate of hepatitis B infection and the death rate due to cirrhosis and hepatocellular carcinoma can be attributed to the low success rate of therapy for hepatitis B patients. This study aims to determine the characteristics and prescribing patterns in hepatitis B patients in RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten by looking at medical record data. This research is a non-experimental descriptive study using retrospective data collection techniques. Data was collected in January-December 2019. The results of the study were described descriptively and presented in tabular / percentage form. The most cases are patients aged 46-55 years as much as 28.26%, the most sex is male as much as 60.87% where the most accompanying disease is liver cirrhosis. The highest number of sucralfate gastrointestinal drugs use is 12.65%, the most central nervous system drugs are ondansetron as much as 7.35%, the most analgesic drugs are paracetamol as much as 6.12%, the most hepatoprotector drugs are curcuma as much as 22.45%, the most antiviral drugs are tenovofir 10.61%.Keyword : Hepatitis B, prescribing patterns, antiviral Abstrak : Hepatitis B menyerang semua umur dan ras di seluruh dunia. Hepatitis B dapat menyerang dengan atau tanpa gejala hepatitis. Tingginya angka infeksi hepatitis B serta angka kematian dikarenakan sirosis dan hepatoselular karsinoma dapat dikaitkan dengan rendahnya angka keberhasilan terapi pasien hepatitis B. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pola peresepan pada pasien hepatitis B di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan melihat data rekam medik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non eksperimental menggunakan teknik pengumpulan data secata retrospektif. Pengambilan data dilakukan bulan Januari-Desember 2019. Hasil penelitian digambarkan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel/persentase. Kasus terbanyak adalah pasien berusia 46-55 tahun sebanyak 28,26%, jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki sebanyak 60,87% di mana penyakit penyerta terbanyak yaitu sirosis hati. Penggunaan Obat saluran cerna terbanyak sucralfat sebanyak 12,65% ,obat sistem syaraf pusat terbanyak ondansetron sebanyak 7,35%, obat analgesik yang terbanyak paracetamol sebanyak 6,12%, Obat hepatoprotektor terbanyak adalah curcuma sebanyak 22,45%, obat antivirus terbanyak tenovofir 10,61%.Kata Kunci : Hepatitis B, pola peresepan, antivirus
Pola Penggunaan Obat Pada Pasien Hepatitis B Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Sarila Husada Sragen Tahun 2019 Heni Widihastuti; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.449 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B is a liver infection disease caused by the hepatitis B virus where this virus can cause acute and chronic diseases. This study aims to determine the description of drug use in hepatitis B patients hospitalized at Sarila Husada Sragen General Hospital in 2019. This study is a non-experimental study conducted retrospectively and analyzed descriptively. Study population 95 sheets of medical records 75 study samples were taken using non propability sampling techniques. The sample of this study included: hepatitis B patients who had complete medical record data containing at least the age, sex, type of health care guarantee, diagnosis, there were positive HBsAg laboratory results. The results showed the characteristics of patients by age the most age 56-65 years 31%, the characteristics of patients by sex the most males 57.33%, the characteristics of patients based on the type of health care insurance the most BPJS 53, 33%, the characteristics of patients based on the diagnosis of hepatitis B with or without other diseases most are with other diseases 100%, the percentage based on the most widely used drugs are Curcumin 13.56%, ondansentron 13.27%, ranitidine 8.67%, Echinaceae 4.88%, paracetamol and metamizole respectively 4.61%, spironolactone 3.52%, liver aminophyte 1.63%, lamivudine 0.54%.Keywords: Hepatitis B, Pattern of use medicine, Sarila Husada HospitalAbstrak: Hepatitis B adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B di mana virus ini dapat menyebabkan penyakit akut dan kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat pada pasien hepatitis B rawat inap di RSU Sarila Husada Sragen tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Populasi penelitian 95 lembar rekam  medis jumlah sampel penelitian 75 yang diambil dengan menggunakan teknik non propability sampling. Sampel penelitian ini meliputi: pasien hepatitis B yang memiliki data rekam medik lengkap minimal memuat data umur, jenis kelamin, jenis jaminan pelayanan kesehatan, diagnosis, ada hasil laboratorium HbsAg positif. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pasien berdasarkan umur yang paling banyak adalah umur 56-65 tahun 31%, karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak adalah laki-laki 57,33%, karakteristik pasien berdasarkan jenis jaminan pelayanan kesehatan yang paling banyak adalah BPJS 53,33%, karakteristik pasien berdasarkan diagnosis hepatitis B dengan atau tanpa penyakit lainya yang paling banyak adalah dengan penyakit lainya 100%, persentase berdasarkan obat yang paling banyak digunakan adalah Curcumin 13,56%, ondansentron 13,27%, ranitidin 8,67%, Echinaceae 4,88%, parasetamol dan metamizole masing-masing 4,61%, spironolacton 3,52%, aminofusin hepar 1,63%, lamivudin 0,54%.Kata Kunci: Hepatitis B, Pola Penggunaan Obat, RS Sarila Husada
Pola Pengobatan Hepatitis B Pada Pasien Rawat Inap di RS Brayat Minulya Surakarta Tahun 2019 Hartini Hartini; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.496 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis B is a major global health problem. This can cause chronic infections and put people at high risk of death from cirrhosis and liver cancer. This study aims to determine the characteristics and patterns of hepatitis B treatment in inpatients at Brayat Minulya Hospital Surakarta. This research is a non-experimental research conducted retrospectively and analyzed descriptively. This study was conducted on 44 medical records of patients diagnosed with hepatitis B. The results showed that the age group of 46-55 years had the highest percentage of hepatitis B infected as many as 12 patients (27.27%), based on the gender of hepatitis B disease, more suffered by male patients. 23 patients (52.27%). Based on the diagnosis of patients (with or without other diseases) more dominated by hepatitis B patients with other diseases tumors or lumps as many as 8 patients (18.18%). Percentage based on the use of drugs that are widely used are hepatoprotector drugs (curcumin) as many as 19 patients (13.87%), gastrointestinal drugs anti-ulcer groups (ranitidine) as many as 18 patients (13.14%), central nervous system drugs of nausea and vertigo (ondancetron) as many as 31 patients (22.63%), and analgesic drugs (paracetamol) as many as 15 patients (10.94%).Keywords: Hepatitis B, Treatment Pattern, Brayat Minulya Hospital Abstrak: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan global utama. Ini dapat menyebabkan infeksi kronis dan menempatkan orang pada risiko tinggi kematian akibat sirosis dan kanker hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan pola pengobatan hepatitis B pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang dilakukan secara retrospektif dan dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini dilakukan terhadap 44 catatan rekam medik pasien yang didiagnosis hepatitis B. Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia 46-55 tahun memiliki persentase tertinggi terinfeksi hepatitis B sebanyak 12 penderita (27,27%), berdasarkan jenis kelamin penyakit hepatitis B lebih banyak diderita pasien laki-laki sebanyak 23 penderita (52,27%). Berdasarkan diagnosis pasien (dengan atau tanpa penyakit lain) lebih didominasi oleh pasien hepatitis B dengan penyakit lain tumor atau benjolan sebanyak 8 pasien (18,18%). Persentase berdasarkan penggunaan obat yang banyak  digunakan yaitu obat hepatoprotektor (curcumin) sebanyak 19 pasien (13,87%), obat saluran cerna golongan anti tukak (ranitidin) sebanyak 18 pasien (13,14%), obat sistem saraf pusat golongan mual dan vertigo (ondancetron) sebanyak 31 pasien (22,63%), dan obat analgesik (paracetamol) sebanyak 15 pasien (10,94%).Kata kunci : Hepatitis B, Pola Pengobatan, RS Brayat Minulya
Gambaran Pengetahuan Pasien Tentang Hepatitis Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Henni Tri Hayati; Lusia Murtisiwi - Prodi Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional, Surakarta
Indonesian Journal on Medical Science Vol 7 No 2 (2020): IJMS 2020
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Bhakti Mulial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.016 KB)

Abstract

Abstract: Hepatitis is a process of liver disease that affects the lung parenchyma, buffer cells, bile ducts and blood vessels. Hepatitis B virus (HBV) has infected a total of 2 billion people in the world and around 240 million are people with chronic hepatitis B virus, Hepatitis C sufferers in the world are estimated at 170 million people and around 1,500,000. In Wonogiri District in 2019 there were 1,142 people diagnosed with hepatitis.Hepatitis health education at RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri aims to better the knowledge and attitude of hepatitis patients so that they can anticipate the transmission of hepatitis. This research was conducted using descriptive methods with data collection in December 2019-January 2020. This research was conducted at the Internal Medicine Polyclinic of dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Hospital. This study obtained as many as 53 patients with the characteristics of patients dominated by male sex (58.5%), ages 46-55 years (45.3%), high school education (49.1%) and private / entrepreneurial work (54.7%). The analysis showed that the knowledge of patients about hepatitis in dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Hospital was the most sufficient category of 47.2%.Keywords: knowledge, hepatitis, patient Abstrak: Hepatitis merupakan proses penyakit hepar yang mengenai parenkim paru, sel-sel kuffer, duktus empedu dan pembuluh darah. Virus Hepatitis B (VHB) telah menginfeksi sejumlah 2 milyar orang di dunia dan sekitar 240 juta merupakan pengidap virus Hepatitis B kronis, penderita Hepatitis C di dunia diperkirakan 170 juta orang dan sekitar 1.500.000. Kabupaten Wonogiri pada Tahun 2019 terdapat 1.142 orang yang terdiagnosis hepatitis. Pendidikan kesehatan hepatitis di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri bertujuan agar pengetahuan dan sikap pasien hepatitis lebih baik sehingga mampu mengantisipasi penularan penyakit hepatitis. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data bulan Desember 2019-Januari 2020. Penelitian ini dilakukan di Poliklinik penyakit dalam RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Penelitian ini diperoleh sebanyak 53 pasien dengan karakteristik pasien didominasi berjenis kelamin laki-laki (58,5%), usia 46-55 tahun (45,3%), pendidikan sedang tingkat SMA (49,1%) dan pekerjaan swasta/wiraswasta (54,7%). Hasil analisa menunjukkan pengetahuan pasien tentang penyakit hepatitis di RSUD dr Soediran Mangun Sumarso Wonogiri paling banyak yaitu kategori cukup sebesar 47,2%.Kata kunci: pengetahuan, hepatitis, pasien

Page 1 of 2 | Total Record : 15