cover
Contact Name
Firdaus Noor
Contact Email
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Phone
+6221-3159687
Journal Mail Official
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya No. 73 Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Urban : Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya
ISSN : 26142767     EISSN : 28283015     DOI : -
Urban: Jurnal Seni Urban is published twice a year (Apr and October) issued by the Postgraduate School of the Jakarta Institute of the Arts. Urban provides open access to the public to read abstract and complete papers. Urban focuses on creation and research of urban arts and cultural industries. Each edition, Urban receives a manuscript that focuses on the following issues with an interdisciplinary and multidisciplinary approach, which are: 1. Film 2. Television 3. Photograph 4. Theatre 5. Music 6. Dance 7. Ethnomusicology 8. Interior Design 9. Fine Arts 10. Art of Craft 11. Fashion Design 12. Visual Communication Design 13. Literature
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No.1: April 2019" : 7 Documents clear
Kolaborasi Seni Dan Teknologi Sondakh, Sonya Indriati
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.26

Abstract

Representasi Buketan Pada Batik Oey Soe Tjoen Mawardi, Tatang Khalid
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.27

Abstract

Batik Pekalongan has its own characteristic, which is different from the other coastal batik in the northern part of Java. Oey Soe Tjoen batik is one type of batik from Kedungwuni, Pekalongan. This batik is widely recognized because of its quality in technique that offers detailed and fine works. The term buketan came from a French word ‘bouquet’ meaning flower arrangement. Buketan motif produced by Oey Soe Tjoen batik was inspired by buketan motif made by Dutch batik makers who were living in Pekalongan in colonial times. Buketan motif is one of the types of the main motifs produced by Oey Soe Tjoen batik other than the motifs of merak ati, cuwiri, and urang ayu. This research uses qualitative method utilizing interviews, field observation and literature study to collect data. Since the first generation, Oey Soe Tjoen has experiences some changes in its buketan motif. The context of time and also the batik market of each generation influenced this change. Applying Stuart Hall’s circuit of culture theory, this research is to delve into how the buketan motif on sarong clothes that has been produced for three generations are applied.Batik Pekalongan mempunyai ciri khas atau karakter yang berbeda dengan batik dari daerah pesisir lainnya. Batik Oey Soe Tjoen merupakan batik yang berasal dari daerah Kedungwuni, Pekalongan. Batik Oey Soe Tjoen dikenal luas karena kualitas teknik pengerjaannya yang detail serta halus. Buketan berasal dari kata bouquet yang merupakan kata bahasa Perancis yang berarti rangkaian bunga. Motif buketan yang dibuat oleh Batik Oey Soe Tjoen terinspirasi oleh motif buketan yang dibuat oleh pembatik Belanda saat itu yang ada di Pekalongan. Motif buketan merupakan salah satu jenis ragam hias motif utama yang dibuat oleh Batik Oey Soe Tjoen selain motif merak ati, cuwiri, dan urang ayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan bantuan wawancara, observasi lapangan, dan studi pustaka dalam mengumpulkan data. Sejak dirintis oleh generasi pertama, batik Oey Soe Tjoen telah mengalami beberapa perubahan motif buketan yang dihasilkan. Perubahan ini dipengaruhi oleh konteks zaman maupun pasar batik setiap generasi. Penelitian ini, yang menggunakan teori sirkuit kebudayaan dari Stuart Hall, dilakukan untuk mengkaji bagaimana motif buketan pada kain sarung hasil dari tiga generasi yang berbeda ditampilkan.
Konsepsi Ruang Urban Yogyakarta dalam Kurasi Festival Film Dokumenter dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 Setiawati, Sri Ratna
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.28

Abstract

The non-government film festival post-1998 held every year as part of festival ecosystem in Yogyakarta. This research examined on Festival Film Dokumenter (FFD) and Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) in 2019. Both festival have taking place for more than a decade and was organised by young people, mostly student. The research examining the Yogyakarta’s urban space conception inside FFD dan JAFF 2019, by using the production of space theory by Henri Lefebvre (1991) and the heterotopia theory by Michel Foucault (1984). It examined through the urban theme in the festival program, which has been the foundation for both festival in producing their social spaces. The research method used the qualitative method with data collecting via the participation observation, interview, field note and literature study. Both film festival has established the ideal construction of Yogyakarta, however at the same time they were resistant against the mainstream media and the commercial films distribution-exhibition domination, until they succeeded in developing the power to become the new hegemony of the Indonesian film industry.Festival film non-pemerintah yang lahir pasca-1998 berlangsung setiap tahun, menjadi bagian dari ekosistem festival di Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan terhadap Festival Film Dokumenter (FFD) dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) pada tahun 2019. Kedua festival telah berlangsung selama lebih dari satu dasawarsa dan digerakkan oleh anak muda yang mayoritas adalah mahasiswa. Penelitian bermaksud menelaah konsepsi ruang urban Yogyakarta di dalam penyelenggaraan FFD dan JAFF 2019, dengan menggunakan teori produksi ruang Henri Lefebvre (1991) dan heterotopia Michel Foucault (1984), melalui tema urban dalam festival programming, yang menjadi dasar bagi kedua festival memproduksi ruang sosialnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui pendekatan pengamatan terlibat, wawancara, pembuatan catatan lapangan, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menemukan bahwa kedua festival film membangun konstruksi Yogyakarta ideal namun pada saat yang sama juga melakukan perlawanan terhadap dominasi media mainstream dan distribusi-ekshibisi film komersial, sehingga berhasil membangun kekuatan untuk menjadi hegemoni baru perfilman Indonesia.
Tiga Dara & Ini Kisah Tiga Dara: Feminisme dalam Film Sentosa, Karin
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.29

Abstract

Films on women’s issues are more and more frequent in theatres in line with the popularity of feminism in pop culture, especially in Indonesia. Two films Tiga Dara (1956) directed by Usmar Ismail was remade using the title Ini Kisah Tiga Dara (2016) directed by Nia Dinata. These two films describe similar conflict of marriage experienced by women in urban areas with different time setting. This research will compare those two films in terms of their structure and meaning based on the perspective of feminism. Through the comparison, it is revealed that the difference is on shifting of meaning and how the films convey the message. Other than that, the concept on women also change: the experience of women in every class, race, age, and sexuality is subjective depending on each individual. By delving in the way women are personified in the two films, we will find what the concept of women film is all about.Film tentang perempuan semakin banyak digarap oleh sutradara Indonesia seiring semakin populernya feminisme dalam budaya populer, khususnya di Indonesia. Film Tiga Dara (1956) karya Usmar Ismail dibuat-ulang dengan judul Ini Kisah Tiga Dara (2016) oleh Nia Dinata. Kedua film ini berisi konflik sama yang dialami perempuan di perkotaan dengan latar belakang zaman yang berbeda yaitu pernikahan. Penelitian ini membandingkan kedua film tersebut secara struktural dan makna menggunakan perspektif feminisme. Melalui perbandingan tersebut, ditemukan adanya perubahan makna dan cara penyampaiannya yang bergeser. Selain itu, konsep mengenai perempuan juga berubah: pengalaman perempuan di setiap kelas, ras, umur, dan seksualitas bersifat subjektif tergantung tiap individu. Dengan melihat bagaimana perempuan dipersonifikasi dalam kedua film tersebut, dapat diketahui bagaimana konsep film perempuan
Glorifikasi Instrumen Biola sebagai Sarana untuk Mengembangkan Genre Heavy Metal pada Band Musik Resolution15 Fadly, Muhammad
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.30

Abstract

A genre or an approach in art is an identity for the art. It is not just itself in an empty space, but it was born and developed in an established system. Likewise, the genre in music; in general stable and orderly systems are ‘broken’ to form new genres. This product of musical violation produces an innovation, and evolves by being characterized by a constant flow of new violations, mainly due to the support of technological advances. In addition to technology, the personality of the musicians also contributes significantly; they add certain characteristics that are unique and distinctive to a band. This research is a study of the glorification process on violins by Earl Maneein in the metal core music band, Resolution15; glorification is a new technique and serves as the instrumentation media in the heavy metal music genre, and metal core is a further development of the genre. This study aims to analyze the creation of new genres through violin glorification in the bigger genre of heavy metal music. As a case study with historical and musicological approaches, this research shows that the glorification of instruments can be a new part of the classification of the formation of genre.Sebuah aliran atau genre di dalam seni adalah sebuah identitas bagi sebuah seni. Tidak berada di dalam ruang hampa, genre lahir dan berkembang di dalam sebuah sistem yang mapan. Demikian juga dengan genre musik; pada umumnya sistem yang stabil dan teratur ‘dilanggar’ untuk membentuk genre baru. Produk pelanggaran ini menghasilkan sebuah inovasi, dan berevolusi dengan ditandai oleh aliran pelanggaran baru yang konstan, terutama karena dukungan kemajuan teknologi. Selain teknologi, pribadi musisi juga berkontribusi secara signifikan; ia memberikan ciri tertentu yang unik dan khas pada sebuah band. Penelitian ini merupakan kajian tentang proses glorifikasi pada biola yang dilakukan Earl Maneein di dalam band musik metalcore, yaitu Resolution15; glorifikasi itu berupa teknik serta media instrumentasi baru di dalam genre musik heavy metal, dan metalcore merupakan perkembangan lebih lanjut dari genre tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis penciptaan genre baru melalui glorifikasi biola di dalam genre besar musik heavy metal. Sebagai studi kasus dengan pendekatan sejarah dan musikologi, penelitian ini menunjukkan bahwa glorifikasi instrumen dapat menjadi bagian baru untuk mengklasifikasikan terbentuknya genre.
Tubuh Urban dan Teknologi: Refleksi Pertunjukan Kolaboratif Dua Generasi Yulfianti, Yola
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.31

Abstract

This article is a reflection of a coreographer’s artistic practice, especially in the creation process of two works titled “Cuy-Gimana Cara Nolong Eluh Pindah dari Zaman BB ke Zaman Z” (2018) and “Cuy-Gang X Tanah Tinggi” (2019). These works are the results of collaborative works between generations, which is represented by Tony Broer, theatre artist and Yola Yulfianti, choreographer and dance film artist. This collaboration has brought them, specifically Yola Yulfianti, to finding a new creative approach. These two works have brought a choreographer to a next level, becoming director. For an observer, these two works have shifted to become a work of theatre performance. By mastering technology and the artists’ sensitiveness to the environment, good works will be created in the spirit of multimedia.Tulisan ini adalah suatu refleksi terhadap praktik artistik seorang koreografer, khususnya dalam proses penciptaan pertunjukan yang berjudul “Cuy- Gimana Cara Nolong Elu Pindah dari Zaman BB ke Zaman Z” (2018) dan “Cuy- Gang X Tanah Tinggi” (2019). Karya-karya tersebut merupakan hasil upaya penciptaan yang sifatnya kolaboratif antargenerasi, yang diwakili Tony Broer, seorang pekerja teater, dan Yola Yulfianti, koreografer. Kerja kolaboratif ini membawa pada penemuan pendekatan kreatif baru. Kedua karya ini membawanya pada titik bekerja sebagai sutradara karena kedua karya ini di mata pengamat telah bergeser menjadi sebuah karya pertunjukan teater. Dengan penguasaan teknologi dan kepekaan terhadap lingkungan, tercipta karya-karya dengan semangat multimedia.
Spoof Trailer Sebagai Representasi Remaja Tahun 2019: Studi Kasus Spoof Trailer Dilan 1991 dengan Konten Mobile Game Di Youtube Wangsa, Edelin Sari
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 3, No.1: April 2019
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v3i1.32

Abstract

Spoof trailer is a video with trailer format made to imitate the original film trailer. Its materials are usually taken from the original film, digital artefact, and/or original footage. This kind of trailer is published on user generated content video platforms. This research took off with the hypothesis that a spoof trailer represents its makers’ identities. The research employs text analysis method using publicized spoof trailer Dilan 1991 on YouTube. By using cultural studies concepts, particularly Circuit of Culture theory, I read and analysed the data. The result shows that spoof trailers Dilan 1991 are made to represent teenager’s identity in 2019. It indicates there are significant changes in behaviour and lifestyle in teenagers from 1991 to 2019. Besides, spoof trailer Dilan 1991 represents cultural issues in digital society, specifically the teenagers.Spoof trailer merupakan video dengan format trailer yang dibuat untuk meniru trailer dari film asli. Materi spoof trailer biasanya diambil dari film asli, materi digital yang ada di internet, atau materi buatan sendiri. Trailer seperti ini biasanya ditayangkan di platform video dalam jaringan dengan sistem user generated content. Penelitian ini berangkat dengan hipotesis spoof trailer merepresentasikan identitas para pembuatnya. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis teks spoof trailer Dilan 1991 yang dipublikasikan di platform YouTube. Saya menggunakan pendekatan cultural studies, teori Circuit of Culture dalam membaca dan membedah hasil pengumpulan data. Hasilnya menunjukkan bahwa spoof trailer Dilan 1991 dibuat untuk menunjukkan representasi dan identitas remaja tahun 2019. Hal ini menandakan adanya perubahan perilaku dan gaya hidup remaja tahun 1991 ke tahun 2019. Selain itu, spoof trailer Dilan 1991 pun merepresentasikan isu budaya digital masyarakat, khususnya remaja kini.

Page 1 of 1 | Total Record : 7