cover
Contact Name
Sonia Hanifati
Contact Email
soniahanifati@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
mdvi.perdoski@gmail.com
Editorial Address
Ruko Grand Salemba Jalan Salemba 1 No.22, Jakarta Pusat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Dermato-Venereologica Indonesiana
ISSN : -     EISSN : 26567482     DOI : https://doi.org/10.33820/mdvi.v49i3
Core Subject : Health,
Media dermato Venereologica Indonesiana adalah jurnal open access dan peer-reviewed yang fokus di bidang dermatologi dan venereologi. Jurnal ini menerbitkan artikel asli, laporan kasus, tinjauan pustaka dan komunikasi singkat mengenai kesehatan kulit dan kelamin, diagnosis dan terapi pada bidang kulit dan kelamin dan masalah lainnya di bidang kesehatan kulit dan kelamin.
Arjuna Subject : Kedokteran - Dematologi
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 48 No 3 (2021)" : 9 Documents clear
VULVAR INTRAEPITHELIAL NEOPLASIA DIFFERENTIATED (dVIN) YANG TEGAK DENGAN PEMERIKSAAN IMUNOHISTOKIMIA P40 DAN Ki67
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1175.832 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.155

Abstract

Vulvar intraepithelial neoplasia differentiated (dVIN) merupakan karsinoma sel skuamosa in situ dengan manifestasi lesi tidak khas dan secara histologi menyerupai gangguan vulva non neoplastik sehingga penyakit ini jarang teridentifikasi. Makalah ini melaporkan wanita 61 tahun dengan keluhan benjolan yang terasa gatal, nyeri dan panas pada bibir vagina muncul sejak 1 tahun yang lalu, lesi sempat menghilang dan muncul kembali sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan dermatovenereologi menunjukkan vulva vagina dextra dan sinistra tampak massa tumor hiperpigmentasi dengan permukaan verukosa, tepi regular, multipel, sebagian tampak fissura. Hasil pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia menunjukkan jaringan kulit sebagian mengalami displasia dengan sel-sel atipia dengan membrana basalis yang relatif utuh dengan hasil p40 terpulas positif pada inti tumor dan Ki67 50% terpulas positif. Diagnosis yang ditegakkan adalah dVIN/PB pada vulva. Tampilan klinis pada kasus dVIN tidak spesifik dan sering asimtomatik. Temuan histopatologisnya sulit dan tidak mudah dikenali oleh ahli patologi sehingga sering salah diagnosis sebagai dermatosis jinak, hubungan klinikopatologis sangat penting dalam mengelola kasus ini. Diagnosis banding dVIN/PB pada vulva harus selalu dipertimbangkan jika ditemukan lesi hiperpigmentasi atau hyperkeratosis pada vulva,karena sering menyerupai gangguan epitel non neoplastik. Pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia P40 dan Ki67 dapat digunakan untuk membantu dalam penegakan diagnosis kasus dVIN/PB pada vulva. 
Peran dan Fungsi Zinc Oxide pada Tatalaksana Dermatitis Atopi
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.388 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.219

Abstract

Dermatitis atopi (DA) merupakan bentuk eksim yang paling umum dijumpai, dengan perkiraan prevalensi global mencapai 22,5% atau melebihi seperlima dari populasi global. Tingkat rekurensi yang tinggi pada DA menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien. Walaupun penyebab DA belum diketahui secara pasti, faktor genetik dan lingkungan diduga berperan dalam terjadinya DA. Patogenesis DA merupakan proses kompleks yang melibatkan berbagai defek komponen genetik yang menyebabkan gangguan sawar kulit (hipotesis outside-in), perubahan imunologis (hipotesis inside-out), dan disbiosis mikrobioma akibat peningkatan kolonisasi flora normal. Tatalaksana DA terdiri dari identifikasi dan prevensi faktor pencetus, serta mempertahankan fase remisi dan mencegah rekurensi. Saat ini, penggunaan zinc oxide (ZnO) sebagai terapi potensial pada DA telah banyak dipelajari. Zinc (Zn) merupakan mikronutrien dengan sifat anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, dan UV-protective yang sering digunakan dalam bidang dermatologi. Berbagai penelitian juga telah menunjukkan bahwa ZnO memiliki efek positif terhadap DA, antara lain melalui remodeling sawar kulit, sifat antibakteri, dan sebagai imunomodulator. Namun, beberapa penelitian lain juga menemukan berbagai efek samping Zn yang tidak dapat dikesampingkan. Dengan demikian, penggunaan Zn sebagai tatalaksana DA membutuhkan penelitian lebih lanjut secara menyeluruh terkait potensi toksisitasnya sebelum digunakan sebagai tatalaksana rutin untuk DA.Kata kunci: Eksim, Dermatitis atopi, Zinc oxide
GENERALIZED FIXED DRUG ERUPTION: SEBUAH LAPORAN KASUS JARANG
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.601 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.275

Abstract

Generalized fixed drug eruption (GFDE) merupakan varian klinis fixed drug eruption (FDE) yang muncul berupa lesi multifokal dengan pola sebaran lebih luas. Faktor pemicunya adalah pajanan berulang terhadap obat-obatan tertentu. Seorang laki-laki, 60 tahun, berobat untuk keluhan bercak merah gelap keunguan yang meluas pada sejumlah lokasi tubuh beberapa jam setelah minum obat bebas yang mengandung metampiron, tiamin, piridoksin, sianokobalamin, dan trimetilxantin. Konsumsi obat yang sama sebelumnya tidak menimbulkan keluhan, namun pasien mengalami ruam serupa terbatas pada beberapa lokasi tubuh enam tahun yang lalu setelah minum obat herbal, menyisakan bercak hiperpigmentasi. Pada pemeriksaan fisis didapatkan makula-plak merah gelap keunguan, makula hiperpigmentasi pekat, multipel, diskoid sampai oval, sirkumskrip-difus yang tersebar di seluruh tubuh. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan interface dermatitis dan nekrosis epidermis, sesuai dengan FDE. Pemberian kortikosteroid oral setara prednison 0,5 mg/kgBB/hari menghilangkan ruam secara cepat. Temuan bercak merah gelap keunguan multifokal dengan pola sebaran luas saat ini dan hiperpigmentasi akibat reaksi di masa lalu, serta keterangan konsumsi obat tersangka sebelumnya, umumnya cukup untuk menegakkan diagnosis GFDE., Meskipun metampiron sangat dicurigai berdasarkan beberapa laporan kasus terdahulu substansi penyebab sebenarnya pada pasien belum dapat ditentukan hingga dibuktikan dengan hasil positif uji tempel obat.Kata kunci: generalized fixed drug eruption, hipersensitivitas obat kortikosteroid, metampiron
MODALITAS TERAPI BEDAH EKSISI DAN LIPOSUCTION SEBAGAI TATALAKSANA BROMHIDROSIS AKSILARIS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2869.136 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.276

Abstract

Bromhidrosis adalah bau badan tidak sedap yang terjadi secara kronis. Bromhidrosis sering terjadi pada bagian ketiak sehingga disebut bromhidrosis aksilaris. Terapi bromhidrosis dibagi menjadi terapi bedah dan terapi non bedah. Terapi bedah mencakup bedah eksisi, liposuction dan simpatektomi. Penggunaan terapi non bedah memiliki efek sementara dan sering mengalami rekurensi. Sedangkan penggunaan teknik bedah dinilai memiliki efektivitas lebih tinggi karena risiko rekurensi yang rendah sehingga meningkatkan kepuasan pasien. Bedah eksisi dilakukan dengan pengangkatan kelenjar apokrin dan ekrin. Liposuction dilakukan dengan teknik suction untuk menghilangkan dan menghancurkan kelenjar apokrin dan kelenjar ekrin, disertai rusaknya persarafan kelenjar keringat pada jaringan subkutan. Tindakan pembedahan memiliki komplikasi yang lebih banyak dibandingkan tindakan non bedah yaitu infeksi, penyembuhan yang lama, luka parut, nekrosis, seroma, dan hematoma.
ETIOPATOGENESIS KELAINAN KULIT KERING PADA DIABETES MELITUS TIPE 2
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.996 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.277

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik yang disebabkan oleh peningkatan resistensi insulin, penurunan produksi insulin, atau kombinasi keduanya yang ditandai dengan hiperglikemia. Kelainan kulit kering termasuk salah satu manifestasi DMT2 dengan prevalensi tertinggi, yaitu 69%. Kondisi kulit kering, terutama pada kaki, berpotensi menjadi derajat yang lebih berat dan dapat berkembang menjadi ulkus kaki diabetes. Penanganan dini diperlukan untuk mencegah terjadinya penyulit dan peningkatan morbiditas pada penyandang DM. Kelainan kulit kering berkorelasi erat dengan pengontrolan glikemik yang buruk. Pada kondisi hiperglikemia dapat terjadi berbagai gangguan homeostasis kulit. Selain itu, faktor yang berkontribusi pada kelainan kulit kering adalah akumulasi advanced glycation end product (AGEs), kerusakan vaskular yang progresif, faktor neural, dan sistem imun. Etiopatogenesis kulit kering pada DMT2 meliputi berbagai hal, yaitu mekanisme terjadinya kulit kering secara sistemik, terdapatnya kondisi neuropati pada DMT2, dan perubahan biofisika pada stratum korneum. Di samping itu, terjadi penurunan hidrasi stratum korneum dan peningkatan TEWL, perubahan asam amino, lipid, dan pH kulit, serta penurunan proliferasi dan diferensiasi epidermis. Hal tersebut menyebabkan penumpukan lapisan korneosit dan penurunan konsentrasi lipid yang diduga menjadi faktor penyebab kulit kering pada penyandang DMT2.   Kata kunci: AGEs, diabetes melitus tipe 2, hidrasi, hiperglikemia,  kulit kering
PIGMENTED PURPURIC DERMATOSES
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1766.289 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.278

Abstract

Pigmented purpuric dermatoses (PPD) merupakan kelompok penyakit kulit tidak mengancam jiwa dengan perjalanan penyakit kronik. Penyakit dibagi menjadi beberapa varian dengan gambaran klinis berbeda yaitu Schamberg disease (SD), Majocchi purpura (MP), pigmented purpuric lichenoid dermatosis (PPLD) of Gourgerot and Blum, eczematid-like purpura of Doucas and Kapetanakis (EPDK), liken aureus (LA) dan granulomatous pigmented purpura (GPP). Tipe SD merupakan varian paling sering ditemukan. Gambaran khas berupa makula jingga kemerahan disertai bintik-bintik purpura menyerupai serbuk cayenne pepper. Etiologi pasti belum diketahui namun beberapa obat dan penyakit tertentu dapat menjadi pemicu. Dilatasi dan fragilitas kapiler disertai ruptur kapiler papila dermis diduga berperan dalam patogenesis. Baku emas pemeriksaan PPD adalah histopatologik berupa temuan infiltrat limfositik perivaskular, ekstravasasi eritrosit dan deposit hemosiderin. Dermoskopi dapat membantu membangun diagnosis dengan ditemukan red dots/red globules serta coppery-brown background. Pemeriksaan darah lengkap, marker antibodi dan pencitraan non-invasif digunakan untuk menyingkirkan diagnosis banding. Edukasi pasien mengenai penyakit yang dapat kambuh namun self-limiting penting diberikan. Hingga saat ini pedoman tatalaksana belum ada namun penggunaan beberapa obat menunjukkan efektivitas sebagai terapi PPD. Kata kunci: diagnosis, gambaran klinis, pigmented purpuric dermatoses
PERAN UJI TEMPEL OBAT NEVIRAPIN DALAM PELACAKAN PENYEBAB ERUPSI OBAT PADA PASIEN HIV
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.05 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.279

Abstract

Erupsi obat (EO) saat ini masih menjadi masalah kesehatan karena kasusnya cukup tinggi. Penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan kelompok yang rentan mengalami EO. Salah satu pilihan terapi lini pertama HIV adalah nevirapin (NVP) yang diketahui paling sering menyebabkan EO. Manifestasi EO akibat nevirapin terbanyak, yaitu erupsi makulopapular, merupakan reaksi hipersensitivitas tipe IV. Cara menentukan obat penyebab EO seringkali hanya berdasarkan dugaan dari anamnesis. Uji tempel obat (UTO) merupakan uji kulit in vivo yang relative aman dan murah untuk mengidentifikasi penyebab EO yang didasari reaksi hipersensitivitas tipe IV.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persentase nilai positif UTO pada penderita HIV yang diduga mengalami EO karena nevirapin, serta menguji konsentrasi terbaik dan keamanan  nevirapin yang dapat digunakan sebagai alergen UTO.Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif non-analitik. Uji tempel obat nevirapin dilakukan pada 25 subjek HIV dengan EO yang diduga karena nevirapin. Alergen nevirapin menggunakan pelarut vaselin album dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Proporsi nilai positif UTO nevirapin tertinggi pada konsentrasi 30%, didapatkan pada 32% subjek, diikuti konsentrasi 20% pada 24% subjek dan konsentrasi terendah, yaitu 10% pada 20% subjek. Tidak ditemukan efek samping pada UTO nevirapin. Uji tempel obat nevirapin dengan konsentrasi 30% pelarut vaselin album berguna dan aman untuk mengidentifikasi alergi obat yang diduga karena nevirapin pada penderita HIV. Kata kunci: erupsi obat,  uji tempel obat, nevirapin, HIV
KELAINAN IMUNODEFISIENSI PRIMER DI BIDANG DERMATOLOGI
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.472 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.280

Abstract

Kelainan imunodefisiensi primer merupakan kelompok penyakit heterogen dengan gangguan sistem imun yang disebabkan oleh defek genetik. Kelainan tersebut diklasifikasikan berdasarkan defek imunitas adaptif dan bawaan. Meskipun manifestasi klinisnya bervariasi, sebanyak 40-70% pasien menunjukkan gejala di kulit sehingga temuannya dapat membantu menegakkan diagnosis. Kelainan imunodefisiensi primer paling banyak terjadi pada bayi baru lahir hingga usia kurang dari satu tahun, namun dapat juga pada usia yang lebih tua. Kelainan imunodefisiensi primer dapat menyebabkan komplikasi infeksi rekuren dan berat, ataupun komplikasi non-infeksi. Dermatitis atopik merupakan temuan paling sering di kulit. Pasien dengan infeksi telinga, sinus, paru yang berulang dalam satu tahun, gagal tumbuh, respons buruk terhadap antibotik, sariawan persisten, abses kulit yang sulit sembuh, riwayat keluarga dan penyakit autoimun multipel harus dicurigai menderita kelainan imunodefisiensi primer. Pemeriksaan lymphocyte proliferation assay, flow cytometry, pengukuran kadar imunoglobulin serum, neutrophil function assay, dan uji komplemen dibutuhkan untuk mengonfirmasi diagnosis. Berbagai manifestasi kulit pada kelainan imunodefisiensi primer penting diketahui untuk membantu deteksi dini dan tata laksana lebih awal serta komprehensif pada pasien.Kata kunci: autoimun, dermatologi, genetik, kelainan imunodefisiensi primer
PENATALAKSANAAN PSORIASIS TIPE PLAK DENGAN KOMBINASI TERAPI SECUKINUMAB DAN METOTREKSAT : SERIAL KASUS
Media Dermato Venereologica Indonesiana Vol 48 No 3 (2021)
Publisher : PERDOSKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1120.707 KB) | DOI: 10.33820/mdvi.v48i3.281

Abstract

Psoriasis tipe plak merupakan penyakit radang kulit kronik dan residif, memiliki dasar genetik dengan karakteristik gangguan pertumbuhan dan diferensiasi epidermis. Psoriasis tipe plak merupakan bentuk terbanyak yang diderita, mencapai sekitar 90% seluruh kejadian psoriasis. Tata laksana psoriasis derajat sedang dan berat umumnya dimulai dengan terapi kombinasi dan rotasi antara terapi topikal, fototerapi, sistemik nonbiologik. Apabila terapi-terapi tersebut dianggap tidak efektif dan kurang berespons, pemberian terapi sistemik biologik perlu dipertimbangkan. Metotreksat merupakan salah satu terapi sistemik nonbiologik konvensional yang mekanisme kerjanya adalah menghambat sintesis DNA, sehingga menghasilkan kerja antimitotik dan antiinflamasi di epidermis. Secukinumab adalah inhibitor IL-17A yang menunjukkan efikasi pada terapi psoriasis tipe plak derajat sedang hingga berat dan artritis psoriatik. Serial kasus ini melaporkan dua kasus psoriasis tipe plak yang diterapi dengan kombinasi  secukinumab 150 mg/4 minggu dan metotreksat 10 mg/minggu. Setelah 24 minggu didapatkan remisi psoriasis tipe plak mencapai PASI > 90 tanpa efek samping.Kata kunci:  agen biologik - metotreksat  - PASI - psoriasis tipe plak - secukinumab

Page 1 of 1 | Total Record : 9