Bandung Conference Series: Communication Management
Bandung Conference Series: Communication Management (BCSCM) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Manajemen Komunikasi dengan ruang lingkup diantaranya adalah Awareness, Brand equity, Brand Image, Connecting Community Building, Content Creation, Content Sharing, Daya Tarik Iklan, Drama Televisi, Event, Gaya Hidup, Interior Display, Jingle, Kampanye, Keputusan Pembelian, Keterikatan Pelanggan, Komunikasi antar pribadi, Komunikasi Pemasaran, Konsep Diri, Kredibilitas Komunikator, Kualitas Pelayanan, Literasi Media, Loyalitas Konsumen Manajemen branding, Media Sosial, Minat Beli Konsumen, Online Review, Pemasaran Konten, Penjualan produk, Persepsi Budaya, Personal Branding, Promosi online, Sikap, Store Atmospheredan Layout, Tagline, Terpaan Media, Tindakan Membeli, Transportasi Online, Ujaran Kebencian, Website, Word of Mouth. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"613 - 622"
:
1 Documents
clear
Filter Wajah dan Kepercayaan Diri Generasi Z
Hana Nurul Fitri;
Anne Maryani
Bandung Conference Series: Communication Management 613 - 622
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24719
The development of digital technology, especially TikTok social media, has triggered an increase in the use of face filters among Generation Z. Features that initially function as a means of entertainment and improved visual appearance are now developing into a form of dependence, where some users feel more comfortable and confident when displaying filtered faces compared to their real faces. This study aims to analyze the relationship between the dependence on the use of face filters and the level of self-confidence in Generation Z, especially individuals who actively use TikTok and are members of the Wardah Youth Ambassador community. The research uses a positivism paradigm with a correlational quantitative approach. Data collection was carried out through a questionnaire based on the Likert scale which was distributed to 64 respondents who were members of Wardah Youth Ambassador in West Java. Variable X (dependence on face filters) was measured through three sub-variables, namely self-understanding, social benefits, and entertainment, while variable Y (self-confidence) was measured through six indicators based on Maslow's theory of needs. The results showed that the entire hypothesis was accepted with a Spearman correlation coefficient of 0.842 (very strong) for the main relationship. These findings confirm that the higher the reliance on face filters, the higher the correlation with user confidence on social media, but also risks forming unrealistic digital beauty standards. Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial TikTok, telah memicu meningkatnya penggunaan filter wajah di kalangan Generasi Z. Fitur yang awalnya berfungsi sebagai sarana hiburan dan peningkatan tampilan visual kini berkembang menjadi bentuk ketergantungan, di mana sebagian pengguna merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika menampilkan wajah berfilter dibandingkan wajah asli mereka. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara ketergantungan penggunaan filter wajah dengan tingkat kepercayaan diri (self confidence) pada Generasi Z, khususnya individu yang aktif menggunakan TikTok dan tergabung dalam komunitas Wardah Youth Ambassador. Penelitian menggunakan paradigma positivisme dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbasis skala Likert yang disebarkan kepada 64 responden anggota Wardah Youth Ambassador di Jawa Barat. Variabel X (ketergantungan filter wajah) diukur melalui tiga sub variabel yaitu pemahaman diri, manfaat sosial, dan hiburan, sementara variabel Y (kepercayaan diri) diukur melalui enam indikator berdasarkan teori kebutuhan Maslow. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh hipotesis diterima dengan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,842 (sangat kuat) untuk hubungan utama. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi ketergantungan terhadap filter wajah, semakin tinggi pula kaitannya dengan kepercayaan diri pengguna di media sosial, tetapi juga berisiko membentuk standar kecantikan digital yang tidak realistis.