cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.fib@ugm.ac.id
Phone
+62274513096
Journal Mail Official
deskripsi.fib@ugm.ac.id
Editorial Address
Department of Languages and Literatures, Building R. Soegondo, second Floor, Sosiohumaniora Street No. 1, Bulaksumur, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Deskripsi Bahasa
ISSN : 26157349     EISSN : 26866110     DOI : https://doi.org/10.22146
Deskripsi Bahasa [DB] merupakan jurnal untuk menyebarluaskan hasil penelitian atau pemikiran bahasa yang diterbitkan sebanyak 2 nomor dalam setahun yaitu pada bulan Maret dan Oktober oleh Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UGM bekerja sama dengan Forum Linguistik. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ini difokuskan pada bidang linguistik deskriptif, linguistik sosial, dan penerjemahan. Dosen, mahasiswa, dan peneliti bahasa diharapkan dapat memanfaatkan jurnal ini untuk berbagi pengetahuan hasil penelitian atau pemikirannya. DB mencakup naskah luaran kegiatan penelitian dengan kajian khusus linguistik.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2" : 7 Documents clear
Kuasa Dan Ideologi Kepolisian Republik Indonesia terhadap Anarko-Sindikalis: Analisis Wacana Kritis Adif Setiyoko; B.R. Suryo Baskoro
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.416 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4086

Abstract

Ideologi dan kuasa dipandang sebagai dua konsep sentral dalam kajian-kajian Analisis Wacana Kritis. Keduanya memiliki kaitan erat dengan upaya melanggengkan, mempertahankan, serta menetapkan dominasi pihak-pihak yang berkuasa melalui praktik produksi wacana. Penelitian ini berupaya menyingkap struktur kuasa serta mengidentifikasi ideologi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang terefleksikan melalui penggunaan bahasa dalam mengonstruksi representasi kelompok anarko-sindikalis. Untuk menguraikan struktur kuasa dan ideologi Polri, penelitian ini mengadopsi analisis praktik sosiokultural yang menjadi salah satu bagian dari tiga dimensi AWK yang dirumuskan oleh Norman Fairclough. Melalui analisis praktik sosiokultural ini pula, hubungan antara kuasa, ideologi, dan bahasa, mampu teridentifikasi. Hasil kajian ini menemukan bahwa seluruh wacana siaran pers hanya berisi informasi yang berasal dari pihak kepolisian. Dengan kata lain, tak ada satu pun informasi dari pihak terkait, dalam hal ini kelompok anarko-sindikalis. Selain itu, penelitian ini juga menemukan adanya kuasa sepihak pihak kepolisian dalam merepresentasikan kelompok tersebut. Kuasa yang dimiliki pihak kepolisian ini turut digunakan untuk menciptakan atau menetapkan stigma-stigma tertentu yang dilekatkan kepada kelompok anarko-sindikalis seperti perusuh, kelompok yang menunggangi demonstrasi, merusak fasilitas, dan mengeroyok petugas kepolisian.
Dominasi Maskulin dalam Akronim Pornografis Aditya Wicaksono; Sailal Arimi
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.822 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4087

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan dominasi maskulin dalam akronim pornografis. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik, khususnya kajian bahasa dan gender. Data penelitian diperoleh di dalam media sosial twitter. Hasil penelitian ini adalah (1) bentuk akronim pornografis di twitter antara lain berupa, akronim tiga kata, akronim suku kata awal dengan suku kata awal, akronim suku kata awal dengan suku kata akhir, dan akronim dengan kata metatesis, campur kode ke dalam (bahasa Indonesia dengan bahasa daerah), campur kode ke luar (bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris), bahasa prokem, dan bahasa Inggris. (2) Makna akronim pornografis mengalami perluasan dari makna-makna leksikal yang menjadi unsur pembentuk akronim. Hal tersebut disebabkan oleh faktor-faktor di luar bahasa yang menjadi konteks pornografi, seperti foto dan video. (3) Dominasi maskulin dalam akronim pornografi dapat dilihat dari gender maskulin menciptakan dan mengembangkan pembentukan akronim pornografis, yang dapat dilihat berdasarkan frekuensi laki-laki membicarakan topik pornografi lebih besar dibandingkan perempuan. Lalu, terdapat pula kekerasan simbolik terhadap gender feminin karena berdasarkan referen akronim pornografi, feminin memiliki presentase lebih besar dibandingkan dengan maskulin, sehingga feminin dijadikan sebagai objektivikasi dalam pembentukan akronim pornografis.
Conjunctive Adverbials Used in Popular Scientific Articles Ani Malichatun; Tofan Dwi Hardjanto
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.796 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4088

Abstract

Cohesion is an essential component of discourse that will help the readers comprehend the articles’ flow idea. Conjunctive adverbial is one of the cohesive devices that is commonly used in academic proses. This research aims to observe the forms, the sentential positions, and the cohesive meaning of conjunctive adverbials. Popular scientific articles are chosen to be data sources. The articles were downloaded from scientific magazines. Eighteen articles were from National Geography, and forty-six articles were from Psychology Today. Corpus linguistics is used as the approach of this study. The data are processed using Wordsmith 4 apps. The data selected are tabulated in Ms. Excel and analyzed using cohesion theory suggested by Halliday and Hasan (1976). The results show that conjunctive adverbials are dominated in word forms and followed by phrase forms in both magazines. The sentential positions of conjunctive adverbials are most frequently placed in an initial position followed by the magazines’ medial positions. The end position of conjunctive adverbials is not found. The most frequent conjunctive adverbial function is adversative, and the least frequent is causal in both magazines.
Analisis Kontrastif Struktur Gramatikal Kalimat Imperatif dalam Bahasa Jawa Banyumas dan Bahasa Inggris Atiqah Dewi Slasih; Suhandano Suhandano
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.867 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4089

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan perbandingan konstruksi gramatikal kalimat imperatif dalam bahasa Jawa dialek Banyumas (bJB) dan bahasa Inggris (bI) dengan tujuan dapat memberikan kontribusi terhadap pembelajaran bahasa. Data dalam penelitian ini berupa kalimat imperatif sederhana bahasa Inggris dan bahasa Jawa Banyumas dengan ragam ngoko lugu yang kemudian dideskripsikan dan dibandingkan dengan melihat hubungan gramatikal serta peran-peran semantis yang terkandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan konstruksi gramatikal kalimat imperatif dalam bJB dan bI. Persamaan umum antara kedua bahasa diantaranya ialah kecenderungan untuk melesapkan penerima perintah dalam kalimat. Ditemukan pula persamaan pada konstruksi kalimat intransitif yang hanya terdiri dari predikat dan tidak mengalami afiksasi sebagai pemarkah perintah, pada konstruksi kalimat intransitif ber-verba dimana predikat diwujudkan dalam bentuk verba dasar, pada peran lokatif yang dapat menempati direct object ataupun indirect object sebagai frasa preposisional, pada kalimat imperatif-kausatif dimana verba mengalami afiksasi derivasi dari adjektiva, serta pada kalimat imperatif-instrumental yang kedua argumennya dapat bergantian menempati direct object ataupun indirect object. Perbedaan konstruksi antara kedua bahasa umumnya ialah kosntruksi aktif-pasif kalimat yang memberikan pengaruh terhadap realisasi subjek dan objek. Selain itu, terdapat kemungkinan penggunaan verba multi-kata dalam bI sebagai verba dasar, perbedaan pengisi fungsi predikat pada kalimat imperatif-intransitif ber-adjektiva, afiksasi pada bJB yang memfokuskan peran lokatif, benefaktif, kausatif, dan instrumental, serta perbedaan dalam penyebutan beneficiary.
Cultural Presupposition in Translation Strategy from English into Bahasa Indonesia on HBO Television Serial Game of Thrones Season 1 Adhitya Riska Yunita; Aris Munandar
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.084 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4090

Abstract

This study aims to identify the cultural presupposition and how the translator applies translation strategies to convey cultural words into the target language. This study used qualitative descriptive for analyzing cultural presuppositions and translation strategies. The data used are utterances that contain cultural presuppositions found in the Game of Thrones television series season 1. This study shows that four types of sub-systems of cultural presupposition were found such as techno-economic, social, and linguistic system. The ideational system in the form of religion, ideology, values, ideas dominate the most compared to other sub-systems. Existential presupposition is the most frequent presupposition which appear followed with factive presupposition. Meanwhile, the translation strategy that frequently used is literal translation followed by borrowing and transposition translation strategy. This study emphasizes that some cultural words such as those belonging to the linguistic sub-system, in their translation to target language require an understanding of the cultural concept of the source language adapted to the cultural concept of target language.
Penamaan Objek Wisata di Wilayah Kabupaten Kuningan Jawa Barat Didit Aditya
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.006 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4091

Abstract

Kabupaten Kuningan terletak di ujung timur provinsi Jawa Barat, tepatnya berada di kaki gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Secara geografis letak Kabupaten Kuningan sangat strategis karena berada di perbatasan antara dua provinsi yaitu provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah. Keindahan panorama alam, keunikan seni dan budayanya sebagai daya tarik bagi para wisatawan. Didukung dengan akses yang mudah serta infrastruktur yang memadai, Kabupaten Kuningan menjadi daerah tujuan wisata yang menarik. Dengan potensi wisata yang berlimpah keindahan alam pegunungan dan keunikan seni budaya sebagai potensi wisata, pemerintah Kabupaten Kuningan terus berupaya melakukan promosi melalui berbagai media. Pada sector wisata Kuningan merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak potensi alam. Di wilayah ini terdapat banyak objek wisata dengan pusatnya Gunung Ciremai sebagai salah satu Taman Nasional, pemandian air panas, wisata budaya, wisata sejarah, wisata religi dan lain-lain. Penamaan objek wisata merupakan salah satu hal terpenting yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, nama yang menarik bahkan unik merupakan salah satu faktor yang akan membuat wisatawan penasaran dan tertarik untuk berkunjung. Objek penelitian yang digunakan adalah nama-nama objek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Kuningan dengan analisis yang digunakan adalah etnosemantik untuk mengungkap asal usul dan latar belakang penamaan objek wisata di Kabupaten Kuningan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk satuan kebahasaan dalam penamaan, proses penamaan dan dinamika nama-nama objek wisata di wilayah Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode kualitatif melalui observasi dan wawancara yang mendalam kepada beberapa informan dan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk nama-nama objek wisata di Kabupaten Kuningan mempunyai bentuk kebahasaan tersendiri, yang meliputi Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, dan beberapa menggunakan bahasa Inggris. Nama-nama objek wisata juga dipengaruhi oleh tiga aspek dalam penamaan, yaitu: aspek perwujudan, aspek kemasyarakatan, dan aspek kebudayaan. Makna yang terkandung dalam nama-nama objek wisata di wilayah Kabupaten Kuningan lebih banyak dikarenakan unsur kebudayaan. Terdapat dinamika nama-nama objek wisata di Kabupaten Kuningan dengan tujuan untuk menarik wisatawan.
Alih Kode dan Campur Kode Bahasa Arab Mubasyiroh Mubasyiroh
Deskripsi Bahasa Vol 3 No 2 (2020): 2020 - Issue 2
Publisher : Department of Languages and Literature, Faculty of Cultural Sciences, UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.811 KB) | DOI: 10.22146/db.v3i2.4092

Abstract

Kajian penelitian ini adalah berfokus pada mendeskripsikan bentuk alih kode dan campur kode pada percakapan Bahasa Arab di grup whatsapp mahasiswa PKPBA fakultas SAINTEK UIN MALIKI Malang. Selanjutnya penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi alih kode dan campur kode dalam percakapan Bahasa Arab di grup whatsapp. penelitian ini berjenis kualitatif dengan teknik pengumpulan data dengan cara analisis. Sedangkan data bersifat deskriptif. Dari penelitan ini dihasilkan temuan bahwa: 1) bentuk alih kode meliputi dua hal. Dilihat dari segi: a) bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, ditemukan bentuk alih kode yang meliputi: formal “bahasa sesuai dengan kaidah bahasa arab” dan informal “bahasa yang tidak sesuai kaidah Bahasa Arab”. Dilihat dari segi: b) hubungan antar bahasa, terdapat bentuk alih kode yang meliputi: bahasa Arab ke bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia ditulis dalam kata arab atau pegon. 2) Bentuk campur kode meliputi dua sisi. Dilihat dari segi: a) unsur sintaksis, ditemukan bentuk campur kode yang meliputi: kata dan frasa. Sedangkan dilihat dari segi: b) kategorisasi kata, ditemukan bentuk campur kode yang meliputi: numeralia, pronominal, preposisi, nomina, verba, adjektiva dan adverbial. 3) Faktor-faktor alih kode dan campur kode meliputi: a) hubungan penutur dengan mitra tutur, b) perubahan situasi dari formal ke informal atau kebalikannya. c) perubahan topik pembicaraan. d) latar belakang Pendidikan dan tingkat kemampuan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7