Bandung Conference Series: Mining Engineering
Bandung Conference Series: Mining Engineering (BCSME) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Teknik Pertambangan dengan ruang lingkup Analisis sensitivitas Net Present Value (NPV), Anggaran Biaya Crushing Plant, API 5L Grade B, Belt Conveyor, BESR II, Crude Oil, Crushing plant, Dimensi Paritan, Discounted Cash Flow (DCF), Dump Truck, Economic SR, Efisiensi Kerja Cassiterite, Gas, Korosi, Hopper, Internal Rate of Return (IRR), Kapasitas Sump Jalan Angkut, Lifetime Biaya Produksi, Loosematerials, Payback Periode (PBP), Pemompaan, Peringkat Batubara, Pipa Baja Karbon, Crude Oil, Pipa Baja, Pipa Transportasi, Pit Design BWE, Productin Rate Index Crushing Plant, Produktivitas Debit Air, Rencana Reklamasi, Roller, Sisa Umur Pakai Pipa Baja Karbon, Sisa Umur Pakai Pipa Reflektan Vitrinit, Sisa Umur Pakai, Sistem Dewatering, Target Ban, KPH, TUR, Variable Crushing Plan. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
1 Documents
Search results for
, issue
"81 -88"
:
1 Documents
clear
Pengaruh Getaran Peledakan terhadap Kestabilan Lereng di Tambang Emas PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) Site Bakan
Giovani Musdika Budiana;
Yuliadi;
Elfida Moralista
Bandung Conference Series: Mining Engineering 81 -88
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24397
Abstract.Blasting is an essential operation in open-pit gold mining that generates ground vibration and may affect slope stability. This study aims to analyze blasting vibration characteristics, evaluate the relationship between Scaled Distance (SD) and Peak Particle Velocity (PPV), and assess the effect of blasting vibration on slope stability at PT J Resources Bolaang Mongondow Site Bakan. The study used 32 blasting records consisting of monitoring distance, explosive charge per delay, PPV, Peak Particle Acceleration (PPA), and vibration frequency. The relationship between SD and PPV was analyzed using the United States Bureau of Mines (USBM) approach, while slope stability was evaluated using the Bishop Simplified and Janbu Simplified methods with maximum horizontal acceleration as the dynamic load. The results show that PPV ranged from 0.127 to 1.805 mm/s and the relationship between SD and PPV was weak, indicating that SD alone could not accurately predict blasting vibration. Dynamic analysis showed only a slight reduction in the slope safety factor, indicating that blasting vibration had a limited influence on slope stability, while slope geometry and rock mass characteristics remained the dominant controlling factors. Abstrak. Kegiatan peledakan pada tambang terbuka menghasilkan getaran tanah yang berpotensi memengaruhi kestabilan lereng. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik getaran peledakan, mengevaluasi hubungan Scaled Distance (SD) dengan Peak Particle Velocity (PPV), serta menganalisis pengaruh getaran peledakan terhadap kestabilan lereng di PT J Resources Bolaang Mongondow Site Bakan. Penelitian menggunakan 32 data hasil pengukuran getaran yang meliputi jarak pengukuran, isian bahan peledak per waktu tunda, PPV, Peak Particle Acceleration (PPA), dan frekuensi getaran. Hubungan SD dan PPV dianalisis menggunakan pendekatan United States Bureau of Mines (USBM), sedangkan analisis kestabilan lereng dilakukan menggunakan metode Bishop Simplified dan Janbu Simplified dengan beban percepatan horizontal maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai PPV berkisar antara 0,127–1,805 mm/s dan hubungan SD terhadap PPV tergolong lemah sehingga belum dapat digunakan sebagai satu-satunya parameter prediksi getaran. Analisis dinamis menunjukkan bahwa getaran peledakan hanya menyebabkan penurunan faktor keamanan lereng yang relatif kecil, sehingga geometri lereng dan karakteristik massa batuan menjadi faktor yang lebih dominan dalam mengendalikan kestabilan lereng.