cover
Contact Name
Pringati Singarimbun
Contact Email
pringatisingarimbun@adm.unand.ac.id
Phone
+6289617699764
Journal Mail Official
031262646@ecampus.ut.ac.id
Editorial Address
Cluster Gajah Mada Kapling 2 Gunung Pangilun Padang Sumatera Barat, Indonesia
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Ethics and Law Journal: Business and Notary
ISSN : -     EISSN : 29881293     DOI : -
The Ethics and Law Journal: Business and Notary (ELJBN) is a scholarly publication dedicated to exploring the intersection of ethics, law, business, and notarial practices. Our journal aims to provide a platform for researchers, academics, legal professionals, and practitioners to contribute to the advancement of knowledge and discourse in these fields. ELJBN publishes original research articles, critical reviews, case studies, and thought-provoking commentaries that delve into the ethical and legal dimensions of business activities and notarial practices. ELJBN covers a wide range of topics related to business law, corporate governance, commercial transactions, contracts, intellectual property, dispute resolution, regulatory frameworks, and the evolving landscape of notarial practices. Our journal encourages interdisciplinary perspectives, drawing insights from law, business, economics, ethics, and related disciplines to foster a comprehensive understanding of the complex issues at hand. We seek to promote the highest standards of research integrity, analytical rigor, and ethical inquiry within the realm of business and notary law.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 3 (2024)" : 21 Documents clear
Peran Media Sosial dalam Kecenderungan Memilih pada Generasi Z di Kabupaten Kendal dicomganinduto
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.188

Abstract

Kabupaten Kendal sebagai salah satu daerah yang memiliki peran yang sangat penting dalam politik nasional. Data yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kendal dalam Rekapitulasi Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan Pemilu Tahun 2024 Kabupaten Kendal Berdasarkan Klasifikasi Usia telah menunjukkan bahwa Kabupaten Kendal memiliki populasi pemilih yang sangat besar. Jumlah pemilih potensial di daerah ini mencapai 798.155 pemilih, dengan jumlah pemilih tertinggi adalah Generasi Millenial sebanyak 265.238 (33,2%), dilanjutkan Gen-X sebanyak 257.117 (28,5%), Gen-Z sebanyak 167.806 (21%), Baby-Boomer sebanyak 127.565 (16%), sedangkan terendah adalah Pre-Boomer sebanyak 10.429 (1,3%). Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penggunaan media sosial pada generasi Z sebagai alat komunikasi strategis dalam Pemilihan Kepala Daerah tahun 2024, dengan fokus pada dampaknya terhadap dinamika politik, persepsi pemilih, dan partisipasi pemilih. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Kualitatif digunakan untuk memahami konteks, strategi, dan dampak secara mendalam melalui wawancara dan pengolahan hasil quesioner. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Politik merupakan kerangka yang digunakan untuk memahami cara komunikasi memengaruhi proses politik dan pengambilan keputusan politik. Kata kunci: Pemilihan Umum Daerah; Kabupaten Kendal; Media Sosial; Generasi Z;
Strategi Penurunan Angka Stunting dan Analisis Hambatan Kebijakan Wynne Frederica; Laila Khalid Al-Firdaus; Fitriyah Fitriyah
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.199

Abstract

Stunting has been proven to be a global issue that significantly impacts the growth of a country. In Indonesia, the problem of stunting has become one of the Strategic Priority Projects (Major Projects) in the National Medium-Term Development Plan 2022-2024. Based on this decision, each regents, including Kendal Regency, has also been promoting the acceleration of stunting reduction. Various medical studies have extensively discussed the dangers, factors, and the actions that can be undertaken to prevent stunting. However, they have yet to elaborate on the actual obstacles faced by local governments in their efforts to create stunting-free regions. The purpose of this study is to identify strategies for reducing stunting and the factors that may hinder the achievement of stunting reduction targets. In collecting research data, the author uses a qualitative descriptive method obtained from literature reviews, observations, and interviews involving relevant stakeholders.
Teleconference Dalam Proses Pengadilan Perspektif Hukum Islam Andi Nur Wasita Syafirawati; A. Farah Salsabilah; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.207

Abstract

Teleconferencing has emerged as a new legal innovation in the evidentiary process in court, where witnesses can provide testimony through this system. However, the Criminal Procedure Law, which functions as the legal framework for trials, does not yet include provisions related to this matter. Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions is recognized as valid evidence, expanding the scope of evidence regulated in the Criminal Procedure Code. The aim of this research is to determine the role of evidence via teleconferencing in court, seen from the perspective of Islamic law. In this context, the concept of proof in Islamic law includes instructions (karinah) and witness testimony (shahadah) as evidence. It is hoped that this theoretical analysis can reveal how the system of evidence in Islamic criminal law has developed along with advances in technology. This research was prepared using the library research research method, namely research with library studies as the main reference material in research with a normative juridical and normative theological/syar'i approach. In the Islamic context teleconferencing can be considered as a means that facilitates efficient long-distance communication between individuals or groups. When delivering testimony via teleconference, it is important to ensure that communication is carried out in an ethical and polite manner, in accordance with Islamic ethical values such as politeness and honestyWrite your abstract here. Abstract contains a brieft introduction to the problem, objective of paper, and a brieft summary of discussion. Abstract is single-spaced typed in English 150-200 words. Written with Goudy Old Style (10 Pt) Italic. The abstract contains the background, problems, research methods, results of the discussion, as well as conclusions and suggestions. AbstrakTeleconference muncul sebagai inovasi hukum yang baru dalam proses pembuktian di pengadilan, di mana saksi dapat memberikan kesaksian melalui sistem tersebut. Meskipun demikian, Hukum Acara Pidana, yang berfungsi sebagai kerangka hukum dalam persidangan, belum mencakup ketentuan terkait hal tersebut. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik diakui sebagai alat bukti yang sah, mengembangkan cakupan alat bukti yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran pembuktian melalui telekonferensi di pengadilan, dilihat dari perspektif hukum Islam. Dalam konteks ini, konsep pembuktian dalam hukum Islam mencakup adanya petunjuk (karinah) dan kesaksian saksi (syahadah) sebagai alat bukti. Analisis teori ini diharapkan dapat mengungkapkan bagaimana sistem pembuktian dalam hukum pidana Islam telah mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi. Penelitian ini disusun dengan meggunakan metode penelitian library research yaitu penelitian dengan studi pustaka sebagai bahan rujukan utama dalam penelitian dengan pendekatan yuridis normatif dan teologis normatif/syar’i. Dalam konteks Islam teleconference dapat dianggap sebagai sarana yang memfasilitasi komunikasi jarak jauh yang efisien antara individu atau kelompok. Dalam menyampaikan kesaksian melalui teleconference penting untuk memastikan bahwa komunikasi dilakukan dengan adab dan sopan, sesuai dengan nilai-nilai etika Islam seperti kesopanan dan kejujuran.
Peremajaan Ulang Keperawanan (Operasi Keperawanan dalam Pandangan Hukum Islam Kontemporer) Siti Rahmayanti; Siti Aisyah; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.208

Abstract

For Indonesian women, vaginal rejuvenation has become a ritual. Using age-old techniques like vaginal evaporation and botanicals, the Javanese royalty developed this practice of vaginal rejuvenation. Since manufacturers began producing and distributing herbal medication for drying and tightening the vagina to other parts of Indonesia, this custom has expanded. Even now, many Indonesian women still use and enjoy traditional vaginal rejuvenation.Different perspectives are offered by modern academics. Some people forbid it completely for any cause, while others only permit it under certain guidelines. The following might be used to summarize the researchers' differing perspectives on the membrane issue: Scholars concur that it is prohibited to have sex during a marriage or engage in acts of adultery that are well known to induce rupture of the membranes. b) Scholars disagree on whether rape resulting from anything other than sexual relations or adultery that is not yet public knowledge should cause the rupture of the blood membrane; others support it, but only under the requirement that a female physician perform the procedure. The purpose of this study is to ascertain how modern Islamic law views a lady who has undergone virginity surgery. The researcher employs a qualitative technique in this study, which entails searching for appropriate reference sources, including books, journals, and other reference materials, that are pertinent to the topic under investigation. Traditional and contemporary vaginal rejuvenation has become a significant feature of Indonesian culture and health, but it has also sparked discussion about social, cultural, and health-related issues. AbstrakBagi wanita Indonesia, peremajaan vagina telah menjadi sebuah ritual. Dengan menggunakan teknik kuno seperti penguapan vagina dan tanaman herbal, para bangsawan Jawa mengembangkan praktik peremajaan vagina ini. Sejak produsen mulai memproduksi dan mendistribusikan obat herbal untuk mengeringkan dan mengencangkan vagina ke daerah lain di Indonesia, kebiasaan ini semakin meluas. Bahkan sampai sekarang, banyak wanita Indonesia yang masih menggunakan dan menikmati peremajaan vagina secara tradisional.Perspektif yang berbeda ditawarkan oleh para akademisi modern. Beberapa orang melarangnya sama sekali dengan alasan apapun, sementara yang lain hanya memperbolehkannya dengan panduan tertentu. Berikut ini dapat digunakan untuk meringkas perspektif yang berbeda dari para peneliti tentang masalah membran: a) Para ulama sepakat bahwa melakukan hubungan seks dalam pernikahan atau perzinahan yang sudah diketahui dapat menyebabkan pecahnya selaput ketuban adalah dilarang. b) Para ulama berbeda pendapat tentang apakah pemerkosaan yang disebabkan oleh hal lain selain hubungan seks atau perzinahan yang belum diketahui umum dapat menyebabkan pecahnya selaput ketuban, sementara ulama lain mendukungnya, namun dengan syarat harus dilakukan oleh seorang dokter wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hukum Islam modern memandang seorang wanita yang telah menjalani operasi keperawanan. Peneliti menggunakan teknik kualitatif dalam penelitian ini, yang mengharuskan pencarian sumber referensi yang sesuai, termasuk buku, jurnal, dan bahan referensi lainnya, yang berkaitan dengan topik yang diteliti. Peremajaan vagina secara tradisional dan kontemporer telah menjadi bagian penting dalam budaya dan kesehatan di Indonesia, tetapi juga memicu diskusi tentang isu-isu sosial, budaya, dan kesehatan.
Etika Pengelolaan Pemerintahan Perspektif Hukum Islam Ilham Ramadhan; Nurul Hadist; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.209

Abstract

Government ethics in Islam provides a strong moral foundation for the administration of a modern state. This research examines the ethical principles of Islamic government and their relevance in modern times. Through qualitative analysis of the Al-Quran, Hadith, and related literature, this research identifies three main pillars: honesty as a manifestation of trust, integrity in acting, and deliberation as a decision-making mechanism. The results show that applying these principles can increase transparency, accountability and public participation in government. Although there are challenges such as westernization and corruption, technological advances and democratization open new opportunities to make this happen. This research contributes to understanding the influence of Islamic values on ethical and effective governance practices, while providing valuable information to policy makers, practitioners and academics about building good and sustainable governance. AbstrakEtika pemerintahan dalam Islam memberikan landasan moral yang kuat bagi penyelenggaraan negara modern. Penelitian ini mengkaji prinsip-prinsip etika pemerintahan Islam dan relevansinya di zaman modern. Melalui analisis kualitatif terhadap Al-Quran, Hadits, dan literatur terkait, penelitian ini mengidentifikasi tiga pilar utama: kejujuran sebagai manifestasi amanah, integritas dalam bertindak, dan musyawarah sebagai mekanisme pengambilan keputusan. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip tersebut dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Meskipun terdapat tantangan seperti westernisasi dan korupsi, kemajuan teknologi dan demokratisasi membuka peluang baru untuk mewujudkannya. penelitian ini berkontribusi untuk memahami pengaruh nilai-nilai Islam terhadap praktik tata kelola yang etis dan efektif, sekaligus memberikan informasi berharga kepada pembuat kebijakan, praktisi, dan akademisi tentang membangun tata kelola yang baik dan berkelanjutan.
Hukuman Cambuk: Pandangan Ulama Kontemporer, Penerapan, Serta Korelasi dengan HAM Nur Aliah Mufidah; Ananda Putri; Muh. Alief Ramadhan; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.210

Abstract

Aceh is the only province in Indonesia that applies Islamic law, including Islamic criminal law with caning. The presence of Aceh with Islamic law in a secular country like Indonesia is an interesting phenomenon to be studied further. This research aims to provide a deeper understanding to the public regarding caning in Aceh, so that there are no misunderstandings in its interpretation. In this research, the method used is an Islamic legal approach with a normative juridical focus. The author analyzes cases of caning in Indonesia, linking them to the principles of Human Rights using data sources from the Koran, laws, journals and online media. The results of this research show that there is support from the Ulama Consultative Council and the Islamic Sharia Service Agency for the implementation of caning in Aceh. The reason is because caning is considered to originate from the aspirations of the community. Implementation according to procedures in Governor's Regulation Number 10 of 2005, shows compliance and is not arbitrary, is considered to be in accordance with the principles of justice and does not violate human rights, because the process of carrying out caning punishment really pays attention to the principles of justice and applicable regulations. Thus it can be concluded that Contemporary ulama support the existence of caning punishment in Aceh on the grounds that the application of this caning punishment will create a deterrent effect, not because of physical factors but because of psychological factors. Meanwhile there are ulama who do not support caning punishment, but it is not published because it is covered by many ulama who supports the caning punishment. Meanwhile, the implementation of caning punishment in Aceh is regulated so that it does not physically torture the convict, because caning punishment has more of an impact on psychological factors. This caning punishment also does not conflict with human rights because its implementation prioritizes aspects of justice in it. The novelty of this research is that it discusses the views of contemporary ulama and analyzes the correlation between caning punishment and human rights.
Tinjauan Euthanasia dalam Perspektif Hukum Islam dan Hak Asasi Manusia Darnia Darnia; Fuad Farawansyah; Dirgi Septian Darmajid; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.211

Abstract

Euthanasia is an attempt to end a person's life when they experience incurable pain, in order to end their suffering. In Indonesia, euthanasia cannot be carried out and is an illegal act. Both positive law and the medical code of ethics stipulate that euthanasia is not permitted. When studied from the perspective of Islamic law, it is regulated that active euthanasia is an act that is forbidden and is threatened by Allah SWT with the punishment of hell for those who do it. The author is of the opinion that Euthanasia is considered a criminal offense in Indonesia because it is a form of crime against life which is regulated in Article 344 of the Criminal Code (Criminal Code/KUHP: "Whoever takes the life of another person which is clearly done intentionally, is threatened with imprisonment for a maximum of twelve years" The Declaration of Human Rights has established the "right to life" which is fundamental and inherent in human nature. It is universally recognized and an eternal gift from God. However, there is no provision regarding the right to die and therefore Euthanasia is a violation of human rights and contrary to divine principles. However, the right to die is regulated in the laws of several developed countries, such as several countries in Europe. AbstrakEuthanasia merupakan upaya untuk mengakhiri hidup seseorang ketika mengalami sakit yang tidak dapat disembuhkan, guna mengakhiri penderitaannya. Di Indonesia, euthanasia tidak dapat dilakukan dan merupakan perbuatan yang ilegal. Baik dalam hukum positif maupun dalam kode etik kedokteran diatur bahwa melakukan euthanasia tidaklah diperbolehkan. Bila dikaji dalam perspektif Hukum Islam, diatur bahwa euthanasia aktif adalah perbuatan yang diharamkan dan diancam oleh Allah SWT dengan hukuman neraka bagi yang melakukannya. Penulis berpendapat bahwa Eutanasia dianggap sebagai tindak pidana di Indonesia karena merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang diatur dalam Pasal 344 KUHP (Kitab Undang-Undang -Undang Hukum Pidana/KUHP: “Barangsiapa mencabut nyawa orang lain yang jelas dilakukan dengan kesengajaan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun” Deklarasi Hak Asasi Manusia telah menetapkan “hak untuk hidup” yang bersifat fundamental dan melekat pada kodrat manusia. secara universal mengakui dan anugerah abadi dari Tuhan. Namun, tidak ada ketentuan tentang hak untuk mati dan oleh karena itu euthanasia merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan bertentangan dengan prinsip ketuhanan. Tapi, hak untuk mati sudah diatur dalam beberapa undang-undang negara maju, seperti beberapa negara di Eropa.
Pernikahan Dini: Regulasi, Pandangan Ulama, Penyebab dan Solusi Terbaik Muh. Shohibul Ihzar; Muh. Baqir Hakim; Andi Aulia; Kurniati Kurniati
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.212

Abstract

Child marriage has become prevalent in Indonesia due to various factors such as education, economics, personal desire, environment, and pregnancy outside of marriage. This paper aims to educate the public to avoid being influenced to marry off someone who is underage and to discuss the controversy surrounding child marriage. This research is developmental in nature, employing a scientific approach and Islamic legal methodology. The results show that child marriage not only violates individual rights but also breaches the law. The majority of scholars do not permit child marriage, with some explicitly forbidding it, and none expressly allowing it. Furthermore, the study identifies several factors leading to child marriage: education, economics, personal desire, environment, and pregnancy outside of marriage. To address these factors, this research offers the following solutions. Education, Enhance access to education through technology and free learning applications, and integrate curricula about the dangers of child marriage. Economics, Encourage marriage while ensuring continued education. Personal Desire, Collaborate with the National Population and Family Planning Board to provide education on child marriage. Environment, Supervise and enforce laws. Pregnancy Outside of Marriage, Tighten supervision of children and teach religious knowledge to prevent sinful behavior. With these solutions, it is hoped that the issue of child marriage in Indonesia can be effectively addressed. Abstrak Pernikahan dini telah banyak terjadi di Indonesia dengan berbagai faktor penyebab, seperti pendidikan, ekonomi, keinginan pribadi, lingkungan, dan kehamilan di luar nikah. Tulisan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar tidak terpengaruh untuk menikahkan seseorang yang masih di bawah umur, serta membahas kontroversi pernikahan dini. Penelitian ini bersifat pengembangan dan menggunakan pendekatan keilmuan serta metodologi hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini tidak hanya melanggar hak individu, tetapi juga melanggar hukum. Mayoritas ulama tidak membolehkan pernikahan dini, dengan beberapa ulama yang secara tegas melarangnya dan tidak ada ulama yang dengan tegas membolehkannya. Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan pernikahan dini, yaitu pendidikan, ekonomi, keinginan pribadi, lingkungan, dan kehamilan di luar nikah. Untuk menanggulangi faktor-faktor tersebut, penelitian ini menawarkan solusi-solusi yaitu, Pendidikan, Meningkatkan akses pendidikan melalui teknologi dan aplikasi belajar gratis serta memasukkan kurikulum tentang bahaya pernikahan dini. Ekonomi, Mendorong pernikahan tetapi tetap menempuh pendidikan. Keinginan Pribadi, Bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk memberikan edukasi tentang pernikahan dini. Lingkungan, Mengawasi dan menegakkan hukum. Kehamilan di Luar Nikah, Memperketat pengawasan terhadap anak-anak dan mengajarkan ilmu agama untuk menghindari perbuatan dosa.  Dengan solusi-solusi tersebut, diharapkan dapat menanggulangi permasalahan pernikahan dini di Indonesia. Kata kunci: Pernikahan Dini, Hukum, Solusi
Kinerja Badan Narkotika Nasional dalam Upaya Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial Pengguna Narkotika di Kota Denpasar Ista Dewa Mahendra; I Dewa Ayu Putri Wirantari; Komang Adi Sastra Wijaya
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.215

Abstract

Social rehabilitation of narcotics users is a complex process that aims to return individuals involved in narcotics use to society in a productive and functional manner. In this effort, various approaches and strategies have been developed, including medical interventions, psychosocial, and community-based approaches. In this case, the Denpasar City National Narcotics Agency has a rehabilitation program designed to prevent increasing levels of narcotics users. The type of research used is Qualitative Descriptive writing. In this research the author uses research indicators proposed by Agus Dwiyanto (2006: 50-51), namely Productivity, Service Quality, Responsiveness, Accountability and Accountability. The results of this research show that the productivity of the Denpasar City National Narcotics Agency in terms of productivity still has not met the targets set. In terms of service quality, the Denpasar City National Narcotics Agency is still not optimal due to the lack of human resources to drive the program. Next is the responsiveness indicator where the Denpasar City National Narcotics Agency has carried out its obligations quite well but still needs to be improved. Responsibility indicators have worked quite well because while running the program, the Denpasar City National Narcotics Agency worked according to the applicable SOPs. Then, the accountability indicators are said to be running well, which is proven by the existence of routine accountability reports AbstrakRehabilitasi sosial pengguna narkotika merupakan sebuah proses yang kompleks yang bertujuan untuk mengembalikan individu yang terlibat dalam penggunaan narkotika ke dalam masyarakat secara produktif dan berfungsi. Dalam upaya ini, berbagai pendekatan dan strategi telah dikembangkan, termasuk intervensi medis, psikososial, dan pendekatan berbasis masyarakat. Dalam hal ini Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar memiliki program rehabilitasi yang dirancang untuk melakukan pencegahan pengguna narkotika yang semakin tinggi, adapun jenis penelitian yang di gunakan adalah jenis penulisan Kualitatif Deskriptif. Dalam peneitian ini penulis menggunakan indikator penelitian yang dikemukakan oleh Agus Dwiyanto (2006:50-51), yakni Produktivitas, Kualitas Layanan, Responsivitas, Responsibilitas, dan Akuntabilitas. Hasil dari penelitian ini menunjukan ini menunjukan Produktivitas dari Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar dalam hal produktivitas masih belum memenuhi target yang di tetapkan. Dalam hal kualitas layanan Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar masih belum juga di katakana optimal karena kurangnya sumber daya manusia sebagai penggerak program, selanjutnya adalah indikator responsivitas yang dimana Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar sudah menjalankan kewajiban dengan cukup baik namun masih harus ditingkatkan. Indikator responsibilitas sudah berjalan cukup baik karena selama menjalankan program, Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar bekerja sesuai SOP yang berlaku. Kemudian indikator akuntabilitas yang dikatakan sudah berjalan dengan baik yang dimana hal ini dibuktikan dengan adanya laporan pertanggungjawaban yang rutindi buatKata Kunci: Kinerja, Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Kota Denpasar
Eksistensi Penyidik Pegawai Negeri Sipil pada Otoritas Jasa Keuangan dalam Sistem Hukum Acara Pidana Di Indonesia Gede Angga Wirabhuwana Ramaputra; I Putu Rasmadi Arsha Putra
Ethics and Law Journal: Business and Notary Vol. 2 No. 3 (2024)
Publisher : CV. Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/eljbn.216

Abstract

The absence of a form of unification in the regulatory product that regulates the concept and how the function of the investigation carried out by Civil Servant investigators (PPNS) at the Financial Services Authority (OJK) requires research that is an inventory of positive norms. This study aims to find out and understand the legal basis of PPNS at the OJK and its function in investigations in the financial services sector according to the Criminal Procedure Law System in Indonesia. This research is positioned at the intersection between the concept of 'Civil Servant Investigator' and 'Investigation'. This type of research is normative legal research as a positive legal inventory research through a statute approach. In relation to the object of research, the author analyzes legal materials through a Systematic Study and a Descriptive Study. Based on the research that has been done, it can be seen that PPNS investigators at OJK exist as one of the OJK investigators with Polri investigators who bear the burden of investigating criminal acts in the financial services sector. Formally, the investigations carried out are regulated in the same way as the investigations conducted by PPNS investigators at other institutions. PPNS investigators at OJK always coordinate with Polri investigators. Abstrak Ketiadaan bentuk unifikasi dalam produk peraturan yang mengatur mengenai konsep serta bagaimana fungsi penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memerlukan adanya penelitian yang bersifat meng-inventarisasi norma positif. Penelitian bertujuan untuk mengetahui serta memahami dasar hukum PPNS pada OJK serta fungsinya dalam penyidikan pada sektor jasa keuangan menurut Sistem Hukum Acara Pidana di Indonesia. Penelitian ini diposisikan berada pada persinggungan diantara konsep ‘Penyidik Pegawai Negeri Sipil’ dengan ‘Penyidikan’. Penelitian berjenis penelitian hukum normative sebagai penelitian inventarisasi hukum positif melalui pendekatan undang-undang (statute approach). Berkaitan dengan obyek penelitian, penulis melakukan analisis bahan hukum melalui Systematical Study dan Descriptive Study. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwasannya penyidik PPNS pada OJK eksis sebagai salah satu dari bagian penyidik OJK bersama penyidik Polri yang menanggung beban penyidikan terhadap tindak pidana pada sector jasa keuangan. Secara formil, penyidikan yang dilakukan diatur sama dengan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik PPNS pada lembaga lainnya. Penyidik PPNS pada OJK selalu melakukan koordinasi dengan penyidik Polri. Kata Kunci : Penyidik PPNS, Otoritas Jasa Keuangan, Penyidikan

Page 1 of 3 | Total Record : 21