cover
Contact Name
Samgar Setia Budhi
Contact Email
samgar.budhi@gmail.com
Phone
+6281349436165
Journal Mail Official
huperetes@sttkalimantan.ac.id
Editorial Address
Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan (STT Kalimantan) Jalan Gajah Mada No. 50 Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : 27164314     EISSN : 27160688     DOI : https://doi.org/10.46817/huperetes
Core Subject : Religion, Education,
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen merupakan wadah publikasi penelitian dalam bidang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2716-0688 (online) dan 2716-4314 (print) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan dengan lingkup penelitian meliputi: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Pastoral, Misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019" : 5 Documents clear
Keunggulan Yesus Kristus Menurut Kolose 1:16-18 Stepanus Stepanus
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.16

Abstract

God’s church as always been facing obstacles and trials throughout history, the church has been challenged in many ways, whether it is from inside or outside, to bring the people’s faith to failure for centuries. Therefore, it cannot be ignored that there have been challenges in a large number. Paul wrote to the church at Colossae to respond to the false teachers that had been slipped into the church. They teach that surrendering to Christ and obedience to the apostles teaching is not sufficient to grant full salvation. These false teachers mixed philosophy and human tradition with the Gospel (Col. 2:8). And asked for the worship of the angels as the mediator between God and men (Col. 2:18). These false teachers demanded certain Jewish practices (Col. 2:16, 21-23) and also justified their fallacies by stating that they had the revelation through visions (2:18). Paul has proven the false teachers’ faults by showing that Christ is not only believers’ savior, but also the head of the church and the Lord, and the Creator. Therefore, it is neither the philosophy nor human wisdom that must be seeded, but Jesus Christ and His Power within a believer’s life that has redeemed and saved believers forever, we need no mediator and we as believers can approach God directly. Believers need only to have faith in Christ, rely on Him, love Him, and live in His presence. We, as believers, may not add rules that are not according to the Gospel.Sejarah kehidupan jemaat Allah selalu mengalami hambatan dan cobaan, gereja ditantang dengan berbagai cara baik dari luar maupun dari dalam untuk menggagalkan iman jemaat. orang percaya dari abad ke abad, maka tidak dapat disangkali telah terjadi banyak tantangan. Paulus menulis kepada jemaat Kolose oleh sebab guru-guru palsu telah menyusup ke dalam gereja. Mereka mengajar bahwa penyerahan kepada Kristus dan ketaatan kepada ajaran para rasul tidak memadai untuk mendapat keselamatan penuh. Para pengajar sesat ini mencampur filsafat dan tradisi manusia dengan Injil (Kol. 2: 8). Dan meminta penyembahan para malaikat sebagai pengantara Allah dan manusia (Kol. 2:18). Para guru palsu ini menuntut pelaksanaan beberapa syarat agama Yahudi (2:16, 21 – 23) serta membenarkan kekeliruan mereka dengan menyatakan bahwa mereka mendapat wahyu melalui penglihatan-penglihatan (2:18). Paulus membuktikan salahnya bidat ini dengan menunjukkan bahwa Kristus bukan saja Juruselamat pribadi orang percaya, tetapi kepala gereja dan Tuhan semesta alam dan pencipta. Karena itu, bukannya filsafat atau hikmat manusia yang diunggulkan, melainkan Yesus Kristus dan Kusa-Nya di dalam kehidupan orang percaya itulah yang menebus dan menyelamatkan orang percaya untuk selama-lamanya, perantara tidak perlu dan kita sebagai orang percaya langsung dapat menghampiri Allah. Orang percaya hanya beriman kepada Kristus saja, bersandar kepada-Nya, mengasihi-Nya dan hidup di hadirat-Nya. Kita sebagai orang percaya tidak boleh menambah aturan-aturan yang bertentangan dengan Injil Kristus.
Makna Pengurapan Menurut 1 Yohanes 2:20, 27 Triyono Surahmiyoto
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.15

Abstract

The study is entitled The Meaning of Anointing According to 1 John 2:20, 27. The background of this study is the obscurity found in the usage of the term anointing among Christians, whether in casual conversation or in prayer in which the purpose is uncertain. The obscurity and ambiguity in the understanding of anointment tend to result in unrighteous behavior in Christian life. Based on that issue the writer undertook to research the usage of the term concerned especially in the New Testament. The writer has found the usage of the term in 1 John 2:20. By using the inductive interpretation method: literal, grammatical, contextual, historical, and theological and also do observations through multiple interpretations comparison, the writer has found that the anointment is referred to be used connotatively to depict the help from the Holy Spirit in every believer’s life. This anointment is closely related to teaching and the righteousness of teaching. The anointment happens once and permanent in a believer’s only life. This is identical to sealing and the Holy Spirit that resided in the believers. The anointing in 1 John 2:20 is chrism. Chrism is a noun that refers to the oil that is used in an anointing event.  John states that a believer is already and receiving the chrism – the anointing oil – in the believer’s running life. Believers need to believe that God’s anointing has been done, is happening, resides to be with every believer in righteous life as a person who believes that Jesus is God.Judul bahasan adalah Makna Pengurapan Menurut 1 Yohanes 2:20, 27. Latar belakang pembahasan adalah adanya kesamaran penggunan istilah pengurapan dalam kehidupan masyarakat Kristen baik dalam percakapan maupun dalam doa- doa yang diucapkan secara samar. Kesamaran dan kerancuan dalam pemahaman tentang pengurapan cenderung menimbulkan perilaku yang tidak diharapkan dalam kehidupan masyarakat Kristen. Penyimpangan dan penyesatan bahkan perpecahan, perpindahan serta kecurigaan antar sesama orang percaya dapat terjadi dalam kehidupan masyarakat Kristen. Bertolak dengan hal tersebut maka penulis berusaha menelusuri penggunaan istilah pengurapan tersebut khususnya dalam Perjanjian Baru. Penulis menemukan istilah pengurapan dalam 1 Yohanes 2:20. Dengan menggunakan metode penafsiran induktif: literal, gramatikal, kontekstual, historikal, dan teologi serta memperhatikan pandangan beberapa penafsir penulis menemukan bahwa pengurapan yang dimaksud ternyata digunakan secara konotatif untuk menggambarkan pertolongan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya. Pengurapan erat berhubungan dengan pengajaran dan kebenaran ajaran. Pengurapan sekali terjadi dan bersifat permanen dalam sepanjang hidup orang yang percaya. Pengurapan ini identik dengan pemeteraian dan pendiaman Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Pengurapan dalam 1 Yohanes 2:20 adalah krisma. Krisma ini adalah kata benda dan menunjuk kepada minyak yang digunakan dalam peristiwa pengurapan. Yohanes menyatakan bahwa orang percaya sudah dan sedang menerima krisma yaitu minyak urapan dalam rentang kehidupannya. Dengan demikian sebenarnya orang percaya tidak perlu berulang-ulang meminta dan mengharapkan terjadinya pengurapan dalam kehidupannya. Orang percaya perlu mengimani bahwa pengurapan Allah sudah dan sedang terjadi serta menuntun setiap orang percaya dalam kehidupan yang benar sebagai orang yang sudah percaya bahwa Yesus itu Tuhan.
Pemahaman Umat Islam Tentang Kata Kalimah Dalam Hubungan Dengan Isa Almasih Daniel Horatius Herman
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.18

Abstract

Christian witness in Indonesia, in an encounter with Islam, experienced rejection. The message about Jesus Christ (or Isa Al Masih) is acknowledged exist in Islam’s scripture, Al Qur'an, but has several different parts and even contrary to the New Testament. Some teachings about Jesus in the Qur'an are interpreted differently: 'Isa is the Kalimatullah (a word from God),' Isa is mercy, 'Isa will come again,' Isa is a justice Judge at the end of time and others, all that is different from the New Testament’s teachings. Christians, in their testimonies, tried to interpret and used the same terms. This gives rise to debate and is of course contrary to the ethics of faith, where religious teachings cannot be explained by the perspective of other religions. This study aims to obtain an objective view of Jesus Christ from the Islamic view to form an initial understanding for the preaching of the Christian faith, but this study is not intended to seek justification (or verification) of the Christian faith. This study only seeks an explanation of the Islamic version of Jesus Christ.Kesaksian Kristen di Indonesia, dalam perjumpaan dengan Islam, mengalami penolakan-penolakan.  Berita tentang Yesus Kristus (atau Isa Almasih) diakui ada dalam kitab suci Islam, Al Qur’an, tetapi pada beberapa bagian berbeda dan bahkan bertolak belakang dengan Perjanjian Baru. Beberapa ajaran tentang Yesus dalam Al Qur’an dimaknai secara berbeda: Isa adalah Kalimatullah (firman Allah), Isa adalah rahmat, Isa akan datang kembali, Isa adalah hakim yang adil di akhir zaman dan lain-lain, semua berbeda dengan ajaran Perjanjian Baru.  Orang Kristen, dalam kesaksian, mencoba menafsirkan dan menggunakan kesamaan terminologi-terminologi tersebut.  Hal ini menimbulkan perdebatan dan tentu saja bertentangan dengan etika iman, dimana ajaran sebuah agama tidak dapat dijelaskan dari perspektif agama lain. Penelitian ini bertujuan memperoleh pandangan obyektif tentang Yesus Kristus dari pandangan Islam untuk pembentukan pemahaman awal untuk pemberitaan iman Kristen, tetapi penelitian tidak dimaksudkan untuk mencari pembenaran (verifikasi) terhadap iman Kristen. Penelitian ini hanya mencari penjelasan dari versi Islam tentang Yesus Kristus.
Studi Kritik Teori Penciptaan Dalam Kejadian 1:1-2 (Suatu Kajian terhadap Argumentasi Teori Celah) Djonly J. R. Rosang
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.19

Abstract

The creation of the universe, according to the Holy Bible has actually done as said in Genesis 1-2. However, there are some people who are still struggling in order to search for the reason to question the process of how is this universe actually began, so that they will look for scientific consideration to find the “theoretical justification” over the biblical truth. This writing aims to give an answer to the gap theory in Genesis 1:1-2. The author, through the study Genesis 1:1-2, the result of this study concluded as follows. First, there is no exegesis background that is strong enough for gap theory to give an assumption that there was an unmeasurably period of time or age in the creation of the universe. Second, a biblical statement, “In the beginning God created the heavens and the earth ... for in six days the LORD made heaven and the earth” (Gen. 1:1; Ex. 20:11) is an ultimate fact of God’s power and majesty in creating the earth from nothing to existence with His Word (creatio ex Nihilo). Third, the doctrine of world’s creation must be the foundation of faith that is tested in the authority of God’s words (2 Tim. 3:16) and the entire creation of God which become the medium of scientifical activity in the history of humanity must be according to the biblical perspective. Fourth, The statement of Genesis 1:1 appears to be refutation toward various scientific theories and human’s philosophic perspective that are opposite the biblical truth (Gen. 1-2, Ps. 33:4-9).Pernyataan Alkitab tentang penciptaan alam semesta sebenarnya sudah tuntas sebagaimana dikemukakan dalam Kejadian 1-2. Namun ada saja orang yang berusaha mencari alasan untuk mempertanyakan proses terjadinya alam semesta ini, sehingga mencoba mencari pertimbangan ilmiah untuk menemukan “pembenaran teoritis” atas kebenaran Alkitab. Tulisan ini bertujuan untuk memberi jawab terhadap teori celah (gap theory) dalam Kejadian 1:1-2, melalui studi biblika penulis mengemukakan argumentasi paham teori celah, dalam kajian metode induktif terhadap studi teks Kejadian 1:1-2. Hasil studi ini disimpulkan bahwa: Pertama, bahwa tidak ada dasar eksegesis yang kuat bagi teori celah untuk memberi ruang bagi asumsi adanya rentang waktu periode atau zaman yang tak terukur dalam proses penciptaan semesta. Kedua, pernyataan Alkitab, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi ... dalam waktu enam hari lamanya” (Kej. 1:1, Kel. 20:11) adalah suatu fakta Alkitab yang tak terbantahkan sebagai tindakan kemahakuasaan dan keagungan Allah menciptakan dunia dari yang tidak ada menjadi ada dengan firman-Nya (creatio ex nihilo). Ketiga, doktrin penciptaan harus menjadi landasan iman Kristen yang  diuji dalam otoritas Firman Allah yang berkuasa (2 Tim. 3:16) serta dunia ciptaan Allah dan segala isinya menjadi arena kegiatan ilmiah dalam lintasan sejarah manusia haruslah berdasarkan perspektif Alkitab. Keempat,  pernyataan penciptaan Kejadian 1:1 merupakan sanggahan terhadap berbagai teori ilmu pengetahuan dan pandangan filsafat manusia yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab (Kej. 1-2, Mzm. 33:4-9).
Eksegesis Mazmur 73: Pergumulan Orang Benar Tentang Kemakmuran Orang Fasik Samgar Setia Budhi
HUPERETES: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46817/huperetes.v1i1.14

Abstract

The suffering of godly men and the prosperity of the wicked often become the struggle for faithful men. This issue has been around for all ages, from the biblical times until today. This struggle could have implications for the faith of the believers within one’s life. Therefore the sound understanding of God and His will through the scripture is needed. Psalm 73 is one of the Bible texts that is talking about this important issue. Through a pure biblical qualitative study with literal-grammatical-historical-contextual interpretation and exegesis theory approach, and also considering the literature style of the Psalm it is found that the base of the struggle from the existence of prosperity among the wicked is the problem from the heart. An envious heart toward the wealthiness of the wicked often moved the faith of the godly men about the kindness of the Lord. But when believers have an intimate relationship with the Lord, then new perspectives will be opened by God concerning the struggle. God is sovereign towards men’s life. The end of the wicked lives has been determined. On the contrary, for those who live in faith, the presence of God is the highest goodness because the life of a believer along with the Lord with him will always be under His nurture.Penderitaan orang benar dan kemakmuran orang fasik seringkali menjadi pergumulan bagi orang yang beriman. Isu ini sesungguhnya ada sepanjang zaman yaitu sejak zaman Alkitab hingga masa kini. Pergumulan ini dapat berimplikasi kepada iman orang percaya di tengah kehidupannya. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman yang benar tentang Allah dan kehendak-Nya melalui kebenaran firman-Nya. Mazmur 73 adalah salah satu teks Alkitab yang membicarakan tentang isu penting ini. Melalui studi kualitatif kajian biblika murni dengan pendekatan teori tafsir literal-gramatikal-historikal-kontekstual dan eksegesis, serta dengan mempertimbangkan bentuk sastra dari Mazmur didapatkan pemahaman bahwa masalah hati merupakan dasar dari munculnya pergumulan tentang kemakmuran orang fasik. Hati yang cemburu terhadap kemakmuran orang fasik seringkali menggoyahkan keyakinan orang beriman akan kebaikan Allah. Tetapi ketika orang beriman memiliki persekutuan yang intim dengan Allah, maka ada perspektif baru yang akan dibukakan oleh Allah tentang pergumulannya. Sesungguhnya Allah berdaulat atas hidup manusia. Akhir hidup orang fasik sudah ditentukan. Tetapi bagi orang beriman, penyertaan Tuhan adalah kebaikan yang tertinggi karena dengan penyertaan Tuhan hidup orang beriman akan selalu dalam pemeliharaan-Nya.

Page 1 of 1 | Total Record : 5