cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 45 No 3 (2018)" : 10 Documents clear
FUNGSI BARIER KULIT PADA PASIEN MELASMA
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.797 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.3

Abstract

Keratinocyte derived factor dianggap berperan dalam menstimulasi proses pigmentasi pada melasma sebagai respons terhadap adanya gangguan barier kulit akibat paparan radiasi ultraviolet. Penelitian ini ber- tujuan untuk menganalisis perbedaan fungsi barier antara kulit lesi dengan kulit normal perilesi dan korelasi antara fungsi barier kulit lesi dengan skor Melasma Area Severity Index (MASI) pada pasien melasma. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan potong lintang. Pengu- kuran transepidermal water loss (TEWL), kadar sebum, hidrasi dan pH kulit dilakukan pada 32 subyek yang memenuhi kriteria. Perbedaan fungsi barier antara kulit lesi dengan kulit normal perilesi dianalisis dengan uji-t berpasangan, kecuali kadar sebum menggunakan uji Wilcoxon. Korelasi antara fungsi barier kulit lesi dengan skor MASI dianalisis dengan korelasi Pearson, kecuali kadar sebum menggunakan korelasi Spearman. Hasil penelitian ini berupa nilai TEWL, kadar sebum, dan pH kulit menunjukkan perbedaan yang ber- makna (p<0,05). Sebaliknya dengan hidrasi kulit tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kulit lesi dibandingkan kulit normal perilesi (p>0,05). Tidak terdapat korelasi yang bermakna antara fungsi barier kulit baik berdasarkan nilai TEWL, kadar sebum, hidrasi maupun pH kulit dengan skor MASI (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan fungsi barier berdasarkan nilai TEWL, kadar sebum, dan pH kulit, namun tidak terdapat perbedaan fungsi barier berdasarkan hidrasi kulit antara kulit lesi dengan kulit normal perilesi pada pasien melasma. Tidak terdapat korelasi antara fungsi barier kulit lesi dengan skor MASI pada pasien melasma. 
Hubungan Kadar Interleukin-33 Serum Dengan Derajat Keparahan Klinis Dermatitis Atopik
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.25

Abstract

Pengetahuan mengenai mekanisme yang mendasari dermatitis atopik (DA) penting untuk penatalaksanaan DA selanjutnya. Pada DA, terjadi proliferasi sitokin T helper (Th)-2. Interleukin (IL)-33 diketahui menginduksi proliferasi sel Th ke arah Th2. Aktivasi sitokin Th2 ini menyebabkan gejala klinis DA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar IL-33 serum dengan derajat keparahan klinis DA di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moh. Hoesin (RSUP MH)  Palembang. Metode penelitian observasional analitik laboratorik dengan rancangan potong lintang dilakukan mulai bulan Juli sampai September 2015. Sembilan puluh delapan subjek penelitian didiagnosis DA di Divisi Alergo-Imunologi Poliklinik Dermatologi dan Venereologi (DV) RSUP MH Palembang yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan sebagai subjek penelitian dengan consecutive sampling. Derajat keparahan klinis DA dinilai menggunakan indeks Severity Scoring of Atopic Dermatitis (SCORAD). Sampel darah diambil guna pemeriksaan kadar IL-33 serum cara metode teknik kuantitatif sandwich enzyme immunoassay. Kovariabel yang diikutsertakan dalam penelitian meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan kadar IL-33 serum meningkat signifikan dengan  peningkatan derajat keparahan klinis DA. Usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan tidak memengaruhi derajat keparahan klinis DA. Kesimpulannya ialah kadar IL-33 serum memengaruhi derajat keparahan klinis DA. Kata kunci: dermatitis atopik, kadar IL-33 serum, sitokin Th2, SCORAD
Peran Debridement Dalam Manajemen Nekrolisis Epidermal Toksik Pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Tahun 2005-2015: Studi Retrospektif
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.26

Abstract

Nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan penyakit yang dapat mengancam jiwa. umumnya disebabkan karena efek simpang obat, ditandai dengan kulit kemerahan dan epidermolisis, disertai dengan konjungtivitis dan keterlibatan mukosa orifisium baik oral, genital maupun perianus. Tatalaksana NET hingga sekarang masih merupakan masalah. Banyak pasien dikelola secara konservatif dan membutuhkan waktu perawatan yang sangat lama. Sebaliknya pada sebagian pasien dikelola seperti pasien luka bakar yang pada umumnya memerlukan debridement agar luka sembuh dengan segera. Namun untuk beberapa alasan, debridement masih diperdebatan dalam tata laksana NET.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan debridement dalam pengelolaan NET dari sudut pandang lama rawat inap pasien di RSUD Prof.dr. Margono Soekarjo pada tahun 2005 – 2015.Pada penelitian ini dilakukan analisis retrospektif data yang didapat dari catatan medis pasien NET yang dirawat pada tahun 2005 – 2015. Data yang diambil meliputi persentase luas permukaan tubuh yang terlibat, dan lama rawat inap. Analisis dilakukan dengan menggunakan t-test.Dua puluh tujuh pasien dengan diagnosis NET, baik yang dilakukan debridement maupun tidak, diikutsertakan dalam penelitian ini. Pada pasien NET dengan luas permukaan tubuh yang terlibat sebesar 30-50%, lama rawat inap pasien yang dilakukan debridement lebih singkat secara bermakna (p=0,032) dibandingkan dengan pasien yang tidak dilakukan debridement. Sedangkan pada pasien dengan luas permukaan yang terlibat sebesar 50-80% secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna di antara keduanya (p=0,121), meskipun pasien yang dilakukan debridement lama rawat inapnya lebih singkat.Debridement dapat mengurangi lama rawat inap pada tata laksana NET. Tidak hanya mengurangi lama rawat inap tetapi juga memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien dan mengurangi risiko indeksi sekunder. Dapat diusulkan debridement sebagai salah satu protokol tata laksana pasien NET. Kata kunci: nekrolisis epidermal toksik, debridement, lama rawat inap
Peran Pajanan Sinar Matahari Terhadap Fungsi Biologis Kulit Pada Pasien Vitiligo
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.82 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.27

Abstract

Vitiligo adalah kelainan kulit yang ditandai dengan hilangnya pigmentasi akibat hilangnya melanosit epidermis fungsional. Pajanan sinar matahari dapat memicu peningkatan reactive oxygen species (ROS) pada kulit vitiligo. Simple 1-week sunlight exposure recall (S1WSER) telah digunakan untuk mengetahui hubungan pajanan sinar matahari dengan kadar serum vitamin D yang berperan pada penyakit vitiligo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pajanan sinar matahari terhadap perubahan fungsi biologis kulit vitiligo. Subjek penelitian ini adalah pasien vitiligo yang menjalani fototerapi narrow band ultraviolet B (NB -UVB). Jumlah pajanan sinar matahari harian dinilai dengan S1WSER yang terdiri atas total body areas exposed by sunlight (TBAES) dan time exposed by sunlight (TTES). Fungsi biologis kulit yang diukur adalah trans epidermal water loss (TEWL) menggunakan tewameter dan hidrasi kulit menggunakan korneometri pada kulit lesi yang terpajan sinar matahari (sun exposed lesion/SEL), lesi yang tidak terpajan sinar matahari (non sun exposed lesion/ NSEL), kulit tanpa lesi yang terpajan sinar matahari (sun exposed non lesion/SENL), dan kulit tanpa lesi yang tidak terpajan sinar matahari (non sun exposed non lesion/NSENL). Hasil penelitian menunjukkan hubungan bermakna (p<0.05) antara TBAES dengan selisih nilai korneometri SEL dan NSEL dengan kekuatan korelasi lemah (r<0.6).Sinar matahari berperan dalam perubahan fungsi biologis kulit pada vitiligo, pada penelitian ini didapatkan korelasi positif antara TBAES dengan selisih nilai korneometri SEL dan NSEL.Kata kunci: vitiligo, fungsi biologis kulit, pajanan sinar matahari
Nevus Melanositik Kongenital Luas Laporan Kasus Dan Telaah Literatur
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.512 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.28

Abstract

Nevus melanositik kongenital (NMK) atau giant congenital melanocytic nevus merupakan nevus yang muncul  saat  lahir  atau  timbul  beberapa  minggu  pertama  kehidupan. Lesi  dengan  ukuran  besar  dapat menimbulkan masalah psikososial dan meningkatkan risiko melanoma maligna (MM). Bila didapatkan di daerah kepala dan leher disertai nevus satelit perlu dipikirkan kemungkinan neurokutaneus melanosis (NM). Data rekam medis poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Sardjito periode Januari 2009-Desember 2017 didapatkan 12 kasus NMK luas. Pada makalah ini dilaporkan seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang sejak lahir didapatkan bercak hiperpigmentasi-keabuan, sebagian disertai hipertrikosis, multipel, berukuran 10 cm hingga >20 cm pada telinga kiri hingga leher kiri dan tengkuk, serta bokong. Sejak usia 2 tahun muncul lesi berukuran lebih kecil berupa makula hingga bercak hiperpigmentasi multipel di wajah, kedua lengan, tungkai, punggung, telapak kaki, dan punggung kaki. Tidak terdapat perubahan ukuran lesi yang cepat, kejang, nyeri kepala, maupun muntah berulang. Pada pemeriksaan computed electroenchepalograph (CEEG) dan brain mapping (BM) tidak ditemukan gelombang epileptiform, namun ditemukan perlambatan difus background activity, oleh karena itu disarankan pemeriksaan CT-scan kepala. Pasien ini didiagnosis nevus melanositik kongenital luas. Nevus melanositik kongenital luas dapat meningkatkan risiko terjadinya MM dan bila berlokasi di sepanjang aksis posterior disertai lesi satelit berisiko berkembangnya NM, yaitu sindrom dengan proliferasi melanosit pada sistem saraf pusat disertai NMK. Pada kasus ini tidak didapatkan gejala NM secara klinis namun pelacakan untuk NM dan observasi terhadap MM perlu dilakukan.Kata kunci: nevus melanositik kongenital luas, neurokutaneus melanosis
Eksisi Luas Dengan Subcutaneus Bipedicle Island Flap Pada Karsinoma Sel Basal Tipe Nodulo Ulserasi Dengan Anestesi Umum Dan Anestesi Lokal Tumescent
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.131 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.30

Abstract

Karsinoma sel basal (KSB/basalioma) adalah kanker kulit paling umum dan bersifat invasif lokal. Insiden mencapai 39%. Pajanan sinar UV adalah faktor risiko paling umum, banyak mengenai kepala dan leher, menimbulkan beban psikologis. Manajemen penatalaksanaan sangat penting, dipengaruhi berbagai faktor (usia, komorbiditas, sub-tipe, lokasi). Penatalaksanaan KSB di wajah dapat berbeda (alasan kosmetik). Subcutaneus bipedicle island flap merupakan salah satu design rekonstruksi defek setelah eksisi luas di wajah.Dilaporkan satu kasus KSB,laki-laki,41 tahun. Anamnesis: riwayat tahi lalat mudah berdarah sejak 12 tahun yang lalu, sering terpajan sinar matahari. Pasien mengobatinya namun keluhan tidak sembuh. Pemeriksaan fisik, status dermatologikus: tumor3cmx3cmx0,5cm di pipi kanan, dasar jaringan nekrotik dan eksudat kemerahan, tepi tidak rata, dinding meninggi, jaringan sekitar makula eritem,papul-papul teleangiektasis di pinggir(+),  tidak  melekat pada jaringan dibawahnya, perabaan keras seperti kawat (pinggir tumor). Diagnosis kerja KSB. Hasil histopatologi KSB tipe nodular. Telah dilakukan eksisi KSB yang besar dengan subcutaneus bipedicle island flap di pipi kanan. Dua bulan post operasi memberikan hasil baik. Tidak terdapat defek palpebra inferior.Kata kunci: karsinoma sel basal, tumescent solution, subcutaneus bipedicle island flap
Pemberian Suplementasi Probiotik Pada Kehamilan Untuk Pencegahan Dermatitis Atopik Pada Anak
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.542 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.31

Abstract

Dermatitis  atopik adalah penyakit inflamasi kronis dengan prevalensi tinggi pada anak yang terus meningkat di seluruh dunia. Dermatitis atopik merupakan penyakit multifaktor yang mencakup faktor genetik, pajanan infeksi, pajanan makanan, alergen dan lingkungan. Pruritus berulang yang dialami oleh pasien dermatitis atopik dapat menurunkan kualitas hidup dan dapat menjadi masalah yang serius. Hingga saat ini steroid masih menjadi terapi utama bagi pasien dermatitis atopik, baik pada anak maupun dewasa. Namun mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan akibat pemberian steroid jangka panjang, alternatif terapi lain terus dicari. Peningkatan insidens dermatitis atopik yang bermakna secara global telah mengubah fokus riset para peneliti dalam pencegahan dan penanganan dermatitis atopik. Salah satu upaya pencegahan dermatitis atopik pada anak yang dianggap menjanjikan adalah pemberian suplementasi probiotik pada masa kehamilan. Beberapa penelitian memberikan hasil yang positif dalam menurunkan risiko dermatitis atopik melalui pemberian suplementasi probiotik saat hamil. Namun berbagai faktor, misalnya jenis probiotik yang digunakan, waktu pemberian, durasi pajanan probiotik dan dosis pemberian juga penting untuk diteliti lebih lanjut.  Kata kunci: probiotik, dermatitis atopik, pencegahan, alergi
Calcineurin Inhibitor Topikal Dalam Bidang Dermatologi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.027 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.32

Abstract

Beberapa dermatosis terjadi akibat ketidakseimbangan jalur imunologi. Imunomodulator dapat berfungsi sebagai  imunostimulan  atau  imunosupresan.  Pengobatan  konvensional kelainan-kelainan inflamasi kulit umumnya menggunakan kortikosteroid topikal, tetapi penggunaan klinis terbatas oleh potensi efek samping lokal dan sistemik. Imunomodulator topikal yang terkini dikembangkan dan telah mendapat lisensi dari Food and Drug Administration (FDA) yaitu salap takrolimus dan krim pimekrolimus. Calcineurin inhibitor topikal dianggap sebagai alternatif pengganti kortikosteroid yang aman dan efektif, meskipun masih digolongkan dalam kategori C. Mekanisme kerja obat topikal tersebut dengan menghambat maturasi dan aktivasi sel T melalui kompleks protein sitolitik. Efek samping yang sering terjadi adalah efek lokal berupa pruritus atau rasa panas, tanpa menimbulkan efek sistemik. Kedua obat tersebut disetujui untuk pengobatan dermatitis atopik, namun dapat juga digunakan untuk kelainan-kelainan inflamasi kulit lainnya seperti psoriasis, vitiligo, dermatitis kontak, dermatitis seboroik, liken planus, reaksi reversal dan pioderma gangrenosum. Obat topikal ini tidak menyebabkan atrofi kulit, telangiektasia, striae ataupun toksisitas sistemik.Kata Kunci: Calcineurin inhibitor topikal, takrolimus, pimekrolimus
Kortikosteroid Sistemik: Aspek Farmakologi Dan Penggunaan Klinis Di Bidang Dermatologi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.846 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.33

Abstract

Kortikosteroid sistemik memiliki peranan paling luas di antara semua antiinflamasi dan imunosupresif. Penggunaannya di berbagai bidang kedokteran, termasuk dermatologi, banyak menghasilkan perbaikan klinis yang bermakna. Di sisi lain, pengaruh kortikosteroid terhadap sebagian besar sistem organ, terutama bila diberikan dalam dosis tinggi jangka panjang, berpotensi menghasilkan efek samping serius, meliputi gangguan neuropsikiatrik, kelainan mata, penyakit kardiovaskular, dislipidemia, hiperkoagulabilitas, gangguan gastrointestinal, hiperglikemia, gangguan cairan-elektrolit, kelainan kulit, lipodistrofi, miopati, osteoporosis, infeksi akibat imunosupresi, supresi tumbuh-kembang anak, serta supresi sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal.  Optimalisasi penggunaan kortikosteroid berdasarkan sifat farmakologiknya, yakni pemilihan preparat, rejimen dosis, interval serta waktu dan lama pemberian, metode tapering off, potensi interaksi obat, skrining dan pemantauan  efek  samping serta reaksi hipersensitivitas, juga pemahaman akan fenomena resistensi, kemungkinan timbul dampak buruk dapat dibatasi, sehingga peranan obat ini sebagai pilihan terapi bagi klinisi dapat dipertahankan. Kata kunci: kortikosteroid sistemik, penggunaan klinis, efek samping, farmakologi
Peran Dan Prosedur Uji Kulit Untuk Identifikasi Penyebab Pada Kasus Reaksi Simpang Obat
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 45 No 3 (2018)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1396.72 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v45i3.34

Abstract

Pada tatalaksana kasus erupsi obat alergik (EOA), identifikasi obat penyebab merupakan langkah utama untuk mencegah pajanan ulang terhadap obat yang menyebabkan EOA. Sebagian besar kasus EOA sulit menentukan obat penyebabnya, sehingga dibutuhkan uji provokasi beberapa obat yang diduga sebagai obat penyebab.Uji provokasi oral merupakan baku emas untuk menentukan obat penyebab, namun merupakan kontraindikasi pada kasus EOA berat. Uji tempel, tusuk, dan intradermal merupakan metode in vivo yang relatif lebih aman digunakan untuk identifikasi obat penyebab, walaupun terdapat beberapa keterbatasan. Dasar pemilihan uji kulit adalah berdasarkan patomekanisme dan manifestasi klinis EOA, diduga paling sering dimediasi oleh reaksi hipersensitivitas Coombs dan Gel tipe I dan IV. Uji tempel dapat bermanfaat pada kasus EOA tipe maku lopapular dan fixed drug eruption, sedangkan uji tusuk dapat bermanfaat untuk tipe urtikaria dan angioedema. Untuk mendapatkan hasil uji yang sahih, perlu diperhatikan konsentrasi alergen obat dan vehikulum yang digunakan, serta persyaratan uji. Indikasi uji tempel pada kasus EOA semakin meningkat, tetapi terdapat variasi antar pusat layanan dan belum ada panduan yang di sepakati bersama.Kata kunci:erupsi obat alergik, identifikasi obat, uji kulit

Page 1 of 1 | Total Record : 10