cover
Contact Name
Safni Elivia
Contact Email
safni@iphorr.com
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Karet, Sumber Rejo, Kec. Kemiling, Kota Bandar Lampung, Lampung 35155
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Mother and Child Health Concerns
ISSN : 27984095     EISSN : 27984192     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di bidang kesehatan ibu dan anak yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan Juni dan Desember
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022" : 5 Documents clear
Hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV/AIDS di Yogyakarta Maulita, Annike Ayu; Suratini, Suratini
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.300

Abstract

Background: HIV-AIDS is a chronic and progressive disease that can impact all aspects of life physically, psychologically, socially or spiritually. Problems that arise due to disease, stigma, discrimination, will reduce the quality of life of PLHIV. One of the factors that can overcome the life problems of sufferers is to provide social support. Social support can help overcome PLWHA problems both physically and psychologically. The existence of support from the social environment makes PLWHA have help with the problems they face to improve their quality of life. Purpose: To find out the relationship between social support and the quality of life of people with HIV-AIDS. Method: This type of research is descriptive correlation with a cross sectional approach. The research subjects were PLWHA at the Victory Plus Yogyakarta Foundation, aged 20-45 years, totaling 31 respondents who were taken using the non-probability sampling technique with the accidental sampling method. The measuring instrument in this study used a questionnaire, while the hypothesis analysis used the Sperm Rank correlation test. Results: Data analysis using Sperman rank showed a value (p-value 0.00, p.0.05) with a correlation coefficient (r) of 0.692 indicating a strong relationship. Conclusion: There is a relationship between social support and the quality of life of HIV-AIDS sufferers with a strong correlation with a correlation value (r) of 0.692. Suggestion: For families to provide social support to PLWHA to improve the quality of life for people with HIV-AIDS.   Pendahuluan: Penyakit HIV-AIDS yang bersifat kronis dan progresif dapat berdampak pada segala aspek kehidupan baik secara fisik, psikologis, sosial, atau spiritual. Permasalahan yang timbul akibat penyakit, adanya stigma, diskriminasi, akan menyebabkan penurunan kualitas hidup ODHA. Salah satu faktor yang dapat mengatasi permasalahan hidup penderita adalah dengan memberikan dukungan sosial. Dukungan sosial dapat membantu mengatasi masalah ODHA baik secara fisik atau psikologis. Adanya dukungan dari lingkungan sosial menjadikan ODHA memiliki pertolongan terhadap masalah yang dihadapi meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV-AIDS. Metode: Jenis penelitian Deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah ODHA di Yayasan Victory Plus Yogyakarta yang berusia 20-45 tahun berjumlah 31 responden yang diambil dengan menggunakan teknik Non probability sampling dengan metode accidental sampling. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan kuesioner, sedangkan analisa hipotesis menggunakan uji korelasi Sperman Rank. Hasil: Analisis data dengan sperman rank menunjukkan nilai (p-value 0,00, p,0,05) dengan koefisiensi korelasi (r) sebesar 0,692 menunjukkan keeratan hubungan kuat. Simpulan: Terdapat hubungan dukungan sosial dengan kualitas hidup penderita HIV- AIDS dengan keeratan hubungan hubungan  kuat dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,692. Saran: Agar keluarga memberikan dukungan sosial pada ODHA untuk meningkatkan kualitas hidup penderita HIV-AIDS.
Ketidakteraturan pola makan dengan kejadian dispepsia pada remaja Indarna, Asep Aep; Suryadi, Suryadi
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.303

Abstract

Background: Dyspepsia is a collection of symptoms in the form of pain or burning sensation in the epigastrium, a feeling of bloating, feeling full quickly, a feeling of fullness in the stomach which can be accompanied by nausea. Irregular eating patterns can lead to the emergence of various types of diseases due to an imbalance in the body factor that influences influence the incidence of dyspepsia syndrome. Dyspepsia syndrome is included in the top 10 diseases in West Java Province, precisely in Kabupaten Bandung, which is in first place in January, with 410 cases. Purpose: To identify the relationship between irregular eating patterns and the incidence of dyspepsia in adolescents in the working area of the Rancaekek Public Health Center. Methods: This study used an observational analytic research design with a cross-sectional study approach (cross-sectional study). The number of cases used was 47 people from a total population of 89 people. The sample collection technique was using purposive sampling, with data collection using a questionnaire totaling 26 questions through the Google form. The analysis used univariate and bivariate with a Chi-square test. Results: The results of the analysis showed that most of the respondents (53.2 percent) had irregular eating patterns. Most of the respondents as much as 72.3 percent experienced dyspepsia syndrome. There is a relationship between eating disorders and dyspepsia volume (p-value 0.001). Conclusion: There is a relationship between eating disorders and dyspepsia syndrome in the working of the Rancaekek Public Health Center. Pendahuluan: Dyspepsia merupakan kumpulan dari gejala berupa nyeri atau rasa terbakar di epigastrium , rasa kembung, cepat merasa kenyang, perut terasa penuh bisa disertai mual. Ketidakteraturan pola makan dapat mengakibatkan timbulnya berbagai jenis penyakit karena terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh serta merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian sindrom dyspepsia. Sindrom dyspepsia masuk dalam 10 besar penyakit yang terdapat di Provinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Bandung yang berada pada urutan pertama pada bulan Januari yaitu sebanyak 410 kasus. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan ketidakteraturan pola makan dengan kejadian dyspepsia pada remaja di wilayah kerja puskesmas Rancaekek. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional (studi potong lintang). Jumlah sampel yang digunakan adalah 47 orang dari total populasi 89 orang. Teknik pengumpulan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner yang berjumlah 26 pertanyaan melalui google formulir. Analisa yang digunakan univariat dan bivariat dengan uji Chi-square. Hasil: Hasil analisa menunjukan sebagian besar responden 53,2 persen memiliki pola makan tidak teratur. Sebagian besar responden sebanyak 72,3 persen mengalami sindrom dispepsia. Ada hubungan antara ketidakteraturan makan dengan sindrom dispepsia (p value 0,001). Simpulan: Terdapat hubungan antara ketidakteraturan makan dengan sindrom dispepsia di wilayah kerja Puskesmas Rancaekek.
Gambaran pengetahuan remaja tentang diet sehat Herawati, Ade Tika; Manaf, Manaf; Dewi, Nadia Fauziawati
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.324

Abstract

Background: Unhealthy diets that are often carried out by teenagers are irregular eating patterns, frequent consumption of fast food, use of diet drugs, laxatives, and binge-eating. An unhealthy diet can put you at risk of diarrhea, dehydration, fatigue all the time, nausea, headaches and constipation. In the long term unhealthy diet can cause osteoporosis, suffer from eating disorder behavior (such as anorexia nervosa, bulimia nervosa), cause anemia, diabetes mellitus or even dyspepsia. Data obtained from the Bandung Regency Health Profile (2020), regarding the incidence of dyspepsia in adolescents aged > 15 years in Bandung Regency is 41,818 cases. Purpose: This study aims to describe the knowledge of adolescents in Cimenyan Village, Cimenyan District, Bandung Regency. Methods: This type of research is descriptive quantitative. The population and sample in this study were 58 respondents. The sampling technique uses total sampling. Retrieval of data using questionnaires. Data analysis used in the study used univariate analysis. Results: The research shows that 5 respondents (8.6 percent) have good knowledge, 15 respondents (25.9 percent) have sufficient knowledge and 38 respondents (65.5 percent) have less knowledge. Conclusion: Most of the respondents have less knowledge. Suggestion: It is hoped that the Cimenyan Health Center will provide facilities in carrying out counseling on healthy diets for adolescents in RW 02 so that they can increase adolescent knowledge.   Keywords: Healthy diet; Knowledge; Teenager.   Pendahuluan: Diet tidak sehat yang sering dilakukan oleh remaja adalah ketidakteraturan pola makan, sering mengkonsumsi fast food, penggunaan obat diet, laxative, dan binge-eating. Diet yang tidak sehat dapat mengakibatkan risiko terkena diare, dehidrasi, lelah sepanjang waktu, mual, sakit kepala dan sembelit. Dalam jangka panjang diet tidak sehat dapat menyebabkan osteoporosis, menderita perilaku makan menyimpang (seperti anorexia nervosa, bulimia nervosa), menyebabkan anemia, diabetes mellitus atau bahkan dyspepsia. Data yang didapatkan dari Profil Kesehatan Kabupaten Bandung (2020), mengenai kejadian dispepsia pada remaja usia > 15 tahun di Kabupaten Bandung adalah sebesar 41.818  kasus. Tujuan:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja di Desa Cimenyan Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dan sampel pada penelitian ini sebanyak 58 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengambilan data menggunakan pengisian kuesioner. Analisa data yang digunakan dalam penelitian menggunakan analisa univariat. Hasil: Dari penelitian menunjukkan bahwa 5 responden (8,6 persen) memiliki pengetahuan baik, sebanyak 15 responden (25,9 persen) memiliki pengetahuan cukup dan sebanyak 38 responden (65,5 persen) memiliki pengetahuan kurang. Simpulan: Sebagian besar dari responden memiliki pengetahuan kurang. Saran: Diharapkan Puskesmas Cimenyan menyediakan sarana dalam melaksanakan penyuluhan mengenai diet sehat pada remaja di RW 02 agar dapat meningkatkan pengetahuan remaja.
Efektivitas penyuluhan gizi 1000 hari pertama kehidupan terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kaduhejo Pandeglang Hadi, Nuring Sawitri; Rindu, Rindu
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.328

Abstract

Background: The main factor in human life in the future is influenced by upbringing in the First 1000 Days of Life, starting from the moment of conception. In this period, the occurrence of brain development, growth, development of the body's metabolic system and the formation of the immune system. Therefore, nutrition counseling for the first 1000 days of life needs to be given especially to pregnant women for future health. Purpose: This study aims to determine the effectiveness of nutrition counseling in the first 1000 days of life on the knowledge and attitudes of pregnant women in the working area of the Kaduhejo Pandeglang Health Center in 2022. Methods: This research method uses a quasi-experimental design with a pre-test and post-test group design. The number of samples was 78 pregnant women. The measurement of knowledge and attitudes of pregnant women was carried out twice, namely before and after the counseling was given. Data analysis was performed using independent t-test. Results : The results of this study on the knowledge of pregnant women before being given counseling, namely most of the poor categories is 42 people (53.1 percent) and after being given counseling most of the good categories is 40 people (51.3 percent), on the attitude of pregnant women before being given counseling most of the poor categories are 38 people (53.1 percent) then after counseling the good category is 41 people (52.6 percent) and the effectiveness before and after nutrition counseling in the first 1000 days of life is effective on knowledge (p value 0.000 < 0, 05) and the attitude of pregnant women (p value 0.000 <0.05). Conclusion: Nutrition counseling for the first 1000 days of life is effective on the knowledge and attitudes of pregnant women in the working area of the Kaduhejo Pandeglang Health Center in 2022, so the need for promotional and preventive efforts through nutritional counseling for the first 1000 days of life on a regular basis is very important for pregnant women in maintaining nutritional intake up to in the first 1000 days of life.   Keywords: Nutrition Counseling; In The First 1000 Days Of Life; Knowledge; Attitude; Pregnant Women.   Pendahuluan: Faktor utama dalam kehidupan manusia di masa yang akan datang dipengaruhi oleh pengasuhan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, dimulai sejak terjadinya konsepsi. Pada periode tersebut, terjadinya perkembangan otak, pertumbuhan, perkembangan pada sistem metabolisme tubuh dan terjadi pembentukan sistem kekebalan tubuh, oleh karena itu, penyuluhan gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan perlu diberikan khususnya pada Ibu hamil untuk Kesehatan di masa depan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penyuluhan gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di wilayah kerja puskesmas Kaduhejo Pandeglang tahun 2022. Metode: Metode penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan rancangan desain pre-test dan post- test group. Jumlah sampel sebanyak 78 orang ibu hamil. Pengukuran pengetahuan dan sikap ibu hamil dilakukan dua kali yaitu sebelum dan sesudah penyuluhan diberikan. Analisis data dilakukan menggunakan uji independent t-test. Hasil: Hasil penelitian ini pada pengetahuan ibu hamil sebelum diberikan penyuluhan yaitu sebagian besar kategori kurang yaitu 42 orang (53,1 persen) dan setelah diberikan penyuluhan sebagian besar kategori baik sebanyak yaitu 40 orang (51,3 persen), pada Sikap ibu hamil sebelum diberikan penyuluhan sebagian besar kategori kurang yaitu 38 orang (53,1 persen) kemudian setelah dilakukan penyuluhan kategori baik sebanyak yaitu 41 orang (52,6 persen) serta efektivitas sebelum dan sesudah penyuluhan gizi 1000 hari pertama kehidupan efektif terhadap pengetahuan (p value 0,000 < 0,05) dan sikap ibu hamil (p value 0,000 < 0,05). Simpulan: Penyuluhan gizi 1000 hari pertama kehidupan efektif terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kaduhejo Pandeglang tahun 2022, maka perlunya upaya promosi dan preventif melalui penyuluhan gizi 1000 hari pertama kehidupan secara berkala sangat penting bagi ibu hamil dalam menjaga asupan nutrisi sampai dengan 1000 HPK.
Hubungan Lingkungan, Sosial Budaya, Pengetahuan Serta Sikap Akseptor KB Tentang Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Dengan Kepatuhan Kunjungan Ulang Di Pmb Yayah Asy’ariyah Desa Gunung Cupu Asy’ariyah, Yayah; Ginting, Agus Santi Br; Hanifa, Fanni
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v2i2.329

Abstract

Backgrounds: Family planning is an action that helps individuals or married couples to get certain objectives, avoid unwanted births, get births that are wanted, regulate the interval between pregnancies and control the time of birth in a husband and wife relationship. The coverage of participants using contraceptives in Indonesia in 2017 with the number of couples of childbearing age as many as 48,536,690 participants; the most widely used contraception by family planning participants in Indonesia is the injectable contraceptive method. The failure of the injectable contraceptive method was caused by the acceptor's delay in re-injecting. Purpose: This study aims to determine the relationship between the socio-cultural environment, knowledge and attitudes of family planning acceptors about 3-month injectable contraception with re-visit compliance at PMB Yayah Asy'ariyah Gunung Cupu Village in 2022. Methods: This study used descriptive analytic with a cross sectional approach. The population of this study amounted to 30 acceptors of 3-month injectable contraception. Sampling technique using the total population. Results: The results showed that there was a significant relationship between socio-cultural and return-visit compliance, a p-value of 0.009 was obtained, knowledge and compliance with repeated visits obtained a p-value of 0.001, and there was no significant relationship between the environment and re-visit compliance, a P-value of 0.094 was obtained. Attitude with compliance with repeat visits obtained a p-value of 0.176. Conclusion: The socio-cultural factors and knowledge affect the compliance of repeat visits by 3-month injection contraception acceptors, while environmental factors and attitudes have no effect on adherence to 3-month injections contraception acceptor repeat visits. Suggestion: Respondents and their families are expected to be able to provide support to mothers in choosing, and determining the contraceptives to be used and the importance of compliance during repeat visits, so that the effectiveness of contraception can be maximized.   Keywords: Family Planning Acceptors; 3-month Injectable Contraception; Compliance.   Pendahuluan: KB adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan dan mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan suami istri. Cakupan peserta pengguna alat kontrasepsi di Indonesia pada tahun 2017 dengan jumlah pasangan usia subur (PUS) sebanyak 48.536.690 peserta, kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB di Indonesia yaitu metode kontrasepsi suntik. Kegagalan dari metode kontrasepsi suntik disebabkan karena keterlambatan akseptor untuk melakukan penyuntikan ulang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Lingkungan Sosial Budaya, Pengetahuan Serta Sikap Akseptor KB Tentang Kontrasepsi Suntik 3 Bulan dengan Kepatuhan Kunjungan Ulang di PMB Yayah Asy’ariyah Desa Gunungcupu tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini berjumlah 30 orang akseptor KB suntik 3 bulan. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan total populasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara sosial budaya dengan kepatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,009, pengetahuan dengan  kapatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,001, serta tidak ada hubungan yang signifikan antara lingkungan dengan kepatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,094, dan sikap dengan kapatuhan kunjungan ulang diperoleh nilai P Value 0,176. Simpulan: Faktor sosial budaya dan pengetahuan berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ulang akseptor KB suntik 3bulan, sedangkan faktor lingkungan dan sikap tidak berpengaruh terhadap kepatuhan kunjungan ulang akseptor KB suntik 3 bulan. Saran: Responden dan keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan kepada ibu dalam memilih, dan menentukan kontaspsi yang akan digunakan dan pentingnya kepatuhan saat kunjungan ulang, agar efektivitas kontasepsi dapat maksimal.

Page 1 of 1 | Total Record : 5