cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Sain Veteriner
ISSN : 012660421     EISSN : 24073733     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2000)" : 8 Documents clear
Distribusi dan Identifikasi Spesies-Spesies Calicoides (Deptera: Ceratopogonidae) di Kabupaten Bogor Ana Sahara; Malole . .; Koesharto .; Sendow .; Sukarsih .
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.257

Abstract

Telah diteliti distribusi dan identifikasi spesies-spesies Culicoides yang ada di sekitar kandang temak sapi di Kabupaten Bogor. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui spesiesspesies Culicoides yang mempunyai peranan dalam penyebaran penyakit bluetongue pada ternak. Sebanyak 2117 ekor Culicoides (Diptem: Ceratopogonidae) dikumpulkan dari kandang ternak sapi di wilayah Depok dan Cibungbulang, Kabupaten Bogor dengan menggunakan perangkap serangga Pirbright-type miniatur light trap. Identifikasi spesies dilakukan berdasarkan karakter morfologi menurut Wirth dan Hubert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Culicoides lebih banyak ditemukan di wilayah Depok daripada di Cibungbulang. Ada empat belas spesies dari kedua lokasi tersebut yang berhasil diidentifikasi. Spesies Culicoides yang dominan di daerah Depok adalah C. parahumeralis Wirth & Hubert, C. acioni Smith, C. ozystoma Kieffer dan C peregrinus Kieffer; sedangkan spesies yang dominan di Cibungbulang adalah C. parahumeralis, C. orientalis, C. orientalis Macfiei, C. peregrinus dan C. caystoma. Spesies Culicoides yang dicurigai sebagai penyebar penyakit bluetongue adalah: C. actoni, C. oxystoma, C. peregrinus dan. C. orientalis
Histology and Electrone Microscopic Study of the Efffects of an GnHR Agonist on the Canine 3 Months of Treatment Aris Juniadi .
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.259

Abstract

Using light and electrone microscopic techniques the structure of the testicle, epididymis and prostate gland of mature male dogs were studied 3 months after implantation with a slow release irpplant containing 6 mg GnRH agonist. deslorelin. After 3 months of treatment, all tubules sipiniferous showed atropic and aspermatogenic. Atrophy of the Leydig cells was observed in the interstitial tissue. The glandular epithelium of the prostate showed atrophy and was non secretory. At the electrone microscopic levels, Sertoli and Leydig cells showed a marked atrophy and their spermatogenic tubules were mostly lined with Sertoli cells at the basal lamina. The prostate gland showed atrophy of the nucleous and the epithelium was non secretory_ The present data showed that a slow release implant containing GnRH agonist deslorelin can be used effectively to suppress fertility in male dogs.Key words: Testicle, epididymis, prostste gland, Leydig cell, Sertoli cell, GnRH agonist, deslorelin
Analisis Bakteri Coliform dalam Air Sumur dan Kemungkinan Efek Biopatologik Hastari Wuryastuti; R. Wasito; Siti Chalimah; Sri Andayani; Yuni Indraswati; Leksono Lestariyadi; Prapti K.; Mohammad Amien
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.260

Abstract

Bakteri coliform metupakan grup bakteri Gram negatif berbentuk batang dan beberapa galur dari bakteri tersebut, terutama Escherichia coil diketahui dapat mengakibatkan diare pada manusia dan hewan. Pada umuninya, penyakit bakterial tersebut ditularkan melalui air yang tercernar. Pada penelitian ini, adanya bakteri coliform ditentukan berdasarkan pada metode most probable number (MPN) yang dibiakkan pada lactose broth dan brillian green bile broth. Hasil analisis MPN menggunakan sampef air sumur yang diambil dari daerah Karangmalang, Sungai Code den Deresan, masing-masing menunjukkan kandungan 150 coliform/100 ml, 210 coliform/100 ml dan 460 coliform/100 ml, Sedangkan, standar jumlah coliform datarn air minum yang direkomendasikan World Health Organization (WHO) adalah 10 coliform1100 ml dan. 1 E. coll1100 ml. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa kandungan coliform dalam air tersebut adalah jauh melebihi nilai ambang batas normal yang ditetapkan oleh WHO. Disarankan, bahwa penggunaan air tersebut untuk konsumsi sehari-hari, terutama jika air tersebut akan digunakan untuk minum ataupun masak memasak di dapur sebaiknya direbus terlebih dahulu.Katakunci: air sumur, coliform, Escherichia coli, WHO.
Hormonal responses of lactating dairy cows to treatment with a progesterone intravaginal device with or without estrodiol Prabowo P. Putro
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.278

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk evaluasi pengarub supIementasi progesteron lewat implan intravagina pada profil progesteron den estradiol plasma pada sapi perah laktasi. Sejumlah delapan sapi perah laktasi jenis Friesian, umur antara 3 dan 5 tahun, dalam fase lutes dari sildus estrus, digunakan dalam penelitian ini. Pada kelompok perlakuan A (n = 4), implan CIDR berisi 1,9 gram progesteron, diinsersikan ke dalam vagina sapi pada hari ke 8 penelitian dan diambil kembali setelah 9 hari kemudian. Pada kelompok perlakuan B (n = 4), implan CIDR dikombinasi dengan kapsul berisi 10 mg estradiol benzoate diinsersikan ke deism vagina seperti pada kelompok A. Sampel darah diambil tiap hari untuk asai Marmon progesterone and estradiol-1713. Konsentrasi progesteron plasma meningkat dengan pesat setelah insersi implan CIDR, mencapai maksimum pada hari ke 9 (masing-masing 6,28 + 0,26 ng/ml and 5,62 + 0,16 ng/ral, P < 0,05), dan kemudian menurun dengan tiba-tiba setelah pengambilan CIDR Dua had setelah insersi CIDR, progesteron plasma meningkat lebih cepat pada kelompok A dibanding pada kelompok B, dan berbeda nyata antara bari 11 clan 17 dari penelitian, namun lebih rendah antara hari 20 (estrus) dan 22 dari penelitian ini (P < 0,05). Kadar progesteron mencapai tingkat basal dalam waktu 3 hari setelah pengambilan CIDR (masing-masing 0,64 + 0,12 rtgind dim 0,29 + 0,16 ng/ml, P < 0,05), sewaktu hewan memperlihatkan gejala estrus. Penurunan konsentrasi progesteron plasma setelah pengambilan CIDR pada kedua kelompok perlakuan ternyata linier (R2 = 0,814 and 0,798, dengan rerata penumnannya masing masing adalah 1.36 ng/mVhari dan 1,29 ng/ml/hati). Setelah itu, konsentrasi progesteron meningkatsecara konstan setelah estrus yang terinduksi. Konsentrasi estradiol-1713 pada kedua kelompok perlakuanjuga menunjukkan pola yang relatif sania. Konsentrasinya menurun secara teratur pate fase lutea, meningkat secara pelan menjelang fase folikel, dan mencapai tingkat maksimurn pada saat estrus, =singmasing 3,08 + 0,12 dan 3,38 + 0,16 pg/ml (P < 0.05). Konsentrasi estradiol-1713 antara hari 6 dan 9, hari 20 (estrus) dan 21 dari penelitian pada kelompok A secara nyata lebih rendah daripada konsentrasi pada kelompok B (P < 0,05). insersi kapsul estradiol benzoate meningkatkan konsentrasi estradiol-17(3 plasma dengan jelas. Pada waktu yang bersamaan, peningkatan konsentrasi estradiol-17(3 plasma diikuti dengan penurunan kadar progesteron plasma. Dari penelitian ini dapat disimpulkan, bahwa CIDR merupakan sediaan suplemen progesteron yang memungkinkan terjadinya sinkronisasi estrus pada sapi laktasi. Kombinasinya dengan kapsul estradiol benzoate menghasilkan penurunan progesteron plasma secara lebih nyata dan estrus terjadi lebih sinkron setelah pengambilan implan daripada penggunaan CIDR send iri.Kata kunci : sinkronisasi estrus – CIDR – progesteron - estradiol-1713- sapi perah.
PREPARATION OF LYMPHOCYTE CULTURE CELL FROM PERIPHERIALBLOOD OF NASOPHARYNGEAL CARCINOMA PATIENTS Aris Haryanto
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.396

Abstract

Lymphocyte is leukocyte component that difficult to culture in vitro. Several viruses need lymphocytes as host cell in order to proliferate and growth in this media such as Epstein-Barr virus (EliV). This virus was associated with malignant disease like nasopharyngeal carcinoma (NPC). The objectives of this research are to develop and to prepare lymphocyte cell culture as material source of DNA for molecular analysis of virus. Peripheral blood was collected from NPC patients which is histopatologically and serologically positive of EBV. Lymphocytes were separated from the other blood components using ficcolhislopaque. Lymphocytes were diluted using RPMI medium then they were cultivated into 96 microwell plate with concentration. of 106 cell/ml. The, medium consist of 10% FBS, RPMI, Penstrep and FK 506. Culture of lymphocytes were incubated in 5% CO2 at 37°C. The lymphocyte cultures developed and grew confluently during the first week. Only B cells which EBV would be well establish. After 50 cell generations, lymphocytes were transformed and immortalized to be lymphoblastoid cell line (LCL
EFIKASI' DORAMECTIN UNTUK PENGOBATAN Ancylostomiasis PADA ANJING Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.402

Abstract

Telah dilakukan penditian yang bertujuan untuk mengetahui efikasi injeksi doramectin terhadap Ancylostomiasis pada anjing. Penelitian menggunakan 10 ekor anjing yang rnenderita Ancylostomiasis secara _ alami dengan infestasi berat. infestasi berat didasarkan pada uji apung dengan kriteria positif 3 dan 4 (lebib dari 25.000 telurigram tinja). Semua anjing diinjeksi secara subkutan dengan doramectin dosis 200 p.g/kg BB sekali pemberian. Perkernbangan penyakit diamati dengan melakukan pemeriksaan telur racing dalam tinja dan pemeriksaan gejala klinis sampai 2 minggu setelah pengobatan. Anjing dinyatakan sembuh apabila memberikan respon yang baik terhadap pengobatan yang secara klinis ditandai dengan normalnya napsu makan dan minuet, serta tidal( adanya diare, secara laboratorik iidak diternukk telur cuing dalam tinja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua anjing memberi respon yang positip terhadap pengobatart yang diberikan_ Dapat disimpulkan bahwa doramectin efektif dalam rnengatasi infestasi Ancylostoma sp pada anjing
SIMETIDN MENGHAMBAT ELIMINASI STJLFAMETOKSAZOL PADA KELINCI (Orydolagus cuniculus Ida Tjahajati
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.403

Abstract

Simetidin dilaporkan menghambat eliminasi banyak obat . lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh simetidin terhadap eliminasi sulfametoksazol pada kelinci. Penelitian menggunakan 20 ekor kelinci, sehat, umur ± 10 bulan, jenis kelamin jantan. Kelinei dibagi dalam 4 kelompoic, masingmasing 5 ekor. Kelompok I sebagai kelompok kontrol diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol. Kelompok II diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 12,5 simetidin 30 menit sebelum injeksi. Kelompok III diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 25 mg simetidin 30 menit sebelum injeksi. Kelompok IV diinjeksi intramuskuler 25 mg sulfametoksazol, dengan praperlakuan 50 mg simetidin 30 menit sebelum injeksi. Satu mililiter sarnpel darah diarnbii pada jam ke0,25; 0,75; 1,75, 3,75; 10 dan 24 setelah injeksi sulfametoksazol. Kadar sulfametoksRzol dianalisis dengan metode Bratton-Marshall. Hasil parameter farmakokinetik eliminasi dianalisis secara statistik menggunakan anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simetidin secara signifikan menunrunkan nilai kbrens total sulfametoksazol (P
PENGARUH PEMBER1AN AIR PERASAN DAUN PEPAYA PADA AYAM1. RESPON PATOFISIOLOG1K DUODENUM Mufti Kamaruddin
Jurnal Sain Veteriner Vol 18, No 1 (2000)
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air perasan daun pepaya dengan berbagai tingkatan dosis terhadap respon patofisiologik duodenum ayam buras. Penelitian menggunakan 20 ekor ayam buras yang berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata (± SD) 577 ± 69,97 g. Hewan percobaan dilcelompokkan secara acak merata dalam lima kelompok perlalcuan, tiap-tiap kelompok terdiri dari empat ekor. Kelompok pertarna sebagai kontrol hanya diberi akuades (Po); kelompok kedua sampai kelompok' lima diberi air perasan daun papaya dosis tunggal sebagai berilait: 1,5 ml (P1), 2,0 ml (P2), 2,5 nil (P3) dan 3,0 ml (P4). Untuk pembuatan perasan daun papaya digunakan 400 g daun pepaya dan diekstraksi secara sederhana. Empat had setelah perlakuan ayam dikorbankan, dibedah bangkai, dilalcukan pemeriksaan duodenum. Pemeriksaan dilakukan secara makroskopik dan mikroskopik. Preparat mikroskopik dibuat dengan metode paraffin dan diwarnai dengan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan perubahan patologik pada duodenum pada kelompok perlakuan P2, P3 dan P4. Secara makroskopik pada duodenum terlihat gambaran hiperemi dan hemoragi difusa. Sedangkan secara mikroskopik duodenum ayam pada ketiga kelompok perlakuan P2, P3 dan P4 terjadi erosi pada lapisan epitel mukosa, hiperemi, dan hemoragi pada lamina propria. Sedangkan pada kelompok kontrol dan Pi tidak terlihat adanya perubahan makroskopik maupun mikroskopik. Dari hash penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis air perasan daun papaya 1,5 ml tidak menimbulkan perubahan patofisiologik, sedangkan pemberian pada dosis 2,0 ml, 2,5 ml dan 3,0 ml memperlihatkan perubahan patofisiologik pada duodenum ayam buras. Sernakin tinggi dosis pemberian air perasan daun pepaya yang diberikan semakin besar perubahannya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 2 (2025): Agustus Vol 43, No 1 (2025): April Vol 42, No 3 (2024): Desember Vol 42, No 2 (2024): Agustus Vol 42, No 1 (2024): April Vol 41, No 3 (2023): Desember Vol 41, No 2 (2023): Agustus Vol 41, No 1 (2023): April Vol 40, No 3 (2022): Desember Vol 40, No 2 (2022): Agustus Vol 40, No 1 (2022): April Vol 39, No 3 (2021): Desember Vol 39, No 2 (2021): Agustus Vol 39, No 1 (2021): April Vol 38, No 3 (2020): Desember Vol 38, No 2 (2020): Agustus Vol 38, No 1 (2020): April Vol 37, No 2 (2019): Desember Vol 37, No 1 (2019): Juni Vol 36, No 2 (2018): Desember Vol 36, No 1 (2018): Juni Vol 35, No 2 (2017): Desember Vol 35, No 1 (2017): Juni Vol 34, No 2 (2016): Desember Vol 34, No 1 (2016): Juni Vol 33, No 2 (2015): Desember Vol 33, No 1 (2015): JUNI Vol 32, No 2 (2014): DESEMBER Vol 32, No 1 (2014): JUNI Vol 31, No 2 (2013): DESEMBER Vol 31, No 1 (2013): JULI Vol 30, No 2 (2012): DESEMBER Vol 30, No 1 (2012): JUNI Vol 29, No 2 (2011): DESEMBER Vol 29, No 1 (2011): JUNI Vol 28, No 2 (2010): DESEMBER Vol 28, No 1 (2010): JUNI Vol 27, No 2 (2009): DESEMBER Vol 27, No 1 (2009): JUNI Vol 26, No 2 (2008): DESEMBER Vol 26, No 1 (2008): JUNI Vol 25, No 2 (2007): DESEMBER Vol 25, No 1 (2007): JUNI Vol 24, No 2 (2006): DESEMBER Vol 24, No 1 (2006): JUNI Vol 23, No 2 (2005): DESEMBER Vol 23, No 1 (2005): JUNI Vol 22, No 2 (2004): DESEMBER Vol 22, No 1 (2004): Juli Vol 21, No 2 (2003): DESEMBER Vol 21, No 1 (2003): JULI Vol 20, No 2 (2002): Desember Vol 20, No 1 (2002): Juli Vol 19, No 2 (2001): DESEMBER Vol 18, No 1&2 (2000) Vol 18, No 2 (2000) Vol 18, No 1 (2000) Vol 17, No 1 (1999) Vol 16, No 2 (1999) Vol 16, No 1 (1998) Vol 15, No 1&2 (1996) Vol 14, No 2 (1995) More Issue