cover
Contact Name
Tri Mulyaningsih
Contact Email
trimulya@unram.ac.id
Phone
+62274-512102
Journal Mail Official
jik@ugm.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/about/editorialTeam
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 01264451     EISSN : 24773751     DOI : https://doi.org/10.22146/jik.28284
Focusing on aspects of forestry and environments, both basic and applied. The Journal intended as a medium for communicating and motivating research activities through scientific papers, including research papers, short communications, and reviews
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2016)" : 7 Documents clear
Assesment of Vegetation Cover Status in Dry Lands of The Sudan Using Social and Terrestrial Data Mohammed Hamed Mohammed; Suzan Abdelrahman Hamad; Hassan Elnour Adam
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.03 KB) | DOI: 10.22146/jik.16508

Abstract

The current study was conducted in 2015 in Bara Locality, North Kordofan, Sudan. The study area has experienced recurrent drought spells since 1970s of the past century. The main objective of this study was to assess and map the vegetation cover in the area using social, terrestrial and remotely sensed data. To accomplish the above mentioned objective, the study was based on qualitative and quantitative data. In qualitative data, household survey was conducted in which 100 respondents were randomly interviewed. Quantitative data was collected using terrestrial inventory and satellite imageries. In terrestrial inventory, 22 ground control points (GCPs) were randomly registered using GPS in order to get general overview of the land cover of the study area. In each GCP, tree species by number was inventoried within an area of 1 ha. Remote sensing data, covering the target study area, were acquainted using LANDSAT5 imageries (2014) with spatial resolution of 30×30 m. Results of the household survey revealed that only 13 shrub/tree species mentioned by 45% of the respondents, while only 9 woody species were identified, belonging to 8 families from terrestrial inventory. The results of the household survey, 45% of the respondents, indicated that vegetation cover was very good 20 years ago. The study categorized the present land cover as woody vegetation (19%), Acacia senegal stands (5%), shrubs i.e. Leptadenia pyrotechnica and Acacia nubica (18%), small scale farms and grasses (19%) and sandy soil and dunes (39%). The results of the land cover distribution indicated that vegetation cover decreased by 24% while sand/sand dunes was increased by 21% from 1985 to 2015. The study concluded that the study area is under threat of land degradation that may lead to depletion of vegetation cover and decline land productivity. Pengukuran Status Penutupan Vegetasi di Lahan Kering Sudan Menggunakan Data Sosial dan TerestrialIntisariPenelitian ini dilakukan pada tahun 2015 di Lokalitas Bara, Kordofan Utara, Sudan. Lokasi penelitian telah mengalami masa kekeringan yang berulang sejak dekade 1970-an. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai dan memetakan tutupan vegetasi di lokasi penelitian dengan menggunakan data sosial, terestrial, dan penginderaan jauh. Untuk mencapai tujuan dimaksud, penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Untuk data kualitatif, survei rumah tangga dengan wawancara terhadap 100 responden yang dipilih secara acak. Data kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan inventarisasi terestrial dan satelit citra. Untuk inventarisasi terestrial, 22 titik kontrol (GCP) didaftar secara acak dengan menggunakan GPS untuk mendapatkan gambaran umum dari tutupan lahan daerah penelitian. Pada setiap GCP, jumlah spesies pohon diinventarisasi dalam area 1 ha. Data penginderaan jauh yang mencakup wilayah studi diambil dengan citra LANDSAT5 (2014) dengan resolusi spasial 30 × 30 m. Hasil survei rumah tangga menunjukkan bahwa hanya 13 jenis semak/pohon yang disebutkan oleh 45% responden, sementara hanya 9 spesies kayu yang terindentifikasi, milik 8 keluarga dari inventarisasi terestrial. Berdasarkan hasil survei rumah tangga, 45% dari responden menyatakan bahwa tutupan vegetasi yang sangat baik 20 tahun yang lalu. Penelitian ini mengelompokkan tutupan lahan saat ini ke dalam vegetasi berkayu (19%), tegakan Acacia senegal (5%), semak yaitu Leptadenia pyrotechnica dan Acacia nubica (18%), pertanian skala kecil dan rerumputan (19%), dan tanah dan bukit pasir (39%). Hasil dari distribusi tutupan lahan menunjukkan bahwa tutupan vegetasi mengalami penurunan sebesar 24%, sedangkan proporsi pasir/bukit pasir meningkat 21% dari 1985 ke 2015. Penelitian ini menyimpulkan bahwa daerah penelitian berada di bawah ancaman degradasi lahan yang dapat menyebabkan penipisan vegetasi tutupan dan menurunkan produktivitas lahan.
Pemodelan Spasial Resiliensi Ekosistem Gunungapi Merapi Pasca Erupsi Emma Soraya; Wahyu Wardhana; Ronggo Sadono
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.888 KB) | DOI: 10.22146/jik.16509

Abstract

Kemampuan ekosistem hutan di wilayah gunungapi pasca erupsi dapat kembali berfungsi seperti sebelumnya sangat dipengaruhi oleh resiliensi atau daya lentur/lembam ekosistem tersebut. Resiliensi suatu ekosistem dalam studi ini didefinisikan sebagai kemampuan ekosistem untuk bangkit kembali setelah guncangan/gangguan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan sebaran resiliensi spasial ekosistem hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) lima tahun pasca erupsi dan intervensi restorasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan penginderaan jauh multi temporal dan analisis spasial menggunakan sistem informasi geografis untuk menggambarkan perubahan kondisi ekosistem gunungapi sebelum dan pasca erupsi dan kegiatan restorasi. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa setelah lima tahun pasca erupsi, telah terjadi transisi resiliensi/perbaikan ekosistem dari lahan terbuka ke lahan dengan tutupan vegetasi berupa rumput, semak belukar, dan hutan sekunder. Transisi resiliensi ini terjadi baik secara suksesi alami maupun campur tangan manusia dalam bentuk tindakan restorasi. Salah satu catatan hasil dari penelitian ini antara lain adalah keberhasilan kegiatan restorasi untuk mengembalikan kondisi ekosistem seperti sebelum erupsi tidak selalu dapat dideteksi dalam jangka lima tahun setelah erupsi. Kata kunci: Gunungapi Merapi; multi temporal; penginderaan jauh; resiliensi spasial; sistem informasi geografis Spatial Resilience Modelling of Merapi Volcano Ecosystem Post-EruptionThe ability of volcano ecosystem to recover post an eruption to the pre eruption status is affected by its ecological resilience. Resilience of an ecosystem can be defined as the ability of an ecosystem to bounch back after (a) disturbance(s). This study aimed to model spatial resilience of Merapi volcano ecosystem within the area of National Park of Merapi Volcano (TNGM) five years post 2010 eruption and restoration intervention. Analysis was conducted using multi temporal remote sensing and spatial analysis using geographic information system to draw the changes of the ecosystem over time, particularly post eruption and restoration actions. The modelling resulted that five years post eruption, there was resilience transisition/ recovery in volcano ecosystem in TNGM post 2010 eruption. The resilience was shown by the changes from open area to vegetation covers as grass, shrubs, and secondary forests. The transitions occured in term of natural succession as well as human intervention in restoration programs. However, the success of restoration actions to recover the ecosystem to the pre eruption status was not always able to be detected within the period of five years post eruption.
Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Jati Unggul "Mega" dan Kayu Jati Konvensional yang Ditanam di Hutan Pendidikan, Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta Fanny Hidayati; Isti Tamira Fajrin; Muhammad Rosyid Ridho; Widyanto Dwi Nugroho; Sri Nugroho Marsoem; Mohammad Na'iem
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.473 KB) | DOI: 10.22146/jik.16510

Abstract

Kebutuhan kayu jati semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan taraf hidup masyarakat. Di lain pihak, jati merupakan salah satu jenis dengan rotasi umur yang panjang. Selain itu, ketersediaan kayu jati dari Perum Perhutani belum mampu memenuhi kebutuhan kayu jati untuk industri. Oleh sebab itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan kegiatan pemuliaan pohon, dimana dalam kegiatan ini dihasilkan bibit unggul dengan sifat pertumbuhan superior. Akan tetapi, informasi mengenai sifat-sifat kayunya masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat kayu terutama sifat fisika (kadar air, berat jenis, dan penyusutan) dan mekanika (kekuatan lengkung statis dan kekuatan tekan) serta variasi aksial kayu jati unggul tersebut pada umur yang masih muda yakni 11 tahun yang ditanam di Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul Yogyakarta dan dibandingkan dengan jati konvensional umur 14 tahun yang ditanam di lokasi yang sama. Sebagai hasilnya, sifat fisika kayu tidak berbeda nyata antara kayu jati unggul dan kayu jati konvensional, kecuali kadar air segar. Untuk sifat mekanika kayu, kekuatan lengkung statis (MOR dan MOE) serta kekuatan tekan sejajar serat berbeda nyata antara kayu jati unggul dan jati konvensional, sedangkan untuk kekuatan tekan sejajar serat tidak berbeda nyata.Kata kunci: jati unggul, jati konvensional, sifat fisika, sifat mekanika, umur muda.Physical and Mechanical Properties of Superior “Mega”  and Conventional Teak Wood Planted in Wanagama Educational Forest, Gunungkidul, YogyakartaAbstractDemand of teak wood increases every year along the increase of human population and prosperity. On the other hand, teak is one of the long rotation tree species. Furthermore, the avaibility of teak from the Perum Perhutani as the biggest teak plantation company is not enough to fulfill the demand of teak wood from wood industry. Therefore, many efforts have been conducted to solve this problem, such as by tree breeding program. In Indonesia, this program only focused in the growth characteristics. However, information of wood properties of superior teak is still limited in Indonesia. Therefore, the aim of this research was to clarify the physical and mechanical characteristics of superior teak wood (11-year-old) and compared with the conventional teak (14-year-old) planted in Wanagama Forest, Gunungkidul, Yogyakarta and its longitudinal variation. As the results, physical properties were not significantly different between superior teak and conventional teak, except for green moisture content. Bending strength (MOR dan MOE) and compression strength parallel to grain were significantly different between superior and conventional teak. In addition, compressive strength perpendicular to grain was not significantly different between superior and conventional teak.
Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul. V. Sifat Kimia Kayu Ganis Lukmandaru; Arsyi Rahman Mohammad; Pito Wargono; Vendy Eko Prasetyo
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.907 KB) | DOI: 10.22146/jik.16511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sifat kimia kayu jati dari hutan rakyat Kabupaten Gunungkidul. Pohon (dbh 28-37 cm) diambil dari tempat tumbuh berbeda yaitu Nglipar, Panggang, dan Playen. Setiap tempat diambil 3 pohon sebagai ulangan dan sampel yang digunakan adalah disk yang diambil dari bagian pangkal. Penampang radial disk dibagi menjadi 3 bagian, yaitu gubal, teras luar, dan teras dalam. Sifat kimia yang diuji adalah kadar holoselulosa, á-selulosa, hemiselulosa, lignin, ekstraktif etanol-toluena, kelarutan dalam air panas, kelarutan dalam NaOH 1%, dan abu. Sebagai pembanding, digunakan kayu jati dewasa dari tegakan Randublatung (Perhutani). Kisaran nilai kimia dari komponen dinding sel kayu jati Gunungkidul adalah kadar holoselulosa 75,76-79,74%, á-selulosa 46,72-50,90%, hemiselulosa 27,41-30,14%, lignin 29,22-32,80%, dan kelarutan dalam NaOH 1% sebesar 16,43-17,35%. Selanjutnya, kadar ekstraktif etanol-toluena, kelarutan dalam air panas, dan abu adalah 5,04-10,77%, 2,74-7,85%, dan 0,60-1,66%, secara berurutan. Interaksi antara kedua faktor berpengaruh nyata pada kadar holoselulosa, á-selulosa, hemiselulosa, dan ekstraktif etanol-toluena. Faktor tempat tumbuh berpengaruh nyata pada kadar abu sedangkan faktor radial berpengaruh nyata pada kadar kelarutan dalam air panas dan abu. Kayu jati dari Gunungkidul memberikan nilai rerata kadar ekstraktif etanol-toluena dan abu yang lebih rendah sedangkan nilai di parameter lainnya masih dalam kisaran nilai kayu jati dari Randublatung.Kata kunci: Tectona grandis, sifat kimia, hutan rakyat, arah radial, Gunungkidul A Study of Teak Wood Quality from Community Forests in Gunungkidul. V.Wood Chemical PropertiesAbstractThis study aimed to explore the chemical properties of teak wood grown in community forests from Gunungkidul Regency. Trees (dbh 28-37 cm) were selected from three different sites i.e. Nglipar, Panggang, and Playen. Three trees were cut from each site and disks were taken from the base of the trees. The disk in radial cross section was divided into 3 parts: sapwood, outer heartwood, and inner heartwood. Chemical properties tested were holocellulose, á-cellulose, hemicellulose, lignin, ethanol-toluene extractives, hot-water soluble extractives, solubility in NaOH 1%, and ash contents. Mature teakwoods from Randublatung (Perhutani plantation) were used for comparison purpose.The values range of chemical composition in the cell wall components of the Gunungkidul teak wood were holocellulose content 75.76-79.74%, , á-cellulose content 46.72-50.90%, hemicellulose content 27.41-30.14%, lignin content 29.22-32.80%, and solubility in NaOH 1% 16.43-17.35%. Further, the ethanol-toluene extractive, hot-water soluble, and ash content values ranged from 5.04 to 10.77%, 2.74-7.85%, and 0.60-1.66%, consecutively. Interaction between two factors affects significantly to holocellulose, á-cellulose, hemicellulose, and ethanol-toluene extractive contents. The growth-site significantly influence on the ash contents as radial factor has significantly affect on the levels of hot water soluble extractives and ash content. The amounts of ethanol-toluene extractive and ash contents of Gunungkidul teak wood showed the lower values than those of teak from Randublatung. The values of other parameters were remain in the range of value of teak from Randublatung. 
Kualitas Pengeringan Kayu Mahoni pada Berbagai Variasi Kerapatan Incising dengan Dua Skedul Pengeringan Suhu tinggi Tomy Listyanto; Fadlul Rahman; Hyana Swargarini
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.231 KB) | DOI: 10.22146/jik.16513

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi variasi kerapatan incising dan dua skedul pengeringan terhadap kecepatan dan cacat-cacat pengeringan kayu mahoni, serta mengetahui pengaruh variasi kerapatan incising terhadap kekuatan lengkung statik kayu mahoni yang telah dikeringkan. Tiga pohon mahoni (Swietenia mahagony) berdiameter 300-350 mm ditebang dan selanjutnya dibelah dan dibuat menjadi balok dengan ukuran 60 mm × 100 mm dengan panjang 500 mm untuk dijadikan sampel pengeringan. Di antara masing-masing bagian tersebut, dibuat sampel ukuran 20 mm × 20 mm × 25 mm, yang digunakan untuk penentu kadar air awal dan distribusinya. Sampel pengeringan selanjutnya dibagi menjadi 5 variasi kerapatan incising, yaitu 0 lubang/m2 (tanpa incising), 1000 lubang/m2, 2000 lubang/m2, 3000 lubang/m2, dan 4000 lubang/m2. Setiap variasi kerapatan incising selanjutnya akan dikeringkan dengan 2 skedul pengeringan, yaitu suhu pengeringan 100°C sampai tercapai kadar air akhir 12% dan suhu 60°C pada 8 jam pertama dan selanjutnya dilanjutkan 100°C, sampai tercapai kadar air akhir 12%. Paramater yang diamati adalah kecepatan pengeringan, cacat retak permukaan, dan distribusi kadar air akhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa kerapatan incising 3000-4000 lubang/m2 memberikan pengaruh yang cukup nyata di dalam mempercepat proses pengeringan dan distribusi kadar air akhir. Skedul pengeringan dan variasi kerapatan incising tidak berpengaruh pada retak permukaan. Pra perlakuan incising sampai batas 4000 lubang/m2 ini dapat diterapkan untuk mempercepat proses pengeringan dengan penurunan nilai modulus elastisitas dan modulus patah yang tidak berbeda nyata.Kata kunci: incising, pengeringan suhu tinggi, mahoni, lengkung statik, skedul pengeringan Drying Quality of Mahoni Wood in Various Incising Densities and Two High Temperature-Drying SchedulesAbstractThe aims of this research were to investigate the effects of interaction between incising densities and two drying schedules on drying rate and defects as well as to examine the effect of incising densities on static bending characteristics of dried mahogany. Tree mahogany (Swietenia mahogany) trees with the diameter of 300-350 mm were cut and sawn into columns with the dimension of 60 mm ×100 mm × 500 mm. Each column was cut into five parts with the length of 500 mm. A small sample with the dimension of 20 mm × 20 mm × 25 mm were taken in between drying sample to measure moisture content. Five incising densities, which were 0 holes/m2 (unincised), 1000 holes/m2, 2000 holes/m2, 3000 holes/m2 and holes/m2, were applied to the drying sample. Samples were dried with two different drying schedules until the moisture content of 12%. Drying rate, defects, and moisture distribution were measured to evaluate the drying quality. Static bending test was applied to examine the strength properties. The results showed that incising densities of 3000-4000 holes/m2 could significantly improve drying rate and final moisture content distribution. There was no significants defects due to the variation of incising densities and drying schedules. No significant decrease of modulus of elasticity and modulus of rupture among five incising densities was found in this research.
Kualitas Papan Partikel dari Pelepah Nipah dengan Perekat Asam Sitrat dan Sukrosa Mahdi Santoso; Ragil Widyorini; Tibertus Agus Prayitno; Joko Sulistyo
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (715.054 KB) | DOI: 10.22146/jik.16514

Abstract

Penggunaan perekat alami dan bahan baku non kayu dalam pembuatan papan partikel masih sangat terbatas. Sukrosa dan asam sitrat adalah dua bahan alami yang potensial sebagai perekat alami pengganti perekat sintetik berbasis formaldehida. Nipah (Nypa fruticans Wurmb.) merupakan bahan non kayu yang potensial dijadikan alternatif bahan baku papan partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas papan partikel pelepah nipah yang direkat dengan sukrosa/asam sitrat (100/0, 87,5/12,5 dan 75/25). Papan partikel yang dibuat berukuran 25 cm × 25 cm × 1 cm, target kerapatan 0,8 g/cm3. Variabel perekatan antara lain jumlah perekat 20%, waktu kempa 10 menit, suhu kempa 180°C dan tekanan spesifik 3,6 MPa. Sifat fisika dan mekanika papan partikel diuji berdasarkan standar JIS A 5908:2003, kekasaran permukaan diukur menggunakan metode yang dilakukan oleh Hiziroglu (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan asam sitrat terhadap sukrosa berpengaruh positif terhadap sebagian besar sifat papan partikel pelepah nipah. Papan partikel pelepah nipah dengan perekat sukrosa/asam sitrat 87,5/12,5 mampu memberikan hasil terbaik dengan memenuhi standar JIS A 5908:2003. Karakteristik papan partikel tersebut adalah kerapatan 0,89 g/cm3, kadar air 10,21%, pengembangan tebal 2,45%, penyerapan air 23,55%, kekasaran permukaan 5,13 μm, keteguhan rekat internal 0,39 MPa, keteguhan patah 9,80 MPa dan keteguhan elastisitas 3,19 GPa.Kata kunci: papan partikel, pelepah nipah, perekat alami, sukrosa, asam sitrat Quality of the Nipa Frond Particleboard Bonded with Citric acid and SucroseAbstractUtilization of natural binder for non-wood composite is still limited. Sucrose and citric acid are potential natural binding agents for composite products. Nipa (Nypa fruticans Wurmb.) was non-wood materials which are potentially to be used as an alternative raw material for particleboards. This study aimed to determine the quality of the nipa frond particleboard bonded with sucrose/citric acid (100/0, 87.5/12.5 and 75/25). Particleboards were manufactured in 25 cm × 25 cm × 1 cm dimension, the target of density 0.8 g/cm3. The variables included resin content of 20%, press time of 10 m, pressing temperature of 180°C and specific pressure of 3.6 MPa. The physics and mechanics properties of particleboard were tested in accordance to standard JIS A 5908:2003 and surface roughness was measured by following the method performed by Hiziroglu (1996). The results showed that the addition of citric acid to sucrose give a positive effect on most of the properties of the nipa frond particleboards. The particleboard bonded with sucrose/citric acid 87.5/12.5 was able to provide the best results to meet the standards of JIS A 5908: 2003. Characteristics of the particleboard was a density of 0.89 g/cm, moisture content of 10.21%, thickness swelling of 2.45%, water absorption of 23.55%, surface roughness of 5.13 ìm, internal bonding of 0.39 MPa, modulus of rupture of 9.80 MPa and modulus of elasticity of 3.19 GPa.
Kilas Balik Sepuluh Tahun Jurnal Ilmu Kehutanan Ganis Lukmandaru
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.041 KB)

Abstract

Kilas Balik Sepuluh Tahun Jurnal Ilmu Kehutanan

Page 1 of 1 | Total Record : 7