Yuliadi
Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Aplikasi Air Decking Menggunakan Balldeck Guna Mengefisiensi Bahan Peledak pada Peledakan Overburden PT HMS Mursalin Hasruddin; Yuliadi; Yunus Ashari
Bandung Conference Series: Mining Engineering 221 - 230
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v2i2.3271

Abstract

Abstract. The research was carried out in Pit T1 of PT Sebuku Tanjung Coal, Kotabaru Regency, South Kalimantan Province. The powder factor of conventional blasting is quite high so that the cost of explosives required is very large. One of the efforts to reduce the use of explosives is the addition of air decking on the blast hole with Ball Deck media. This study aims to reduce the powder factor in overburden blasting and to make working time more efficient. The research was conducted by comparing the actual and theoretical data, as well as analyzing the statistics of conventional blasting and air decking blasting. the important parameters in the comparison are blasting geometry, work efficiency, powder factor, and average fragmentation. The burden and spacing used in conventional blasting and air decking blasting is 8mx9m. The average working time required for conventional blasting is 1 hour 33 minutes, while for air decking blasting with the top air deck method it is 1 hour 15 minutes. The average powder factor in conventional blasting is 0.20 kg/BCM but air decking blasting is able to optimize up to 0.17 kg/BCM. The average fragmentation yield from conventional blasting was 59.29 cm, while in air decking blasting it was 65.54 cm. As well as air decking blasting can reduce the use of explosives by 12-20% per hole and can reduce the cost of explosives up to 4.82% per hole.   Abstrak. Penelitian dilakukan di Pit T1 PT Sebuku Tanjung Coal, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Powder factor dari peledakan konvensional cukup tinggi sehingga biaya bahan peledak yang dibutuhkan sangat besar. Salah satu upaya dalam mengurangi penggunaan bahan peledak adalah penambahan air decking pada lubang ledak dengan media Ball Deck. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi powder factor pada peledakan overburden serta mengefisiensi waktu kerja. Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara data aktual dan teoritis, serta menganalisis statistik dari peledakan konvensional dan peledakan air decking. adapun parameter penting dalam perbandingan yaitu geometri peledakan, work efficiency, powder factor, dan rata-rata fragmentasi. Jarak burden dan spacing yang digunakan pada peledakan konvensional dan peledakan air decking adalah 8mx9m. Rata-rata waktu kerja yang dibutuhkan pada peledakan konvensional adalah 1 jam 33 menit, sedangkan pada peledakan air decking dengan metode top air deck adalah 1 jam 15 menit. Rata-rata powder factor pada peledakan konvensional adalah 0,20 kg/BCM tetapi peledakan air decking mampu mengoptimalkan hingga 0,17 kg/BCM. Rata-rata fragmentasi dari peledakan konvensional adalah 59,29 cm, sedangkan pada peledakan air decking adalah 65,54 cm. Serta peledakan air decking dapat mengurangi penggunaan bahan peledak sebanyak 12-20 % per lubang dan mampu mengurangi biaya bahan peledak hingga 4,9% per lubang.
Pengaruh Getaran Peledakan terhadap Kestabilan Lereng di Tambang Emas PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) Site Bakan Giovani Musdika Budiana; Yuliadi; Elfida Moralista
Bandung Conference Series: Mining Engineering 81 -88
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24397

Abstract

Abstract.Blasting is an essential operation in open-pit gold mining that generates ground vibration and may affect slope stability. This study aims to analyze blasting vibration characteristics, evaluate the relationship between Scaled Distance (SD) and Peak Particle Velocity (PPV), and assess the effect of blasting vibration on slope stability at PT J Resources Bolaang Mongondow Site Bakan. The study used 32 blasting records consisting of monitoring distance, explosive charge per delay, PPV, Peak Particle Acceleration (PPA), and vibration frequency. The relationship between SD and PPV was analyzed using the United States Bureau of Mines (USBM) approach, while slope stability was evaluated using the Bishop Simplified and Janbu Simplified methods with maximum horizontal acceleration as the dynamic load. The results show that PPV ranged from 0.127 to 1.805 mm/s and the relationship between SD and PPV was weak, indicating that SD alone could not accurately predict blasting vibration. Dynamic analysis showed only a slight reduction in the slope safety factor, indicating that blasting vibration had a limited influence on slope stability, while slope geometry and rock mass characteristics remained the dominant controlling factors. Abstrak. Kegiatan peledakan pada tambang terbuka menghasilkan getaran tanah yang berpotensi memengaruhi kestabilan lereng. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik getaran peledakan, mengevaluasi hubungan Scaled Distance (SD) dengan Peak Particle Velocity (PPV), serta menganalisis pengaruh getaran peledakan terhadap kestabilan lereng di PT J Resources Bolaang Mongondow Site Bakan. Penelitian menggunakan 32 data hasil pengukuran getaran yang meliputi jarak pengukuran, isian bahan peledak per waktu tunda, PPV, Peak Particle Acceleration (PPA), dan frekuensi getaran. Hubungan SD dan PPV dianalisis menggunakan pendekatan United States Bureau of Mines (USBM), sedangkan analisis kestabilan lereng dilakukan menggunakan metode Bishop Simplified dan Janbu Simplified dengan beban percepatan horizontal maksimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai PPV berkisar antara 0,127–1,805 mm/s dan hubungan SD terhadap PPV tergolong lemah sehingga belum dapat digunakan sebagai satu-satunya parameter prediksi getaran. Analisis dinamis menunjukkan bahwa getaran peledakan hanya menyebabkan penurunan faktor keamanan lereng yang relatif kecil, sehingga geometri lereng dan karakteristik massa batuan menjadi faktor yang lebih dominan dalam mengendalikan kestabilan lereng.
Analisis Kestabilan Lereng Tambang Andesit Menggunakan Metode Finite Element Method dengan Pendekatan Strength Reduction Factor di PT Lotus SG Lestari Moch Ryan Aryandi; Yuliadi; Zaenal
Bandung Conference Series: Mining Engineering 97 - 104
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24472

Abstract

Abstract. Mining activities continuously modify slope geometry, potentially reducing slope stability and increasing the risk of failure. This study aims to analyze the stability of andesite quarry slopes at PT Lotus SG Lestari using the Finite Element Method (FEM) with the Strength Reduction Factor (SRF) approach under static and seismic loading conditions. Primary data consisted of slope geometry measurements, discontinuity mapping using the scanline method, and laboratory testing of rock physical and mechanical properties. Rock mass parameters were determined using RocLab, while seismic loading was represented by a Peak Ground Acceleration (PGA) of 0.4581 g. The results indicate that the rock mass is classified as Good Rock (Class II) with Rock Mass Rating (RMR) values of 81 for SC1 and 82 for SC2. The existing slope geometry produced SRF values of 0.86 (static) and 0.51 (dynamic) for SC1, and 3.16 (static) and 1.02 (dynamic) for SC2, indicating that seismic loading significantly decreases slope stability. The recommended slope geometry consists of a 14 m single slope with a slope angle of 75° for SC1 and 80° for SC2, resulting in SRF values that satisfy the acceptance criteria of the Indonesian Ministry of Energy and Mineral Resources Decree No. 1827 K/30/MEM/2018. Therefore, the proposed geometry is considered safe for implementation at the study area.   Abstrak. Kegiatan penambangan menyebabkan perubahan geometri lereng yang berpotensi menurunkan kestabilan lereng dan meningkatkan risiko longsor. Penelitian ini bertujuan menganalisis kestabilan lereng tambang andesit di PT Lotus SG Lestari menggunakan metode Finite Element Method (FEM) dengan pendekatan Strength Reduction Factor (SRF) pada kondisi statis dan dinamis akibat pengaruh gempa. Data yang digunakan meliputi pengukuran geometri lereng, pemetaan bidang diskontinu dengan metode scanline, serta hasil pengujian sifat fisik dan mekanik batuan di laboratorium. Parameter massa batuan diperoleh menggunakan RocLab, sedangkan pembebanan dinamis dimodelkan berdasarkan nilai Peak Ground Acceleration (PGA) sebesar 0,4581 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa batuan termasuk dalam kategori Good Rock (Kelas II) dengan nilai Rock Mass Rating (RMR) sebesar 81 pada SC1 dan 82 pada SC2. Geometri lereng aktual menghasilkan nilai SRF sebesar 0,86 (statis) dan 0,51 (dinamis) pada SC1, serta 3,16 (statis) dan 1,02 (dinamis) pada SC2, yang menunjukkan bahwa pembebanan gempa menurunkan kestabilan lereng. Rekomendasi geometri berupa lereng tunggal setinggi 14 m dengan kemiringan 75° pada SC1 dan 80° pada SC2 menghasilkan nilai SRF yang memenuhi kriteria penerimaan berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018, sehingga direkomendasikan untuk diterapkan pada lokasi penelitian.
Analisis Produktivitas untuk Meningkatkan Produksi Batu Pasir di CV.Bumi Pasir Makmur Ferdi Eka Putra; Yuliadi; Elfida Moralista
Bandung Conference Series: Mining Engineering 115 - 124
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24512

Abstract

Abstract. CV Bumi Pasir Makmur is a sandstone mining company that operates using the surface mining method in Leles District, Garut Regency, West Java Province, Indonesia. In mining operations, the productivity of loading and hauling equipment plays an important role in achieving the company's production target of 500,000 tons per year. However, queues of dump trucks frequently occur in the crusher area, delaying the material dumping process and preventing the production target from being achieved. As a result, the actual annual production reached only 472,320 tons. This condition increases the hauling equipment waiting time, extends the cycle time, and reduces the efficiency of material hauling operations. Therefore, this study aims to determine the productivity of loading and hauling equipment and to analyze the effect of waiting time on the efficiency of sandstone mining operations at CV Bumi Pasir Makmur. This research employed a quantitative descriptive method through direct field observations. The data consisted of primary and secondary data. The primary data included cycle time, dump truck trips, haul road geometry, rock fragment size, rock density test results, and production targets. The secondary data included the location map, mechanical equipment specifications, and rainfall data. The collected data were analyzed to calculate the productivity of loading and hauling equipment, determine equipment working efficiency, and identify the factors affecting the performance of the mechanical equipment. The results showed that the productivity of the loading equipment was 82.35 tons/hour with a working efficiency of 92.22%, while the productivity of the hauling equipment was 82.22 tons/hour with a working efficiency of 52.59%. The analysis also indicated that the dump truck waiting time at the crusher area reached 256 minutes per day. The high waiting time was primarily caused by the relatively small crusher gap, resulting in dump truck queues during the material dumping process. This condition increased the hauling equipment cycle time and reduced hauling productivity. Based on the study results, the hauling equipment became the production bottleneck because its productivity was lower than that of the loading equipment. Therefore, optimization efforts are required to reduce waiting time and improve hauling equipment productivity in order to support the achievement of the company's production target. Abstrak. CV Bumi Pasir Makmur merupakan perusahaan yang bergerak di bidang penambangan batu pasir dengan metode tambang terbuka (surface mining) yang berlokasi di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Dalam kegiatan penambangan, produktivitas alat gali muat dan alat angkut memegang peranan penting dalam pencapaian target produksi perusahaan sebesar 500.000 ton/tahun. Namun, diperkirakan sering terjadi antrian dump truck pada area crusher yang memperlambat proses penumpahan material sehingga target produksi belum tercapai. Produksi aktual yang diperoleh hanya sebesar 472.320 ton/tahun. Kondisi tersebut mengakibatkan meningkatnya waktu tunggu (waiting time) alat angkut, bertambahnya cycle time, serta menurunnya efisiensi kegiatan pengangkutan material. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas alat gali muat dan alat angkut serta mengkaji pengaruh waktu tunggu terhadap efisiensi kegiatan penambangan batu pasir di CV Bumi Pasir Makmur. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif melalui pengamatan langsung di lapangan. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer meliputi waktu edar (cycle time), ritase dump truck, geometri jalan angkut, ukuran bongkah, hasil pengujian densitas batuan, serta target produksi. Data sekunder meliputi peta lokasi penelitian, spesifikasi alat mekanis, dan data curah hujan. Data tersebut kemudian diolah untuk menghitung produktivitas alat gali muat, produktivitas alat angkut, efisiensi kerja alat, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kinerja alat mekanis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas alat gali muat sebesar 82,35 ton/jam dengan efisiensi kerja 92,22%, sedangkan produktivitas alat angkut sebesar 82,224 ton/jam dengan efisiensi kerja 52,59%. Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu tunggu (waiting time) dump truck pada area crusher mencapai 256 menit/hari. Tingginya waktu tunggu tersebut diperkirakan disebabkan oleh ukuran gap crusher yang relatif kecil sehingga menimbulkan antrian dump truck pada saat proses penumpahan material. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya cycle time alat angkut dan menurunkan produktivitas pengangkutan material. Berdasarkan hasil penelitian, alat angkut menjadi faktor pembatas (bottleneck) dalam sistem produksi karena produktivitasnya lebih rendah dibandingkan produktivitas alat gali muat. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi untuk mengurangi waktu tunggu (waiting time) sehingga produktivitas alat angkut dapat ditingkatkan guna mendukung pencapaian target produksi perusahaan.