cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsls@unisba.ac.id
Phone
+6282120524105
Journal Mail Official
bcsls@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Law Studies
ISSN : -     EISSN : 28282493     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsls.v2i2
Core Subject : Humanities, Social,
Bandung Conference Series: Law Studies (BCSLS) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Ilmu Hukum dengan ruang lingkup diantaranya: Akibat Hukum, Alih Teknologi, Analisis Yuridis Putusan Hakim, Angkutan Jalan, Aparatur Sipil Negara, Fungsi Lingkungan Hidup, Hak Reproduksi, Hak Servituut, Hoax, Hukum Ketenagakerjaan, Illegal Mining, Intervensi, Jual Beli Dalam Islam, Juvenile Delinquency, Kekerasan dalam Rumah Tangga, Kerugian, Kewajiban Negara, Makanan Kedaluwarsa, Nafkah Anak, Pangan Asal Hewan, Pekerja Rumah Tangga, Pencucian Uang, Penegakan Hukum pidana, Penegakan Hukum, Pengawasan, Penyelundupan Sediaan, Farmasi, Penyidik KPK, Perlindungan Hukum, Perlindungan Konsumen dan Tenaga Kerja, Pungutan Liar, Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner, Tanda Tera, Tanggung Jawab Hukum, Tenaga Kerja Asing, Tim Saber Pungli, Tanah, Tindak Pidana, Tindak Perdata, Transportasi Online, UU ITE. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari yang ahli dalam bidangnya.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 1 Documents
Search results for , issue "1085 - 1094" : 1 Documents clear
Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Pelecehan Seksual di Media Sosial dalam Perspektif Keadilan Meriyan Nuurhayyan; Nandang Sambas
Bandung Conference Series: Law Studies 1085 - 1094
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsls.v6i2.24006

Abstract

Abstract. The rapid development of information technology has increased the risk of sexual harassment on social media, while law enforcement in Indonesia still faces legal uncertainty (rechtsonzekerheid). This study aims to analyze the imposition of criminal sanctions against perpetrators of sexual harassment on social media and to evaluate the effectiveness of the Electronic Information and Transactions Law (ITE Law). The study employs a normative legal method using both a legislative and a case-based approach. The results show that although the Electronic Information and Transactions Law No. 1 of 2024 and the Law on Sexual Violence Crimes (TPKS Law) provide for imprisonment, fines, and restitution, their implementation has not fully reflected justice due to overlapping regulations and inconsistent standards of criminal liability. The ITE Law is also not yet functionally effective due to limitations in digital forensic infrastructure and an evidentiary paradigm that remains oriented toward physical evidence, causing law enforcement to tend to react only after a case goes viral. Therefore, standardization of digital evidence and regulatory harmonization are needed to achieve more effective and just legal protection for victims in the digital space. Abstrak. Pesatnya perkembangan teknologi informasi meningkatkan risiko pelecehan seksual di media sosial, sementara penegakan hukumnya di Indonesia masih menghadapi ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid). Penelitian ini bertujuan menganalisis penjatuhan sanksi pidana terhadap pelaku pelecehan seksual di media sosial serta mengevaluasi efektivitas Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU ITE No. 1 Tahun 2024 dan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) telah mengatur pidana penjara, denda, dan restitusi, penerapannya belum sepenuhnya mencerminkan keadilan akibat tumpang tindih regulasi dan standar pertanggungjawaban pidana yang belum seragam. UU ITE juga belum efektif secara fungsional karena keterbatasan infrastruktur forensik digital dan paradigma pembuktian yang masih berorientasi pada bukti fisik, sehingga penegakan hukum cenderung reaktif terhadap viralitas kasus. Oleh karena itu, diperlukan standarisasi pembuktian digital dan sinkronisasi regulasi untuk mewujudkan perlindungan hukum yang lebih efektif dan berkeadilan bagi korban di ruang digital.

Page 1 of 1 | Total Record : 1