cover
Contact Name
Iqmal Tahir
Contact Email
iqmal@ugm.ac.id
Phone
+628999411449
Journal Mail Official
jpe-ces@ugm.ac.id
Editorial Address
Editor Jurnal Manusia dan Lingkungan Pusat Studi Lingkungan Hidup - Universitas Gadjah Mada (PSLH - UGM) Komplek UGM, Jalan Kuningan, Jalan Kolombo, Catur Tunggal, Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manusia dan Lingkungan
ISSN : 08545510     EISSN : 24605727     DOI : https://doi.org/10.22146/jml.30101
Jurnal Manusia dan Lingkungan is published by the Center for Environment Studies, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia. The journal is focused to the relationship between people and its environment that are oriented for environmental problems solving. Jurnal Manusia dan Lingkungan receives a manuscript with interdisciplinary and multidisciplinary approach Abiotic : physical, chemical, technical, geo-environmental science and modelling science Biotic : environmental biology, ecology, agro environment Culture : environmental-socio,-economics,-culture, and environmental health.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2001): April" : 5 Documents clear
LINGKUNGAN TROPIS BERKEPADATAN TINGGI: LOKALITAS, TRADISI DAN MODERNITAS (High Density Environment in the Tropict: Locality, Tradition and Modernity) Mas Santosa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18568

Abstract

ABSTRAKTulisan ini mengenai hasil penelitian tentang perkembangan bentuk ruang pada tatanan lingkungan dan ruang pada tatanan hunian sebagai salah satu bentuk hubungan antara manusia dan lingkungannya, khususnya di daerah tropis yang berkepadatan tinggi. Lingkungan termal ditandai sebagai salah satu bentuk lingkungan yang mendominasi pembentukan ruang, oleh sebab itu indikator utama dalam penelitian ini ialah prinsip penahanan dan penghalauan panas oleh ruang dan elemen pembentuknya. Tiga bentuk hunian ditetapkan sebagai studi kasus, yakni hunian tradisional, kolonial dan hunian flat di lingkungan kampung, serta hunian modern di lingkungan modern. Hasil menunjukkan bahwa dalam perkembangan pembentukan ruang tidak terjadi keberlanjutan prinsip penahanan dan penghalauan ruang dari hunian tradisional serta kolonial yang terbukti lebih baik ke hunian modern. Kondisi ini terjadi karena terdapat perkembangan sosiokultural pada pembentukan ruang. ABSTRACTThis paper reports the development of spatial formation in a high density area of urban settlement in tropical area. Thermal envcironment in this instance is seen as the major effect of the spatial formaton and therefore, the main indicator of this study research is the nature of the heat resistance of the building, which is formed by the space itself and the building elements. The kampong settlement resulted in a high response to tropical encironment. In the meantime, its development in the modern settlement indicated that the continuity of this high response was not found.
DAMPAK PEMBUANGAN LIMBAH TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS OSEANOGRAFI BIOFISIK-KIMIA DAN PRODUKSI IKAN TERI (Stolephorus spp.) DI PERAIRAN LAUT TELUK AMBON (The Impact of Waste Disposal on the Biophysical-chemical Characteristics Changes and Teri fish) Latif Sahubawa
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18569

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk: (l) mengidentifikasi karakteristik limbah hasil aktivitas manusia di pesisir teluk yang berpengaruh potensial terhadap penurunan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan Laut Teluk Ambon; (2) mengevaluasi perubahan sifat oseanografi biofisik-kimia perairan dalam kaitannya dengan penyimpangan persyaratan peruntukkan sebagai tempat budi daya perikanan; dan (3) mengevaluasi pengaruh penyimpangan persyaratan peruntukan badan air laut terhadap potensi dan densitas ikan pelagis kecil, serta produksi ikan teri pada musim Timur dan Barat. Sampel penelitian terdiri atas air laut, ikan teri, dan kerang. Teknik pengambilan sampel ialah dengan pengacakan dan tanpa pengacakan. Teknik pengambilan data berupa survei, analisis laboratorium, wawancara, dan kuesioner. Metode analisis data Kurva Normal, Kuadrat Terkecil, Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial dan Berblok dengan Uji-F, Koefisien Nilai Nutrisi (KNN), Produksi Surplus, Hidroakustik, dan Sedimentasi Utermohl. Berdasarkan hasil analisis statistik, umumnya variabel penelitian tidak berpengaruh terhadap perubahan parameter oseanografi biofisik-kimia perairan Teluk Ambon, kecuali bahwa lokasi sampling berpengaruh terhadap nilai kecerahan pada tingkat signifikansi 95%. Kisaran nilai parameter oseanografi biofisik-kimia perairan laut ialah temperatur 23,7 - 28,7"C; TSS 2,005 - 12,436 mg/^; salinitas 24,00 - 35,50 mill; kecerahan 2,5 - 9,0 meter; pH 6,5 - 8,6; oksigen terlarut 2,09 - 6,88 mgA; BODs 10 - 50 mg/l; COD 22,5 - 150,8 mg/l; PO43- 0,22 - 3,29 mg/L, NQ-0.02 -2,94 mg/L; NO3- 21- 15,40 mg/L; Hg 0,001- 0,065 mg/L; KNN 0,27 -0/8 gr/cm; fitoplankton red-tede spesies Alexandrium affrne dengan jumlah 60,0 x 105 sel/liter menimbulkan perubahan warna perairan menj adi merah-kecoklatan. Produksi ikan teri pada musim Timur 191,5 ton (59,5 %) dan musim Barat 130,2 ton (40,5 %). Populasi maksimum telur dan larva ikan teri adalah 4.090 telur/SO mt pada musim Timur dan 396 ekor/50 m2 pada musim Barat di wilayah Ambang Galala-Rumahtiga. Potensi ikan pelagis kecil pada musim Timur 63.968,76 tor/tahun, Peralihan 56.311,55 ton/tahun, dan Barat 60.244,35 ton/tahun atau 3,86Vo dari total potensi ikan pelagis kecil perairan Maluku (1.564,000 ton/tahun). Densitas ikan pelagis kecit pab musim Timur 34,62 kg/m3, Peralihan 29,83 kg/m3, dan Barat 32,33 kg/m3. Tingkat eksploitasi sumber daya ikan pelagis kecil perairan Teluk Ambon yaitu 30 % ("status sedang berkembang"). ABSTRACTThe research objectives are: (1) identify the characteristics of waste from human activities that cause reduced biophysical-chemical oceanography characteristics of Ambon Bay Marine; (2) to evaluate the reduced biophysichemical oceanography characteristics of Ambon Bay marine in relation to assigmen requirements for fish aquaticulture; and (3) to evaluate the effect of assignment requirements fulfillment on the abundance and density of small pelagic fish, and teri fish production during Eastern and Western monsoons. Research samples consisted of sea water, teri fish, and mollusca. Sample collection methods were simple random and nonrandom sampling. Data were analyzed by using Norman Curve, Least Square, Factorial and Block completely Randomized Design with F-test, Nutritional Value Coefficient (NVC), surplus production, Hydroacoustic and Utermohl Sedimentation Methods. The results of the statistical analyses show that in general, the variables did not affect the biophysical-chemical oceanographic parameters of the Ambon Bay marine waters. The values range of the biophysical-chemical oceanography parameters of Ambon Bay marine are: temperature 23.7-28oC, TSS 2.005-12.436 mg/l, salinity 24.00-32.66 ppt, clearance 2.5-9.0 meters, pH 6.5-8.6, solved oxygen 2.09-6.88 mg/l, BOD5 10.0-50.0 mg/l, COD 22.5-150.8 mg/l, PO43- 0.22-329 µg/l, NO2- 0.22-2.94 µg/l, NO3- 0.21-15.40 µg/l, Hg in the water body 0.001-0.065 mg/l and mollusca meat 0.115-0.741 mg/l, and hydrocarbons 0.011-2.540 mg/l, NVC 0.27-0.78 gram/cm, red-tide phytoplankton of the alexandrium affine species that have 60.0x106 cells/liter, changes the water body color into the brownish-red. The production of teri fish during the Eastern monsoon was 191.5 tons (59.5%) and  the Western monsoon 130.2 tons (40.5%). The abundance of small pelagic fish on the Eastern  monsoon was 63,968.76 ton/year, the transition monsoon 56,311.55 tons/year, and the Western monsoon 60,244.35 tons/year, respectively, or 3.85% of small pelagic fish resources total on Moluccas waters (1,564,000 tons/year). The density of small pelagic fish on the Eastern monsoon was 34.62 kg/m3, the transition monsoon 29.83 kg/m3, and the Western monsoon 32.33 kg/m3. The exploitation rate of small pelagic fish resources in the Ambon Bay marine was 30% (still in the developing status).
USAHA MENURUNKAN PENGGUNAAN PESTISIDA KIMIA DENGAN PROGRAM PENGENDALIAN HAMA TERPADU (Efforts to Reduce Chemical Pesticides Use through Integrated Pest Management Program) Joko Mariyono; Irham Irham
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18570

Abstract

ABSTRAKPestisida kimia merupakan bahan beracun yang menyebabkan pencemaran lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Penggunaannya yang berlebihan telah menimbulkan biaya eksternal yang sangat tinggi. Sejak tahun 1989 Pemerintah Indonesia telah berusaha mengurangi penggunaan pestisida kimia melalui program Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Untuk mengetahui dampak program PHT, digunakan fungsi permintaan pestisida kimia. Analisis ini menggunakan data sekunder selama sembilan tahun yang diambil dari empat kabupaten wilayah Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa  dampak program PHT telah berhasil mengurangi penggunaan pestisida kimia pada padi dan kedelai. Penurunan penggunaan pestisida kimia disebabkan oleh kenaikan harga dan penyebaran teknologi PHT. Turunnya penggunaan pestisida kimia ini akan meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia karena tersedia bahan pangan yang residu pestisida kimianya rendah. ABSTRACTChemical pesticide is a poisonous agent that causes deterioration on environment quality and thereatens to human health. It causes considerable high externat cost. Sice 1989 the Government of Indonesia had removed chemical pesticide subsidy and introduced a new program called Integrated {est <amage,emt (IPM)  in ornder to reduce chemical pestidice use. The objectives of this research was to determine the impact of IPM Program on cemical pesticide use in rice and soybean cultivation. To determine the impact, ademand model of cemical pesticide was employed. Time series secondary data for nine years collected from related institutions in four revencies of Yogyakarta were utilized as the basic analysis. Results of the analysis indicated that chemical pesticide uses in rice and soybean cultivation have declined. The reduction of chemical pesticide use was caused by the increase of chemical pesticide price due to the discontinuation of chemical pesticide subsidy, and dissemination of IPM program. It implied that the program will improve environment quality and human health, and provide  food with low chemical pesticide residue.
RELIEF JENIS-JENIS FAUNA DAN SETTING LINGKUNGANNYA PADA PAHATAN DINDING CANDI BOROBUDUR (Fauna and Environmental Setting Reliefs on Sculptured Wall of the Borobudur Temple) Bambang Agus Suripto; Listia Pranowo
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18571

Abstract

ABSTRAKDalam perkembangan kebudayaannya, manusia selalu akrab dengan fauna yang hidup di sekitar lingkungannya. Pada dinding gua yang pernah dihuni oleh manusia, bangunan candi, piramid, sphinx dsb. dijumpai gambaran tentang fauna. Pada dinding Candi Borobudur banyak dijumpai relief berbagai kelompok fauna tetapi belum diketahui apakah fauna itu semuanya berasal dari India atau terdapat pula kelompok yang ada atau pernah ada di Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relief jenis-jenis fauna yang dipahat pada dinding candi Borobudur, dan mengetahui asal-usul jenis yang tergarnbar pada relief itu dari Pulau Jawa atau dari India. Informasi itu diharapkan dapat diungkapkan ada tidaknya gambaran setting lingkungan Pulau Jawa tercermin pada pahatan di dinding Candi itu. Relief fauna pada pahatan dinding langkan, dinding utama bagian atas-bawah di tingkatan Rupadhatu dipotret dan nama kelompok fauna diindentifikasi dengan buku-buku kunci identifikasi bergambar, kemudian penyebaran alami masing-masing kelompok fauna diketahui melalui kajian pustaka. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengungkap ada atau tidaknya gambaran setting lingkungan Pulau Jawa yang tercermin pada pahatan di dinding Candi Borsbudur. Pada dinding Candi Borobudur terdapat relief paling sedikit 25 jenis anggota Osteichthyes, Reptilia, Aves dan Mammalia yang dipahat secara natural, dan terdapat paling sedikit 5 jenis hewan yang dipahat secara setilir. Semua jenis fauna itu terdapat di Asia Selatan, dan beberapa di anlaranya secara alami tidak pernah hidup di Pulau Jawa, misalnya singa Pantera leo. Setting lingkungan India Abad VII tervisualisasi dengan baik pada relief pahatan dinding Candi Borobudur, tetapi setting lingkungan Pulau Jawa sampai sebelum masa penjajahan Belanda tidak tergambar dengan baik. ABSTRACTIn the cource of culture development, human was always close to fauna in their surrounding areas. Pictures of fauna are found in cavewalls inhabited by human, temples, pyramids, and sphinxes. Sculptures on the wall of Borobudur Temple, show fauna reliefs, but the originof the fauna are still obscure, whether or not they came from India or part of them were from Java. The objectives of this research were to determine the species of group names of the fauna picture in the reliefs on the sculptured wall of the Borobudur Temple, Their origin, and to assess whether of not Java environment settings were depicted in the wall. Pictures of fauna reliefs in sculpture wall of langkan, the main wall from top to bottom in each Rupadhatu levels were taken, the name of each fauna species or group was identified using identification books, and their origins were determined through a literature study. Data were interpreted descriptively in order to understand whether of not Java environment settings were portrayed in the sculptured wall of the Borobudur Temple. There are at least 25 species of Osteighthyes, Reptilia, aves and Mammalia classess pictured naturally in the reliefs of the wall, and at least 5 species are pictured setilirly. These entire fauna naturally found in south Asia. Some of them have never lived in Java Island, such as lion, Pantera leo. Environment settings of seventh centure India were illustrated very well in the reliefs however, those of Java until the Dutch colonial era were  not pictured at all. 
PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN TERUMBU KARANG DI PESISIR PANTAI KABUPATEN GUNUNG KIDUL (Community Participation in the Preservation of Coral Reef at the Coastal Area of Gunung Kidul Regency, Yogyakarta, Indonesia) Francisca Romana Harjiyatni
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2001): April
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18572

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi Kabupaten Gunung Kidul yang meliputi Pantai Baron, Pantai Kukup, dan Pantai Drini, dan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian terumbu karang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh dari para responden dan pengamatan ke obyek yang diteliti, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka dan arsip yang ada kaitannya dengan materi penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya peran serta masyarakat dalam pelestarian ekosistem terumbu karang adalah karena kesadaran masyarakat untuk berperan dalam pelestarian ekosistem terumbu karang masih rendah. Rendahnya kesadaran masyarakat tidak terlepas dari faktor tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat yang masih rendah, kondisi tanah pertanian yang tidak menjanjikan  serta kurang disosialisasikannya peraturan lingkungan hidup dan tidak ada tindakan yang tegas terhadap pelanggar. Telah ada upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian terumbu karang, yaitu penyuluhan tetapi penyuluhan yang dilakukan mengenai lingkungan hidup secara umum tidak khusus mengenai terumbu karang. Upaya lain adalah memberikan bimbingan mengenai pemanfaatan sumber daya hayati laut dan ekosistem terumbu karang. Hal ini pun tidak banyak dilakukan oleh masyarakat karena mereka menginginkan hasil yang besar dan cepat sehingga pendapatannya juga besar. Untuk itu perlu diupayakan pengembangan mata pencaharian alternatif yang bersifat berkelanjutan bagi masyarakat yang selama ini memanfaatkan sumber daya dari terumbu karang. Diperlukan pula keberanian untuk melalukan tindakan yang tegas terhadap pelanggar. Hal paling utama ialah menumbuhkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya kelestarian ekosistem terumbu karang dan kesadaran untuk berperan dalam pelestarian ekosistem terumbu karang. Masyarakat dilibatkan perannya sebagai pengawas sosial dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam setiap usaha/kegiatan baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta, dan ini akan tercapai jika kesadaran masyarakat sudah tinggi.  ABSTRACTThis study was condacted Gunung Kidul Regency at there locations, i.e. Baron Beach, Kukup Beach, and Drini Beach. The purpose was to assess factors causing the lack of community participation in efforts to preserve the coral reef ecosystem. This research is a a qualitatively descrtive in nature. While the primary data was obtained from respondents and observations of objects investigated, the secondary data was obtained from references and file studies related to the research materials. The result of the study showed that the factor causing the lack of community participation in efforts to preserve the coral reef ecosystem was that the community awareness in the preservation of coral reef ecosystem was still low. It was due to the low education, low income level, infertile soil, unpopular environment regulation and disappointing law enforcement. There has been some efforts to increase the community awareness in coral reef preservation, i.e. by education, but the topic was about the environment as a whole, not specifically about the coral reef. Another effort was by giving guidance about the utilization of sea resources and coral reef ecosystem. It was also little done by the community, because they want something big and quick yielding to increase their income. Thus, the development of sustained alternative jobs must be created for the community that, during this time, they utilize the resources from coral reef. It also needs an effort to establish the more strict regulation. The most important effort is to explain the significance of coral reef ecosystem preservation and to arouse the awareness to participate in coral reef ecosystem preservation. The community should involve in that efforts as a social controller and they should also involve in the process of decision making dealing with activities or business is performed by the government and private sector. This can be achieved if the awareness of community is high.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2020): 2 Vol 27, No 1 (2020): 1 Vol 26, No 2 (2019): 2 Vol 26, No 1 (2019): 1 Vol 25, No 2 (2018): 2 Vol 25, No 1 (2018): 1 Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Mei Vol 24, No 1 (2017): Januari Vol 23, No 3 (2016): September Vol 23, No 2 (2016): Juli Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 3 (2015): November Vol 22, No 2 (2015): Juli Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 (2014): November Vol 21, No 2 (2014): Juli Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): November Vol 20, No 2 (2013): Juli Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 3 (2012): November Vol 19, No 2 (2012): Juli Vol 19, No 1 (2012): Maret Vol 18, No 3 (2011): November Vol 18, No 2 (2011): Juli Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3 (2010): November Vol 17, No 2 (2010): Juli Vol 17, No 1 (2010): Maret Vol 16, No 3 (2009): November Vol 16, No 2 (2009): Juli Vol 16, No 1 (2009): Maret Vol 15, No 3 (2008): November Vol 15, No 2 (2008): Juli Vol 15, No 1 (2008): Maret Vol 14, No 3 (2007): November Vol 14, No 2 (2007): Juli Vol 14, No 1 (2007): Maret Vol 13, No 3 (2006): November Vol 13, No 2 (2006): Juli Vol 13, No 1 (2006): Maret Vol 12, No 3 (2005): November Vol 12, No 2 (2005): Juli Vol 12, No 1 (2005): Maret Vol 11, No 3 (2004): November Vol 11, No 2 (2004): Juli Vol 11, No 1 (2004): Maret Vol 10, No 3 (2003): November Vol 10, No 2 (2003): Juli Vol 10, No 1 (2003): Maret Vol 9, No 3 (2002): November Vol 9, No 2 (2002): Juli Vol 9, No 1 (2002): Maret Vol 8, No 3 (2001): Desember Vol 8, No 2 (2001): Agustus Vol 8, No 1 (2001): April More Issue