cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2025): JUNI" : 5 Documents clear
ISLAM YANG WELAS ASIH: Studi Historis dan Hermeneutis Compassion Muslim Perdana El, Joseph
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.146

Abstract

Jahiliyah mewakili krisis iman, pengetahuan, etika-moralitas, dan krisis sosial masyarakat pra-Islam di Jazirah Arab. Hanif Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan Ismail 'alaihis salam redup dalam  krisis manusia Arab-Makkah di Hijaz pra-islam. Efek sosialnya adalah cinta dan belas kasih atau compassion tereleminasi dalam lingkup komunal secara menyeluruh melalui praktik politeisme, keuntungan ekonomi dan politik parsial dan perbudakan. Manusia sezaman terpenjara namun Allah tidak kehilangan belas kasihnya. Dia Maha Pengasih (Rahman) yang telah menciptakan manusia, Dia jugalah Maha Penyayang (Rahim) yang menyelamatkannya dari “penjara dunia”. Islam lahir di tengah krisis manusia untuk menjawabnya bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cinta dan belas kasih. Di dalam diri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, agenda pembaharuan dimulai dan menggerakkan lahirnya komunitas Muslim perdana dengan ciri primordialnya, yaitu compassion. Keutamaan hidup ini menjadi rahmatan lil alamin (perennial wisdom) bagi semua umat Muslim dan dunia. Oleh karena itu, studi ini berbasis analisis historis dan hermeneutika untuk menemukan esensi Islam yang ber-welas asih dan menyelami karakteristiknya dalam pribadi Rasulullah dan komunitas Muslim perdana yang menginspirasi manusia di segala zaman. 
TRANSMISI HABITUS RELIGIUS DI DALAM KELUARGA KATOLIK: ANALISIS INTERAKSIONISME SIMBOLIK ATAS PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANAK Refo, Ignasius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.156

Abstract

Catholic families hold a central role in transmitting religious values to children from an early age. Amid the growing challenges of modernization, secularization, and digital disruption, this role has become increasingly complex and urgently requires scholarly attention. This article aims to analyse how religious habitus is transmitted within Catholic families and how this process influences the development of children's personalities. The study employs a qualitative approach using a case study method involving Catholic families in various parishes across Ambon. Herbert Mead’s theory of symbolic interactionism serves as the analytical lens to examine the symbolic dynamics within the family—through language, actions, prayer, and Catholic religious symbols—that shape the child's self and religious identity. The findings indicate that the transmission of religious habitus occurs through intense relationships between parents and children, expressed in shared prayer, faith-based discussions, parental role modelling, and participation in ecclesial activities. This process contributes to the development of a religious, empathetic, and resilient personality in children. The study underscores the significance of the family as the primary social space for constructing religious identity and affirms that religious habitus is not merely a legacy of inherited values but a socially enacted practice that is continuously renewed in response to the changing context of the times
MENJALIN PERSAUDARAAN DALAM TERANG IMAN: SEMANGAT GOTONG ROYONG DAYAK WEHEA DI TENGAH PELAYANAN UMAT PAROKI ST. MARIA RATU DAMAI NEHAS LIAH BING Junior, Gre Rivaldo
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.152

Abstract

Tulisan berjudul "Menjalin Persaudaraan dalam Terang Iman: Semangat Gotong Royong Dayak Wehea di Tengah Pelayanan Umat Paroki St. Maria Ratu Damai Nehas Liah Bing" mengangkat keterpaduan antara nilai-nilai budaya lokal dan semangat iman Kristiani dalam kehidupan menggereja. Gotong royong, sebagai warisan budaya suku Dayak Wehea, bukan hanya menjadi pola hidup bermasyarakat, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif yang menopang pelayanan dan keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan pastoral di paroki. Melalui pendekatan reflektif dan kontekstual, tulisan ini menyoroti bagaimana Gereja hadir tidak hanya sebagai pewarta iman, tetapi juga sebagai pelindung nilai-nilai luhur budaya yang mendukung terwujudnya persaudaraan sejati. Integrasi antara gotong royong dan ajaran kasih Kristus memperlihatkan bahwa budaya dan iman dapat berjalan selaras, saling memperkaya, dan menjadi dasar spiritualitas hidup bersama. Dengan demikian, umat diajak untuk membangun Gereja yang hidup, berakar dalam budaya, dan berlandaskan pada kasih, pelayanan, dan solidaritas sebagai wujud nyata dari persaudaraan dalam terang iman.
YESUS SEBAGAI AIR HIDUP DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT BERIMAN (Yoh. 4:1-26) Batvin, Julianus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.157

Abstract

Perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria di Sumur Yakub, membawa manfaat yang besar bagi perempuan Samaria yakni pertobatan sejati, ia yang dulunya tidak mengenal Yesus, akhirnya menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias sumber air hidup, hanya melalui Dia segala permasalahan dan persoalan hidup dapat teratasi. Penulis melakukan penelitian terhadap Yesus sebagai air hidup dan implikasinya bagi umat beriman dalam Yohanes 4:1-26. Dalam jurnal ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian literatur atau kepustakaan. Penulis menemukan bahwa perjumpaan Yesus dan Perempuan Samaria bukanlah suatu perjumpaan biasa tetapi perjumpaan yang berisi tentang pewartaan yang mendatangkan keselamatan bagi perempuan Samaria itu sendiri dan juga bagi semua orang. Dalam perjumpaan itu Yesus memberikan diri-Nya sebagai Air Hidup, barangsiapa yang meminumnya tidak akan haus lagi, melainkan akan memperoleh hidup yang kekal. Tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini dapat memberikan kepuasan atau dahaga yang kekal, sekalipun itu minum-minuman keras (miras) atau praktek perdukunan tidak dapat memberikan jaminan apa-apa, hanya Yesus saja yang  dapat memberikan kepuasaan dan kebahagiaan kekal bagi semua yang membutuhkannya.  
Dialog Antar Umat Beragama dalam Pandangan Kristen Protestan Romario, Thobias Romario
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i1.162

Abstract

Dialog antar umat beragama adalah Solusi yang diperlukan untuk mengurangi ketegangan dan meningkatkan saling pengertian. Dialog antar agama ini, memungkinkan umat beragama untuk mengenal dan menghargai perbedaan tanpa mengorbankan identitas agama masing-masing. Seorang teolog Protestan John Hick berpendapat bahwa pluralisme agama bukanlah sebuah hambatan, tetapi sebuah kesempatan untuk menyelami kedalam dan kebenaran yang ada. Agama Protestan sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam memperkaya dialog antar umat beragama. Sejak zaman reformasi, ajaran-ajaran Protestantisme lebih menekankan pentingnya misi dan penginjilan. Sedangkan, dalam era modern ini, banyak Gereja Protestan telah beralih untuk melihat dialog agama sebagai kesempatan untuk membangun kerja sama international dalam masalah-masalah sosial, sambil tetap setia pada ajaran Kristiani.

Page 1 of 1 | Total Record : 5