cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 45 No 1 (2018)" : 11 Documents clear
Perbandingan Jumlah Kuman Pada Pasien Bromhidrosis, Sebelum Dan Sesudah Operasi Modifikasi Sedot Lemak Dengan Kuretase
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.5

Abstract

Bromhidrosis merupakan kondisi bau badan menyengat akibat interaksi antara kelenjar keringat dan mikroorganisme. Tindakan pembedahan dengan teknik modifikasi sedot lemak dan kuretase merupakan salah satu terapi yang cukup aman dan efektif untuk bromhidrosis. Pertumbuhan kuman penyebab bromhidrosis dipengaruhi oleh suhu, kelembapan serta sekresi kelenjar keringat. Pada pasien pascaoperasi bromhidrosis terjadi penurunan sekresi kelenjar keringat dan penurunan kelembapan yang menyebabkan penurunan jumlah kuman komensal penyebab bromhidrosis.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan jumlah kuman pada pasien bromhidrosis sebelum dan sesudah operasi modifikasi sedot lemak dan kuretase.Penelitian di lakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, rancangan penelitian menggunakan eksperimental uji klinik dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Subjek terdiri dari 10 pasien bromhidrosis yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel dilakukan sebelum dan sesudah prosedur, menggunakan teknik swab, dioleskan pada permukaan media agar natrium, agar darah dan agar Mc Conkey. Penghitungan jumlah kuman dengan teknik total plate count, data di analisis  menggunakan Paired T test.Tidak didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05) antara jumlah kuman dari sampel sebelum dan sesudah perlakuan. Beberapa spesies kuman yang ditemukan adalah kokus positif Gram (Staphylococcus spp., Streptococcus spp.), batang positif Gram, E. coli dan  Shigella spp.  Kata kunci: bromhidrosis, jumlah  kuman, modifikasi  sedot lemak dan kuretase
Efek Kadar Serum Estradiol Fase Bleeding Siklus Menstruasi Pada Aktivitas Fibroblas Dermis Manusia
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.254 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.6

Abstract

Pembedahan elektif selama fase bleeding siklus menstruasi sering dihindari terkait gangguan koagulasi. Salah satu hormon yang berhubungan dengan proses penyembuhan luka adalah estrogen. Kadar estrogen berfluktuasi sepanjang siklus menstruasi dan berada pada kadar terendah selama fase bleeding. Penelitian eksperimental ex vivo dilakukan pada 16 perempuan berusia 18–40 tahun yang memiliki siklus menstruasi teratur. Darah vena subjek diambil sebanyak 5ml pada fase bleeding dan ovulasi. Kemampuan penyembuhan luka dari masing-masing serum dinilai dengan mengukur proliferasi fibroblas dan deposisi kolagen fibroblas kulit. Ovulasi ditentukan dengan uji pakis saliva, kadar estradiol serum diukur menggunakan Cobas Elecsys®, proliferasi fibroblas menggunakan MTT assay, dan deposisi kolagen dengan sirius red. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar serum estradiol pada fase bleeding dan ovulasi berturut-turut adalah 29,6±10,5pg/dl dan 180,1±164,5pg/dl. Rerata indeks proliferasi fibroblas yang dipajankan pada fase bleeding dan ovulasi adalah 1,09±0,63 dan 1,44±0,66. Rerata densitas optik kolagen fibroblas yang terpajan serum fase bleeding dan ovulasi adalah 0,47±0,2 dan 0,54±0,14. Seluruhnya menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p<0,05). Serum fase bleeding memiliki kemampuan penyembuhan luka yang lebih rendah dibandingkan dengan serum fase ovulasi. Kebijakan untuk tidak melakukan pembedahan elektif selama fase bleeding, selain terkait dengan gangguan pembekuan darah juga terkait dengan proses penyembuhan luka.Kata Kunci:  menstruasi, estradiol, ovulasi, proliferasi fibroblas, deposisi kolagen, penyembuhan luka
Perbandingan Jumlah Kuman Pada Pasien Bromhidrosis, Sebelum Dan Sesudah Operasi Modifikasi Sedot Lemak Dengan Kuretase
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.7

Abstract

Bromhidrosis merupakan kondisi bau badan menyengat akibat interaksi antara kelenjar keringat dan mikroorganisme. Tindakan pembedahan dengan teknik modifikasi sedot lemak dan kuretase merupakan salah satu terapi yang cukup aman dan efektif untuk bromhidrosis. Pertumbuhan kuman penyebab bromhidrosis dipengaruhi oleh suhu, kelembapan serta sekresi kelenjar keringat. Pada pasien pascaoperasi bromhidrosis terjadi penurunan sekresi kelenjar keringat dan penurunan kelembapan yang menyebabkan penurunan jumlah kuman komensal penyebab bromhidrosis.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan jumlah kuman pada pasien bromhidrosis sebelum dan sesudah operasi modifikasi sedot lemak dan kuretase.Penelitian di lakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, rancangan penelitian menggunakan eksperimental uji klinik dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Subjek terdiri dari 10 pasien bromhidrosis yang memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel dilakukan sebelum dan sesudah prosedur, menggunakan teknik swab, dioleskan pada permukaan media agar natrium, agar darah dan agar Mc Conkey. Penghitungan jumlah kuman dengan teknik total plate count, data di analisis  menggunakan Paired T test.Tidak didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05) antara jumlah kuman dari sampel sebelum dan sesudah perlakuan. Beberapa spesies kuman yang ditemukan adalah kokus positif Gram (Staphylococcus spp., Streptococcus spp.), batang positif Gram, E. coli dan  Shigella spp.  Kata kunci: bromhidrosis, jumlah  kuman, modifikasi  sedot lemak dan kuretase
Perbandingan Kadar Brain – Derived Neurotrophic Factor Pasien Psoriasis Vulgaris Dan Bukan Pasien Psoriasis Vulgaris
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.624 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.9

Abstract

Psoriasis adalah penyakit inflamasi kronik pada kulit, dengan dugaan kuat akibat pengaruh genetik. Psoriasis memiliki karakteristik berupa gangguan pertumbuhan dan diferensiasi epidermis serta keterlibatan agen biokimiawi, imunologik, kelainan vaskular, dan sistem saraf. Keterlibatan sistem saraf pada psoriasis salah satunya diperankan oleh brain-derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF telah dikenal luas berperan pada kondisi stres dan depresi, namun BDNF ternyata juga memilki peran menjaga homeostasis korneosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar BDNF dalam serum pasien psoriasis vulgaris dibandingkan dengan bukan pasien psoriasis vulgaris.Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain potong lintang. Sebanyak 20 orang pasien psoriasis vulgaris (kasus) dan 20 orang bukan pasien psoriasis vulgaris (kontrol) ikut serta dalam penelitian ini. Pada seluruh subyek penelitian dilakukan pengambilan darah untuk dilakukan pemeriksaan kadar BDNF dalam serum dengan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Kadar BDNF serum yang diperoleh kemudian dinilai perbedaannya antara kelompok kasus dan kontrol dengan menggunakan uji-t independen.Hasil penelitian didapatkan kadar BDNF dalam serum pasien psoriasis vulgaris lebih rendah secara bermakna (852,99 ± 172,28 pg/ml) dibandingkan dengan bukan pasien psoriasis vulgaris (1202,37 ± 67,06 pg/ml) dengan  nilai p<0,05. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar BDNF serum pasien dan bukan pasien psoriasis vulgaris.        Kata Kunci: psoriasis vulgaris, brain-derived neurotrophic factor
Acrodermatitis Continua Of Hallopeau Yang Memberi Respons Baik Terhadap Terapi Kombinasi Salep Klobetasol Propionat 0,05% Dan Dapson
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.794 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.10

Abstract

Acrodermatitis continua of Hallopeau (ACH) merupakan kasus jarang, yang ditandai dengan erupsi pustular steril yang mengenai ujung jari tangan dan kaki. Pengobatan ACH sulit karena kondisinya yang rekalsitran. Berbagai terapi menggunakan obat topikal atau sistemik, secara tunggal atau kombinasi telah dicoba dengan hasil yang bervariasi. Seorang anak perempuan 10 tahun dengan ACH kuku keempat dan kelima jari tangan kanan dan kuku ketiga jari tangan kiri sejak 5 tahun sebelum berobat. Pengobatan awal dengan salep klobetasol propionat 0,05% saja gagal memperbaiki lesinya. Kombinasi dengan dapson 50 mg/hari menghasilkan perbaikan lesi akral dalam waktu empat minggu, namun terdapat efek samping anemia.Steroid topikal superpoten memiliki mekanisme kerja sebagai anti-inflamasi, anti-proliferasi, imunosupresif, dan vasokonstriksi, terutama jika digunakan secara oklusif, berguna untuk menghentikan pustulasi. Dapson menghambat kemotaksis neutrofil manusia melalui sistem transduksi sinyal protein G dan mengganggu migrasi kemotaktik neutrofil melalui supresi fungsi adhesi ke epidermis yang diperantarai oleh integrin. Hal tersebut menyebabkan supresi perekrutan neutrofil serta kurangnya influks neutrofil ke dalam dermis. Kombinasi salep klobetasol propionat 0,05% yang dioklusi dan dapson dianjurkan untuk ACH Kata kunci: Acrodermatitis continua of Hallopeau, klobetasol propionat, dapson
Kista Epidermoid Terinflamasi Yang Menyerupai Granuloma Piogenik Pada Anak
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.446 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.12

Abstract

Kista epidermoid merupakan salah satu tumor kista jinak yang dilapisi epitel skuamosa dan berisi keratin. Secara klinis memberi gambaran khas berupa nodus sewarna kulit atau kekuningan dan tidak nyeri, dengan pungtum sentral pada folikel pilosebasea. Kista epidermoid terinflamasi sering salah diagnosis sebagai granuloma piogenik. Dilaporkan satu kasus anak perempuan dengan kista epidermoid terinflamasi yang menyerupai granuloma piogenik.Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, dibawa berobat dengan keluhan benjolan merah di pipi kanan yang bertambah besar sejak 2 bulan lalu. Permukaan lesi licin dan tidak nyeri. Riwayat trauma tidak diketahui. Pada pemeriksaan di regio maksilaris dekstra ditemukan tumor eritematosa-livid, bulat, soliter, 1x1x0,5 cm, dengan pungtum sentral. Dilakukan shave eksisi dilanjutkan bedah listrik dengan modalitas koagulasi. Hasil pemeriksaan  histopatologik  menunjukkan  kista  epidermoid dilapisi epitel skuamosa kompleks berkeratin dengan lumen berisi massa keratin.Kista epidermoid terinflamasi jarang dijumpai. Gambaran histopatologis menunjukkan kista dilapisi epitel skuamosa berlapis dengan lapisan granular utuh berisi massa keratin. Kista epidermoid terinflamasi diduga akibat trauma yang memicu respons inflamasi dan jaringan granulasi sehingga terbentuk granuloma piogenik.Granuloma piogenik dapat terjadi pada lesi kista epidermoid akibat trauma. Pada kasus dengan gambaran klinis menyerupai granuloma piogenik, pemeriksaan histopatologik diperlukan untuk menegakkan diagnosis pasti. Kata kunci: Kista epidermoid dengan inflamasi, granuloma piogenik, gambaran klinis, histopatologis
Metastasis Kulit Tipe Karsinoma Erisipeloides Pada Pasien Dengan Riwayat Kanker Payudara
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.291 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.14

Abstract

Karsinoma erisipeloides adalah satu bentuk metastasis kulit yang jarang ditemukan (1% dari seluruh bentuk metastasis kanker payudara ke kulit) dengan manifestasi klinis yang dapat menyerupai selulitis, erisipelas, atau dermatitis sehingga sering terlambat untuk terdiagnosis. Etiologi tersering dari metastasis kulit pada pasien perempuan adalah kanker payudara. Adanya karsinoma erisipeloides sering menandakan rekurensi pada pasien yang sebelumnya telah mendapatkan terapi. Kami melaporkan pasien perempuan berumur 50 tahun dengan keluhan bercak kemerahan di dada sejak tiga bulan. sebelum berobat, terdapat riwayat kanker payudara dan telah selesai menjalani mastektomi serta radioterapi. Sebelumnya telah berobat ke beberapa dokter spesialis kulit dan kelamin, terdiagnosis sebagai dermatitis. Berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis pasien, kami memikirkan dugaan karsinoma erisipeloides. Kemudian kami lakukan biopsi kulit dan ditemukan adanya sel ganas. Dugaan metastasis kulit harus selalu dicurigai pada pasien dengan keluhan kulit nonspesifik disertai riwayat kanker sebelumnya. Kulit bukanlah organ yang sering menjadi lokasi metastasis. Jika ditemukan metastasis ke kulit, biasanya sudah terdapat penyebaran ke organ lain sehingga adanya metastasis kulit menandakan prognosis yang buruk Kata kunci: karsinoma erisipeloides, metastasis kulit, kanker payudara
Psoriasis Pustulosa Generalisata Dan Pemfigus Foliaseus Pada Seorang Pasien Yang Diterapi Dengan Kombinasi Metotreksat Dan Azatioprin
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1026.823 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.15

Abstract

Psoriasis disertai penyakit bulosa autoimun yang terjadi pada satu orang sangat jarang terjadi. Diduga terdapat peranan plasminogenactivator, predisposisi genetik, atau faktor pencetus infeksi dalam patogenesis psoriasis yang disertai pemfigus foliaseus. Metotreksat dilaporkan efektif sebagai terapi psoriasis pustulosa dan azatioprin sebagai terapi penyakit bulosa autoimun menimbulkan efek samping yang lebih dapat ditoleransi.Dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 38 tahun dengan diagnosis psoriasis pustulosa generalisata disertai pemfigus foliaseus. Selain gambaran klinis, diagnosis psoriasis pustulosa ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis, sedangkan diagnosis pemfigus foliaseus ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologis dan direct immunofluorescence (DIF). Pasien diterapi dengan kombinasi metotreksat 3x5 mg/minggu dan azatioprin 2x100 mg/hari. Setelah dua minggu mendapat terapi kombinasi, terjadi perbaikan klinis dan tidak ditemukan lesi baru. Psoriasis dan penyakit bulosa autoimun pada satu orang sulit terapinya karena penggunaan dan penghentian kortikosteroid sistemik dapat mencetuskan psoriasis pustulosa. Pada pasien ini, dipilih metotreksat sebagai terapi psoriasis pustulosa generalisata karena efektivitasnya baik dan tersedia di Indonesia. Azatioprin diberikan untuk terapi pemfigus foliaseus atas pertimbangan efek samping yang jarang terjadi dibandingkan obat imunosupresan lainnya. Dilaporkan satu pasien usia 38 tahun dengan psoriasis pustulosa generalisata disertai pemfigus foliaseus yang mendapatkan terapi kombinasi metotreksat 3x5 mg/minggu dan azatioprin 2x100 mg/hari. Perbaikan klinis didapatkan setelah dua minggu pengobatan. Kata kunci: azatioprin, metotreksat, pemfigus foliaseus, psoriasis pustulosa generalisata
Intralipoterapi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.196 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.16

Abstract

Intralipoterapi adalah injeksi subkutan larutan adipositolitik untuk mengurangi akumulasi lemak subkutan lokalisata. Bahan utama larutan adipositolitik ini adalah asam empedu sekunder deoksikolat (DK). Asam empedu ini dapat menyebabkan adipositolisis dengan melarutkan fosfolipid membran dan membentuk micelles. Membran yang lisis akan mengeluarkan trigliserida intraadiposit untuk dipecah menjadi gliserol dan asam lemak bebas oleh enzim lipase. Pengamatan histologik spesimen jaringan subkutan yang diinjeksi dengan larutan DK menunjukkan adanya inflamasi akut, infiltrasi limfomononuklear, nekrosis lemak, dan makrofag lipid-laden. Enam bulan setelah injeksi pertama, temuan histologik menunjukkan fibroblas dan fibrosis lebih dominan. Hal ini mendukung hipotesis bahwa adiposit yang lisis akan disubstitusi oleh jaringan fibrotik. Konsentrasi DK yang tinggi dapat menyebabkan komplikasi berupa nekrosis dan ulserasi. Intralipoterapi menggunakan DK konsentrasi rendah merupakan pilihan terapi yang relatif aman dan efektif untuk akumulasi lemak lokalisata yang tidak diinginkan. Kata kunci: Intralipoterapi, lipolisis, asam empedu, deoksikolat, adiposit, akumulasi lemak lokalisata
Eczema Coxsackium: Bentuk Atipikal Hand, Foot, And Mouth Disease Yang Disebabkan Oleh Coxsackievirus A6
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 1 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.282 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i1.17

Abstract

Eczema coxsackium merupakan spektrum hand, foot, and mouth disease (HFMD) yang disebabkan oleh coxsackievirus A6 (CVA6). Terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara para klinisi mengenai definisi eczema coxsackium hingga saat ini, sehingga data epidemiologi penyakit sulit didapatkan. Telah dipublikasikan beberapa laporan mengenai kasus endemik HFMD yang disebabkan oleh CVA6 di Amerika Serikat (AS), New Zealand, beberapa negara di Eropa, dan Asia. Beberapa klinisi sering mengkaitkan penyakit ini dengan kejadian dermatitis atopik, meskipun hal tersebut belum ada penjelasannya. Patogenesis eczema coxsackium hingga saat ini belum diketahui dengan pasti. Manifestasi klinis yang timbul sangat bervariasi, lebih berat, dan luas, baik pada lesi kulit maupun mukosa dibandingkan dengan HFMD pada umumnya, sehingga lebih dikenal sebagai HFMD atipikal. Penegakan diagnosis eczema coxsackium tidak mudah karena dapat menyerupai penyakit lain dan harus dapat dibuktikan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh CVA6. Prinsip tatalaksana adalah rehidrasi. Prognosis eczema coxsackium adalah baik dan jarang menimbulkan komplikasi yang serius.  Kata kunci: eczema coxsackium, coxsackievirus A6, HFMD atipikal

Page 1 of 2 | Total Record : 11