cover
Contact Name
Maria Evvy Yanti
Contact Email
jurnalefata@gmail.com
Phone
+6281312414725
Journal Mail Official
jurnalefata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wijaya I No.29-31, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec. Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 24771333     EISSN : 27228215     DOI : https://doi.org/10.47543
Jurnal EFATA merupakan wadah publikasi online hasil penelitian para dosen di Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, pada bidang teologi dan pelayanan Kristiani. Jurnal EFATA diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Iman Jakarta, dengan Focus and Scope adalah: 1. Teologi Sistematika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Pastoral 4. Misiologi 5. Pelayanan Kristiani
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)" : 6 Documents clear
Gambaran Compassion (For Others) Remaja Kristen di Jakarta Hizkia Augustinus; Joshua Ong; Kartika C. Kirana
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.27

Abstract

This study aims for understanding compassion among Christian adolescents in Jakarta since it interested in the levels to which participants can be compassionate to others. By then, compassion in this study is defined as a sensitivity to suffering in others (engagement) with a commitment to try to alleviate and prevent it (action). The sample consists of 102 Christian adolescents in Jakarta, aged between 16 and 24 years (Mage = 20). Participants were asked to fill out an Indonesian adaptation questionnaire of The Compassion Engagement and Action Scales. The results confirm that compassion levels of Christian adolescents in Jakarta are considerably medium, with a mean value of 70.81. Additional analyses using demographic data and single questions indicated that compassion levels are related to the adolescents’ perception of parental and community compassion, life satisfaction, and birth order.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran compassion (for others) remaja Kristen di Jakarta, yaitu untuk melihat sejauh mana partisipan dapat berperilaku compassionate kepada orang lain. Karena itu, compassion didefinisikan sebagai perasaan tersentuh yang timbul dari kesadaran yang mendalam terhadap penderitaan orang lain (engagement) serta keinginan untuk meringankan penderitaan tersebut (action). Sample dalam penelitian ini terdiri dari 102 orang remaja Kristen di Jakarta berusia antara 16 sampai 24 tahun (Mage = 20). Untuk mengukur tingkat compassion, partisipan diminta untuk mengisi kuesioner adaptasi bahasa Indonesia dari The Compassion Engagement and Action Scales. Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat compassion remaja Kristen di Jakarta tergolong menengah, yaitu dengan nilai mean sebesar 70.81. Uji tambahan juga menemukan bahwa compassion remaja terkait dengan penilaian atas besaran compassion orangtua, compassion lingkungan, dan kepuasan hidup, serta bahwa terdapat perbedaan tingkat compassion, khususnya dimensi engagement pada anak sulung dengan anak tunggal maupun anak tengah.
How to Read Genesis (Resensi Buku) Aldi Darmawan Sie
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.32

Abstract

Judul    : How to Read GenesisPenulis  : Tremper Longman IIIPenerbit: InterVarsity Press.Tahun   : 2005 (cetakan pertama)Tebal    : 192 halaman 
Seberapa Teologiskah Teologi Biblika: Relasi antara Teologi Sistematika dan Teologi Biblika Thio Christian Sulistio
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.28

Abstract

The relationship between biblical theology and systematic theology has been seen as separate disciplines nowadays. Biblical theology only looking for what the text of the Bible meant for the first reader meanwhile systematic theology only attempts to find the meaning of the Bible text for today's people. Biblical theology is an objective study meanwhile systematic theology is a study based on the religious belief of the theologians. This paper, through literature research, tries to give a proposal that biblical theology and systematic theology has a close relationship. Both come directly from the Bible that they have a parallel and dialogical relationship.AbstrakRelasi teologi sistematika dan teologi biblika pada masa kini dipandang sebagai dua bidang ilmu yang terpisah. Teologi biblika hanya berupaya mencari apa makna teks pada masa penulis Alkitab sedangkan teologi sistematika hanya berpusat pada menyampaikan makna teks pada masa kini. Teologi biblika adalah studi obyektif sedangkan teologi sistematika adalah studi yang berdasar pengakuan iman seseorang. Paper ini, melalui penelitian literatur yang ada, mencoba mengusulkan bahwa teologi biblika dan teologi sistematika memiliki relasi yang erat dimana keduanya berakar dari Alkitab dan bersifat pararel dan dialogis.
Bangkitnya Islam Radikal dan Nasionalisme: Studi tentang Gerakan Islam Wahabi Arthur Aritonang
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.29

Abstract

This article describes the contemporary phenomenon in which Muslims in Indonesia since the reform era have been indicated by the ideology of Wahhabism from the Middle East. From the beginning, one of the goals of NU's presence as the largest moderate Islamic organization in Indonesia and the world was to anticipate the inclusion of Wahhabism, which at that time was already widespread in the Middle East. During the new order radical Islamic character organizations did not have a place in this country but after the fall of the new order regime and then entered the era of reform (democracy and freedom of expression) radical-colored Muslims see this as a great opportunity whose basis is as governed by the Law namely the right to establish community organizations or political parties. This opportunity is used to build organizations in the name of Islam and then spread the doctrine of Wahhabism in Indonesia by building mosques, entering several pesantren, and even some Universitas in Indonesia have been exposed to radicalism. The activity was entirely sponsored by Saudi Arabia but not by the Saudi Arabian government. Therefore, the ideology of Wahhabism is clearly contrary to Pancasila and the spirit of nationalism because it actually endangers the existence of fellow Muslims, Christianity and other religions in Indonesia.AbstrakArtikel ini menguraikan fenomena kontemporer dimana umat Islam di Indonesia sejak era reformasi telah terindikasi oleh faham wahabisme dari Timur Tengah. Sejak semula, salah satu tujuan dari kehadiran NU sebagai organisasi Islam moderat terbesar di Indonesia maupun dunia, yaitu mengantisipasi masuknya faham wahabisme yang ketika itu sudah menyebar luas di Timur Tengah. Semasa orde baru organisasi Islam berwatak radikal tidak mendapat tempat di negeri ini, namun setelah tumbangnya rezim orde baru dan kemudian memasuki era reformasi (demokrasi dan kebebasan bereskpresi) umat Islam yang berwatak radikal melihat ini sebagai peluang besar yang dasarnya ialah sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang, yaitu hak untuk mendirikan organisasi kemasyarakat atau pun partai politik. Peluang ini dimanfaatkan untuk membangun organisasi yang mengatasnamakan Islam, kemudian menyebarkan doktrin wahabisme di Indonesia dengan cara membangun masjid, masuk ke beberapa pesantren, bahkan beberapa Universitas di Indonesia sudah terpapar radikalisme. Kegiatan tersebut seluruhnya disponsori oleh Arab Saudi, tetapi bukan berasal dari pemerintah Arab Saudi. Oleh karenanya, faham wahabisme jelas bertentangan dengan Pancasila dan semangat nasionalisme, sebab ini justru membahayakan bagi eksistensi sesama Islam, kekristenan dan agama-agama lainnya di Indonesia.
A Miracle at Cana and Christ’s Revelation: An Exegesis on John 2:1-12 Djenny Ruswandi
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.30

Abstract

Some people see miracles in the biblical narrative just as a part of a mythical story. They are important but not factual. Therefore, the story itself is not historical. One only needs to find some moral lessons from this kind of story. Others see miracles just as miracles. They are needed in times of crisis. No further explanation is needed. However, some others see miracles from a perspective that makes them realize what the message really is. We need to understand a miracle in the biblical narrative recorded in John 12:1-12 with that kind of perspective. Because only by doing that, we can really grasp John’s intention and message implied in the story of the wedding at Cana. This is the goal of this writing. In order to achieve this goal, we will examine John 12:1-12 with a literary approach. We will deal with the authorship and the purpose of the writing of the Gospel of John. We also examine some important words and study the literary context of the text. And lastly, we will highlight some theological points of the text and also look for contemporary messages to our own world. Generally, those points lead us to a very important conclusion that at Cana, Jesus was beginning to reveal who he was to his disciples. He declared by his action that he was the one who was sent by God; he was Christ.AbstrakSebagian orang melihat mujizat-mujizat dalam cerita di Alkitab hanya sebagai satu bagian dari sebuah mitos. Mujizat-mujizat tersebut penting tetapi bukan fakta. Oleh sebab itu, kisah itu sendiri bukanlah sejarah. Seseorang hanya perlu menemukan pesan moral dari model cerita yang demikian. Sementara yang lain melihat mujizat-mujizat hanya sebagai mujizat semata. Mujizat-mujizat tersebut memang dibutuhkan ketika ada krisis. Dan itu tidak memerlukan penjelasan lain. Tetapi, sebagian orang melihat mujizat dengan sudut pandang tertentu yang membuat mereka menyadari apa pesan yang sesungguhnya dari sebuah cerita. Kita harus memahami sebuah mujizat dalam cerita Alkitab yang tercatat di Yohanes 12:1-12 dengan perpektif ini. Karena hanya dengan melakukan hal ini, kita dapat benar-benar meraih maksud dan pesan Yohanes yang tersirat dalam cerita pernikahan di Kana. Ini adalah tujuan dari penulisan artikel ini. Dalam memenuhi tujuan tersebut, kita akan meneliti Yohanes 12:1-12 dengan pendekatan literatur. Kita membahas tentang pengarang dan tujuan penulisan dari Injil Yohanes. Kita juga akan meneliti beberapa kata penting dan mempelajari konteks literatur dari teks tersebut. Lalu akhirnya, kita akan menekankan beberapa poin teologi dari pasal tersebut dan juga mencari pesan yang sesuai untuk masa kini. Secara umum, poin-poin tersebut mengarahkan kita kepada konklusi yang sangat penting bahwa di Kana, Yesus mulai menyatakan siapa diri-Nya kepada murid-murid-Nya. Ia mendeklarasikan diri-Nya dengan tindakan-Nya bahwa Ia diutus Allah; Ia adalah Mesias.
Analisis Tafsir Lintas Budaya Serat Suluk Samariyah atas Yohanes 4:4-42 Robby Igusti Chandra
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 6, No 2: Juni 2020 (Print in September)
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v6i2.31

Abstract

Interpretation or analysis of John 4:5-42 is numerous. However, perhaps a few works are done to analyze the interpretation done in different cultures and faith contexts, especially in Java. One of them is Serat Suluk Pawestri Samariyah that was written in 1921 in central Java. This article explores this Christian Kejawen or local spirituality text to understand the nuances and concepts underlying the text to enrich future contextualization and cross-cultural hermeneutic process. The approach of the study is the narrative interpretation method for both the Serat Suluk Pawestri Samariyah and John 4:4-42 to uncover the similarities, differences, and local concepts. As the result, it is found that in both texts Christ is narrated as He who took initiative to approach the Samaritan woman and to offer God’s grace. However, after someone receives the grace of the Living Water or Salvation, on the one side, Serat Suluk Pawestri Samariyah gives a holistic and practical way to conduct his or her life. Yet, on the other side, the text gives the impression that it teaches a dualistic view.AbstrakKarya tafsiran dan telaah atas Yohanes 4:5-42 sangat kaya. Namun, bagaimana budaya yang dan kepercayaan yang berbeda menafsirkannya mungkin belum banyak digarap, khususnya untuk Indonesia. Salah satu karya adalah Serat Suluk Pawestri Samariyah yang ditulis di tahun 1921 di Jawa Tengah. Artikel ini menelusuri karya sastra Kejawen Kristiani ini untuk menangkap nuansa-nuansa serta konsep yang memperlengkapi proses kontekstualisasi dan hermeneutik lintas budaya. Pendekatan yang digunakan adalah tafsir narasi baik terhadap Serat Suluk Pawestri Samariyah dan Injil Yohanes 4:4-42 sehingga dapat digali kesamaan, perbedaan, dan konsep-konsep budaya lokal. Sebagai hasilnya, didapatkan bahwa, konsep Kristus sebagai sosok yang berprakarsa mendekati sang wanita Samaria dan menawarkan anugerah Tuhan sangat nyata dalam kedua teks, namun pemahaman teks lokal ini mengenai konsekuensi mengenai hidup sesudah menerima air hidup yaitu pengampuan dan keselamatan terkesan sangat dualistis walaupun, sangat utuh dalam pedoman menjalani hidup baru.

Page 1 of 1 | Total Record : 6