cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 2 (2019): 2" : 5 Documents clear
KEHADIRAN PERUSAHAAN DAN POTENSI KONFLIK AGRARIA DALAM PEMANFAATAN HUTAN SAGU ALAM DI WILAYAH IMEKKO KABUPATEN SORONG SELATAN PAPUA BARAT-INDONESIA (The Presence of Sago Company and The Potential of Agrarian Conflict in The Natural Sago Consesion of Imekko at Sorong Selatan Regency, West Papua Indonesia) Meky Sagrim; Agus Irianto Sumule; Deny Anjelus Iyai
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.27147

Abstract

AbstrakHutan sagu alam saat ini memiliki manfaat yang besar ditinjau dari bahan pangan, substitusi pangan maupun bahan baku industri. Di kawasan timur Indonesia, sagu telah dimanfaatkan secara luas sebagai bahan pangan pokok oleh masyarakat Maluku dan Papua. Tujuan penelitian adalah mengkaji intervensi eksternal dari perusahaan terhadap jaminan subsistensi dan pendapatan masyarakat di kawasan hutan sagu alam Imekko. Penelitian ini dilaksanakan pada empat distrik, yaitu Inanwatan, Metemani, Kais, dan Kokoda (Imekko) kabupaten Sorong Selatan. Distrik dipilih secara purposif dengan pertimbangan memiliki karakteristik lokasi yang sesuai dengan lingkup penelitian, yaitu: (a) merupakan wilayah sebaran hutan sagu alami yang menjadi sasaran pemanfaatan oleh perusahaan; dan (b) masyarakat yang bermukim di sekitarnya yang merupakan pemilik hak ulayat atas hutan sagu alami/dusun sagu tersebut, (c) masyarakat yang terganggu jaminan subsistensi dan pendapatan akibat intervensi kedua perusahaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memiliki 8 jenis hak akses dan pemanfaatan dan dusun sagu untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan pendapatan masyarakat pemilik hak ulayat, yakni hak mengakses, memungut hasil, menggunakan, menguasai, mengelola, mengalihkan, memperoleh kembali, dan hak milik. Kehadiran kedua perusahaan, hak-hak tersebut menjadi terbatas hanya pada hak mengakses, penggunaan terbatas, dan memungut hasil secara terbatas. Kehadiran perusahaan berdampak terhadap terbatasnya pemenuhan kebutuhan subsistensi dan pendapatan masyarakat. Potensial terjadinya konflik, baik antara masyarakat dengan perusahaan dalam kaitan dengan akses masyarakat untuk memanfaatkan dusun sagu di dalam areal konsesi perusahaan yang yang dienklavekan maupun antar masyarakat dalam kaitan dengan masyarakat pemilik hak ulayat dusun sagunya telah masuk sebagai areal konsesi perusahaan sehingga untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan pendapatan terpaksa harus memanfaatkan HSA/dusun sagu milik masyarakat di luar kawasan konsesi perusahaan.AbstractNatural sago forests currently have great benefits in terms of food, substitution of food and raw materials for industries. In Eastern Indonesia, sago has been used extensively as a staple food by the people of Mollucans and Papuan. The research objective was to study the external intervention of the company to guarantee the subsistence and income of the Imekko community in the forest area of natural sago. The research was conducted in four districts, namely Inanwatan, Metemani, Kais and the Kokoda (Imekko) Sorong Selaatan regency. Districts selected purposively by considering having characteristics suitable locations, i.e. an area of distribution of Sago Natural Forest-targeting utilization by the company; and (b) people who live nearby and owners of customary rights over the Sago Natural Forests/sago villages, (c) community having disturbed the subsistence and income guarantee due to the intervention of both companies. The findings of this research showed that there were eight types of rights of access and use and sago villages to meet the needs of subsistence and incomes owners of customary rights, i.e. the right to access, collect the produce, use, control, manage, assign, reclaim, and property rights. These rights are limited only to the right of access, limited use and collect the produce due to the presence of both companies. Potential conflict, either between the company in terms of community access to the sago villages in the concession company that are in enclaving areas or among the public in relation to the customary communities that natural sago villages has been entered as a concession company. Therefore, to meet subsistence and income the communities now have to utilize the natural sago forest/sago village belonging to the community in outside the company's concession area.
DIFFERENCE IN PERCEPTION OF URBAN GREEN SPACES BETWEEN DANCHI AND APARTMENT RESIDENTS IN TOKIWADAIRA, MATSUDO CITY, JAPAN (Perbedaan dalam Persepsi Ruang Hijau Perkotaan di antara Penghuni Kompleks Rumah Susun dan Apartemen di Tokiwadaira, Kota Matsudo, Jepang) Prita Indah Pratiwi; Minseo Kim; Katsunori Furuya
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.35608

Abstract

AbstractIn Japan, where most of the population now comprises elderly people, various social problems have emerged, including lack of workers, inadequate care for elderly people, lower birthrate, the abandonment of local areas, and lack of community. In highly populated urban areas, city planners propose sustainable landscape planning but sometimes ignore the public, eliminating their sense of place. This study aimed to clarify the differences in green space perception between residents of danchi and apartments in Tokiwadaira, Matsudo, to learn what residents’ attributes may influence their perceptions, and to formulate factors of recognition and awareness of urban green spaces. The research was conducted in three stages: a recognition and awareness survey, analysis, and interpretation. A Mann-Whitney U test and Welch’s t test were applied to examine significant differences in perception level; a Chi-square test was applied to examine the relationship between residents’ attributes and volunteering activity; finally, factor analysis was applied to characterize residents’ recognition and awareness of nature and green spaces. The results demonstrated three significant differences regarding the benefits of green spaces between danchi and apartment residents, and five significant differences in their interest in green spaces. The attributes influencing danchi residents’ perceptions were gender and age, while those influencing apartment residents were age, existence of children, employment status, length of stay, and existence of green spaces. The three factors accounting for residents’ interest in green spaces and nature were: high recognition and awareness, moderate recognition and awareness, and low recognition and awareness. The results may prove useful as guidance for specific local governments in relation to urban green space planning and design. AbstrakDi Jepang di mana sebagian besar penduduknya terdiri atas orang lanjut usia, berbagai masalah sosial telah terjadi, seperti kurangnya tenaga kerja, perawatan bagi orang lanjut usia yang rendah, kelahiran anak-anak yang rendah, terabaikannya daerah setempat, dan kurangnya komunitas. Di daerah perkotaan yang berpenduduk padat, perencana kota mengusulkan perencanaan lanskap berkelanjutan, tetapi terkadang mengabaikan publik dan menghilangkan makna tempat mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas perbedaan persepsi ruang hijau antara penghuni di kompleks rumah susun semi publik dan apartemen di Tokiwadaira, Matsudo, untuk mengetahui atribut penghuni yang dapat mempengaruhi persepsi mereka, dan untuk merumuskan faktor-faktor pengenalan dan kesadaran akan ruang hijau perkotaan. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap: survei kesadaran dan pengenalan, analisis, dan interpretasi. Uji Mann-Whitney U dan Welch's t digunakan untuk menguji perbedaan level persepsi yang signifikan antara penghuni danchi dan apartemen. Uji Chi-square digunakan untuk menguji hubungan antara atribut penghuni dan kegiatan sukarela, terakhir analisis faktor digunakan untuk mengkarakterisasi pengenalan dan kesadaran penghuni terhadap alam dan ruang hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga perbedaan signifikan mengenai manfaat ruang hijau di antara penghuni danchi dan apartemen, dan lima perbedaan signifikan terhadap minat ruang hijau. Atribut yang mempengaruhi persepsi penduduk danchi adalah gender dan usia, sedangkan hal-hal yang mempengaruhi penghuni apartemen adalah usia, keberadaan anak, status pekerjaan, lama tinggal, dan keberadaan ruang hijau. Tiga faktor yang menentukan minat penghuni terhadap alam dan ruang hijau di antaranya: pengenalan dan kesadaran yang tinggi, pengenalan dan kesadaran yang sedang, serta pengenalan dan kesadaran yang rendah. Hasil penelitian ini dapat berguna sebagai panduan perencanaan dan desain ruang hijau kota untuk pemerintah lokal.
DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN WISATA MUSEUM KARST INDONESIA TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN DI DUSUN MUDAL, GEBANGHARJO, PRACIMANTORO, WONOGIRI (Impact of the Indonesian Karst Museum Tourism Areas on Environmental Conditions in Dusun Mudal, Gebangharjo, Pracimantoro, Wonogiri) Dedy Kunardi; Sudrajat Sudrajat; Rika Harini
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.35999

Abstract

ABSTRAKKawasan wisata Museum Karst Indonesia sebagai salah satu kawasan Kawasan Geopark UNESCO – Gunungsewu yang berada di Gebangharjo, Pracimantoro, merupakan salah satu objek wisata potensial yang berada di Kabupaten Wonogiri. Evaluasi untuk mencapai pariwisata yang berkelanjutan sangatlah penting meliputi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perkembangan wisata yang ada di kawasan wisata Museum Karst Indonesia, mengkaji keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendukung wisata setempat, dan menganalisis dampak lingkungan dari adanya kawasan wisata Museum Karst Indonesia terhadap kondisi lingkungan fisik dan sosial ekonomi masyarakat lokal. Perolehan data dilakukan dengan metode observasi, penyebaran kuesioner, dan wawancara. Hasil ditampilakan menggunakan analisis distribusi frekuensi terhadap skala likert. Perkembangan kawasan wisata MKI masih berada pada tahap awal perkembangan. Masyarakat Dusun Mudal masih sedikit yang terlibat dalam mendukung kegiatan wisata, seperti tenaga kerja, pedagang, penyedia jasa penginapan. Perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kondisi lingkungan fisik di Dusun Mudal tidak begitu dirasakan (kecil). Kedepannya masih diperlukan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan wisata MKI dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pendukung wisata. ABSTRACTTourism area of Karst Museum of Indonesia as apart of UNESCO Global Geopark Gunungsewu located in Gebangharjo, Pracimantoro is one of tourism object of Wonogiri Regency. Evaluation to achieve a sustaibable tourism is important, involve the social, economic, and environmental impact. The purpose of this research are to analize the development in the tourism area of Karst Museum of Indonesia, to study the activities of the community in supporting tourism activities in Karst Tourism Area of Indonesia Museum, and to analyze the impact of the Karst Indonesia Museum's tourism on the physical social and economic condition of the local community. Data was collected by observation technique, questionnaire distribution, and interview. The result analized by frequency distribution analysis of likert scale questionnaire. The results show that the development of tourist areas is still at an early stage of development. The Mudal community is still a bit involved in supporting tourism activities, such as labor, traders. Transformation in socio-economic and environmental conditions in Mudal Village are in small impact category. In the future still needed efforts to improve the community around the tourist area of MKI by increasing community involvement in tourism support activities.
KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN PENAMBANGAN PASIR DI SUNGAI PROGO (Macrozoobenthos Community in Sand Mining Area of Progo River) Auladina Syafiya; Suwarno Hadisusanto
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.40255

Abstract

AbstrakSungai memiliki peranan penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, di antaranya adalah sebagai habitat bagi komunitas makrozoobentos dan pemanfaatan material berupa pasir dan batu sebagai bahan bangunan. Sungai Progo merupakan salah satu sungai yang hampir di sepanjang sungainya terdapat aktivitas penambangan pasir. Jika aktivitas ini dilakukan terus menerus dalam jumlah banyak dan tanpa pengawasan yang baik dapat menyebabkan terjadinya erosi dan degradasi serta sedimentasi pada bagian-bagian tertentu sungai. Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh aktivitas penambangan pasir terhadap distribusi dan kemelimpahan komunitas makrozoobentos di Sungai Progo, serta Functional Feeding Group (FFG) yang paling melimpah dan parameter fisiko-kimia yang memengaruhinya. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu mencuplik dan preparasi sampel makrozoobentos, identifikasi sampel, dan pengukuran parameter fisiko-kimia. Aktivitas penambangan pasir di Sungai Progo berpengaruh secara tidak langsung terhadap makrozoobentos, yaitu dengan menyebabkan adanya erosi dan degradasi di kawasan penambangan pasir serta sedimentasi di bagian hilir. FFG makrozoobentos di Sungai Progo yang paling melimpah adalah tipe scraper dan collector. Berdasarkan analisis regresi dan korelasi Pearson didapatkan hasil bahwa fosfat berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hulu Sungai Progo, intensitas cahaya berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian tengah Sungai Progo, dan kecepatan arus berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hilir Sungai Progo. AbstractRiver has an important role for human and other organisms, among them are as habitat of macrozoobenthos community and the utilization of the material, such as river sand and gravel for building material. Progo River is one of rivers which have sand mining activities almost all along the river. If this activity being done continuously, in a big amount and without a good supervision, it could lead to erosion, degradation and sedimentation in some specific parts. Therefore, this research has an aim to study the effects of sand mining activity towards the distribution and the abundance of macrozoobenthos community in Progo River, and also to study which Functional Feeding Group (FFG) is the most abundant and the physic-chimic parameter that affecting them. This research was conducted in three steps, sampling and preparation of macrozoobenthos’s sample, sample’s identification, and the measurement physicochemical parameter. Sand mining activity in Progo River effect indirectly towards macrozoobenthos by causing erosion and degradation in sand mining area as well as sedimentation in downstream. The most abundant FFG of macrozobenthos in sand mining area of Progo River are scraper and collector. Based on regression and Pearson correlation analysis the results show that phosphate correlated positively against the density of macrozoobenthos in the headwaters of Progo River, light intensity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the midstream of the Progo River, and current velocity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the downstream of the Progo River.
ANALISIS MULTIKRITERIA DALAM PEMILIHAN SISTEM PEMROSESAN SAMPAH DI KABUPATEN KLUNGKUNG, PROVINSI BALI (Multicriteria Analysis for Selecting Waste Processing System in Klungkung Regency, Bali Province) Mochammad Chaerul; Elprida Agustina; I Made Wahyu Widyarsana
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 26, No 2 (2019): 2
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.45358

Abstract

AbstrakBerbagai macam upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan lingkungan suatu kota yang bersih, diantaranya melalui penyediaan fasilitas sistem pemrosesan sampah sebagai tahapan akhir dalam pengelolaan sampah. Saat ini, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali memiliki 3 alternatif sistem pemrosesan sampah yang dapat diaplikasikan, yaitu: menggunakan tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) eksisting Regional Bangli, membangun TPA baru tersendiri untuk Klungkung, dan pemrosesan akhir di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS). Penelitian ini bertujuan untuk memilih sistem pemrosesan sampah yang paling optimal dengan mempertimbangkan 4 kriteria, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial dan teknis (analisis multikriteria) dengan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Setiap kriteria memiliki beberapa sub kriteria yang dimintakan kepada 35 orang responden yang mewakili 5 institusi pemerintahan daerah terkait untuk dilakukan penilaian perbandingan berpasangan. Penilaian juga dilakukan untuk mengevaluasi setiap alternatif terhadap semua sub kriteria dan kriteria. Secara global, responden lebih memilih pencegahan pencemaran lingkungan (nilai bobot 0,16) sebagai sub kriteria terpenting dari total 13 sub kriteria yang tersedia. Urutan kriteria yang dianggap lebih penting adalah lingkungan (nilai bobot 0,543), sosial (0,181), ekonomi (0,146) dan teknis (0,130). Untuk alternatif pengolahan sampah di fasilitas TOSS dianggap yang paling optimal (total nilai 0,47) disusul TPA Regional Bangli (0,28), terakhir TPA baru (0,25). Suatu alternatif sistem pemrosesan sampah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing harus dipilih yang paling dapat diterima oleh berbagai stakeholder terkait sehingga diharapkan dapat menjadi bagian dari suatu sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dari suatu kota.AbstractIn order to create a city clean, efforts are taken by government including provision of waste processing system facility as part of waste management system. Recently, Klungkung Regency, Bali Province has 3 alternatives of waste processing system to be applied, namely: utilizing the existing regional final disposal site (TPA) of Bangli, building a new TPA facility dedicated for Klungkung area only, and on-site waste processing facility (TOSS). The study aims to determine the most optimal of waste processing system by considering 4 criteria, namely environment, economic, social and technical (multicriteria analysis) with the help of Analytical Hierarchy Process (AHP). Each criterion having several sub criterions were assessed by 35 respondents representing 5 local government’s institutions by applying pair wise comparison. The asessement were also performed to evaluate the alternatives to the given criteria and sub criterion. In global, respondents preferred to put environmental pollution prevention (weight of 0.16) as the most important among total 13 sub criterions available. Among the criteria, environment (weight of 0.543) was more prioritized than social (0.181), economic (0.146) and technical (0.130) aspects. Other result showed that TOSS (total value of 0.47) was more preferred than existing TPA of Bangli (0.28), and new TPA of Klungkung (0.25). An alternative of waste processing with its advantages and disadvantages should be chosen and acceptable by the related stakeholders, thus the facility becomes part of sustainable waste management system in a city.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue