cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2020): June 2020" : 8 Documents clear
Religious Expression of Hijrah Celebrity: Accommodating Protest and Political Economy of Public Piety Afrida Arinal Muna
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.112 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3154

Abstract

The hijrah campaign or massive movement that invites Muslims to become a better person by practicing religious teachings is more vigorously voiced in the digital era, including on social media, as we can find on ‘detiknews’ that the hastag #hijrah in the instagram search box more than 1,7 million posts. The hijrah account on facebook has also been followed by more than 300 thousand accounts. This phenomenon cannot be denied also by the artists, because this phenomenon is massive in the middle to upper class, who have the opportunity to consume issues trending or viral on social media. The trend in hijrah activities also influenced a series of celebrities who decided to hijrah with different processes. I assume that celebrities who do hijrah actually want not only to show their new religious expression by showing their peity to the public but also to be  a form of ‘accomodating protest’ that before they decide to hijrah, there is a kind of bullying that is the emergence of stigmas of a fear of a decline in their image in public when an artist hijrah with his new hijab style, but instead there is a kind of resistance that celebrities want to come out to public that they can still exist in even though wearing the hijab. There is also an political economic strategy played by the artists by making some innovations such as halal industry. This is their target because the trends have been becoming a massive consumerism trend by the millenial Muslim middle class, which is believed to be economic booster of the 21st century. Kampanye hijrah atau gerakan massif yang mengajak kaum Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan menjalankan ajaran agama semakin gencar disuarakan di era digital. di era digital, termasuk di media sosial, sebagaimana dapat kita temukan di ‘detiknews’ bahwa tagar #hijrah di kotak pencarian instagram terdapat lebih dari 1,7 juta postingan, akun hijrah di facebook juga sudah diikuti lebih dari 300 ribu akun. Fenomena ini tidak bisa dinafikan juga dari kalangan artis, karena fenomena ini masif ditemui di kalangan kelas menengah ke atas yang berkesempatan mengonsumi isu-isu yang menjadi tren atau viral di media sosial. Tren aktivitas hijrah ini pun mempengaruhi sederet selebriti yang memutuskan untuk hijrah dengan proses yang berbeda-beda. Saya berasumsi bahwa selebriti yang melakukan hijrah sebenarnya tidak hanya ingin menunjukkan ekspresi keberagamaan barunya dengan menunjukkan kesalehannya terhadap publik, tetapi juga sebagai sebuah bentuk ‘accomodating protest‘ bahwa sebelum mereka memutuskan untuk hijrah ada sejenis bully-an yaitu munculnya stigma-stigma ketakutan menurunnya citra mereka di hadapan publik ketika seorang artis melakukan hijrah dengan style hijab barunya, tetapi justru ada semacam perlawanan yang ingin ditunjukkan oleh para selebriti kepada masyarakat bahwa mereka tetap bisa eksis walaupun memakai jilbab dan juga ada strategi politik ekonomi yang dimainkan oleh artis-artis hijrah tersebut dengan membuat inovasi-inovasi industri halal, tren hijab yang semakin down-to-earth, dan yang lainnya. Industri halal tersebut menjadi sasaran mereka karena tren tersebut menjadi tren konsumerisme yang masif oleh kelas menengah Muslim milenial yang diyakini sebagai penggerak ekonomi abad-21.
Causes of School Dropouts among Congolese Muslim Refugees in Katwe, Kampala, Uganda Mwisha Chinyabuuma; Amika A Wardana; Muhammad Abbas
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.963 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3233

Abstract

Schools dropout is being a noticeable problem in Eastern Africa.  The school dropout fundamentally affected the future of children because it usually leads them to early marriage, drug use, hard work labor, and prostitution as the school dropout is being a serious issue in mostly Eastern Africa. This study is aimed at investigating factors contributing to the school dropout among Congolese Muslim refugee in Katwe, a village in Kampala.  Both qualitative and quantitative approach was used in this study in order to find out how language barriers and early marriages causes dropouts among Congolese Muslim refugees in Katwe; to examine how hidden costs at school causes dropouts among Congolese Muslim refugees in Katwe; and to determine the relationship between the causes of school dropout and the actual school dropout. The results of the current research show that 30% of respondents agree that language barriers are one of the most prevalent factors causes of school dropout in Katwe. The instable school fees and earlier marriage also were found as the contributed cause of school dropout. Alternative hypothesis that stated “there is a relationship between causes of school dropout and actual dropout among Congolese Muslim refugees in Katwe, Kampala, Uganda was adopted.Saat ini, putus sekolah merupakan salah satu permasalahan pelajar di wilayah Afrika Timur. Umumnya, pelajar yang putus sekolah adalah mereka yang miskin dan/atau yatim piatu serta tidak memiliki wali. Putus sekolah secara fundamental mempengaruhi masa depan anak karena situasi ini cenderung mendorong anak ke pernikahan dini, penggunaan obat-obatan terlarang, pekerjaan kasar, dan prostitusi. Berangkat dari fakta bahwa banyak pengungsi perkotaan Kongo yang putus sekolah, kami menyelidiki penyebab kondisi itu. Khususnya di Katwe, sebuah desa di Kampala, hambatan bahasa dan absennya biaya sekolah yang tetap di sekolah-sekolah terdekat diasumsikan sebagai penyebab utama kondisi putus sekolah para siswa pengungsi perkotaan Kongo di Katwe. Penelitian ini bertujuan untuk; mengetahui bagaimana hambatan bahasa dan pernikahan dini menyebabkan putus sekolah di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe; untuk menjelaskan bagaimana biaya tersembunyi di sekolah menyebabkan putus sekolah di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe; dan untuk menentukan hubungan antara penyebab putus sekolah di Katwe dengan putus sekolah yang sebenarnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan sebesar 30% responden setuju bahwa hambatan bahasa adalah penyebab utama putus sekolah bagi pengungsi perkotaan Kongo di desa Katwe. Sebagai alternatif, penelitian ini mengadopsi hipotesis yang menyatakan bahwa “ada hubungan antara penyebab putus sekolah dan putus sekolah yang sebenarnya di antara pengungsi perkotaan Kongo di Katwe, Kampala, Uganda.
Preventing and Countering Violent Extremism: Lessons from Selected Muslim Countries Mohd Mizan Aslam
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.977 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3152

Abstract

This paper explains the efforts of three Muslim countries, namely Yemen, Saudi Arabia and Malaysia in preventing and fighting against violence from jihadist extremism groups. De-radicalization program is understood as a process of changing the attitudes of former prisoners of terrorism to reject radicalism as a religious or political ideology that destroys national stability, and affects political and economic stability and even threatens human life. By using a qualitative approach, it was found that many countries have taken a significant approaches in dealing with the threat of terrorism through de-radicalization programs, especially in Yemen, Saudi Arabia and Malaysia. Most de-radicalisation programs are based on education and recovery. Education has the character of correcting misconceptions of politics and religion in militant activities, while the recovery strategy is more about continuous monitoring after liberation. The deradicalisation module aims at assisting these contries in militant recovery activities and also support their personal development. This paper explains the theoretical methods used in the de-radicalization programs in these three Islamic countries in the rehabilitation program. These countries use a set of tools that considers relevant factors such as holistic personality, self-reflection, social skills, criminal behavior, spirituality, security, and psychology.Tulisan ini menjelaskan bagaimana upaya pencegahan dan perlawanan terhadap kekerasan kelompok ekrimisme Jihadis berdasarkan pengalaman 3 negara Muslim yaitu Yemen, Saudi Arabia dan Malaysia.   Program deradikalisasi dipahami sebagai proses mengubah perilaku tahanan terrorisme untuk menolak radikalisme sebagai ideologi agama atau politik yang merusak stabilitas nasional, dan berpengaruh terhadap kestabilan politik dan ekonomi dan bahkan ancaman kepada kehidupan manusia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa banyak negara telah mengambil pendekatan yang signifikan dalam menghadapi ancaman terrorisme melalui program deradikalisasi terutama di Yemen, Saudi Arabia dan Malaysia. Kebanyakkan program deradikalisasi berasaskan pendidikan dan pemulihan. Pendidikan bersifat memperbaiki salah faham konsep berpolitik dan beragama dalam aktiviti militan, manakala strategi pemulihan lebih kepada pemantauan secara berterusan selepas pembebasan. Modul deradikalisasi bertujuan membantu kerajaan dalam kegiatan pemulihan militan dan juga membantu pembinaan personaliti mereka. Tulisan ini juga menjelaskan teoritikal metod yang digunakan dalam program deradikalisasi di tiga buah negara Islam ini dalam program rehabilitasi dengan menggunakan pendekatan personaliti holistik, pembinaan kendiri, skil-sosial, penjenayahan, kerohanian, toleransi, keselamatan dan psikologi.
Bank Wakaf Mikro: Its Operations and Its Role in Empowering Communities Surrounding Islamic Boarding Schools in Indonesia Rozalinda Rozalinda; Nurhasnah Nurhasnah
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.678 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3119

Abstract

This study aims to examine the operation of BWMs (Bank Wakaf Mikro, or Micro Wakaf Bank) in Islamic boarding schools and its role in the economic empowerment of the Muslim community surrounding them. Many poor people cannot access financial services because they are seen as unbankable. BWMs were established to address this issue. This research is a type of qualitative descriptive study, conducted at BWMs in West Sumatra, Yogyakarta, Central Java and East Java. Data collection techniques are done by interview, observations and documentation data. The results show that BWM is a Sharia Microfinance Institution (LKMS) incorporated as a cooperative. The empowerment model carried out by BWM is to provide financing and assistance to poor but potentially productive market segments located around the vicinity of Islamic boarding schools. Distribution of funding follows a group pattern with a joint responsibility scheme. In its journey, BWM has shown its role in community economic empowerment through providing training to prospective customers, then channeling financing to those who pass the group feasibility test. They also provide further assistance to these customers through weekly learning circles (halaqah) activities.Penelitian ini bertujuan membedah operasional BWM di pondok pesantren dan peranya terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat Muslim di lingkungan sekitarnya. Banyak masyarakat miskin tidak dapat mengakses jasa keuangan karena mereka dipandang  unbankable. Padahal, Bank Wakaf Mikro (BWM) didirikan untuk menjawab  persoalan tersebut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dilakukan pada BWM yang ada di Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan data dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BWM merupakan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS)  berbadan hukum koperasi. Model pemberdayaan yang dilakukan oleh BWM adalah menyediakan pembiayaan dan pendampingan  dengan  segmen pasar  masyarakat miskin potensial produktif yang berada di sekitar pondok pesantren. Penyaluran pembiayaan dan pendampingan menggunakan pendekatan kelompok dengan sistem tanggung renteng. Dalam perjalannya BWM sudah menunjukkan perannya dalam pemberdayaan  ekonomi masyarakat melalui pemberian pelatihan kepada calon nasabah, kemudian menyalurkan pembiayaan kepada nasabah yang lulus uji kelayakan kelompok dan memberikan pendampingan kepada nasabah yang menerima pembiayaan melalui kegiatan halaqah mingguan.
The Radical Islamic Movements in West Sumatra: An Early Investigation and Mapping Novi Hendri; Hardi Putra Wirman
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.563 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3145

Abstract

This article focuses on the background of the emergence of radical Islamic movements in West Sumatra, the strategies and media of the movements used and the implications of radical Islamic movements for social, political and diversity life in West Sumatra. At the same time, this article also illustrates the steps of de-radicalization to strengthen diversity. This research conclusively found that the diversity of the West Sumatra indicates the roots of groups that develop radical attitudes in implementing and responding to various conditions that occur. Among these groups are FPI, MMI, and KPSI. Interestingly, the attitudes and behaviour of the radical Islamic Radicalism groups in West Sumatra received a positive response and received support from the MUI West Sumatra. Furthermore, in several universities, especially in general universities, radical attitudes were also shown by several student organizations, such as LDK, FSI, and FPI. Many strategies undertaken in the efforts to jihad become the focus of radical groups, namely: the movement to implement Islam law with amar makruf nahi mungkar, uphold the khilafah Islamiyah framed in the slogan hijrah and jihad. Artikel ini berfokus pada latar belakang munculnya gerakan Islam radikal di Sumatra Barat, strategi dan media gerakan yang digunakan, serta implikasi gerakan Islam radikal untuk kehidupan sosial, politik dan keragaman di Sumatra Barat. Pada saat yang sama, artikel ini juga menggambarkan langkah-langkah deradikalisasi untuk memperkuat keragaman. Penelitian ini secara meyakinkan menemukan bahwa keanekaragaman Sumatra Barat menunjukkan akar kelompok yang mengembangkan sikap radikal dalam menerapkan dan merespons berbagai kondisi yang terjadi. Di antara kelompok-kelompok ini adalah FPI, MMI, dan KPSI. Yang menarik, sikap dan perilaku kelompok Radikalisme Islam radikal di Sumatra Barat mendapat respons positif dan mendapat dukungan dari MUI Sumatra Barat. Selanjutnya, di beberapa universitas, terutama di universitas umum, sikap radikal juga ditunjukkan oleh sejumlah organisasi mahasiswa, seperti LDK dan FSI. Sejumlah strategi yang dilakukan dalam upaya jihad menjadi fokus kelompok radikal, yaitu: gerakan menerapkan hukum Islam dengan amar makruf nahi mungkar, menegakkan khilafah Islamiyah yang dibingkai dalam slogan hijrah dan jihad.
Islamic Law and Gender: The Collapse of the Oligarchical-Patriarchal Culture in the Konawe Region of Southeast Sulawesi Ipandang Ipandang
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.177 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3247

Abstract

This article focuses on the efforts of women in the Konawe Region of Southeast Sulawesi who seek to gain an egalitarian position in the midst of oligarchical-patriarchal culture. Divorce claims as a trend of regional social become the main discourse on the dynamics of marriage law – in this context of Islamic law perspective. It is ordinarily for this research to use a qualitative approach aimed at forming substantive theories based on the concept of empirical data. The informants of this article were determined using a purposive technique, data collection techniques using in-depth interviews and participant observation, and the interactive model of Miles and Hubermann was used as a data analysis model. This research conclusively found that the power of oligarchic-patriarchal culture lies and legitimized by the interpretation of Islamic religious texts from the Qur’an and Sunnah. This effort also appears massive in the form of "rebellious" actions such as divorce to form an asymmetrical culture. This research examined this pattern in terms of asymmetric gender, namely the movement egalitarian of women who are incompatible with the ideals of male superiority in patriarchal-culture religion.Artikel ini fokus pada upaya perempuan masyarakat Daerah Konawe Sulawesi Tenggara yang berusaha mendapatkan posisi egaliter di tengah budaya oligarkis-patriarkis. Gugat cerai sebagai tren kemasyarakatan daerah tersebut menjadi diskursus utama dinamika hukum pernikahan –dalam konteks ini perspektif hukum Islam. Lazim apabila riset ini menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan pada pembentukan teori substantif berdasarkan konsep data empiris. Informan artikel ini ditentukan dengan teknik purposive, teknik pengumpulkan data menggunakan wawancara mendalam dan observasi partisipan, dan model interaktif Miles dan Hubermann dijadikan sebagai model analisis data. Riset ini secara konklutif menemukan, keperkasaan budaya oligarkis-patriarkis ada serta dilegitimasi oleh penafsiran terhadap teks-teks keagamaan Islam dari Qur’an dan Sunnah. Upaya ini pun masif muncul dalam bentuk tindakan “memberontak” seperti gugat cerai hingga membentuk budaya asimetris. Riset ini mengistilahkan pola tersebut dengan istilah gender asimetris, yaitu gerakan egaliter kaum perempuan yang tidak kesesuaian dengan cita superioritas laki-laki di budaya patriarkis-religius
Harakatul Jannah Mosque: Minang Identity and Islamic Mission in Diaspora (Rantau) Abdul Wahid Hasyim; Yulia Kartika
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.152 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3234

Abstract

This article discusses the efforts to strengthen cultural and ethnic identity the Minang people in diaspora (rantau), specifically in the context of the Harakatul Jannah mosque in Gadog, Ciawi, Bogor, West Java. In addition to being a symbol of the acculturation Minangkabau culture in the local community, this mosque preserves the social and religious institutions of Minangkabau custom in diasporic lands. This study uses a qualitative method. Data collection is done not only through literature review but also through direct observation. Analysis of collected data is based on heuristic, verification, interpretation, and historiographical techniques. This study finds that through the Harakatul Jannah mosque, the diasporic community from Minangkabau is able to relive the Minang tradition in social activities, education, as well as architecture. Combining European and Middle Eastern styles with traditional styles, this mosque was constructed without losing Minangkabau cultural characteristics, which are reflected in several elements, such as the Bundo Kanduang Gate, the Hajjah Tower, and the Majlis of Shaykh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. These are manifestations of archipelago culture in architecture. In the field of education, the activities of the students and the community of the mosque shows many similarities with the Islamic intellectual tradition of 19th century Minangkabau. All educational and religious activities in the mosque aim at preserving and strengthening the Minang cultural identity in diasporic lands.Artikel ini membahas tentang penguatan identitas budaya dan kesukuan orang Minang di tanah rantau melalui Masjid Harakatul Jannah di Gadog, Ciawi, Bogor. Selain menjadi simbol akulturasi budaya Minangkabau, masjid ini menjadi jejak pranata sosial keagamaan pamangku adat Minangkabau di ranah rantau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan selain melalui kajian kepustakaan juga observasi langsung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa melalui masjid Masjid Harakatul Jannah, para perantau dari Minangkabau menghidupkan tradisi Minang baik dalam aktivitas sosial, pendidikan, dan keagaman maupun arsitektur bangunan. Manifestasi arsitektur itu di antaranya menggabungkan gaya Eropa dan Timur Tengah dengan gaya tradisional pada bangunan mesjid. Hal ini  tercermin dalam beberapa elemen masjid, seperti pintu Bundo Kanduang,  Tower haji, dan  Majlis Shaykh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Sementara itu dalam bidang pendidikan, aktivitas model surau yang dimodifikasi menunjukkan kemiripan dengan tradisi intelektual Islam di Minangkabau abad ke-19. Dengan demikian, arsitek bangunan dan aktivitas keagamaan di masjid tersebut merupakan bentuk penguatan identitas budaya Minang di tanah rantau.  
Predicting the Impact of Commercialization Factors on the Social Mission of Islamic Microfinance Institutions for Muslim Communities Hesi Eka Puteri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.849 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3095

Abstract

This study examines the impact of commercialization factors, covering profitability, regulation, and competition, on the social performance of Islamic rural banks that cater specifically to the Muslim community.  As a community banking institution operating by Islamic principles, Islamic rural banks are faced with two performance targets, namely financial performance and social performance, both of which are interrelated. This study is quantitative research based on a survey on six units of Islamic rural banks in West Sumatra. Data from the financial services authority and other financial documents at Islamic rural banks are analyzed with panel data regression. The findings of this research show that profitability and competition influence social performance. Meanwhile, there is no regulation’s impact on social performance.  Regulatory factors that were initially expected to strengthen the social responsibility mission of Islamic rural banks did not stimulate the increase of social performance. This study reveals the importance of the commercialization factor in improving the social performance of Islamic rural banks which aims at increasing the social benefits for the low-income Muslim community.Penelitian ini bertujuan untuk menguji dampak dari faktor-faktor komersialisasi yang meliputi profitabilitas, regulasi dan kompetisi terhadap kinerja sosial BPR Syariah khususnya kepada penggunanya yaitu masyarakat Muslim. Sebagai sebuah community banking yang beroperasi dalam prinsip-prinsip Islam, BPR Syariah dihadapkan pada dua target kinerja yaitu kinerja keuangan dan kinerja sosial yang keduanya saling terkait. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan survei pada enam unit BPR Syariah di provinsi Sumatera Barat, Data dikumpulkan dari Otoritas Jasa Keuangan dan dokumen di BPR Syariah kemudian dianalisis dengan regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas dan persaingan berpengaruh terhadap kinerja sosial, sedangkan regulasi tidak berpengaruh terhadap kinerja sosial. Faktor regulasi yang semula diharapkan memperkuat misi tanggung jawab sosial BPR syariah, ternyata tidak merangsang peningkatan kinerja sosial. Studi ini mengungkap akan pentingnya faktor komersialisasi dalam meningkatkan kinerja sosial BPR syariah dengan meningkatkan manfaat sosial untuk masyarakat Muslim berpenghasilan rendah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8