cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 3 (2003): November" : 6 Documents clear
ANALISIS SIFAT AKUSTIK PAGAR PEMBATAS SEBAGAI PEREDAM BISING KENDARAAN BERMOTOR: SALAH SATU ALTERNATIF PENGENDALI BISING DI KOTA DENPASAR (Analysis on The Acoustic Characteristic of Fence to Reduce Noise from Motorized Vehicles: One of The Alternatives) Putri Kusuma; Sudibyakto Sudibyakto; Dewi Galuh
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18608

Abstract

ABSTRAKSalah satu sumber kebisingan di daerah urban adalah kendaraan bermotor. Upaya untuk menghadapi kebisingan ini adalah mengendalikannya dengan cara memasang penghalang (barrier) dalam bentuk pagar, seperti misalnya pada arsitektur tradisional Bali. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi tentang efektivitas berbagai macam pagar dan tentang efek pagar ini dan jumlah kendaraan bermotor terhadap tingkat kebisingan yang ditimbulkan. Penelitian ini dilaksanakan berdasar pada standar (ISO) R 1996, atau Equivalence of Noise Level of n number of sample. Penelitian ini mengadopsi sampling purposif untuk memilih jenis penghalang, dan berfokus pada objek berikut: (1) jenis pagar, (2) jarak dari sumber kebisingan, dan (3) jumlah jenis kendaraan. Efektivitas penghalang diekspresikan dalam jumlah reduksi kebisingan dari suatu kebisingan, baik menggunakan atau tidak menggunakan penghalang, serta koefisien keheningan (coefficient of muting) dari setiap penghalang. Tes untuk menganalisis data meliputi korelasi untuk mengetahui efektifitas penghalang, dan tes regresi untuk mengetahui hubungan antara jenis kendaraan dan tingkat kebisingan. Penelitian ini menemukan bahwa pagar masif merupakan pengurang kebisingan yang paling efektif diantara jenis-jenis pagar yang ada, dengan koefisien 0,12, tetapi jenis ini memiliki kekurangan elemen estetika dan memberikan kesan individualistik ditambah lagi bahwa struktur tersebut menghalangi pandangan apa yang terjadi diluar. Pagar yang berselang-seling dan ditutupi dengan vegetasi lebih baik ditinjau dari sisi estetika maupun fungsi fisik untuk mengurangi kebisingan, dengan koefisien 0,09. Relasi antara tingkat kebisingan dan jumlah kendaraan dapat diidentifikasi dengan menggunakan persamaan linier dengan memberikan jumlah kendaraan yang equivalen dengan jumlah sepeda motor. ABSTRACTOne of the sources of noise in urban areas is motorized vehicles. An attempt to deal with noise is to control it in its tract by setting up barriers in a form of fence, especially that in Balinese traditional architecture. The research aims to study the effectiveness of different kinds of fence and to study the effects of these fences and the number of vehicles on the noise level produced. The research was conducted based on the (ISO) R 1996 standard, namely the equivalence of noise level of n number of sample. It adopted a purposive sampling select the type of barrier, and focused on the following research objects: (1) type of fence, (2) distance of measurement from a noise source, and (3) type number of vehicles. The effectiveness of a barrier is expressed in the amount of noise reduction from a noise, either with or without barrier, and the coefficient of muting from each barrier. The tests to analyze the data are the correlation test to know the effectiveness of barrier and the regression test to know the kind of relationship between the type of vehicle and the noise level. The research found that a massive fence is the most effective noise reducer among different tyes of fence, with coefficient of 0.12. However, it offers less aesthetic element as it gives a impression of individualsm in addition to its structure that obstructs the eyes to see what is happening ourtside. A fence with gaps covered with vegetation is better both from the esthetic point of view and from physical function that is to reduce noise, with a coefficient of 0.09. The relation between the noise level and the number of vehicle can be identified by using a linear equation approach by putting the equivalence of the number of vehicle with that of motorcycle.
ANALISIS KUALITAS LINGKUNGAN PERAIRAN BERDASARKAN KOMUNITAS MEIOBENTOS DAN KUALITAS SEDIMEN DI PANTAI DAN AREA PERTAMBAKAN, PESISIR SRIWULAN KABUPATEN DEMAK (The Quality Analysis of Aquatic Environment based on Meiobentos Community and Sediment Quality ) Muhandis Sidqi; Shalihuddin Djalal Tandjung; Kamiso Handoyo Nitimulyo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18609

Abstract

ABSTRAK Tujuan studi ini meliputi (1) menentukan kualitas lingkungan daerah pesisir dan tambak ikan, kualitas sedimen, dan komunitas meiobentos, (2) menemukan hubungan antara kualitas sedimen dan meiobentos, dan (3) menentukan tingkat produktivitas peikampungan tambak ikan berdasarkan jarak, tingkat polusi dan destruksi. Parameter kualitas air dianalisis menggunakan metode deskriptif-komparatif, sedangkan parameter sedimen dianalisis menggunakan PCA (Principal Component Analisys) untuk menentukan distribusi spasial pada setiap stasiun pemantauan dan lapisan kedalaman sedimen. Komunitas meiobentos diperiksa dengan menggunakan CA (Factorial Correspondence Analysis) untuk mendeteksi tingkat distribusi spasial yang juga berdasarkan stasiun pemantauan dan lapisan kedalaman sedimen. Data tersebut dianalisis menggunakan korelasi dan regresi untuk memahami pengaruh parameter bebas terhadap produktivitas tambak ikan. Kemudian tes statistik non parametric dari Kruskall Wallis digunakan untuk membedakan produktivitas pada 3 desa berdasarkan jarak terhadap sumber pencemaran dan tingkat destruksi tambak ikan. Penelitian ini menemukan bahwa nilai parameter kualitas air (muddy, TSS NH3, NO2, beyond threshold level), negative redox potential (Eh) sediment value/reduction zone, and IMLP adalah moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi air di daerah penelitian tidak stabil. Penelitian juga menunjukkan nilai indeks diversitas yang rendah, dominasi organisme meiobentos tertentu, dan konformitas antar komunitas bentos. Hasil tes statistik Kruskall Wallis menunjukkan adanya signifikansi antara produktivitas tambak ikan dengan factor jarak dan tingkat destruksi diantara 3 desa dalam daerah penelitian yaitu Bedono, Sriwulan. Purwosari yaitu dengan nilai produktivitas 0.65,0.56, 0.41 ton/hektar/tahun. ABSTRACTThe objective of this study area to determine the environmental quality of coastal area and fish ponds which are on water quality, sediment quality, and Meiobentos community, to find out the relation between sediment quality and Meiobentos, and to determine the productivity level of fish ponds villages which are based on their distance, pollution level and destruction. The parameters of water quality were analyzed with descriptive comparative method, while the parameters of sediment were analyzed with principal component analysis (PCA) to find out its spatial distribution according at each monitoring station and the layer of sediment depth. Meiobentos community is to examined by factorial correspondence analysis (CA) to  detect the level of its spatial distribution, which based on the monitoring station and the layer of sediment depth. Socio-economic parameters was collected by interviewing fish pond owners and tenant at the research area. It is analyzed with correlation regression to understand the influence of dependent parameter on independent parameter (the productivity of fish ponds). Then the nonparametric test statistic of Kruskall Wallis was used to differentiate the productivity at the three villages based on their distance from waste source and the destruction level of fish ponds. The research find out that water quality parameters (Muddy, TSS, NH3, NO2, beyond threshold level), negative redox potential (Eh) sediment value/reduction zone, and IMLP value are moderate. This shows the waters condition at the research area is still not stable. The results also show the low value of diversity index, the dominance of particular meiobentos organisms, and the conformity between meiobentos community. The results of Krskall Wallis statistical test point out that there is a significant differences between fish ponds productivity with the distance factor and the level of destruction in the three villages research areas, i.e Bedono, Sriwulan, Purwosari consercutively with productivity value 0.65, 0.56, 0.41 ton/hectare/year.
AKUMULASI MERKURI PADA IKAN BAUNG (Mytus nemurus) DI SUNGAI KAHAYAN KALIMANTAN TENGAH (The Accumulation of Mercure on Baung Fish (Mytus nemurus) in The Kahayan Rice of Central Kalimantan, Indonesia) Adventus Panda; Kamiso Handoyo Nitimulyo; Tjut Sugandawaty Djohan
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18610

Abstract

ABSTRAKSungai Kahayan di Kalimantan Tengah mengalami tekanan lingkungan karena adanya limbah merkuri yang berasal dari aktivitas penambangan emas tradisional. Di tempat tersebut terdapat 10a4 tempat penambangan emas sepanjang sungai dari hulu sampai hilir. Merkuri dalam sedimen sungai secara berturut-turut mengalami metilasi (methylation) oleh reduksi sulfat bakteri. Riset ini merupakan studi akumulasi merkuri (FIg) dalam Mytus nemurus, sedimen dan air, dari hulu ke hilir di sungai Kahayan. Total jarak dari hulu sekitar 296 km. Data dikumpulkan dari 3 lokasi sepanjang sungai. Dalam tiap lokasi tapak sampling berada di dataran baniir (floodplain). Penelitian dilaksanakan selama musim hujan. lkan ditangkap menggunakan rengge (gillnet). Penentuan metil merkuri digunakan metode modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara sample yang diukur, akumulasi tertinggi masing-masing berada dalam sedimen sungai (0,336 mg.) dikutip dengan daging M. numerus (0,303 mg.g-1 + 0.342). dan air (0.058 mg-1). Merkuri memiliki tendensi meninggi menuju hilir. Hal ini disebabkan oleh tekstur sedimen yang didominasi oleh silt. Kondisi ini berpotensi untuk metilasi. Turbiditas, arus, dan pH menyumbangkan kenaikan tingkat merkuri di hilir. Asupan merkuri mingguan yang dapat ditoleransi menurut WHO adalah 171,42 mg adalah sama dengan 24,4 mg sehari jika seseorang mengkonsumsi 100 g daging M. numerus sehari. dimungkinkan bahwa akan ada 30,3 mg.g-1 yang masuk ke tubuh. Hal ini berarti bahwa merkuri disepanjang sungai Kahayan mengancam penduduk yang mengkonsumsi ikan dari sungai tersebut. ABSTRACTThe Kahayan River of Central Kalimantan had environmental stress due to mercury waste. This waste came from the traditional gold mining activities. There were 1014 gold mining sites along the river from upstream to downstream. Mercury in river sediment was subsequently methylated by sulfated reduction bacteria. This research were study the accumulation of mercury (Hg) on Mytus nemurus, sediment and water, from upstream to downstream in the Kahayan River. Total from up to downstream site was approximately 296 km. Data was collected from 3 location along the river. Within each location, sampling sites were at floodplain. Research was carried out during wet season. Fish were caught using rengge (gillnet). The determination of methylmercury was using modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry) methods. The results showed that among samples being measure, the accumulation was highest in river sediment (0,336 µg.g1), followed by the meat of M. numerous (0,303µg.g1 ± 0,342), and the water (0.058 mg1) respectively. Mercury had tendency higher toward downstream. This was due to sediment texture which was dominated by silt. Such condition was potential for methylation. Turbidity, water current and pH contributed to the increasing level of mercury in the downstream WHO permittable tolerarable weekly intake for mercury is 171,42 µg was equal to 24,4 µg daily if one person consume 100g M. numerous meat daily, it is possible that will be 30,3 up/g-1 enter the body. This means that mercury along the Kahayan River threaten the people who eat fish up from this river.
APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN: STUDI KASUS DI PESISIR CILACAP DAN SEGARA ANAKAN (GIS Application for Environmental Sensitivity Index Mapping Case Study in Cilacap Coastal Area and Segara Anakan) Utantyo Utantyo; Hartono Hartono; Sutikno Sutikno
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18611

Abstract

ABSTRAKSumberdaya pesisir dapat menerima dampak dari kecelakaan tumpahan minyak. Polusi minyak dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan. Dalam hal ini, inventarisasi pesisir secara detil dikombinasikan dengan indeks sensitivitas memungkinkan ketersediaan informasi pada tingkat yang lebih baik bagi perencana pengelolaan tumpahan minyak. Sistem Informasi Geografis (SIG=Geographic Information System dapat meningkatkan penggunaan data yang dibutuhkan dalam menanggapi adanya tumpahan minyak tersebut serta perencanaan darurat. Studi ini dilakukan untuk mempelajari sensitivitas lingkungan dan mengkombinasikannya untuk membentuk prototipe sistem informasi sensitivitas lingkungan. Dengan menggunakan SIG di daerah pesisir Segara Anakan dan Cilacap. Salah satu strategi yang penting di dalam perencanaan darurat adanya tumpahan minyak adalah memprioritaskan respons tumpahan. Lingkungan pesisir dapat dikuantitatifkan dengan menetapkan skema klasifikasi indeks sensitivitas lingkungan (ISE=Environmemntal Sensitivity Index: ESI). Sensitivitas lingkungan mencerminkan derajad reaksi dari wilayah pesisir untuk bertatran dan pulih ketika terjadi bencana tumpahan minyak. Metode untuk menetapkan ISE adalah dengan mengkombinasikan factor-faktor yang terkait dari suatu sensitivitas lingkungan, antara lain (a) paparan terhadap energi gelombang dan pasut, (b) pelerengan garis pantai, (c) jenis substrata, dan (d) produktivitas biologi. Studi ini menekankan kemampuan SIG untuk memvisualisasikan dan memodernkan faktor-faktor sensitivitas lingkungan secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi SIG untuk mengelola memanipulasi dan menayangkan data pesisir yang relevan dapat dilaksanakan dan dapat dicatat keunggulannya di dalam upaya pemetaan sensitivitas lingkungan. Dalam penelitian ini wilayah pesisir Cilacap memiliki sensitivitas medium, karena daerah tersebut dibatasi oleh garis pantai ESI 5 (dengan panjang 11,6 km), dan dengan ESI 6 Sungai Donan (12,3 km), sementara wilayah Segara Anakan dianggap sensitif terhadap polusi minyak mengingat 112 km2 (45% ) dari 249 Km2 daerah Segara Anakan. Segara Anakan memiliki ranking sensitivitas tertinggi (ESl 8, 9, 10). ABSTRACTCoastal resources can be impacted during an oil spill incident. Given that oil pollution can occur under a wide variety of circumstances, the use of both detailed coastal inventories in conjunction with established sensitivity indexes and approaches allows for a greater level of information and options available to spill planners. a Geographic Information System (GIS) can greatly enhance and improve upon the use and development of data required for oil spill response and contingency planning. This study is determined to examine environmental sensitivities and to combine them into prototype of environmental sensitivity information systems with the aid of GIS in the lagoon of Segara Anakan and Cilacap coastal region. One of the most important strategies in oil spill contingency planning is prioritizing the spill response. Coastal environments would be prioritized and qualitatively queried by establishing Environmental Sensitivity Index (ESI) classification schema. Environmental sensitivity reflects the degree of reaction of coastal region to withstand and to recover when oil spill hazard was occurred. The method to establish an ESI is by combining related factors of an environmental sensitivity. i.e: (a) the exposure to wave and tidal energy, (b) the shoreline slope, (c) the substrate type, and (d) its biological productivity. This study emphasizes the ability of Geographic Information system (GIS) to visualize and to model environmental sensitivity factors spatially. the result shows that the application of a GIS to manage, manipulate, and display relevant coastal databases was possible to be done and had notable advantages in sensitivity mapping efforts, Cilacap coastal region has medium sensitivity, since the area is bordered by ESI 5 shoreline (with length of 11.6 km) and by ESI 6 Donan river (12.3 km), while Segara Anakan region is considered sensitive to oil pollution given that 112 km2 (45%) of the 249 km2. Segara Anakan study area is comprised of the highest sensitivity rankings (ESI 8, 9, 10).
PERSEPSI MASYARAKAT ADAT TERHADAP IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) DI NUSA CENINGAN, KLUNGKUNG, BALI (The Indigenous Society Perception towards The Reghional Spatial Planning Implementation In Nusa Ceningan, Klungkung, Bali) IGM. Konsukartha; T. Gunawan; I.B. Mantra
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18612

Abstract

ABSTRAKPembangunan Bali tidak dipisahkan dari Trihita Karana (Parhyangan, Palemahan dan Pawongan), karena sejak abad X orang Bali telah memiliki perencanaan spasialnya yang diaplikasikan pada pemukiman tradisional. Kemunculan gagasan perencanaan spasial oleh pemerintah berimplikasi pada pengelolaan konversi pola spasial, dan eksploitasi sumber daya alam yang merusak masyarakat adat, termasuk aspek fisik, sosio ekonomik, dan sosial budaya. Nusa Ceningan merupakan bagian daerah pengembangan Nusa Penida, dipilih sebagai daerah penelitian dengan dasar pertimbangan dikotomi perencanaan spasial. Konflik pengguna spasial yang terdiri atas elit pemerintah, elit ekonomi dan elit masyarakat (adat) disebabkan oleh adanya dikotomi kepentingan dari masyarakat adat dan gagasan pemerintah dalam perencanaan spasial. Masyarakat adat dilihat hanya sebagai objek (subordinat) dibandingkan dengan pemerintah karena otoritas pemerintah selalu dominan dalam perencanaan spasial. Dengan demikian kepentingan masyarakat adat sering kali dikalahkan dan dimarginalisasikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan memanfaatkan prinsip-prinsip trianggulasi. Data dikumpulkan dengan metode survei, wawancara yang mendalam, FGD, dan dokumen terdahulu. Data dianalisis secara kuantitatif dengan tabel single frekuency untuk menentukan fenomena, ekspresi dan variabel dominan. Selanjutnya variabel dominan tersebut dieksplorasi melalui metode kualitatif. Konversi pola spasial dan pengelolaan sumberdaya alam memiliki pengaruh terhadap struktur fisik konversi ruang tradisional dan perubahan sosial budaya diantara komponen parhyangan, palemahan dan pawongan. ABSTRACTBali development areas are unseperated from trihita karana (parhyanga, palemahan and pawongan) terms, because since 10th century Balinese have had their own spatial planning which applied on the traditional housing. The emergence of government idea’s on spatial planning have implicated the spatial pattern conversion management and natural resources exploitation that damage the indigeneous society, including the physical, socio-economic and socio-culture aspects. Nusa Ceningan constitutes Nusa Penida developing areas in this research is purposively chosen with the spatial planning dichotomies concideration. The conflict of the spatial users consists of the elite government, elite economic (nongovernment) and elite society (indigenous) are caused by the both dichotomies interest of the indigenous society and government idea’s on spatial planning respectively. The indigenous society are seen as the object (subordinate) as opposed to the government because its authority are always become a subject (dominant) of spatial planning, so that the indigenous society interest are negated and finally be marginalized. The research method applies the combination of both qualitative and qualitative approaches with triangulation principle. The qualitative and qualitative data were both collected by survey method, depth interview, focused group discussion and document over view. Data were analyzed quantitatively by single frequency table to find out the fenomena, expression and dominant variable are explored through qualitative data and be analyzed by qualitative description. The spatial pattern conversion and natural resources management have influences the physical structure of traditional space conversion and socioculture shifting among the parhangan, palemahan and pawongan components.
PERSEPSI DAN PERILAKU,NELAYAN DALAM MEMANFAATKAN SUMBER DAYA LAUT DI PULAU KODINGARENG, SULAWESI SELATAN (Fisherman Perception and Behavior of Marine Resources Exploitation in Kodingareng Island, South Sulawesi) S.A. Bachtiar; B. Setiawan; Sunarto Sunarto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 10, No 3 (2003): November
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18613

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi nelayan tentang pentingnya ekosistem terumbu karang, serta perilaku nelayan dalam memanfaatkan sumber daya alam laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner (sebagai alat bantu untuk mengukur tingkat pengetahuan dan persepsi nelayan), kemudian dilakukan pengkategorian dengan menggunakan indeks komposit. Untuk menggambarkan perilaku nelayan yang terkait dengan sistem spasial digunakan metode pemetaan perilaku, dengan peta dasar sebagai alat bantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan terumbu karang yang signifikan karena penggunaan bom oleh nelayan. Penelitian juga menemukan bahwa tingkat persepsi nelayan yang melakukan penangkapan non destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 21% dan kategori "baik" sebanyak 79%, sedang yang melakukan penangkapan destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 85% dan kategori "baik" sebanyak 15%. Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi dan perilaku. Perilaku nelayan, khususnya yang destruktip lebih disebabkan karena faktor tekanan ekonomi serta longgarnya sistem kontrol sosial yang ada. Diperlukan upaya-upaya untuk memperkuat kontrol sosial untuk mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah, khususnya penggunaan bom oleh nelayan untuk menangkap ikan. ABSTRACTThis research aims to explore fishermen perception and their attitude toward their surrounding environment, particularly the important of coral reef ecosystem and marine resources exploitation. This research was conducted by survey method with questionnaire to explore fishermen perception. These data were then analyzed and categorized by composite index. The behavior mapping was conducted to explore that fishermen behavior in exploiting marine resources (fish) in the area.The results found that the using of bomb for fish coaching has caused environmental damaged, particularly the coal reef. The research also found that the perception of non-destructive fishermen for “fair” category is 21% and for “good” category is 79%. While for destructive fishermen for “fail” category is 85% and for “good” category is 15%. The research found that there is no significant relation between fishermen perception and behavior. The fishermen behavior is influences more by external factors particularly economic pressure and social control. The research recommends that efforts to strengthen social controllare crucial to minimized environmental destruction in the area caused by un-friendly behavior  of the fishermen, particularly the using of bomb for caching fish.

Page 1 of 1 | Total Record : 6


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue