cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns" : 22 Documents clear
Gambaran radiografi lumbosacral posisi erect dan supine pada pasien hernia nukleus pulposus (HNP) Haikal, M Husin Al; Utami, Muslimah Putri; Anisah, Anisah
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2337

Abstract

Background: Lumbosacral radiology plays a crucial role in evaluating spinal disorders, particularly Herniated Nucleus Pulposus (HNP), which is a common cause of low back pain in productive age groups. The quality of radiographic images determines diagnostic accuracy, with patient positioning, either erect or supine, influencing the clarity of spinal structures. The erect position allows weight bearing effects, making changes in intervertebral disc spaces and vertebral alignment more visible, while the supine position reflects a non-load condition with limited visualization. Thus, examination positioning is essential to produce representative diagnostic images and support accurate clinical decision-making. Purpose: Provides an anteroposterior (AP) projection of the lumbosacral radiograph in the erect and supine positions in cases of Herniated Nucleus Pulposus (HNP). Method: This study was conducted in 2025 at the Radiology Department of Siloam Sriwijaya Hospital, Palembang, involving radiographers and radiologists in lumbosacral radiographic examinations of HNP patients. The research objects were radiographic results in AP projection with erect and supine positions, selected through purposive sampling. Data were collected via observation, interviews, and medical record documentation, and analyzed using a qualitative descriptive comparative approach. Results: The erect position provided clearer visualization of spinal structural changes due to weight bearing, while the supine position was less optimal in displaying abnormalities because of the absence of load on the lumbosacral segment. Conclusion: Lumbosacral radiography in HNP cases can be performed in both erect and supine positions, each with advantages and limitations. The erect position better demonstrates spinal changes under weight bearing, whereas the supine position serves as an alternative for patients unable to stand or experiencing severe pain, despite less optimal visualization. Examination positioning should therefore be adapted to patient clinical conditions to optimize diagnostic outcomes. Suggestion: Position selection in lumbosacral radiography for HNP should be tailored to patient clinical conditions and diagnostic objectives. The erect position is recommended for assessing structural changes under weight bearing, while the supine position may be used as an alternative for patients with mobility limitations or severe pain, with attention to patient comfort and safety to enhance diagnostic accuracy. Keywords: Erect position; HNP; Lumbosacral radiography; Supine position; Visual diagnosis Pendahuluan: Radiologi lumbosakral memiliki peran penting dalam menilai kelainan tulang belakang, khususnya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang sering menjadi penyebab nyeri punggung bawah pada usia produktif. Kualitas citra radiografi sangat menentukan akurasi diagnosis, di mana posisi pemeriksaan pasien, baik erect maupun supine, memengaruhi kejelasan gambaran struktur tulang belakang. Posisi erect memungkinkan efek weight bearing sehingga perubahan celah diskus intervertebralis dan alignment vertebra tampak lebih nyata, sedangkan posisi supine menggambarkan kondisi tanpa beban dengan keterbatasan visualisasi kelainan. Pemilihan posisi pemeriksaan menjadi aspek penting dalam menghasilkan citra diagnostik yang representatif dan mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat. Tujuan: Memberikan gambaran radiografi lumbosakral posisi erect dan supine proyeksi anteroposterior (AP) pada kasus Hernia Nukleus Pulposus (HNP). Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, dengan melibatkan radiografer dan dokter radiologi dalam pemeriksaan radiografi lumbosakral pada pasien HNP. Objek penelitian berupa hasil radiografi proyeksi anteroposterior (AP) dengan posisi erect dan supine yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi rekam medis. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif komparatif. Hasil: Posisi erect memberikan gambaran lebih jelas terhadap perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine cenderung kurang optimal dalam menampilkan kelainan akibat tidak adanya tekanan pada segmen lumbosakral. Simpulan: Pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat dilakukan dengan posisi erect maupun supine, masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan. Posisi erect lebih jelas menampilkan perubahan struktur tulang belakang karena adanya beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine menjadi alternatif bagi pasien yang tidak mampu berdiri atau mengalami nyeri berat meskipun gambaran kelainan kurang optimal. Oleh karena itu, pemilihan posisi pemeriksaan harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien agar hasil radiografi mendukung diagnosis secara optimal. Saran: Pemilihan posisi pemeriksaan radiografi lumbosakral pada kasus HNP dapat disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan tujuan diagnostik. Posisi erect lebih dianjurkan untuk menilai perubahan struktur akibat beban tubuh (weight bearing), sedangkan posisi supine dapat digunakan sebagai alternatif bagi pasien dengan keterbatasan mobilisasi atau nyeri berat, dengan tetap memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pasien untuk meningkatkan akurasi diagnosis.
Pendidikan kesehatan cuci tangan dan pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan media KPSP dan Denver II Setiawati, Setiawati; Sari, Ayi Puspita; Yusuf, Dodi Iqbal; Puta, Dava Arya; Kusumaningrum, Dyah Intan; Sari, Walenda Pitri Novidia; Kumala, Ajeng Dyah; Ferisca, Fidela; Wahyuningsih, Indah; Hasanah, Uswatun
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2347

Abstract

Background: Handwashing with soap is an essential part of Clean and Healthy Living Behaviors, which plays a role in preventing infectious diseases in children. However, at the Pasir Gintung Health Post within the Simpur Community Health Center in Bandar Lampung, proper handwashing practices are still low, as are parents and cadres' limited knowledge regarding growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Purpose: To increase knowledge regarding standard handwashing and improve cadres' ability to perform growth and development screening using the DPSQ and Denver II. Method: This community service activity was carried out on November 29, 2025 at the Pasir Gintung Health Post, the working area of ​​the Simpur Bandar Lampung Health Center. This activity was attended by 10 parents and their children and 3 health cadres. The activity used a media-based health education approach and practical supervision to improve the knowledge and skills of parents and health cadres regarding handwashing with soap behavior and child growth and development examinations using DPSQ and Denver II. The child growth and development examination instruments used DPSQ sheets, Denver II forms, and standard guidebooks. Evaluation of the activity was carried out using questionnaires to participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test) regarding the importance of handwashing with soap, important times for handwashing, and handwashing steps according to WHO standards, while evaluation for health cadres included supervision and observation of cadres in conducting child growth and development screening using DPSQ and Denver II regarding the importance of early detection and follow-up steps if there is suspicion of growth and development delays in children. Results: Data obtained on the level of knowledge of participants regarding handwashing stages before the educational activity showed that 3 participants (30.0%) were in the good category and 7 participants (70.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) were in the poor category. Meanwhile, regarding the practical actions of participants in washing their hands correctly before the educational activity, 5 participants (50.0%) were in the good category and 5 participants (50.0%) were in the poor category. After the educational activity, 9 participants (90.0%) were in the good category and 1 participant (10.0%) was in the poor category. Conclusion: Health education activities using proposals, SAP, and leaflets, as well as direct demonstrations, were effective in increasing knowledge and skills in implementing proper handwashing with soap according to standards. Increased community knowledge and cadre skills contribute to changes in community behavior towards healthy living and early detection as an effort to prevent the causes of child development problems. Suggestion: It is hoped that the handwashing health education program, along with supervision of DPSQ examinations and child development, can be implemented sustainably and integrated with maternal and child health service programs. Health workers are expected to continue improving their competencies through regular training on effective health education techniques and the appropriate and consistent use of DPSQ instruments. Keywords: Child development; Denver II; DPSQ; Handwashing; Health cadres; Health education Pendahuluan: Cuci tangan pakai sabun merupakan bagian penting dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang berperan dalam mencegah penyakit infeksi pada anak. Namun, di Poskeskel Pasir Gintung wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung, masih ditemukan rendahnya praktik cuci tangan yang benar serta keterbatasan pengetahuan orang tua dan kader mengenai pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan KPSP dan Denver II. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan mengenai cuci tangan sesuai standar dan peningkatan kemampuan kader dalam melakukan deteksi tumbuh kembang melalui pemeriksaan KPSP dan Denver II. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 29 November 2025 di Poskeskel Pasir Gintung, wilayah kerja Puskesmas Simpur Bandar Lampung. Kegiatan ini diikuti 10 orang tua beserta anaknya dan 3 orang kader kesehatan. Kegiatan menggunakan pendekatan edukasi kesehatan berbasis media dan supervisi praktik untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan orang tua dan kader kesehatan terkait perilaku cuci tangan pakai sabun serta pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan KPSP dan Denver II. Instrumen pemeriksaan tumbuh kembang anak menggunakan lembar KPSP, form Denver II, dan buku panduan standar. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test) mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun, waktu-waktu penting untuk cuci tangan, serta langkah-langkah mencuci tangan sesuai standar WHO, sedangkan evaluasi untuk kader kesehatan berupa supervisi dan observasi pada kader dalam melakukan skrining pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan menggunakan KPSP dan Denver II mengenai pentingnya deteksi dini dan langkah tindak lanjut jika ditemukan kecurigaan keterlambatan tumbuh kembang pada anak. Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan peserta tentang tahapan cuci tangan sebelum kegiatan edukasi sebanyak 3 orang (30.0%) dalam kategori baik dan dalam kategori kurang sebanyak 7 orang (70.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 1 orang (10.0%). Sementara itu, untuk tindakan praktik peserta dalam melakukan cuci tangan dengan benar sebelum kegiatan edukasi yang dalam kategori baik sebanyak 5 orang (50.0%) dan dalam kategori kurang sebanyak 5 orang (50.0%), sedangkan sesudah kegiatan edukasi menjadi dalam kategori baik sebanyak 9 orang (90.0%) dan dalam kategori kurang 1 orang (10.0%). Simpulan: Kegiatan edukasi kesehatan dengan menggunakan media proposal, SAP, dan leaflet, serta praktik langsung demonstrasi, efektif mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan perilaku cuci tangan pakai sabun yang benar sesuai standar. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dan keterampilan kader memberikan kontribusi terhadap perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat dan deteksi dini sebagai upaya pencegahan penyebab masalah tumbuh kembang anak. Saran: Diharapkan, program pendidikan kesehatan cuci tangan serta supervisi pemeriksaan KPSP dan perkembangan anak dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan program pelayanan kesehatan ibu dan anak. Tenaga kesehatan diharapkan terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan rutin terkait teknik edukasi kesehatan yang efektif serta penggunaan instrumen KPSP secara tepat dan konsisten.
Penyuluhan kesehatan tentang terapi pijat komplementer untuk mengurangi nyeri punggung ibu hamil Malka, St.; Mutmainnah, Mutmainnah; Musni, Musni
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2365

Abstract

Background: A study in Indonesia reported that approximately 73% of pregnant women experience lower back pain, with 54% experiencing moderate pain. Back pain is a common complaint experienced by most pregnant women, especially in the second and third trimesters. This is caused by changes in posture, weight gain, and stretching of ligaments due to hormonal changes. Many pregnant women are unaware that certain massage therapies can help relieve these complaints safely and naturally. Lack of knowledge about the types of massage therapies that are safe for pregnant women, as well as their benefits and how to apply them, is a major factor contributing to the low utilization of this method. Furthermore, there is still a perception that massage during pregnancy is risky or prohibited. However, when performed with the correct technique and by a trained professional, massage therapy can significantly contribute to maternal comfort during pregnancy. Purpose: To provide knowledge about complementary midwifery care and training in safe massage therapy as an effort to reduce back pain in pregnant women in the second and third trimesters. Method: This community service activity was carried out on June 23, 2025 in Ulaweng Cinnong Village, Ulaweng District, Bone Regency. The activity was attended by 14 people from the Ulaweng Cinnong Village community and attended by related health workers, cadres, midwives, and local village officials. The main target of this outreach activity was pregnant women in Ulaweng Cinnong Village. The activity was carried out with an interactive and applicative approach regarding complementary midwifery care, one of which was the types of massage therapy to improve the quality of maternal health and how to overcome back pain in pregnant women in the 2nd and 3rd trimesters. The level of knowledge was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Descriptive assessments were given based on observations when participants practiced complementary therapy. Results: Participants' knowledge of complementary midwifery care before the pre-test was 42.9% in the poor category and 57.1% in the adequate category. After the post-test, the knowledge was 85.7% in the good category and 14.3% in the adequate category. Descriptively, after the educational activity, most participants experienced increased motivation and confidence in solving problems independently, and most participants also understood the indicators for implementing complementary therapies. Conclusion: Interactive and applicable complementary health education activities have been shown to increase the knowledge, skills, and confidence of pregnant women in managing their health independently. Complementary massage has an effect on back pain in pregnant women, indicating that complementary therapy is effective in reducing pain levels, increasing muscle relaxation, and improving maternal quality of life during the second and third trimesters of pregnancy. Suggestion: It is important for village health workers to introduce these various massage techniques, especially to health cadres and pregnant women, so they have a safe, independent, and side-effect-free alternative for pain management. In the future, complementary massage can be implemented as part of village maternal health programs, alongside routine antenatal checkups. Keywords: Back pain; Health education; Massage therapy; Midwifery care; Pregnant women Pendahuluan: Sebuah studi di Indonesia pada tahun 2023 melaporkan bahwa sekitar 73% ibu hamil mengalami nyeri punggung bawah, dengan 54% di antaranya mengalami nyeri pada tingkat sedang. Nyeri punggung merupakan keluhan umum yang dialami oleh sebagian besar ibu hamil, terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Hal ini disebabkan oleh perubahan postur tubuh, peningkatan berat badan, dan peregangan ligamen akibat perubahan hormonal. Banyak ibu hamil yang belum mengetahui bahwa terapi pijat tertentu dapat membantu meredakan keluhan ini secara aman dan alami. Kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis terapi pijat yang aman untuk ibu hamil, serta manfaat dan cara penerapannya, menjadi faktor utama yang menyebabkan rendahnya pemanfaatan metode ini. Selain itu, masih terdapat anggapan bahwa pijat selama hamil berisiko atau dilarang, padahal jika dilakukan dengan teknik yang benar dan oleh tenaga terlatih, terapi pijat dapat sangat membantu kenyamanan ibu selama kehamilan. Tujuan: Memberikan pengetahuan mengenai asuhan kebidanan komplementer dan pelatihan terapi pijat yang aman sebagai upaya mengurangi nyeri punggung pada ibu hamil di masa kehamilan semester 2 dan 3. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 23 Juni 2025 di Desa Ulaweng Cinnong, Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone. Kegiatan diikuti 14 orang yang merupakan masyarakat Desa Ulaweng Cinnong dan di hadiri tenaga kesehatan terkait, kader, bidan, serta aparatur desa setempat. Sasaran utama dalam kegiatan penyuluhan ini adalah ibu-ibu hamil di Desa Ulaweng Cinnong. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan interaktif dan aplikatif tentang asuhan kebidanan komplementer salah satunya yaitu jenis-jenis terapi pijat untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan cara mengatasi nyeri punggung pada ibu hamil trimester 2 dan 3. Tingkat pengetahuan di ukur dengan menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Penilaian deskriptif diberikan berdasarkan observasi ketika peserta melakukan praktik terapi komplementer. Hasil: menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta mengenai asuhan kebidanan komplementer sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 42.9% dalam kategori kurang dan sebesar 57.1% dalam kategori cukup, sedangkan sesudah kegiatan edukasi (post-test) menunjukkan sebesar 85.7% dalam kategori baik dan sebesar 14.3% dalam kategori cukup. Secara deskriptif, setelah kegiatan edukasi sebagian besar peserta mendapatkan peningkatan motivasi dan kepercayaan diri dalam menyelesaikan masalah secara mandiri dan sebagian besar peserta juga memahami indikator dalam penerapan terapi komplementer. Simpulan: Kegiatan penyuluhan kesehatan komplementer secara interaktif dan aplikatif terbukti dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan percaya diri ibu hamil dalam mengelola kesehatan secara mandiri. Pemijatan komplementer memberikan efek terhadap nyeri punggung ibu hamil, hal ini menunjukkan bahwa terapi komplementer efektif dalam menurunkan tingkat nyeri, meningkatkan relaksasi otot, serta memperbaiki kualitas hidup ibu selama kehamilan trimester kedua dan ketiga. Saran: Penting bagi tenaga kesehatan di desa untuk mengenalkan berbagai teknik pijat ini, khususnya kepada kader kesehatan dan ibu hamil, agar mereka memiliki alternatif pengelolaan nyeri yang aman, mandiri, dan tanpa efek samping. Di masa mendatang, penerapan pijat komplementer dapat menjadi salah satu bagian dari program kesehatan ibu di desa, berdampingan dengan pemeriksaan antenatal rutin.
Edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu sebagai upaya pencegahan penularan HIV kepada anak Wardiyah, Aryanti; Setiawati, Setiawati; Rilyani, Rilyani; Riyanto, Eko; Nafisah, Nida; Gusleni, Meri; Maharani, Erliana; Rohmah, Eis Ainun; Marzuna, Marzuna; Sahara, Amalia; Capilo, Pabio Leo
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2366

Abstract

Background: HIV/AIDS remains a public health problem, including among mothers and children. Mother-to-child transmission of HIV can occur during pregnancy, childbirth, and breastfeeding, especially if the mother does not know her HIV status early. Purpose: To increase mothers' knowledge and awareness regarding early detection of HIV/AIDS as an effort to prevent HIV transmission in children. Method: This activity was held on November 14, 2025, at 9:00 a.m. WIB at the Cempaka Putih Bumi Waras Integrated Health Post (Posyandu) in Bandar Lampung. Twenty-five mothers living near the Posyandu participated as respondents, and health workers served as facilitators and resource persons. This community service activity used a promotive and preventive approach. The target group was mothers in the community, who play a crucial role in preventing mother-to-child HIV transmission. The material was delivered through an interactive lecture, covering the definition of HIV/AIDS, modes of HIV transmission, the risks of mother-to-child HIV transmission, the importance of early HIV detection, and efforts to prevent HIV transmission in children. To enhance participant understanding, the activity continued with a discussion and question-and-answer session, allowing mothers to ask questions and obtain clarification on the material presented. The activity was evaluated qualitatively through observations of participant participation and enthusiasm during the session, as well as direct feedback from participants after the education. This evaluation aimed to assess the effectiveness of the material delivery and mothers' responses to the educational activities. Results: This activity ran smoothly and received a positive response from participants, who demonstrated enthusiasm throughout the presentation. This was evident in their active listening, asking questions, and participating in the discussion. The community service activity, which provided early detection education for HIV/AIDS to mothers, demonstrated positive results in increasing participants' understanding and awareness of HIV/AIDS and efforts to prevent mother-to-child transmission. Observations indicated an increase in mothers' knowledge regarding HIV/AIDS, including understanding of transmission methods, the importance of HIV testing, and efforts to prevent mother-to-child transmission. Conclusion: The community service activity, which provided promotive and preventive education using an early detection approach for mothers, increased mothers' understanding and awareness of HIV/AIDS, transmission mechanisms, and the importance of early detection as an effort to prevent mother-to-child transmission. This educational activity also encouraged mothers to develop positive attitudes toward prevention efforts, increasing their willingness to utilize health services and understanding the role of early detection in protecting children's health. Suggestion: It is hoped that HIV/AIDS early detection education activities for mothers can continue to be implemented sustainably and reach a wider audience across various levels of society. Education needs to be integrated with maternal and child health programs in health care facilities to ensure wider and consistent access to information about HIV/AIDS and early detection. Furthermore, health workers are expected to play an active role in providing comprehensive education and creating a supportive environment to reduce stigma and increase mothers' trust in health services. Keywords: Early detection; Health education; HIV/AIDS; Mother and child; Prevention of HIV transmission Pendahuluan: HIV/AIDS masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat, termasuk pada kelompok ibu dan anak. Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi selama kehamilan, persalinan, dan menyusui, terutama apabila ibu tidak mengetahui status HIV-nya sejak dini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu mengenai deteksi dini HIV/AIDS sebagai upaya pencegahan penularan HIV pada anak. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 November 2025 pukul 09.00 WIB di Posyandu Cempaka Putih Bumi Waras Bandar Lampung. Diikuti oleh 25 orang ibu yang tinggal di lingkungan Posyandu untuk menjadi responden dan melibatkan tenaga kesehatan sebagai fasilitator dan narasumber. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan promotif dan preventif. Sasaran kegiatan adalah ibu di lingkungan masyarakat yang memiliki peran penting dalam upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif meliputi pengertian HIV/AIDS, cara penularan HIV, risiko penularan HIV dari ibu ke anak, pentingnya deteksi dini HIV, serta upaya pencegahan penularan HIV pada anak. Untuk meningkatkan pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan sesi tanya-jawab sehingga ibu dapat menyampaikan pertanyaan serta memperoleh klarifikasi terkait materi yang diberikan. Evaluasi kegiatan dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan partisipasi dan antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung, serta umpan balik langsung dari peserta setelah edukasi. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai ketercapaian penyampaian materi dan respons ibu terhadap kegiatan edukasi yang telah dilaksanakan. Hasil: Kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat respons positif dari peserta yang menunjukkan antusiasme selama proses penyampaian materi. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam menyimak materi, mengajukan pertanyaan, serta berpartisipasi dalam diskusi yang berlangsung. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta mengenai HIV/AIDS serta upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Terdapat peningkatan pengetahuan ibu mengenai pengertian HIV/AIDS berdasarkan observasi dengan pencapaian pemahaman meliputi cara penularan, pentingnya pemeriksaan HIV, serta upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi promotif dan preventif dengan pendekatan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran ibu mengenai HIV/AIDS, mekanisme penularan, serta pentingnya deteksi dini sebagai upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Kegiatan edukasi ini juga mendorong terbentuknya sikap positif ibu terhadap upaya pencegahan dengan memanfaatkan layanan kesehatan menjadi lebih terbuka untuk mencari informasi dan memahami peran deteksi dini dalam melindungi kesehatan anak. Saran: Kegiatan edukasi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sasaran di berbagai lapisan masyarakat. Edukasi perlu diintegrasikan dengan program kesehatan ibu dan anak di fasilitas pelayanan kesehatan agar informasi mengenai HIV/AIDS dan deteksi dini dapat diterima secara lebih luas dan konsisten. Selain itu, tenaga kesehatan diharapkan dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi yang komprehensif serta menciptakan suasana yang mendukung untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kepercayaan ibu terhadap layanan kesehatan.
Edukasi penggunaan aromaterapi peppermint oil untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan riwayat stroke Musdalipa, Musdalipa; Sibulo, Megawati; Mas’ud, Alfian
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2396

Abstract

Background: Stroke is the second leading cause of death worldwide after heart disease and is a serious neurological problem with a high prevalence, including in Indonesia. The majority of cases are ischemic strokes, which cause brain tissue damage and complications such as sleep disturbances due to post-lesion neurological deficits. These sleep disturbances are often accompanied by anxiety and insomnia, reducing the patient's quality of life. Non-pharmacological efforts such as aromatherapy with essential oils, particularly peppermint oil, are recommended because they are non-invasive, safe, and effective in reducing anxiety and improving sleep quality through their action on the brain's limbic system. Therefore, aromatherapy-based educational interventions are important to support the rehabilitation of stroke patients at the primary healthcare level, such as community health centers. Purpose:To provide knowledge and understanding regarding the administration of peppermint oil aromatherapy as a non-pharmacological effort to improve sleep quality in patients with a history of stroke. Method: This activity was conducted on December 16, 2025, at the Bajoe Community Health Center in Bone Regency, South Sulawesi, involving 20 stroke patients selected through purposive sampling. The material was delivered using lecture and practice methods, followed by evaluation using pre-test and post-test questionnaires to assess knowledge enhancement regarding the use of peppermint oil aromatherapy to reduce anxiety and improve sleep quality in stroke patients. Results: The majority of participants were aged 40–50 (12 people) (60%), followed by 5 (25%) aged 51–60, and 3 (15%) aged 61–70, with a predominance of women (17 people) (85%). Pre-test results showed that most participants experienced moderate to severe anxiety. However, after education and practice, significant changes occurred, with 50% of participants experiencing mild anxiety and only 20% remaining in the severe to very severe category. Conclusion: Education regarding the use of peppermint oil aromatherapy can increase stroke patients' knowledge and reduce anxiety levels, which impact sleep quality. The majority of participants who initially experienced moderate to severe anxiety experienced a reduction in their anxiety levels to mild after receiving the education. Therefore, it can be concluded that this non-pharmacological intervention is effective as a complementary therapy for stroke patients during recovery. Suggestion: Continued efforts are needed to implement complementary therapies such as peppermint oil aromatherapy in primary healthcare facilities, particularly community health centers (Puskesmas), as part of an education program for patients with a history of stroke. Keywords: Health therapy; Peppermint oil aromatherapy; Sleep quality; Stroke Pendahuluan: Stroke merupakan penyebab kematian kedua di dunia setelah penyakit jantung dan menjadi masalah neurologis serius dengan prevalensi tinggi, termasuk di Indonesia. Mayoritas kasus berupa stroke iskemik yang menimbulkan kerusakan jaringan otak dan komplikasi berupa gangguan tidur akibat defisit neurologis pasca-lesi. Gangguan tidur ini sering disertai kecemasan dan insomnia sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Upaya non-farmakologis seperti aromatherapy dengan minyak esensial, khususnya peppermint oil, direkomendasikan karena bersifat non-invasif, aman, dan efektif dalam menurunkan kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur melalui mekanisme kerja pada sistem limbik otak. Oleh karena itu, intervensi edukasi berbasis aromatherapy menjadi penting untuk mendukung rehabilitasi pasien stroke di tingkat pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas. Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pemberian aromatherapy peppermint oil sebagai upaya non-farmakologis untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan riwayat stroke. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada 16 Desember 2025 di UPT Puskesmas Bajoe Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan melibatkan 20 pasien stroke yang dipilih melalui purposive sampling. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah dan praktik, kemudian dilakukan evaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan menggunakan aromatherapy peppermint oil dalam menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur pasien stroke. Hasil: Mayoritas peserta berusia 40–50 tahun sebanyak 12 orang (60%), diikuti usia 51–60 tahun sebanyak 5 orang (25%), dan usia 61–70 tahun sebanyak 3 orang (15%), dengan dominasi perempuan sebanyak 17 orang (85%). Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang hingga berat, namun setelah diberikan edukasi dan praktik mengenai terjadi perubahan signifikan, di mana 50% peserta mengalami kecemasan ringan dan hanya 20% yang masih berada pada kategori berat hingga sangat berat. Simpulan: Edukasi mengenai penggunaan aromatherapy peppermint oil mampu meningkatkan pengetahuan pasien stroke sekaligus menurunkan tingkat kecemasan yang berdampak pada kualitas tidur. Mayoritas peserta yang semula mengalami kecemasan sedang hingga berat mengalami penurunan tingkat kecemasan menjadi dalam kategori ringan setelah diberikan penyuluhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa intervensi non-farmakologis ini efektif sebagai terapi komplementer pada pasien stroke di masa pemulihan. Saran: Diperlukan upaya berkelanjutan dalam penerapan terapi komplementer seperti aromatherapy peppermint oil di fasilitas kesehatan tingkat pertama, khususnya puskesmas, sebagai bagian dari program edukasi pasien dengan riwayat stroke.
Edukasi terapi komplementer pada ibu hamil untuk mengurangi nyeri selama kehamilan Fatimah, Sitti; Heriyana, Desi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2397

Abstract

Background: Complementary therapy is a form of healing based on various modalities in health practices, supported by theory and belief. This therapy encompasses promotive, preventive, curative, and rehabilitative efforts, although currently, complementary therapy is an option during pregnancy to reduce common complaints or discomforts. Purpose: To provide knowledge and understanding of complementary therapies for health and their benefits to pregnant women during pregnancy. Method: This community service activity was held on October 25, 2025, from 9:30 to 11:00 a.m. WITA (Central Indonesian Time) at the Pajelele Village office, involving eight pregnant women as respondents. The material was delivered through interactive lectures, discussions, and demonstrations, accompanied by visual presentations and leaflets. The education materials covered complementary therapies and their health benefits during pregnancy. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires to measure changes in respondents' knowledge and understanding before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in respondents' knowledge and understanding of complementary therapies from a pregnancy health perspective. The evaluation results are used as an indicator of activity effectiveness. Results: Data obtained on respondents' knowledge levels regarding complementary therapies and their benefits before the educational activity (pre-test) was 25.0% in the good category, 25.0% in the adequate category, and 50.0% in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity (post-test) was 87.5% in the good category and 12.5% ​​in the adequate category. Conclusion: Health interventions that combine education (lectures) with direct demonstrations (practice/simulation) have proven highly effective in increasing pregnant women's knowledge and understanding of complementary therapies and their health benefits, thereby increasing motivation to implement them independently. Suggestion: It is hoped that educational activities accompanied by training on complementary therapies can be conducted regularly and involve health workers so that the public's understanding of the benefits of complementary therapies will be more fully understood based on medical knowledge. Keywords: Back pain; Complementary therapy; Health education; Pregnancy Pendahuluan: Terapi komplementer merupakan bentuk penyembuhan yang bersumber pada berbagai sistem modalitas dalam praktik kesehatan yang didukung oleh teori dan kepercayaan. Terapi tersebut meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif meskipun saat ini terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan selama kehamilan untuk mengurangi keluhan atau ketidaknyamanan yang umum terjadi Tujuan: Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang terapi komplementer untuk kesehatan dan manfaatnya kepada ibu hamil selama menjalani kehamilan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 25 Oktober 2025 pada pukul 09.30–11.00 wita di kantor Desa Pajelele dengan melibatkan 8 ibu hamil untuk menjadi responden. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi dan demonstrasi disertai media presentasi visual dan leaflet. Materi penyuluhan meliputi tentang terapi komplementer dan manfaat kesehatan selama masa kehamilan. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan pemahaman responden sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan pemahaman responden tentang terapi komplementer dalam perspektif kesehatan kehamilan. Hasil evaluasi digunakan sebagai indikator efektivitas kegiatan.  Hasil: Mendapatkan data tingkat pengetahuan responden mengenai terapi komplementer dan manfaatnya sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 25.0% dalam kategori baik, sebesar 25.0% dalam kategori cukup, dan sebesar 50.0% dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 87.5% dalam kategori baik dan sebesar 12.5% dalam kategori cukup. Simpulan: Intervensi kesehatan yang menggabungkan edukasi (ceramah) dengan demonstrasi langsung (praktik/simulasi) terbukti sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu hamil mengenai terapi komplementer dan manfaatnya dalam kesehatan, sehingga meningkatkan motivasi untuk menerapkan terapi secara mandiri. Saran: Diharapkan, kegiatan edukasi yang disertai dengan pelatihan tentang terapi komplementer dapat dilakukan secara berkala dan melibatkan tenaga kesehatan sehingga pemahaman tentang manfaat terapi komplementer akan lebih dirasakan oleh masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan medis.
Pelatihan penerapan bantuan hidup dasar dalam tanggap darurat kesehatan di sekolah Mansur, Ria Rizka; Najman, Najman; Basri, Muhammad
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2401

Abstract

Background: Emergency situations such as respiratory arrest and sudden cardiac arrest can occur at any time, including in schools. However, most students lack the knowledge and skills required for basic life support (BLS), which often hinders lifesaving efforts during the golden period. Globally, the success rate of cardiopulmonary resuscitation (CPR) remains low due to the lack of training bystanders, and in Indonesia, only a small percentage of sudden cardiac arrest victims receive BLS before medical personnel arrive. This situation is also reflected in South Sulawesi, including Bone Regency, where cases of sudden cardiac arrest in schools are rarely handled appropriately. High school students are a potential group for training due to their adequate cognitive and motor skills, but BLS training is not yet a routine part of the curriculum. Therefore, implementing BLS training at SMAN 3 Bone is relevant to improve students' knowledge, skills, and preparedness in dealing with emergencies, while simultaneously fostering a culture of emergency response and social solidarity within the school environment. Purpose: Improving student capacity through BLS skills training is a strategic effort to develop a young generation that is responsive to emergencies. Method: A community service activity was conducted on January 9, 2026, at SMAN 3 Bone, South Sulawesi, involving 29 students of grade XII IPA 2 who were purposively selected as respondents. Basic life support (BLS) skills training was provided through interactive lectures, demonstrations/simulations, and hands-on practice. Mentoring, monitoring, and evaluation were conducted to assess the success of the activity, its adherence to the plan, and its impact on improving students' knowledge and skills in performing CPR and first aid. Results: Of the 29 students participating in the training, 17 were male (58.6%) and 12 were female (41.4%). Participants gained knowledge about the concept of BLS, emergency theory, and vital components in emergencies. They also gained skills in performing a consciousness check, activating the emergency system, practicing airway opening and rescue breathing, and performing cardiopulmonary resuscitation (CPR). Conclusion: Basic life support (BLS) education and training through lectures and simulations has proven effective in improving students' knowledge and skills related to emergency management in cases of respiratory/cardiac arrest. This activity contributes to students' knowledge and experience in BLS, enabling them to understand basic concepts and practice first aid skills with greater confidence after the training. Educational activities also benefit by fostering school preparedness for emergencies. Suggestion: BLS training should be implemented continuously and integrated into the high school curriculum, supported by collaboration between schools, healthcare professionals, and relevant agencies, to foster a culture of preparedness and social solidarity within the school environment in the face of emergencies. Keywords: Basic life support; Emergency; Health education; Student skills; Training Pendahuluan: Kejadian kegawatdaruratan seperti henti napas dan henti jantung mendadak dapat terjadi kapan saja, termasuk di lingkungan sekolah, namun sebagian besar siswa belum memiliki pengetahuan maupun keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) yang sesuai standar sehingga upaya penyelamatan jiwa pada golden period sering terhambat. Secara global, tingkat keberhasilan resusitasi jantung paru (RJP) masih rendah karena saksi awam tidak terlatih, dan di Indonesia hanya sebagian kecil korban henti jantung mendadak yang menerima tindakan BHD sebelum tenaga medis tiba. Kondisi ini juga tercermin di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Bone, dengan kasus henti jantung mendadak di sekolah yang jarang ditangani secara tepat. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan kelompok potensial untuk dilatih karena memiliki kemampuan kognitif dan motorik yang memadai, namun pelatihan BHD belum menjadi bagian rutin kurikulum. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan pelatihan BHD di SMAN 3 Bone menjadi relevan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi kondisi gawat darurat, sekaligus membentuk budaya tanggap darurat dan solidaritas sosial di lingkungan sekolah. Tujuan: Meningkatkan kapasitas siswa melalui pelatihan keterampilan BHD sebagai upaya strategis dalam membentuk generasi muda yang tanggap terhadap kondisi kegawatdaruratan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 9 Januari 2026 di SMAN 3 Bone, Sulawesi Selatan, dengan melibatkan 29 siswa kelas XII IPA 2 yang dipilih secara purposif sebagai responden. Pelatihan keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) diberikan melalui ceramah interaktif, demonstrasi/simulasi, dan praktik langsung. Pendampingan, monitoring dan evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan kegiatan, kesesuaian pelaksanaan dengan rencana, serta dampak terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam melakukan RJP dan pertolongan pertama. Hasil: Dari 29 siswa peserta pelatihan, terdiri atas 17 laki-laki (58.6%) dan 12 perempuan (41.4%). Peserta mendapatkan pengetahuan tentang pengertian bantuan hidup dasar (BHD), teori kegawatdaruratan, dan komponen vital dalam kegawatdaruratan. Peserta juga mendapatkan kemampuan dalam melakukan pemeriksaan kesadaran, melakukan aktivasi sistem kegawatdaruratan, melakukan praktik pembukaan jalan napas dan bantuan napas serta melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Simpulan: Edukasi dan pelatihan keterampilan bantuan hidup dasar (BHD) melalui ceramah dan simulasi terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa terkait penanganan kegawatdaruratan pada kasus henti napas/ henti jantung. Kegiatan ini memberikan kontribusi pengetahuan maupun pengalaman tentang BHD sehingga siswa memahami konsep dasar dan mempraktikkan keterampilan pertolongan pertama dengan lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan. Kegiatan edukasi juga memberikan manfaat dengan terbentuknya kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi kondisi gawat darurat. Saran: Pelatihan BHD sebaiknya dilaksanakan secara berkesinambungan dan terintegrasi dalam kurikulum sekolah menengah atas, dengan dukungan kerja sama antara pihak sekolah, tenaga kesehatan, dan instansi terkait, sehingga terbentuk budaya kesiapsiagaan serta solidaritas sosial di lingkungan sekolah dalam menghadapi kondisi gawat darurat.
Edukasi kesehatan tentang malaria sebagai upaya mendukung program eliminasi malaria Thoyibah, Zurriyatun; Haryani, Haryani; Mardani, Raden Ahmad Dedy; Metri, Ni Ketut; Hajri, Zuhratul
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2427

Abstract

Background: Malaria remains a public health problem in Indonesia, particularly in endemic and hypoendemic areas. Although the national elimination target was set for 2030, malaria cases were still reported as of 2024, including in West Lombok Regency, West Nusa Tenggara. Bukit Tinggi Village, the working area of ​​the Penimbung Community Health Center, faces environmental risk factors, population mobility, and suboptimal preventive behaviors. Limited public knowledge is a major challenge in supporting malaria elimination. Purpose: To increase public knowledge, awareness, and understanding of malaria and its prevention as part of malaria elimination efforts. Method: This community service activity was carried out in September 2024 in Batu Kemalik Hamlet, Bukit Tinggi Village, Penimbung District, West Lombok Regency. The activity was attended by 20 community members and Batu Kemalik Hamlet officials. The target of the activity was community knowledge about malaria and maintaining the environment of Batu Kemalik Hamlet so that it does not become a malaria endemic. The activity was carried out with a community participation-based education approach. Measurement of knowledge levels used questionnaires with direct interviews given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Observation activities were carried out in October 2024 as an evaluation in assessing program implementation in Batu Kemalik Hamlet. Descriptive evaluation was carried out by looking at changes in the knowledge and understanding scores of participants before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The level of knowledge of participants before the educational activity was 2 (10.0%) in the good category, 4 (20.0%) in the sufficient category, and 14 (70.0%) in the poor category. There was an increase in knowledge of participants after the educational activity, with 18 (90.0%) in the good category and 2 (10.0%) in the sufficient category. This increase in knowledge was also demonstrated by the practical efforts undertaken after receiving education on malaria prevention. Conclusion: Community service activities through health education using an interactive and participatory approach have had a significant impact on increasing public knowledge and understanding of malaria. The increased public knowledge through these activities also increased community motivation and awareness to implement malaria management and prevention measures in their communities as an effort to end the malaria endemic. Suggestion: Strengthening sustainable education programs through empowering health cadres and establishing malaria awareness groups is recommended, with regular and continuous health education implementation to enable the community to play an active role as agents of change in malaria prevention. It is hoped that similar community service activities can become a model for sustainable community-based health education and contribute significantly to supporting the achievement of the malaria elimination target in West Lombok Regency. Keywords: Community health; Health education; Malaria; Malaria elimination; Malaria prevention Pendahuluan: Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah endemis dan hipoendemis. Meskipun target eliminasi nasional ditetapkan pada 2030, kasus malaria masih dilaporkan hingga 2024, termasuk di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Desa Bukit Tinggi, wilayah kerja Puskesmas Penimbung, memiliki faktor risiko lingkungan, mobilitas penduduk, serta perilaku pencegahan yang belum optimal. Keterbatasan pengetahuan masyarakat menjadi tantangan utama dalam mendukung eliminasi malaria. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan pemahaman masyarakat tentang malaria dan pencegahannya sebagai upaya eliminasi malaria. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan September 2024.di Dusun Batu Kemalik, Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Penimbung, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan dikuti oleh 20 orang warga masyarakat dan aparatur Dusun Batu Kemalik. Sasaran kegiatan adalah pengetahuan masyarakat tentang malaria dan menjaga lingkungan Dusun Batu Kemalik agar tidak menjadi endemi malaria. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan edukasi berbasis partisipasi masyarakat. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung yang diberikan sebelun kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Kegiatan observasi dilakukan pada bulan Oktober 2024 sebagai evaluasi dalam memberikan penilaian pelaksanaan program di Dusun Batu Kemalik. Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan nilai pengetahuan dan pemahaman peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori baik, sebanyak 4 orang (20.0%) dalam kategori cukup, dan sebanyak 14 orang (70.0%) dalam kategori kurang. Terdapat peningkatan pengetahuan peserta setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 18 orang (90.0%) dalam kategori baik dan sebanyak 2 orang (10.0%) dalam kategori cukup. Peningkatan pengetahuan peserta juga ditunjukkan dengan upaya praktik yang dilakukan setelah menerima edukasi dalam pencegahan malaria. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dengan pendekatan interaktif dan partisipatif meberikan dampak nyata dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang malaria. Meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam kegiatan ini juga meningkatkan motivasi masyarakat dan kesadaran komunitas untuk melakukan penatalaksanaan dan langkah pencegahan malaria di lingkungan sebagai upaya memutus endemi kejadian malaria.  Saran: Diharapkan adanya penguatan program edukasi berkelanjutan melalui pemberdayaan kader kesehatan dan pembentukan kelompok peduli malaria, dengan pelaksanaan pendidikan kesehatan secara rutin dan berkesinambungan agar masyarakat dapat berperan aktif sebagai agen perubahan dalam pencegahan malaria. Diharapkan kegiatan pengabdian serupa dapat menjadi model edukasi kesehatan berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata dalam mendukung tercapainya target eliminasi malaria di Kabupaten Lombok Barat.  
Edukasi kesehatan untuk membangun kesadaran tentang pernikahan dini pada remaja Pratama, Rika Yuanita; Sohibun, Sohibun; Wagiran, Wagiran; Karlia, Lilis
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2444

Abstract

Background: Early marriage among adolescents remains a public health problem in Indonesia due to its impact on reproductive health, maternal and child health, and psychosocial well-being. Adolescents' limited knowledge about the health risks of early marriage contributes to low awareness and attitudes toward delaying marriage. Schools are a strategic setting for implementing health promotion and preventive education for adolescents. Purpose: To increase adolescents' knowledge and awareness about early marriage from a health perspective. Method: This community service activity was conducted at SMA Negeri 4 Sintang on July 22, 2025, and involved 50 high school students as respondents. The activity implemented a community education approach through health counseling activities. Material was delivered through interactive lectures and discussions, accompanied by educational media in the form of visual presentations related to early marriage and adolescent reproductive health. The activity was evaluated using pre-test and post-test questionnaires, analyzed using Wilcoxon Signed Rank to measure changes in students' knowledge and awareness levels before and after the education. The data obtained were analyzed descriptively to illustrate differences in adolescents' knowledge and awareness levels regarding early marriage from a health perspective. Results: The results of the activity showed an increase in student knowledge and awareness after the education. Before the education (pre-test), the majority of students had poor knowledge regarding the health impacts of early marriage, amounting to 22 students (44.0%). After the intervention (post-test), the proportion of students with good knowledge increased to 25 students (50.0%), and the proportion with fair knowledge increased to 20 students (40.0%). This indicates an increase in students' understanding of reproductive health risks and the importance of delaying marriage until physical, psychological, and social readiness is achieved. Conclusion: Community service activities in the form of education on early marriage from a health perspective have proven effective in increasing adolescents' knowledge and awareness of the long-term impacts of early marriage. Suggestion: Education on early marriage from a health perspective needs to be carried out sustainably and integrated into school health promotion activities. Schools are expected to collaborate with health workers in providing comprehensive reproductive health education to students. Keywords: Adolescents; Early marriage Health education; Health promotion; Reproductive health Pendahuluan: Pernikahan dini pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia karena berdampak pada kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, serta kesejahteraan psikososial. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai risiko kesehatan pernikahan dini berkontribusi terhadap rendahnya kesadaran dan sikap dalam menunda usia pernikahan. Sekolah merupakan setting strategis dalam pelaksanaan promosi kesehatan dan edukasi preventif bagi remaja. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pernikahan dini dalam perspektif kesehatan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 4 Sintang pada tanggal 22 Juli 2025 dan melibatkan 50 siswa/siswi SMA untuk menjadi responden. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan pendidikan masyarakat (community education) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi, disertai media edukatif berupa presentasi visual yang berkaitan dengan pernikahan dini dan kesehatan reproduksi remaja. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen kuesioner pre-test dan post-test yang dianalisis dengan Wilcoxon Signed Rank untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan dan kesadaran siswa sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan perbedaan tingkat pengetahuan dan kesadaran remaja terkait pernikahan dini dari perspektif kesehatan. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa setelah diberikan edukasi. Sebelum penyuluhan (pre-test), mayoritas siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai dampak kesehatan pernikahan dini, yaitu sebanyak 22 siswa/siswi (44.0%). Setelah intervensi (post-test), proporsi siswa dengan tingkat pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa/siswi (50.0%) dan kategori cukup menjadi sebanyak 20 siswa/siswi (40.0%). Hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai risiko kesehatan reproduksi serta pentingnya menunda pernikahan hingga kesiapan fisik, psikologis, dan sosial. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terhadap dampak jangka panjang pernikahan dini. Saran: Edukasi pernikahan dini dalam perspektif kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam kegiatan promosi kesehatan sekolah. Pihak sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif kepada siswa.
Penerapan hipnosis lima jari untuk mengelola kecemasan pada remaja menggunakan media booklet “Stay cool, bukan stressful” Lismayanti, Desty; Sarini, Sarini; Rosmiyanti, Yanti; Fitriani, Dewi Rubi; Asih, Okti Rahayu; Sumitro, Sumitro; Novita, Debi; Sunarti, Sunarti; Seli, Yohana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2452

Abstract

Background: Anxiety is a common mental health issue among adolescents, particularly among 12th-grade students facing academic demands leading up to exams and preparing for graduation. Promotive and preventive efforts through education and training in simple relaxation methods are essential in schools. Purpose: To increase the knowledge and skills of adolescents in managing anxiety using five finger hypnosis. Method: This community service activity, through counseling and outreach, was held on January 12, 2026, at Sehati Karawang Vocational School, with 55 adolescents from 12th grade participating. The goal of this activity was to manage anxiety using five-finger hypnosis in adolescents. The activity used an interactive communicative approach. Material was delivered through presentations and direct discussions supported by booklets. Knowledge levels were measured using questionnaires and direct interviews administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Observation and mentoring activities were conducted with adolescents practicing the five-finger hypnosis therapy independently. Descriptive evaluation is carried out by looking at changes in participants' knowledge and understanding scores before educational activities (pre-test) and after educational activities (post-test). Results: The level of knowledge of respondents regarding anxiety management before the educational activity was 12 (21.8%) in the poor category and 43 (78.2%) in the poor category. There was an increase in the level of knowledge of respondents after the educational activity, with 38 (69.1%) in the good category and 17 (30.9%) in the fair category. Most respondents were able to directly practice five-finger hypnosis therapy and experienced immediate psychological and psychological benefits. Conclusion: Community service activities through the socialization and demonstration of five-finger hypnosis techniques combined with deep breathing relaxation have proven effective in increasing adolescents' understanding and skills in managing anxiety independently. Increased understanding of anxiety and the ability to manage anxiety symptoms with five-finger therapy in adolescents can have a positive psychological impact and foster high self-confidence. Suggestion: It is hoped that this activity can become a sustainable mental health education program. By developing the ability to manage anxiety from adolescence, it is hoped that adolescents can face academic and social demands in a more positive and mentally healthy manner. Keywords: Adolescents; Anxiety; Community service; Five-finger hypnosis; Health education Pendahuluan: Kecemasan merupakan isu kesehatan mental yang sering terjadi pada remaja, terutama di kalangan remaja kelas XII yang akan berhadapan dengan tuntutan akademis menjelang ujian, maupun persiapan setelah lulus. Upaya promotif dan preventif melalui edukasi dan pelatihan metode relaksasi sederhana sangat perlu untuk diterapkan di sekolah. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja dalam mengelola kecemasan menggunakan hipnosis lima jari. Metode: Kegiatan pengadian masyarakat melalui penyuluhan dan sosialisasi ini diselenggarakan pada tanggal 12 Januari 2026 di SMK Sehati Karawang dengan jumlah peserta sebanyak 55 remaja dari kelas XII. Sasaran dalam kegiatan ini adalah tatalaksana pengelolaan kecemasan dengan menggunakan hipnosis 5 jari pada remaja. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan komunikatif interaktif. Materi disampaikan melalui ceramah presentatif dan diskusi langsung yang dibantu dengan media booklet. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan wawancara langsung yang diberikan sebelun kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Kegiatan observasi dan pendampingan dilakukan pada remaja dalam praktik langsung mengikuti langkah terapi hipnosis lima jari secara mandiri. Evaluasi secara deskriptif dilakukan dengan melihat perubahan nilai pengetahuan dan pemahaman peserta sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden mengenai pengelolaan kecemasan sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 12 orang (21.8%) dalam kategori kurang dan sebanyak 43 orang (78.2%) dalam kategori kurang. Terdapat peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 38 orang (69.1%) dalam kategori baik dan sebanyak 17 orang (30.9%) dalam kategori cukup. Sebagian besar responden dapat melakukan praktik langsung terapi hipnosis lima jari dan mendapatkan manfaat secara langsung secara psikologis maupun psikis. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat melalui sosialisasi dan demonstrasi teknik hipnosis lima jari dengan kombinasi relaksasi napas dalam terbukti efektif dalam menambah pemahaman serta keterampilan remaja dalam mengelola kecemasan secara mandiri. Meningkatnya pemahaman tentang kecemasan dan kemampuan dalam mengelola gejala kecemasan dengan terapi lima jari pada remaja dapat memberikan dampak positif secara psikologis dan menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Saran: Diharapkan kegiatan ini bisa menjadi program pendidikan kesehatan mental secara berkelanjutan. Dengan adanya kemampuan dalam mengelola kecemasan sejak usia remaja, diharapkan remaja dapat menghadapi tuntutan akademis dan sosial melalui cara yang lebh positif dan sehat secara mental.

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2026 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue