cover
Contact Name
Haryo Ksatrio Utomo
Contact Email
oratiodirectafisipubk@gmail.com
Phone
+6281310550766
Journal Mail Official
oratiodirectafisipubk@gmail.com
Editorial Address
Kampus Pegangsaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur No. 17a. Menteng, Jakarta Pusat 10310 , Indonesia.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi)
Published by Universitas Bung Karno
ISSN : -     EISSN : 26150743     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) sebagai jurnal ilmu komunikasi FISIP Universitas Bung Karno memiliki peran sebagai pemberi pesan keilmuan secara langsung bagi masyarakat luas. Oratio Directa juga menerjemahkan semangat orasi dari Bung Karno yang selalu memihak kepada kebenaran. Pada konteks itu, maka Oratio Directa harus mampu memaparkan kebenaran secara lugas dan langsung memaparkan dengan koridor ilmu komunikasi. Jurnal Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) menggunakan double-blind peer-review yang akan menjadi basis penilaian, sehingga JOD dapat menjadi wadah hasil penelitian atau riset atau diseminasi, serta menjadi sarana pertukaran karya ilmiah tentang komunikasi Indonesia di kalangan akademisi internasional, praktisi, regulator, dan masyarakat. JOD sangat tertarik dengan perkembangan gagasan atau isu-isu komunikasi secara keseluruhan, terdiri dari dua disiplin ilmu yang menonjol di bidang komunikasi. Secara spesifik, kajian komunikasi akan difokuskan pada bidang-bidang tertentu sebagai berikut: Komunikasi: Public Relations, Advertising, Broadcasting dan Jurnalistik, dan Ilmu Manajemen Komunikasi, konsep dan desain training komunikasi, bisnis media, komunikasi pemasaran dan penguasaan teknologi komunikasi, komunikasi pemasaran, manajemen media dan manajemen pelatihan konsultasi.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2018)" : 6 Documents clear
Analisis Wacana Kritis Berita Penerapan Revolusi Mental Feri Sanjaya
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.968 KB)

Abstract

Abstract"The Mental Revolution." The term that President Soekarno first used in 1957 when the national revolution was stopped. The mental revolution is a movement aimed at galvanizing the Indonesian man into a new man of white heart, steel-bearing, eagle-eagled spirit, sparkling fire. One part of the Mental Revolution is law enforcement. Law enforcement is a process of real efforts to enforce legal norms as a guide to traffic behavior or legal relations in the life of society and state. The press as part of the pillar of democracy has a role in the effort of realizing law enforcement through its preaching. The role of mass media can not be underestimated. In certain cases, indirectly media can assist in defending the small people from oppression. Mass media can also make giving direction to government policy in order to always pro people, do not emphasize merit of elite. In social media coverage, quotes from the President's statement about the Mental Revolution from each individual are widely disseminated, but have never been interesting to talk about by readers because they are still dominated by negative things. In fact, the implementation of the Mental Revolution has been initiated in various government bureaucratic environments, especially as conducted by the Indonesian Police, the Attorney General's Office, the Corruption Eradication Commission (KPK) and the Ministry of State Apparatus Empowerment and Bureaucratic Reform (PAN RB). The existing news dynamics tend to be more dominantly distributed, such as: "Papa Asks for Stocks", "Komjen Budi Waseso", "Multiple Positions", and "Setya Novanto Case". Key Word: Mental Revolution, Press, Law EnforcementAbstrak “Revolusi Mental.” Istilah yang pertama kali digunakan Presiden Soekarno tahun 1957 ketika revolusi nasional sedang berhenti. Revolusi mental adalah sebuah gerakan yang ditujukan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Salah satu bagian dari Revolusi Mental adalah penegakan hukum. Penegakan hukum merupakan suatu proses dilakukannya upaya tegaknya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pers sebagai bagian dari pilar demokrasi mempunyai peran dalam usaha mewujudkan penegakan hukum melalui pemberitaannya. Peran media massa tak bisa disepelekan. Pada kasus-kasus tertentu, secara tak langsung media dapat membantu dalam membela rakyat kecil dari penindasan. Media massa juga dapat membuat memberi arah kebijakan pemerintah agar selalu pro rakyat, tidak mementingkan segolongan elit semata. Dalam pemberitaan media sosial, kutipan pernyataan Presiden mengenai Revolusi Mental mulai dari setiap individu cukup banyak disebarkan, namun belum pernah menjadi yang menarik untuk dibicarakan oleh pembaca karena masih didominasi hal-hal yang negatif. Padahal, pelaksanaan Revolusi Mental telah digagas di berbagai lingkungan birokrasi pemerintahan, khususnya seperti yang dilakukan oleh Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian Pemdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB). Dinamika pemberitaan yang ada cenderung negatif malah lebih dominan disebarkan misalnya tentang: “Papa Minta Saham”, “Komjen Budi Waseso”, “Rangkap Jabatan”, dan “Kasus Setya Novanto.Kata kunci : Revolusi Mental, Pers, Penegakan Hukum
The Presentation Of Self in Everyday Life:Studi Pustaka Dalam Memahami Realitas Dalam Perspektif ERVING GOFFMAN Michael Jibrael Rorong
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.396 KB)

Abstract

AbstractThe issue of life in understanding every reality provides such a complex understanding, these aspects look at different perspectives in each individual that places themselves in a distinctly different order of life. These issues lead us to Ervin Gofman's understanding and view of one's self-presentation. Someone in doing activities to demonstrate their existence requires movement by displaying various aspects, such as what life is living with real life has a very different difference. This understanding is poured by Ervin Goffman with the proposed theory of presentation of self.Key Word : Presentation of Self, Ervin Goffman.AbstrakPersoalan kehidupan dalam memahami setiap realitas memberikan pemahaman yang begitu kompleks, aspek-aspek ini melihat berbagai sudut pandang dalam setiap individu yang menempatkan diri mereka pada tatanan kehidupan yang memiliki perbedaan. Persoalan-persoalan ini menghantarkan kita pada pemahaman dan pandangan Ervin Gofman tentang presentasi diri seseorang. Seseorang dalam melakukan aktivitas untuk mempertunjukan eksistensi yang mereka lakukan membutuhkan pergerakan dengan menampilkan berbagai macam aspek tertentu, seperti apa kehidupan yang dijalani dengan kehidupan yang sesunguhnya memiliki perbedaan yang sangat berbeda. Pemahaman ini dituankgan oleh Ervin Goffman dengan teori yang dikemukakan yaitu presentation of self.Kata Kunci : Presentasi Diri, Ervin Goffman,
Membangun Image Partai Di atas Panggung Dramaturgis Faisyal Chaniago
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.062 KB)

Abstract

Abstract The image of political parties in the eyes of the people not good. Because, behavior political parties contradict with political ethics. Behavior corruption, hedonism and precedes interests political parties - from interests people. People become disappointed. This not good to political parties image.Therefore, political parties the use mass media to up image. Because, mass media can up image  political parties, get influence opini public and get influence attitude public. now, all political parties get have social media and mass media - as tool campaign and propaganda. Key Words: Image political, dramaturgist, political parties, mass media. Abstrak Citra partai politik di mata rakyat tidak baik. Karena, perilaku partai politik bertentangan dengan etika politik. Perilaku korupsi, hedonisme dan mendahului kepentingan partai politik - dari kepentingan orang. Orang-orang menjadi kecewa. Ini tidak bagus untuk citra partai politik. Oleh karena itu, partai politik menggunakan media massa untuk meningkatkan citra. Sebab, media massa dapat meningkatkan citra partai politik, mendapatkan pengaruh opini publik dan mendapatkan pengaruh sikap publik. Sekarang, semua partai politik memiliki media sosial dan media massa - sebagai alat kampanye dan propaganda.Kata  Kata Kunci: Citra politik, dramaturgi, partai politik, media massa.
Penyajian Program Acara KDI Terhadap Persepsi Khayalak Ayu Larasati
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.613 KB)

Abstract

Abstrak Dari banyaknya program-program acara yang menghiasi layar kaca televisi. KDI adalah suatu ajang pencarian bakat bernyanyi dangdut. Pada penelitian ini, penulis menggunakan teori penyajian program dan persepsi khalayak, yang mengansumsikan bahwa penyajian yang disajikan program acara KDI memberikan informasi kepada khalayak. Sehingga khalayak dapat mempersepsikan pesan dari program acara KDI. Metodelogi yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif yang bersifat eksplanatif. Sumber data utama berasal dari hasil observasi dengan menggunakan kuesioner atau angket yang disebarkan kepada objek penelitian yaitu penonton program acara KDI di studio. Hasil penelitian didapat bahwa tayangan program KDI di MNCTV memiliki hubungan yang kuat terhadap persepsi khalayak. Hasil tersebut berdasarkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,533 dan bersifat positif. Kemudian hasil analisi regresi didapat nilai R square sebesar 0,284 yang berarti 28,4% persepsi khalayak yang berhubungan dengan penyajian program acara KDI dan hasil uji hipotesis berdasarkan uji regresi sederhana diperoleh koefisien arah regresi b= 1,004 dan konstanta a=16,325 atau Y=16,325+1,004X. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara penyajian program acara KDI terhadap persepsi khalayak. Kata Kunci: KDI, Persepsi, Tekevisi Abstract Of the many programs that adorn the television screen. KDI is a talent search event dangdut singing. In this study, the authors use the theory of program presentation and audience perception, which assumes that the presentation presented KDI event program provides information to the audience. So the audience can perceive messages from the KDI event program. The methodology used is an explanative quantitative approach. The main data source comes from the results of observation by using questionnaires or questionnaires distributed to the object of research is the audience of KDI event programs in the studio. The results showed that KDI program impressions on MNCTV had a strong relationship to audience perception. The result is based on the correlation coefficient value (r) of 0.533 and is positive. Then result of regression analysis got value of R square equal to 0,284 which mean 28,4% perception of audience related to presentation of program of event of KDI and result of hypothesis test based on simple regression test obtained regression coefficient b = 1.004 and constant a = 16,325 or Y = 16,325 + 1.004X. Therefore it can be concluded that there is a positive relationship between the presentation of KDI event program to the public perception. Key Words:  KDI, Perception, Television.
Komodifikasi Pekerja Media Dalam Industri Hiburan Televisi Achmad Budiman Sudarsono
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3293.399 KB)

Abstract

ABSTRACT The commodity of workers in the world of television entertainment today is a driving force in production activities. Not only production, but also distribution. The optimal use of their minds and minds by constructing their minds on how to comfort them, if they work in a mass media industry, even with unnecessary wages. There are three things that related with the commodification of media content, the number of audience and advertising, commodification workers. Therefore, creative in the mass media must now utilize the figure to attract the audience to watch the event. In this study the authors try to see the figure of Ananda Omesh as a media worker made commodification by Mass Media to continue the existence of the event that was delivered that is Family 100. Keyword: Commodity, Mass Media, Wage, Family 100. ABSTRAKKomodifikasi pekerja di dunia hiburan televisi saat ini merupakan sebuah penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi saja, tetapi juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenagkannya, jika bekerja dalam sebuah industri media massa, walaupun dengan upah yang tak seharusnya. Ada tiga hal yang terkiat dengan komodifikasi yaitu isi media, jumlah audience dan iklan, komodifikasi pekerja. Oleh karenanya, kreatif di media massa saat ini harus memanfaatkan figur untuk menarik penonton untuk menyaksikan acara tersebut. Dalam penelitian ini penulis mencoba melihat sosok Ananda Omesh sebagai pekerja media dijadikan komodifikasi oleh Media Massa untuk terus eksistensi acara yang dibawakan yaitu Family 100. Kata Kunci : Komoditas, Media Massa, Upah, Famili 100.  
Perspektif Feminis Dalam Media Komunikasi Film (Wacana Kritis Perjuangan Keadilan Gender Dalam Film “Three Billboard Outside”) Radita Gora Tayibnapis; Risqi Inayah Dwijayanti
Oratio Directa (Prodi Ilmu Komunikasi) Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : FISIP Universitas Bung Karno

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.286 KB)

Abstract

Abstrak Penindasan dan perenggutan terhadap perempuan dalam memperoleh keadilan bukanlah suatu fenomena baru, namun sudah menjadi fenomena lama yang terus menjadi kontroversi dan perbincangan di masyarakat umum. Hal tersebut digambarkan dalam film Three Billboard Ebbing, Missouri yang menjadi salah satu film kontroversi, namun di satu sisi sebagai salah satu film terbaik dalam penghargaan film internasional 2017 yang bercerita tentang perjuangan seorang ibu yang menuntut keadilan atas pembunuhan putrinya. Permasalahan yang diangkat adalah adanya suatu kontradiksi, serta konflik terhadap pandangan aparat hukum sebagai pembentukan kapital dan dominasi kelas yang digambarkan dalam film tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti teori feminis dan kelompok. Metode yang digunakan untuk mengkaji film ini menggunakan metode analisis wacana dari model Fairclough. Pembahasan dalam penelitian terlihat bahwa representasi, relasi, dan identitas mengacu pada dominasi terhadap perempuan dari sisi perolehan hak keadilan secara hukum. Representasi feminis yang ditampilkan adalah feminis liberal, dengan ideologi feminis marxis yang memandang bahwa perempuan sebagai bagian proletariat dan upaya pembentukan terhadap emasinasi proletariat perempuan dalam memperoleh hak atas kesetaraan gender serta keberpihakan hukum.      Kata Kunci: Film, Penindasan, Feminisme Abstract The oppression and grasping of women in obtaining justice is not a new phenomenon, but it has become an old phenomenon that continues to be controversial and conversation in the general public. It is portrayed in the film Three Billboard Ebbing, Missouri which is one of the controversial films, but on the one hand as one of the best films in the international film award 2017 which tells the story of a mother's struggle demanding justice for the murder of her daughter. The issues raised are the existence of a contradiction, as well as the conflict on the views of the legal apparatus as the formation of capital and the dominance of the classes depicted in the film. The theory used in this research is like feminist and group theory. The method used to study the film uses discourse analysis methods from the Fairclough model. The discussion in the research shows that the representation, relation, and identity refers to the domination of women from the side of the acquisition of legal right of justice. The feminist representation presented is a liberal feminist, with a feminist Marxist ideology which views women as part of the proletariat and the establishment of the golden proletariat of women in obtaining the right to gender equality and legal sanction. Key Word: Movie, Oppression, Feminism. 

Page 1 of 1 | Total Record : 6