cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2016): December 2016" : 8 Documents clear
TRADISI MERASI DALAM ADAT PERKAWINAN MELAYU RIAU (STUDI ANALISIS TERHADAP PENENTUAN KAFAAH CALON PENGANTIN DI KELURAHAN BAGAN BATU) Rahmat Pulungan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.132 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.188

Abstract

Kafaah aims to create harmony and balance in marriage. The criteria of kafaah in jurisprudence according to scholarly are nasab, wealth, beauty, diyanah, hirfah and self independence. The problem that occurs is when determining kafaah in Bagan Batu, the Malay community has its own way in the process or determine kafaah; they carry the tradition called merasi to ensure compatibility between their children who will carry out the marriage. The main problem to be answered through this research is to determine how the process of merasi in determinig kafaah conducted by Malay community in Bagan Batu, what is the purpose of this tradition and how the views of Islamic law against the tradition. The purpose of this study: 1). To know the procedures of merasi tradition 2). To find out the purpose of merasi in determining kafaah 3). To find out the views of the Islamic law in the determination of kafaah through merasi process undertaken by the community of Bagan Batu , Bagan Sinembah ,Riau Province. The research is a field research that is descriptive qualitative. In the collection of necessary data, the author uses interview and observation techniques. While in the data analysis techniques, used qualitative method that describes the situation on the ground systematically. The results of this research is merasi tradition that conducted by people in Bagan Batu by combining both the name of the bride, and the progenitor will predict the state of their household after marriage. The way of this merasi may vary according to the progenitor who will perform it. Whereas the purpose of this merasi to reduce the disadvantages and for the achievement of the benefit in marriage. Merasi tradition in determining kafaah that happened inBagan Batu may be accepted and enforced. Because, during the process nothing contrary to Islamic law, also aimed to benefit of the people. In fact, before merasi the progenitor will ask the religious understanding of the bride, and it is also used as a basic foundation for determining the kafaah between the couple Kafaah bertujuan untuk menciptakan keserasian dan keseimbangan dalam perkawinan. Kriteria kafaah dalam fikih menurut jumhur ulama ialah nasab, kekayaan, kecantikan, diyanah, hirfah, dan kemerdekaan diri. Permasalahan yang terjadi adalah saat menentukan kafaah, di Kel. Bagan Batu, para masyarakat Melayu mempunyai proses atau cara tersendiri dalam menentukan kafaah, mereka melaksanakan tradisimerasi untuk memastikan keserasian antara anak mereka yang akan melaksanakan perkawinan. Masalah penelitian ini adalah bagaimana proses merasi dalam menentukan kafaah yang dilakukan masyarakat Melayu di Kel. Bagan Batu, apa tujuan dari tradisimerasi dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap tradisimerasi tersebut. Riau. proses merasi yang dilakukan masyarakat Bagan Batu yaitu dengan cara menggabungkan kedua nama calon mempelai, dan datuk yang bersangkutan akan meramal keadaan rumah tangga mereka setelah menikah. Cara merasi ini beragam metodenya sesuai dengan datuk yang akan mem-faal. Sedangkantujuan dari merasi ini untuk mengurangi kemudharatan dan demi tercapainya kemaslahatan dalam pernikahan. Tradisi merasi dalam penentuan kafaah yang terjadi di Kel. Bagan Batu ini boleh diterima dan diberlakukan. Karena, selama proses merasi tidak ada hal yang bertentangan dengan hukum Islam yang juga menginginkan kemaslahatan umat. Bahkan, sebelum merasi para datuk akan menanyakan pemahaman agama para calon pengantin, dan hal ini juga dijadikan sebai landasan dasar dalam menentukan kafaah antara pasangan tersebut.
SOME NOTES ON RELIGIOUS RADICALIZATION AND TERRORISM IN INDONESIA Donny Syofyan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.896 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.111

Abstract

Terrorism should not be a security issue in any part of the world anymore. It truly goes out of mainstream, namely intellectual and cultural dimensions. The dimensions are non security issues, critical education, religious depersonalization, the needs for ambassadors, reconciling liberal and fundamental Muslims and cyber religion. These dimensions constitute major aspects to be viewed when it comes to fathoming religious radicalization and terrorism across the country. Various terrorist attacks have taken place across Indonesia in the past few years. Different approaches ranging from security to cultural modes have been applied. Yet, expected outcome, which is peace, remains far from public hope. Rather than spending physical and financial resources, intellectual approach is seriously pressing. This article attempts to look into the very nature of religious radicalization leading to terrorist acts across the country Terorisme semestinya tidak lagi menjadi masalah keamanan di belahan dunia manapun. Hal tersebut berada dalam sudut pandang di luar mainstrem, yaitu dimensi intelektual dan budaya. Dimensi-dimensi tersebut di antaranya; masalah non keamanan, pendidikan kritis, depersonalisasi agama, kebutuhan akan duta besar, mendamaikan umat Islam yang liberal dan fundamental dan fenomena agama maya. Dimensi-dimensi ini merupakan aspek pembuktian utama yang harus dilihat ketika ingin memahamani radikalisasi agama dan terorisme di seluruh negeri. Berbagai serangan teroris telah terjadi di seluruh Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pendekatan yang berbeda mulai dari keamanan hingga budaya telah diterapkan, namun hasil yang diharapkan, yaitu perdamaian, masih jauh dari harapan masyarakat. Daripada menghabiskan sumber daya fisik dan keuangan, akan lebih baik menekankan pendekatan intelektual secara serius. Artikel ini mencoba untuk melihat dimensi intelektual dan kebudayaan dalam mencari solusi dari dampak negatif radikalisasi agama bertolak dari pengalaman catatan-catatan tentang terorisme dan radikalisme agama di Indonesia.
PERNIKAHAN LINTAS AGAMA DI KECAMATAN AEK NATAS KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA PROVINSI SUMATERA UTARA Siti Robiah
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.7 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.189

Abstract

The background of writer to undertake this work is the incompatibility of wedding implementation which took place in the District Aek Natas Labuhan Batu Utara regency. Implementation of their marriage were affected their marriage, because the purposes of marriage did not match the qualifying criteria of marriage and they tend to choose partners who has different beliefs with them. According to that, the writer wanted to know about the cross religion marriage that occurred in the district of Aek Natas. The form of the research is a field research using qualitative data, that a study based on the meaning contained in each of symptoms or existing events to collect data and analyze it on the fields. The source of data in this study are the perpetrators of marriage across religion, society, and community leaders concerned on research were called the key informants to assist authors in data gathering. In data gathering, the method that author used is observation and interview. From the research it can be concluded that the factors causing the interfaith marriage is due to a sense of love and affection, economic factors, promiscuity and the lack of religious education from parents to children, and the resulting the negative impact on the family such as a gap of the relationship, especially with parents, to feel isolated by their communities, the unrecorded marriage by the government, and according to the law of religion, the marriage is haram. The positive effect is the existence of religious tolerance in their households and increasing knowledge about different religious. Fenomena pernikahan yang terjadi di Kecamatan Aek Natas Kabupaten Labuhan Batu Utara yang mengakibatkan pengaruh yang berdampak pada pernikahan mereka, karena pernikahan yang mereka laksanakan tidak sesuai dengan kriteria syarat pernikahan dan mereka cenderung memilih pasangan yang berbeda keyakinan dengan mereka. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengetahui tentang pernikahan lintas agama yang terjadi di Kecamatan Aek Natas. Dari penelitian yang penulis lakukan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor penyebab pernikahan lintas agama adalah dikarenakan rasa cinta dan kasih sayang, faktor ekonomi, pergaulan bebas dan kurangnya pendidikan agama dari orang tua terhadap anak, dan mengakibatkan dampak dari pernikahan tersebut adalah dampak negatifnya yaitu terhadap keluarga terjadi kesenjangan dalam berhubungan dengan keluarga terutama orangtua, terhadap masyarakat merasa terisolasi dengan mereka, terhadap negara pernikahannya tidak diakui, dan terhadap agama hukum pernikahannya adalah haram. Dampak positifnya adalah adanya sikap toleransi dalam beragama dalam rumah tangga mereka dan bertambahnya ilmu tentang agama yang berlainan dengannya.
TEKNIKALISASI PEMETAAN WILAYAH ADAT: KETAHANAN SOSIAL BUDAYA KOMUNITAS ETNIS SUMURI DI KABUPATEN TELUK BINTUNI PROVINSI PAPUA BARAT I Ngurah Suryawan
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.858 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.185

Abstract

This article analyzes the impacts arising from the penetration of investment in Sumuri District teluk Bintuni Regency, West Papua Province. One thing that the company done is mapping the rights of indigenous clans to identify areas that became the company's location. At this moment the complexity of problems linking social and cultural resistance to the host community with this technicalization mapping problem appear. Territorialising indigenous territories just happen and local communities trapped in the processes of regulation prepared by the country and the company. The toughest challenge in participatory mapping is clearing the technicalization process and setting that become the perspective of countries and companies. This article tries to explore what happens in negotiations between technicalization process of mapping indigenous territories with expectations awakened in people Sumuri about socio-cultural changes. In this contestation imagination about involving customs and cultures in the current socio-cultural changes and the setting becomes very problematic and risky. Artikel ini menganalisis dampak-dampak yang ditimbulkan dari penetrasi investasi di Distrik Sumuri Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat. Salah satu hal yang dilakukan perusahaan adalah pemetaan hak-hak ulayat marga untuk mengidentifikasi wilayah yang menjadi lokasi perusahaan. Pada momen inilah muncul kompleksitas persoalan yang menghubungkan ketahanan sosial budaya komunitas tempatan dengan teknikalisasi permasalahan pemetaan ini. Teritorialisasi wilayah-wilayah adat terjadi begitu saja dan komunitas tempatan terjebak dalam proses-proses pengaturan yang dipersiapkan oleh negara dan perusahaan. Tantangan terberat pemetaan partisipatif adalah menjernihkan proses teknikalisasi dan pengaturan yang menjadi perspektif dari negara dan perusahaan. Artikel ini mencoba mendalami apa yang terjadi dalam negosiasi antara proses teknikalisasi pemetaan wilayah adat tersebut dengan harapan-harapan yang terbangun dalam diri orang Sumuri tentang perubahan sosial budaya. Dalam kontestasi inilah imajinasi tentang melibatkan adat dan budaya dalam arus perubahan sosial budaya dan pengaturan menjadi sangat problematik dan riskan.
KUMPULAN LESBIAN, GAY, BISEKSUAL DAN TRANSGANDER (LGBT) ANCAMAN TERHADAP KEAMANAN DAN KEHARMONIAN BERAGAMA DI MALAYSIA Noor Hafizah Bt. Mohd Haridi; Norsaleha bt. Mohd Salleh
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.594 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.190

Abstract

Sexual and Gender disorder Issues, which refers to Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) community is not a new issue. Allah has explained about homosexual issues prevailing among the people of Prophet Luth. This paper discusses the related issues (LGBT) by analyzing a collection of aspects of this threat to the security and religious harmony. Various claims have been made by this group in the name of human rights. Symptoms, treatment and disposition opposed to the normal life of a person human system has become a regular affair in the world and especially Malaysia. In fact the case is cultivated in transnational level through United Nation Human Right Convention (UNHRC) and backed by the major countries in tthe world. The symptoms of lesbian, gay, bisexual and transgender (LGBT) has become accepted way of life by the outside community and now infiltrating in the life of islamic community in Malaysia. These symptoms shall be dammed to ensure public security and religious harmony in Malaysia. Permasaahan kecelaruan seksual dan jantina, yang merujuk kepada komuniti Lesbian, Gay, Biseksual. dan Transgender (LGBT) bukan merupakan isu baru. Sebaliknya, Allah swt telah menjelaskan tentang permasalahan homoseksual yang berlaku di kalangan umat Nabi Lut as. Penulisan ini membincangkan isu berkaitan (LGBT) dengan menganalisis dari aspek ancaman kumpulan ini terhadap keamanan dan keharmonian beragama. Pelbagai tuntutan telah dilakukan oleh kumpulan ini atas nama hak asasi manusia. Gejala, perlakuan dan tabiat bertentangan dengan sistem kehidupan normal seseorang manusia telah menjadi suatu perkara yang biasa di dunia amnya dan Malaysia khasnya. Malah perkara ini diperjuang di peringkat antarabangsa menerusi United Nation Human Right Convention (UNHRC) dan disokong oleh negara-negara besar dunia.Gejala lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) telah menjadi cara hidup yang diterima oleh masyarakat luar dan kini sedang meresap masuk ke ruang atmosfera kehidupan masyarakat Islam di Malaysia. Gejala ini wajib dibendung bagi menjamin kemanan dan keharmonian beragama masyarakat di Malaysia.
MODEL STRATEGI BERTAHAN HIDUP RUMAH TANGGA MISKIN (SEBUAH LITERATURE REVIEW) Asyari Asyari
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.248 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.186

Abstract

Poverty is the enemy of the government in order to create public welfare. The policies and programs undertaken by the government for the purpose of reducing poverty. Policies and programs exist that succeed in reducing poverty but there is also spawned new poverty. The following article is a literature study on the model of survival of poor households that are not touched by the poverty alleviation program. The method used is to examine some of the results of studies that have been published in journals that describe how poor households to survive and get out of the winding poverty. The findings of this study to inform the causes of poverty are many. This is because poverty is a multidimensional concept. Forms of survival (survival) and exit (exit) on poverty conducted by the poor and poor households will vary according to the cause of poverty. Reduce poor households is not a program and policy apart from the causes of poverty. A separate program will create new poverty because the program did not aim at poverty reduction. . Kemiskinan adalah musuh pemerintah dalam rangka menciptakan kesejahteraan masyarakat. Berbagai kebijakan dan program dilakukan oleh pemerintah untuk tujuan mengurangi angka kemiskinan. Kebijakan dan program tersebut ada yang berhasil dalam mengurangi angka kemiskinan namun ada pula yang melahirkan kemiskinan baru. Tulisan berikut adalah studi literature tentang model bertahan hidup rumah tangga miskin yang tidak tersentuh oleh program pengentasan kemiskinan. Metode yang digunakan adalah menelaah beberapa hasil-hasil penelitian yang pernah dimuat di jurnal-jurnal yang menjelaskan bagaimana rumah tangga miskin bertahan hidup dan keluar dari lilitan kemiskinan. Temuan penelitian ini menginformasikan penyebab kemiskinan sangat banyak dan beragam. Hal ini karena kemiskinan merupakan konsep yang multidimensi. Bentuk-bentuk bertahan hidup (survival) dan keluar (exit) dari kemiskinan yang dilakukan oleh orang miskin dan rumah tangga miskin beragam sesuai dengan penyebab kemiskinan. Mengurangi rumah tangga miskin bukanlah dengan program dan kebijakan yang terpisah dari penyebab kemiskinan. Program yang terpisah tersebut akan membuat kemiskinan baru karena program tersebut tidak menyasar pengurangan kemiskinan.
MENATA REGULASI PEGADAIAN SYARIAH (UPAYA MENERAPKAN AL-MAQASID DAN MEMINIMALKAN KESENJANGAN SOSIAL) Iiz Izmuddin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.639 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.187

Abstract

This study aims to prove that legislation or government regulation (No. 103 of 2000) relating to pawnshops still have not touched the side of shari'a, thus because its existence is intended for business purposes and does not touch the social side. Whereas the original purpose of al-Rahn contract is for social purposes. Changes in the transaction purpose of social objectives into the business transaction will result in social problems. The research method with a theoretical framework Maqasid al-Shariah that seen from the legal perspective (Islam), ethics, and the unity will be linked with the Fatwa No. 25 / DSN-MUI / III / 2002 concerning Rahn, DSN-MUI No. 26 / DSN-MUI / III / 2002 concerning Gold Rahn and DSN No. 68 / DSN-MUI / III / 2008 concerning Rahn tasjily as a reference of the technical implementation in implementing the Islamic pawnshop Organization products. The study concluded that the presence of the Islamic pawnshop just touches the side of the law, but the ethics and the unity is still neglected, for example, the issue of justice and social inequality and this paper describes how should the rules applied by social institutions so that the application of al-Rahn can be applied in its tracks, to reduce social- economic inequalities. Penelitian ini betujuan ingin membuktikan bahwa Undang-undang atau Peraturan Pemerintah (Nomor 103 tahun 2000) yang berkaitan dengan pegadaian masih belum menyentuh sisi syariah, hal demikian dikarenakan keberadaanya diperuntukan untuk tujuan bisnis belaka dan tidak menyentuh sisi sosialnya. Padahal tujuan awal disyariatkannya akad al-rahn adalah untuk tujuan sosial. Perubahan tujuan transaksi dari tujuan sosial merubah dengan transaksi bisnis akan berakibat pada masalah sosial. Metode penelitian dengan kerangka teori Maqasid al-Shariah yang dilihat sisi hukum (Islam), etika, dan tauhid akan dihubungkan dengan Fatwa No. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn, DSN-MUI No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas dan Fatwa DSN No. 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily sebagai rujukan dari pelaksanaan teknis dalam melaksanakan produk Lembaga Pegadaian Syariah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan Pegadaian Syariah hanya menyentuh sisi hukum saja, namun sisi etika dan tauhid masih terabaikan, misalnya masalah keadilan dan kesenjangan sosial dan tulisan ini menjelaskan bagaimana seharusnya peraturan-pertauran yang diterapkan lembaga sosial sehingga penerapan al-rahn dapat diterapkan di jalurnya yaitu untuk mengurangi kesenjangan sosial-eonomi
MEMAHAMI ISLAM SECARA KAFFAH: INTEGRASI ILMU KEAGAMAAN DENGAN ILMU_ILMU UMUM A. Rahman Ritonga
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.505 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i2.183

Abstract

Islamic techings that called kaffah (absolute, universal and elastic) in accordance with the changes of times and the area in which he imposed. The absoluteness related to the user or object and material of teachings. In terms of material and dimensions, Islamic teachings derived from Qur'an and Hadith reach all human and genie problems whenever and wherever they are. The material that is charged to human not only aspects of sharia that consists of faith(akidah), worship(ibadah) and morality(akhlak) and Islamic laws, but reach all human needs in resolving problems and become their guidelines for life. This can be proved and felt when Islamic teachings was done in an integrative way through: a). Making use of Islam as the foundation of science (axiology) without questioning the ontological and epistimology aspect. b) insert values of Islam (tawhid) in a broad sense to the general sciences and technology. c) Integrating curriculum package of general sciences with religious knowledge in the educational process to born the experts of general sciences approach in understanding the religious science with science and technology. Ajaran Islam yang bersifat kaffah (absolut, universal dan elastis) sesuai dengan perubahan zaman dan wilayah dimana dia diberlakukan. Ke-kaffahannya terkait kepada pengguna atau objek dari ajarannya dan mataeri ajarannya. Dari segi materi dan dimensinya, ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis menjangkau semua persoalan manusia dan jin kapan dan dimanapun mereka berada. Materi yang dibebankan kepada manusia bukan saja aspek syariah yang terdiri dari akidah, ibadah dan akhlak sertah hukum-hukum Islam, melaikan menjankau semua kebutuhan manusia dalam menyesaikan persolan dan memnjadi pedoman mereka seumar hidup. Adapun pemahaman ajaran Islam itu dilakukan secara integratif melalui integrasi keilmuan berdasarkan al-Qur’an sunnah adalah: a). Menjadikan Islam sebagai landasan penggunaan ilmu (aksiologi) tanpa mempermasalahkan aspek ontologis dan epistimologisnya, b) memasukkan nilai-nilai Islam (tauhid) dalam arti luas ke dalam ilmu-ilmu umum dan teknologi, c) Mengintegrasikan paket kurikulum ilmu-ilmu umum dengan ilmu keagamaan dalam proses pendidikan untuk melahirkan ahli ilmu-ilmu umum, d) melakukan pendekatan dalam memahami ilmu keagamaan dengan sains dan teknologi.

Page 1 of 1 | Total Record : 8