cover
Contact Name
Nailis Syifa
Contact Email
nailissyifa@umm.ac.id
Phone
+6285810289644
Journal Mail Official
farmasains@umm.ac.id
Editorial Address
Jl. Bendungan Sutami No.188, Sumbersari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan
ISSN : 20863373     EISSN : 2620987X     DOI : 10.22219
Core Subject : Health, Science,
Farmasains publishes articles that cover textual and fieldwork studies with various perspectives of pharmacy science including: Pharmaceutical Technology Pharmaceutical Chemistry Biology Pharmacy and Natural Products Pharmacology and Toxicology Clinical Pharmacy Community Pharmacy Pharmacoepidemiology Pharmacogenomic and Pharmacogenetic Pharmacoeconomic Health-related topics
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010" : 13 Documents clear
POLA PERESEPAN ANTIBIOTIKA PADA KASUS INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) DI KLINIK “X” DI KOTA MALANG PADA BULAN MEI-DESEMBER 2008 Hidayati, Ika Ratna; Rachmawati, Hidajah
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.501 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.427

Abstract

Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada masyarakat. Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi saluran napas atas meliputi rhinitis, sinusitis, faringitis, laryngitis, epiglotitis, tonsillitis, otitis. Sedangkan infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronchus, alveoli seperti bronchitis, bronkhiolitis, pneumonia. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat gambaran pola peresepan antibiotik pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Klinik “X” di Kota Malang pada bulan Mei-Desember 2008. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif pada periode Mei sampai Desember 2008 di sebuah klinik “X” di Kota Malang, Jawa Timur. Semua pasien dengan semua jenis umur dan yang tercatat di dalam rekam medik di ambil sebagai sampel. Analisa dilakukan dengan metode deskriptif non analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 166 kasus infeksi saluran pernapasan akut, 69,87% diantaranya pasien wanita, sedangkan sisanya 30,12% adalah laki-laki. Antimikroba yang paling banyak digunakan adalah sefadroxil sebanyak 51,20%, dan diikuti berturut – turut antibiotika Ciprofloxacin sebanyak 22,89%, Amoxicillin sebanyak 12,05%, Cotrimoxazol sebanyak 6,02%, Thiamphenicol sebanyak 4,82%, Erythromycin sebanyak 2,4%, dan paling rendah adalah antibiotika Chloramphenicol sebanyak 0,60%. Secara umum pemilihan dan penggunaan antimikroba untuk terapi pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di Klinik “X” di Kota Malang, propinsi Jawa Timur bulan Mei-Desember 2008 sudah sesuai dengan referensi standar pelayanan kefarmasian. Kata kunci : antibiotika, infeksi saluran nafas, pola peresapan
EFEK FARMAKOLOGI SUSPENSI BIJI LADA HITAM (Piper nigrum l) DAN PIPERIN TERHADAP TEKANAN DARAH KUCING TERANESTESI Ermawati, Dian
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.489 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.418

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah salah satu penyakit degeneratif yang mempunyai risiko penyebab kematian yang cukup tinggi. Menurut berbagai penelitian didapatkan prevalensi penyakit hipertensi mencapai 15-20% . Untuk mengatasinya, akhir-akhir ini orang cenderung untuk kembali memakai produk-produk alami. Biji lada hitam (Piper nigrum l) yang mempunyai kandungan pedas yaitu piperin dengan kadar yang relatif besar sekitar 5-9% digunakan masyarakat pemakai obat tradisional untuk mengobati penyakit tekanan darah tinggi. Untuk itu diperlukan pembuktian secara ilmiah apakah terdapat daya hipotensif biji lada hitam dan piperin terhadap tekanan darah kucing teranestesi. Dalam penelitian ini hewan uji kucing dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok I suspensi biji lada hitam dosis 5%, kelompok II suspensi biji lada hitam dosis 20%, kelompok II suspensi biji lada hitam dosis 40%, kelompok IV kontrol negatif CMC Na 0,5% dan kelompok V piperin dosis 5%. Pemberian larutan uji secara intragastrik, dilakukan saat tekanan darah stabil (dianggap waktu / t = 0). Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bahan uji yaitu pada menit ke-0, 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105, dan 120. Analisis data menggunakan uji deskriptif, uji Kruskal Wallis, Uji Mann Whitney dan uji Split-plot. Hasil penelitian menunjukkan pemberian suspensi biji lada hitam yang diberikan pada kucing yang teranestesi menunjukkan efek hipotensif. Lada hitam dosis 5% menunjukkan penurunan tekanan darah yang sesuai dengan pengobatan hipertensi dengan durasi dari menit ke-0 sampai menit ke-120. Lada hitam dosis 20% memberikan penurunan tekanan darah terbesar pada menit ke-60 sebesar 45,67%. Kata kunci: biji lada hitam, kucing, hipotensif
PENELUSURAN MEKANISME FLAVONOID KULIT JERUK KEPROK (Citrus reticulata) SEBAGAI AGEN KEMOPREVENTIF MELALUI DOCKING MOLEKULER PADA PROTEIN TARGET CYP1A2 Andita Pra Darma, Riris Istighfari Jenie, Edy Meiyanto, Perdana Adhi Nugroho, Dyani P Sukamdi,
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1568.782 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.423

Abstract

Subklas flavonoid khususnya golongan polimetoksiflavon menunjukan aktivitas kemopreventif pada berbagai sel kanker secara in vitro dan beberapa studi in vivo. Pada tahapan inisiasi kanker, bioaktivasi karsinogen polisiklik aromatik hidrokarbon secara signifikan dapat direduksi oleh senyawaan polimetoksiflavon melalui penghambatan sistem enzim sitokrom P450 (CYP) dalam level transkripsi gen maupun interaksi langsung dengan enzim tersebut. Pada tahapan promosi kanker, berbagai studi menunjukan bahwa proliferasi sel kanker dihambat lebih kuat oleh golongan metoksiflavon dibandingkan hidroksiflavon. Tangeretin, nobiletin, naringin dan hesperidin adalah beberapa senyawa polimetoksiflavon dari kulit jeruk keprok yang dilaporkan memiliki efek kemopreventif melalui modulasi aktivitas CYP1A2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui afinitas, konformasi dan interaksi senyawa berkerangka polimetoksiflavon kulit jeruk keprok (Citrus reticulata) terhadap protein target CYP1A2 menggunakan molecular docking. Optimasi geometri struktur polimetoksiflavon dilakukan dengan piranti lunak Molecular Operating Environment for Windows. Konformasi optimum struktur polimetoksiflavon dihasilkan menggunakan metode semiempirik AMBER99. Kemudian dilakukan proses docking senyawa uji dengan bindingsite CYP1A2 (PDB ID:2HI4) menggunakan piranti lunak Molecular Operating Environment for Windows dalam kondisi tanpa air. Hasil docking senyawa golongan polimetoksiflavon dibandingkan dengan native ligan pada target CYP1A2, menunjukkan interaksi polimetoksiflavon yang lebih kuat dibanding interaksi ligan pembanding á-naphtoflavon.  Kata kunci: Citrus reticulata, polimetoksiflavon, molecular docking, CYP1A2
STUDI BEBERAPA DOSIS INFUS DAUN SALAM (Syzygium polyanthum Wight Walp) SEBAGAI ANTIDIARE PADA MENCIT (Mus musculus) ., Sundari; ., Masruhen
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.976 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.428

Abstract

Daun Syzygium pholyanthum Wight Walp masyarakat seringkali menyebutnya dengan sebutan daun salam biasanya digunakan masyarakat sebagai bumbu masak. salam merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak khasiat dalam mengobati berbagai penyakit,salah satunya sebagai obat diare.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antidiare infus daun salam dengan pengamatan jumlah feses, konsistensi feses, serta lama diare. Daun salam diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan. Hewan coba dibagi secara acak menjadi 8 kelompok terdiri dari kelompk yang tidak didiarekan, kelompok kontrol positif, kontrol negatif serta kelompok diberikan infus daun salam secara oral dengan berbeda dosis yaitu 15%, 20%, 25%, 30%, dan 35% b/v. Waktu pengamatan dilakukan setiap 1 jam selama 4 jam, evaluasi hasil dilakukan dengan menghitung jumlah feses, skor kosistensi feses serta lama diare mencit. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis varian ( ANAVA), dilanjutkan dengan uji Student Newman Keuls (SNK). Hasil analisis penelitian diperoleh data bahwa infuse daun salam dengan dosis 25% b/v, memberikan efek daya antidiare terbesar yaitu dengan rata rata jumlah feses 56%, konsistensi feses sebesar 51,77%, serta lama diare 36,66 menit. Infus daun salam dosis 15% rata rata jumlah 46,66%, konsistensi feses 43,26%, serta lama diare 46,66 menit. Salam. Dosis 20% rata rata jumlah feses 42,66%, konsistensi feses 36,18,serta lama diare51,67%. Dosis 30% rata rata jumlah feses 32%,konsistensi feses 33,33%,serta lama diare 53,33%.Dosis 35% rata rata jumlah feses 45,33%, konsistensi feses 41,14%, serta lama diare 51,67%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan daun salam dapat mengurangi jumlah feses, lama diare serta meningkatkan konsisitensitensi feses terhadap mencit. Semakin tinggi dosis infus daun salam yang digunakan untuk antidiare belum tentu daya antidiare infus daun salam semakin meningkat hal itu terbukti bahwa dosis 25% memiliki daya antidiare tertinggi dibanding dosis 15%, 20%, 30%, dan 35%. Dosis 25% memiliki efek yang sama seperti efek yang dihasilkan oleh loperamid dosis 0,052 mg. Berdasarkan hasil penelitian disarankan. Masyarakat menggunakan daun salam sebagai obat antidiare dosis 25%. Isolasi tannin yang terdapat dalam daun salam sehingga zat-zat lainya tidak ikut tersari sehingga memaksimalkan pengobatan diare. Dilakukan penelitian mengenai ED50. Senyawa kimia yang berkhasiat sebagai antidiare ini adalah tannin.  Kata kunci: daun Syzygium pholyanthum, diare, infus
EFEK SITOTOKSIK PROTEIN DARI DAUN Mirabilis jalapa l HASIL PEMURNIAN DENGAN KOLOM CM SEPHAROSE CL-6B TERHADAP KULTUR SEL HeLa Sudjadi, Sismindari, Ni Putu Ariantari, Zullies Ikawati,
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1282.332 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.419

Abstract

Mirabilis jalapa l leaves have been known containing Ribosome Inactivating Proteins (RIPs) base on its N-glycosidase activity and cleavage of supercoiled double stranded DNA. The research aims to investigate cytotoxic activity of protein isolated from Mirabilis jalapa l leaves against HeLa cell culture. In this research, crude extract of Mirabilis jalapa l leaves was separated by gradual precipitation using sulphate ammonium followed by dyalisis. Further separation of protein fraction with cation exchange chromatography using CM sepharose CL-6B column and elution with sodium phosphate buffer 5 mM pH 6,5 for 30 minutes continued with sodium phosphate buffer 5 mM pH 6,5 containing 0-0,5 M NaCl by gradient elution for 90 minutes. Cytotoxicity activity testing of protein fraction that showed an ability to cleave supercoiled double stranded DNA revealed that RIPs eluated at NaCl gradient of 0,33-0,37 M and 0,38-0,41 M, concentration of 0,553 mg/mL relatively less toxic against HeLa cell culture with percentage of cytotoxicity of 29,53%. Keywords: Mirabilis jalapa l, RIPs, cytotoxicity
PENGARUH PEMBERIAN INFUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi l) TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS ., Masruhen
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.609 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.424

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh infus buah belimbing wuluh terhadap kadar kolesterol darah tikus. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa air perasan belimbing wuluh dengan volume 1ml, 1,5ml, 2ml, dan 2,5ml secara oral pada tikus putih dapat menurunkan kadar kolesterol dalam serum darahnya. Belimbing wuluh mengandung senyawa flavonoid, pektin dan vitamin C yang dapat menurunkan tekanan darah. Buah belimbing wuluh mempunyai rasa yang sangat masam, sehingga orang enggan memakan langsung atau diperas airnya. Dengan membuat infus dapat mengurangi rasa masam pada belimbing wuluh. Dengan cara penyarian infundasi zat aktif flavonoid, pektin dan vitamin dapat tersari, namun demikian perlu diuji efek menurunkan kadar kolesterolnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infus buah belimbing wuluh terhadap kadar kolesterol darah tikus. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 15 ekor tikus putih yang dibagi dalam 5 kelompok percobaan. Masing-masing tikus diberi asupan kolesterol tinggi kuning telur ayam 54 mg/200 g BB, dan diukur kadar kolesterol darahnya menggunakan chip strip chek kolesterol. Berikutnya, kelompok I diberi infus belimbing wuluh dosis 1,8 g/200 g BB, kelompok II dosis 3,6 g/200 g BB, kelompok III dosis 5,4 g/200 g BB, kelompok IV diberi gemfibrozil dosis 10,8 mg/200 g BB sebagai kontrol positif, kelompok V diberi aquades sebagai kontrol negatif, dan diukur kadar kolesterolnya. Data dianalisis mengunakan analisis Kovariansi dan dilanjutkan uji SNK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian infus belimbing wuluh menyebabkan penurunan kolesterol darah tikus secara bermakna. Analisis kovariansi menghasilkan nilai F hitung = 43,41 yang lebih besar dari F tabel = 6,55 (p > 0,01). Hasil uji SNK menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna antara kontrol negatif dengan kelompok I, tetapi berbeda bermakna dengan kelompok II, III dan IV. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok I, II, dan III. Kontrol positif berbeda tidak nyata dengan kelompok III. Dari data penelitian dapat disimpulkan bahwa infus buah belimbing wuluh dosis 3,6 g, dan 5,4 g /200 g BB dapat menurunkan kadar klesterol darah tikus. Dosis 5,4 g memberikan efek yang setara dengan gemfibrozil 10,8 mg/200 g BB. Kata kunci : infus, buah belimbing wuluh, kadar kolesterol darah.
STUDI ETNOBOTANI DAN ETNOFARMAKOLOGI UMBI BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Rofida, Siti
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.473 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.429

Abstract

Pengetahuan penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional hanyalah berdasarkan empiris. Perubahan pola pengobatan modern ke pengobatan tradisional, menyebabkan kebutuhan terhadap obat yang berasal dari bahan alam menjadi meningkat. Bahan alam yang digunakan sebagai obat sebaiknya berpegangan kepada pedoman bahwa bahan obat tersebut tidak menimbulkan keracunan baik akut maupun kronis dan terbukti bisa menyembuhkan penyakit atau berkhasiat sebagai obat serta dapat diperoleh secara kontinu. Secara empiris masyarakat kota Malang menggunakan umbi binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) untuk mengobati nyeri pada gigi yang disertai dengan pembengkakan yang keluar nanah, gastritis akut, nyeri kepala, panas dalam yang disertai sariawan, mengobati luka bekas operasi, mengurangi nyeri setelah operasi dan lain-lain. Ciri-ciri morfologi umbi binahong berbentuk silindris dengan tekstur permukaan yang tidak rata, panjangnya antara 4-7 cm dengan diameter 0,5-2 cm dan berdaging lunak. Secara anatomis tampak jaringan dasar (parenkim), berkas pengangkutan (xylem dan floem) dan benda ergastrik berupa amilum. Tumbuhan ini mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kata kunci: obat tradisional, umbi, Anredera cordifolia (Tenn) Steenis,.
EKSTRAK ETANOLIK Hedyotis corymbosa l MENURUNKAN PROLIFERASI SEL PADA KELENJAR PAYUDARA TIKUS MELALUI PENEKANAN EKSPRESI C-Myc Fina Aryani Goenadi, Ratna Asmah Susidarti, Edy Meiyanto, Ulfia Mutiara, Navista Sri Octa U,
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.968 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.420

Abstract

Kanker payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker leher rahim yang menyerang wanita di seluruh dunia. Eksplorasi terhadap tumbuhan yang mudah ditemukan, seperti herba Hedyotis corymbosa, sebagai alternatif pengobatan kanker payudara perlu dilakukan. Dilakukan uji in vivo terhadap lima kelompok tikus Galur Sprague Dawley terdiri atas kelompok perlakuan DMBA (20 mg/kgBB), perlakuan ekstrak etanolik herba H. corymbosa (1500 mg/kgBB), perlakuan DMBA + dosis I (750 mg/kgBB), perlakuan DMBA + dosis II (1500 mg/kgBB) dan perlakuan pelarut CMC - Na 0,5%. Kelompok perlakuan DMBA, DMBA + dosis I, dan DMBA + dosis II diinduksi DMBA 10 kali selama lima minggu. Kemudian setelah diistirahatkan selama empat minggu, dilakukan pemberian ekstrak selama 10 hari. Pada akhir percobaan dilakukan pengorbanan kemudian diambil jaringan payudara untuk diamati aktivitas proliferasinya. Dilakukan pengamatan imunohistokimia terhadap protein c-Myc pada jaringan payudara. Pengamatan pada metode imunohistokimia terhadap protein c-Myc menunjukkan adanya perubahan yang positif pada kelenjar payudara kelompok perlakuan DMBA + dosis I. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak etanolik herba H. corymbosa dosis 750 mg/kgBB sudah mampu menghambat proliferasi sel kanker payudara dan tidak bersifat dose dependent. Kata kunci: kanker payudara, Hedyotis corymbosa, proliferasi sel, c-Myc
PENGARUH POLIFENOL TEH HIJAU TERHADAP PRODUKSI TNF-A (TUMOUR NECROSIS FACTOR-A) PADA KULTUR SEL TROFOBLAS MANUSIA YANG DIPAPAR GLUKOSA TINGGI 33 Mm Aisah, Siti; Djati, Sasmito; Khotimah, Husnul
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.929 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.425

Abstract

The purpose of this research was to study the effect of green tea polyphenol to TNF-á production on human trophoblast cell culture exposed by 33 mM glucose. Trophoblast culture isolated from human fetal placental tissue by sectio caessaria. Monolayer trophoblast cells that had been incubated for 3 days at 5% CO2; 37°C were divided into 2 groups: (1) normal glucose (5 mM) and (2) glucose 33 mM exposure, both divided into 2 sub groups: (a) without green tea polyphenol treatment, and (b) green tea polyphenol treatment 0,1; 0,2; and 0;4 mg/ml. Cells incubated for 3 days at 5% CO2; 37°C then analyzed cytotrophoblast cells characteristic. TNF-á level was measured by ELISA and analyzed with oneway ANOVA. Immunocytochemistry showed the number of cells that expressed TNF-á then analyzed descriptively. The results of this study showed that TNF-á level at 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml polyphenol were 2804,333 ñg/mL; 2513,222 ñg/ml; and 2739,889 ñg/ml respectively compared with 2739,889 ñg/mL normal glucose without polyphenol, and 2721,000 ñg/mL; 2612,111 ñg/mL; and 2566,555 ñg/mL compared with 2621,000 ñg/mL glucose 33 mM exposure without polyphenol. Number of cells that expressed TNF-á with 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml polyphenol treatment were 0%; 2%; and 5,5% compared with 0% normal glucose without polyphenol, and 82%; 0%; and 0% compared with 3% glucose 33 mM exposure without polyphenol. Green tea polyphenol exposure for 3 days at 0,1; 0,2; and 0,4 mg/ml didn’t significantly affect the decreasing of TNF-á production. Keywords: GDM, green tea, polyphenol, TNF-á, trophoblast
UJI AKTIVITAS EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA HATI MENCIT GALUR SWISS YANG DIINDUKSI DENGAN CCl4 Maulita, Arina Swastika
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2010): April-September 2010
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.298 KB) | DOI: 10.22219/far.v1i1.430

Abstract

Liver is an the important organ, it plays an essential role in maintaining the biological equilibrium of vertebrates. Reactive oxygen species (ROS) play an important role in pathological changes in the liver. The research has been carried out to know the potential use of buah merah (Pandanus conoideus) extract as hepatoprotrctive agent against CCl4 poisoning in mice. In this study, the hepatoprotective activity was determined by the reduction of SGPT (serum glutamic pyruvate transaminase) and SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase) level. Application of buah merah extract significantly (p< 0,05) reduced SGPT and SGOT level. Microscopically, several changes were found, such as severe hydrofic degeneration and necrosis at liver cell that treated by CCl4. Base on histological examination of application of buah merah extract, could inhibit damage and reduced the degeneration and necrosis of liver cell. Keywords: buah merah, SGPT, SGOT, hepatoprotective.

Page 1 of 2 | Total Record : 13