cover
Contact Name
-
Contact Email
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sabuaunsrat@unsrat.ac.id
Editorial Address
Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Unsrat - Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur
ISSN : 20857020     EISSN : 28286324     DOI : 10.35793
Core Subject : Social, Engineering,
SABUA adalah jurnal lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenail masalah-masalah tentang bidang perencanaan wilayah dan kota, isu lingkungan binaan, interaksi manusia dengan karya-karya arsitektur serta interaksi antara manusia, karya-karya arsitektur dengan lingkungan binaan (kota dan desa).Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap enam bulanan (Mei dan November)
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 3 (2017): sabua" : 4 Documents clear
PENGARUH FAKTOR PEMBENTUK RUANG PADA TIPOLOGI RUANG LUAR DI KAMPUNG NOTOYUDAN RW 25 DAN KAMPUNG PAKUNCEN RW 8, KOTA YOGYAKARTA Sriana Delfiati; Paulus Bawole
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18919

Abstract

Kampung Notoyudan RW 25 dan kampung Pakuncen RW 8 adalah Kampung padat penduduk yang terletak di pusat kota Yogyakarta. Kedua Kampung ini saling berhadapan di sepanjang tepi sungai Winongo. Banyak warga dari kedua Kampung memanfaatkan ruang luar sebagai ruang alternatif untuk kegiatan keluarga dan pekerjaan. Makalah ini membahas hasil penelitian tentang tipologi ruang terbuka dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kampong Notoyudan di RW 25 dan Kampong Pakuncen di RW 8. Diskusi tentang kampung terkait dengan tipologi ruang terbuka dan permukiman perkotaan. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendapatkan gambaran atau gambaran faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang luar. Pendekatan kuantitatif juga dilakukan dengan mengukur ruang terbuka agar bisa tipologi ruang terbuka di kedua Kampung. Dalam mengidentifikasi penduduk pemukiman Kampung faktor-faktor yang perlu diperhatikan antara lain: faktor sosial dan ekonomi masyarakat. Sedangkan faktor yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi karakteristik fisik hunian adalah masalah hunian, ruang terbuka yang ada, bangunan dan kepemilikan rumah dan fasilitas di dalam Kampung. Hasil diskusi menunjukkan bahwa tipologi dasar ruang terbuka di Notoyudan RW 25 dan desa Pakuncen RW 8 memiliki pola linier. Dari bentuk dasarnya ada beberapa bentuk / pola yang berbeda yang ditemukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan ruang terbuka di kedua desa adalah faktor hunian, topografi dan aktivitas penghuni. 
OPTIMALISASI KOMPOSISI PRODUKSI TIPE RUMAH UNTUK MENCAPAI KONSEP HUNIAN BERIMBANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIMPLEK (Studi Kasus: Perumahan “X” Di Jatimulia, Bekasi) Ima Rachima Nazir; Maulina Dian; Rossa Turpuk Gabe
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18920

Abstract

Konsep hunian berimbang merupakan konsep dalam ilmu perencanaan kota sebagai upaya mencapai keseimbangan sosial antar masyarakat. Keberagaman kondisi masyarakat seperti status sosial, profesi, maupun tingkat ekonomi dalam satu lingkungan hunian akan mewujudkan keharmonisan antar masyarakat. Selain itu, konsep hunian berimbang dimaksudkan sebagai strategi menyediakan rumah bagi masyarakat berpendapat rendah. Dalam pelaksanaannya, konsep ini perlu mempertimbangkan komposisi tiap tipe rumah yang akan diproduksi agar layak diterapkan oleh pengembang. Dalam menentukan komposisi ini pengembang perlu mempertimbangkan batasan yang ada antara lain daya beli dan minat beli masyarakat, luas lahan, biaya produksi serta komposisi berimbang 1:2:3 (1 rumah mewah : 2 rumah menengah : rumah sederhana) serta komposisi berimbang 1:1 (1 rumah menengah : 1 rumah sederhana ) sesuai denganPermenpera Nomor 10 Tahun 2012, yang salah satu tujuannya adalah mewujudkan subsidi silang bagi tipe rumah sederhana. Kajian ini berupaya memperoleh komposisi produksi tipe rumah yang paling optimal, yang dapat memberikan keuntungan yang maksimum. Studi kasus yang digunakan dalam kajian ini adalah Perumahan yang terletak di Jatimulia, Bekasi. Pencarian komposisi optimasi diperoleh melalui Metode Simplek. Dari hasil optimasi diperoleh komposisi masing-masing tiap tipe rumah untuk komposisi 1:2:3 adalah tipe mewah 200/400 sebanyak 80 unit, tipe menengah 132/112 159unit, tipe sederhana 36/72 sebanyak 239 unit dengan keuntungan maksimal Rp. 338.923.800.000,- sedangkan untuk komposisi 1:1 adalah tipe komersil (132/112) 372 unit, tipe sederhana (36/72) 372 unit dengan keuntungan Rp. 301.901.400.000,-. Temuan dari kajian ini dapat dijadikan pertimbangan pemerintah dalam menetapkan komposisi produksi untuk mencapai hunian yang berimbang bagi pengembang serta tercapainya subsidi silang bagi rumah tipe sederhana. 
PENGARUH PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT TERHADAP PENGURANGAN DAMPAK KERENTANAN BENCANA ALAM DAN EKONOMI DI PEDESAAN (Studi Kasus: Pembangunan Gubug Guyub, Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta) Yusak Senja Utama; Paulus Bawole
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18921

Abstract

Gereja Katolik St. Theresia Lisieux Paroki Boro merupakan salah satu gereja Katolik yang berada di dalam wilayah administratif Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta. Wilayah pelayanan Paroki Boro berada pada kawasan pedesaan dengan masyarakat yang bergantung dengan keadaan alamnya. Tanah dan air digunakan sebagai salah satu alat produksi untuk menyukupi kebutuhan hidup. Sementara itu pada kawasan pedesaan ini terjadi kerentanan terhadap bencana alam dan kemiskinan. Pembangunan berbasis masyarakat melalui proses serial workshop pembangunan balai komunitas diselenggarakan oleh Paroki Boro dan difasilitatori oleh lembaga swadaya masyarakat Arkom Jogja yang bekerja sama dengan Bambu Bos untuk mengurangi dampak kerantanan bencana alam dan ekonomi umat. Oleh karena itu akan dilihat pengaruh pembangunan berbasis masyarakat terhadap pengurangan dampak kerentanan bencana alam dan kekeringan serta kemiskinan di pedesan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara mendalam untuk melihat fakta yang terjadi di lapangan. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk cross check data dan melengkapi jika ada kekurangan. Penelitian ini menemukan pengaruh kegiatan pembangunan berbasis masyarakat dapat meningkatkan kesadaran potensi dan masalah masyarakat, muncul kemauan untuk berpartisipasi, dan terbentuk lembaga untuk melakukan usaha demi perbaikan kualitas hidup. 
REKAYASA LANSEKAP UNTUK PENANGANAN BANJIR (Studi Kasus: Bukit Duri, Kampung Pulo, Kampung Melayu dan Kali Bata Jakarta) Rudi Purwono; Lely Mustika
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 8 No. 3 (2017): sabua
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v8i3.18922

Abstract

Banjir merupakan permasalahan yang rutin untuk DKI Jakarta, salah satu penyebabnya adalah meluapnya air Sungai Ciliwung. Pada kondisi normal tinggi muka air 0.5-2 m, dengan debit 5-60 m3/detik. Pada waktu tertentu di musim penghujan di hulu, aliran yang dibawanya ≥250 m3/detik, ditambah dengan intensitas hujan >100 mm dan berdurasi >1 jam di wilayah Jakarta, menyebabkan muka air sungai naik menjadi ±3-4 m, yang merendam bantaran sungai di Kali Bata, Kampung Melayu, Kampung Pulo, dan Bukit Duri. Bantaran sungai menjadi tempat perdagangan, permukiman, bengkel funitur, dsb, kurangnya vegetasi dan Ruang Terbuka Hijau, KDB rata-rata 95% dan menyempitnya sungai menjadi ±16-20 m, dengan kedalaman ±1 meter. Berdasarkan hal tersebut dilakukan kajian analisis dimensi sungai untuk mengalirkan debit sungai dari hulu dan debit larian, dengan asumsi lebar sungai 16-70 m, kedalaman 2-3 m, tinggi tanggul 1 m. Hasil analisis lebar sungai 50-70 m, pada debit 600 m3/detik dan RTH 50% dari wilayah tangkapan, terjadi kondisi muka air -0.50 m dari tanggul, untuk itu konsep Rekayasa Lanskap sungai dibuat lebar 50-70 m, kedalaman 3 m, tinggi tanggul 1 m, dengan sempadan ±10-25 m untuk wilayah perkotaan, dan ≥50 m untuk wilayah hulu. Vegetasi peneduh, pelindung dan penutup tanah, dipilih untuk mengurangi erosi, longsor, dan menurunkan aliran permukaan, dan material dibuat dari batu kali sebagai penjaga ekosistem sungai. 

Page 1 of 1 | Total Record : 4