cover
Contact Name
Prima Daniyati Kusuma
Contact Email
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Phone
+6285701512299
Journal Mail Official
jkn@stikes-notokusumo.ac.id
Editorial Address
Jl. Bener No. 26 Tegalrejo, Yogyakarta 55243
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Notokusumo
ISSN : 23384514     EISSN : 28081781     DOI : 10.53423
Jurnal Keperawatan diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Notokusumo. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun yaitu periode Juni - Desember. Jurnal ini memuat hasil-hasil penelitian dan kajian dalam bidang ilmu keperawatan.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1 (2023): Juni" : 4 Documents clear
IMPLEMENTASI TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM PADA PASIEN HEPATOMA DENGAN MASALAH GANGGUAN AMAN NYAMAN: NYERI: IMPLEMENTATION OF DEEP BREATH RELAXATION TECHNIQUES IN HEPATOMA PATIENTS WITH COMFOR DISORDERS: PAIN Wahyu Dwi Rahmawati; Wilis Sukmaningtyas
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatoma (Karsinoma Hepatoselluer) atau disebut dengan kanker hati. Hepatoma merupakan tumor ganas primer yang berasal dari sel parenkim saluran empedu atau metastase dari tumor jaringan lain yang berkembang pada sel hepar. Nyeri timbul pada perut bagian kanan atas menjadi salah satu masalah yang muncul pada hepatoma, terjadinya tranduksi dan penularan sehingga menyebabkan nyeri pada bagian perut. Penatalaksanaan nyeri pada Hepatoma dapat dilakukan secara non farmakologis. Salah satu teknik relaksasi yang digunakan adalah teknik relaksasi napas dalam. Penelitian ini bertujuan Mengetahui pengaruh relaksasi napas dalam terhadap nyeri bagian perut pada pasien dengan Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar rasa aman dan nyaman nyeri dengan diagnosa medis Hepatoma. Metode penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan memfokuskan Implementasi keperawatan pada Gangguan nyeri dengan memberikan relaksasi napas dalam. Adapun subjek studi kasus berjumlah satu kasus dengan masalah keperawatan hepatoma. Hasil penelitian menunjukkan skala nyeri pasien sebelum diberikan implementasi sebesar 5 dan menjadi skala nyeri 3 setelah diberikan terapi relaksasi napas dalam selama 2 hari pada hari ke 3 pasien sudah memahami cara relaksai napas dalam dan nyeri berkurang.
PENGARUH RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP KADAR GULA DARAH PASIEN DM TIPE 2 DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA: THE EFFECT OF PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION OF PATIENT BLOOD SUGAR LEVELS DIABETES MELITUS TYPE 2 IN PKU HOSPITAL MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Widiastuti; Nur Agustina KL
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang Penelitian: Penyakit diabetes melitus adalah ketidakmampuan organ pankreas memproduksi hormon insulin atau sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara baik. Kadar gula darah yang tidak normal dapat dikendalikan dengan cara mengontrol diet dan manajemen stres. Manajamen stres dapat dikendalikan dengan terapi relaksasi otot progresif. Relaksasi otot progresif merupakan salah satu bentuk mind-body therapy (terapi pikiran dan otot-otot tubuh) dengan mengalihkan perhatian pasien untuk membedakan perasaan saat otot ditegangkan dan dirilekskan. Tujuan: Mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darahpada pasien diabetes melitus tipe 2 di RS. PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metodelogi:Jenis penelitian Quasi Eksperimen dengan Pretest- Postest tes controlgroup, sampel sebayak 73 orang yang terdiri dari 36 orang kelompok intervensi dan 37 orang kelompok kontrol, pengambilan sampel dengan teknik non probabilitysampling. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Ujistatistik yang digunakan Wilcoxon t-test dan Mann-Whitney.Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil Wilcoxon t-test menunjukkan hasil pada kelompok intervensi dengan nilaiAsymp. Sig (2-taileD) =.000 dan pada kelompok kontrol dengan nilai Asymp. Sig (2-taileD) =.530. Dan berdasarkan uji Mann- Whitnney menunjukkan nilai signifikasi lebih kecil dari 0,05(0,00<0,05)maknanya ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe 2. Kesimpulan: Ada perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi otot progresif pada kelompok intervensi, dan tidak ada perbedaan kadar gula darah sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi otot progresif pada kelompok kontrol. Ada pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus tipe 2.
STUDI KASUS INTERVENSI PENERAPAN LATIHAN KOMUNIKASI ASERTIF UNTUK MENGONTROL MARAH PADA PASIEN RISIKO PERILAKU KEKERASAN: CASE STUDIES OF INTERVENTION APPLICATION OF ASSERTIVE COMMUNICATION EXERCISE TO CONTROL ANGER IN PATIENTS RISK VIOLENT BEHAVIOR Nur Afifatun Ainy; Ririn Isma Sundari; Sri Imaniyati
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku kekerasan adalah penyakit jiwa psikotik yang ditandai dengan kemarahan atau emosi dan diekspresikan melalui tindakan fisik yang mengancam dan berbahaya. Individu dengan perilaku kekerasan akan mengalami perubahan dari respon kognitif menjadi respon afektif yang dimunculkan dengan emosional berupa rasa marah, sedih, gembira, bahkan tindakan motorik berbahaya. Strategi pelaksanaan yang dibutuhkan pada pasien perilaku kekerasan adalah pendekatan yang berfokus pada hubungan sosial yaitu melalui latihan verbal komunikasi asertif. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui hasil dari penerapan latihan komunikasi asertif guna mengontrol marah pada pasien risiko perilaku kekerasan. Desain penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif studi kasus pada satu subjek yaitu Nn S dengan risiko perilaku kekerasan. Intervensi dilakukan selama 4 hari menggunakan proses asuhan keperawatan. Hasil studi kasus setelah dilakukan strategi pelaksanaan 1-4 risiko perilaku kekerasan didapatkan hasil cara yang paling efektif dalam mengontrol marah pada Nn S yaitu dengan latihan komunikasi asertif. Respon subjektif menunjukkan Nn S merasa lega bisa mengungkapkan rasa marah dan respon objektif diperoleh Nn S mampu mengungkapkan keinginan dan sesuatu yang tidak disukai dengan cara yang baik, pasien dapat mengontrol marah serta perilaku agresif berkurang. Latihan komunikasi asertif ini sangat efektif diterapkan pada pasien perilaku kekerasan untuk mengontrol marah serta disarankan untuk pasien dalam masa pengobatan ataupun pemulihan.  
GUIDED IMAGERY UNTUK MENGATASI NYERI KRONIS: GUIDED IMAGERY FOR CHRONIC PAIN Ika Mustika Dewi; isti warsini; Sugeng Juwono Mardihusodo
Jurnal Keperawatan Notokusumo Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : LPPM STIKES NOTOKUSUMO YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Nyeri merupakan masalah keperawatan yang seringkali merupakan alasan utama seseorang melakukan perawatan, salah satunya dialami oleh hampir seluruh pasien dengan massa paru. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi nyeri tersebut, terutama nyeri kronis yang sifatnya cenderung lebih lama. Salah satu Upaya intervensi yang dilakukan adalah dengan terapi guided imagery. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah perbedaan kualitas nyeri pada pasien massa paru sebelum dan sesudah pemberian terapi guided imagery. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment dengan menggunakan rancangan one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Purposive sampling, dengan jumah 29 responden pasien suspek massa paru di Rumah Sakit Paru Respira. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi tingkat nyeri dengan menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS). Data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon matched-paired signed test. Hasil: Mayoritas tingkat nyeri sebelum diberikan terapi guided imagery adalah “nyeri sedang” sebanyak sebanyak 17 orang (53,3%). Sedangkan mayoritas tingkat nyeri sesudah diberikan terapi guided imagery adalah “nyeri ringan” sebanyak sebanyak 25 orang (78,2%). Kesimpulan: Ada pengaruh terapi guided imagery terhadap tingat nyeri pasien kronis di RS Respira Yogyakarta dengan nilai p value = 0,000

Page 1 of 1 | Total Record : 4