cover
Contact Name
Bagus Muhammad Ihsan
Contact Email
ihsanfillah24@gmail.com
Phone
+6285659274496
Journal Mail Official
ihsanfillah24@gmail.com
Editorial Address
Jl. Lapan, Siantan Hulu, Kec. Pontianak Utara, Kota Pontianak, Kalimantan Barat 78242-Kalimantan Barat-Kampus A Poltekkes Kemenkes Pontianak
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa
ISSN : 25979523     EISSN : 25979531     DOI : https://doi.org/10.30602/jlk
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of Medical Laboratory. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa particularly focuses on the main problems in the development of the Medical Laboratory health areas as follows: Toxicology Immunoserology Bacteriology Clinical Chemistry Parasitologi Micology And other related disciplines.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2017): November 2017" : 15 Documents clear
Pengaruh Latihan Fisik Lari Jarak Pendek terhadap Masa Pendarahan (Bleeding Time) Metode IVY Sri Tumpuk; Wahdaniah Wahdaniah
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.96

Abstract

Abstract: Running is very important to maintain and improve the physical quality of human resources. By doing physical exercise can reduce the risk factor for the occurrence of interference with the mechanism of hemostasis. One of the examination filters to see the abnormalities in the process of hemostasis is bleeding time. The purpose of this study was to determine the bleeding time before and after physical exercise (sprint), to determine the effect of physical exercise (sprint) to the bleeding time before and after physical exercise (sprint) done for 5 minutes. The research design used was Cross-Sectional and the sampling technique used was total population. The sample in this study were all students D-III 2nd grade of Medical Laboratory class of 2015 which amounted to 55 people. Examination of this bleeding time using Ivy method. Furthermore, the data were analyzed by simple linear regression test. Based on the results of the study, the average number before exercises was ±118 seconds (117.82 seconds), and after physical exercise (sprint) was ±161 seconds (160.91 seconds) with the difference between them was 43 seconds (43.09 seconds). Statistically obtained p = 0,000 (p <0,05) or there was significant influence between physical exercise (sprint) to bleeding time.Abstrak: Latihan lari sangat penting untuk menjaga dan meningkatkan kualitas fsik sumber daya manusia. Dengan melakukan latihan fsik dapat menurunkan faktor risiko terjadinya gangguan pada mekanisme homeostasis. Salah satu pemeriksaan penyaring untuk melihat kelainan pada proses homeostasis adalah masa perdarahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui masa perdarahan sebelum dan sesudah latihan fsik lari jarak pendek, mengetahui pengaruh latihan fsik lari terhadap masa perdarahan sebelum dan sesudah mthe elakukan latihan fsik lari selama 5 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross sectional dan teknik sampling yang digunakan adalah total populasi. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa/I D-III tingkat 2 Analis Kesehatan angkatan tahun 2015 yang berjumlah 55 orang. Pemeriksaan masa perdarahan ini menggunakan metode Ivy. Selanjutnya data dianalisis dengan uji regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan jumlah rata-rata sebelum melakukan latihan ± 118 detik (117,82 detik), dan setelah melakukan latihan fsik lari adalah ± 161 detik (160,91 detik) dengan selisih diantara keduanya sebesar 43 detik (43,09 detik). Secara statistik diperoleh nilai p=0,000 (p < 0,05) atau ada pengaruh yang signifkan antara latihan fsik lari terhadap masa perdarahan
Pengaruh Jumlah Pencucian Beras dengan Kadar Klorin Indah Purwaningsih; Supriyanto Supriyanto
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.102

Abstract

Abstract: Chlorine is a green halogen-shaped halogen gas at normal temperature and serves as bleach, stain remover and disinfectant. Chlorine is now widely used for bleaching rice so that less quality rice looks like quality rice. Chlorine is very toxic and causes mucous membrane irritation, highly reactive and very powerful oxidizer. The purpose of this research was to determine the difference of chlorine level in chlorinated rice washed once, twice and 3 times. The sample in this study amounted to 11 samples calculated by replication formula. Each sample was treated 3 times, ie 1 washed once, 2 washed twice and washed 3 times. The samples then examined by iodometric titration method. Based on the results of the study using ANOVA test, 11 samples obtained the average value of chlorine after washed once amount of 0.0176%, after washed twice amount of 0.0111%, and after washed 3 times amount of 0.0052% with the value significance p = 0.03 (p <0.05) at 95% confidence level which means there was a significant difference between chlorine levels in chlorinated rice washed once, twice and 3 times.Abstrak: Klorin merupakan unsur halogen berbentuk gas berwarna kuning kehijauan pada suhu normal danberfungsi sebagai pemutih, penghilang noda maupun desinfektan. Klorin sekarang banyak digunakan untuk bahan pemutih beras agar beras yang kurang berkualitas tampak seperti beras berkualitas. Klorin sangat toksik dan menyebabkan iritasi membran mukosa, sangat reaktif dan merupakan oksidator yang sangat kuat. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui perbedaan kadar klorin pada beras berklorin yang dicuci sebanyak 1 kali, 2 kali dan 3 kali. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 11 sampel yang dihitung dengan rumus replikasi. Setiap sampel diberi perlakuan sebanyak 3 kali, yaitu 1 kali pencucian, 2 kali pencucian dan 3 kali pencucian. Sampel penelitian kemudian diperiksa dengan metode titrasi iodometri. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji Anova secara komputerisasi terhadap 11 sampel diperoleh nilai rata-rata kadar klorin setelah 1 kali pencucian sebesar 0,0176 %, setelah 2 kali pencucian sebesar 0,0111 %, dan setelah 3 kali pencucian sebesar 0,0052 % dengan nilai signifkansi p = 0,03 (p<0,05) pada tingkat kepercayaan 95% yang artinya ada perbedaan yang bermakna antara kadar klorin pada beras berklorin yang dicuci sebanyak 1 kali, 2 kali dan 3 kali.
Efektifitas Air Rebusan Daun Pandan (Pandanus Amaryllifolius) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Salmonella Typhi dengan Metode Dillution Test Edy Suwandi; Sugito Sugito
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.95

Abstract

Abstract: Pandanus leaf is one of the plants that contain active substances that can function as antibacterial. Active substances contained in pandan leaves can be used as traditional medicine in curing various diseases. This study was aimed to determine the effectiveness of boiled water of pandan leaves (Pandanus amaryllifolius) in inhibiting the growth of Salmonella typhi bacteria with the Dilution Test Method. The research design used was quasi-experiment with sampling technique used in this research was purposive sampling. Handling the sample by boiling then boiled water was diluted according to the desired concentration. The research was conducted at the Bacteriology Laboratory of Medical Laboratory of Health Ministry of Health Polytechnic Pontianak on February-April 2013. Then, data was processed by Friedman statistic test. Based on the research results of the effectiveness of boiled water of pandan leaves (Pandanus amaryllifolius) in inhibiting the growth of Salmonella typhi bacteria with Dilution Test Method can be concluded that the minimum inhibitory content of boiling water of pandan leaves effectively inhibits Salmonella typhi bacteria growth at concentration 60%. The statistical results show p-value of 0.000 (p = 0,000 <0,05), it can be concluded that pandan leaves boiling water is effective in inhibiting the growth of Salmonella typhi bacteria with dilution test method. Abstrak: Daun pandan merupakan salah satu tanaman yang mengandung zat-zat aktif yang dapat berfungsi sebagai antibakteri. Zat aktif yang terkandung pada daun pandan dapat digunakan sebagai obat tradisional dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektiftas air rebusan daun pandan (Pandanus amaryllifolius) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan Metode Dillution Test. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan teknik pengambilan purposive sampling. Penanganan sampel dengan cara direbus kemudian air rebusan tersebut dilakukan pengenceran sesuai konsentrasi yang diinginkan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bakteriologi Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Pontianak pada bulan Februari - April 2013. Selanjutnya data diolah dengan Uji statistik Friedman. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar hambat minimum air rebusan daun pandan yang efektif menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi yaitu pada konsentrasi 60 %. Hasil statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,000 (p = 0,000 < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa air rebusan daun pandan efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan metode dillution test.
Analisis Kadar Asam Sianida pada Rebung Bambu Sebelum dan Sesudah Pengukusan Selama 10, 15, dan 20 Menit Metode Elektroda Selektif Ion Gervacia Jenny Ratnawati; Ratih Indrawati
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.89

Abstract

Abstract: Bamboo shoots is a kind of famous vegetables and consumed by people from various part of the world. Nutritional content of bamboo shoots are good but bamboo shoots also contain HCN (Cyanide Acid) which is dangerous if not treated properly. There are some ways to reduce the level of cyanide acid in the bamboo shoot, one of them is steaming technique. The purpose of this research was to know the difference of cyanide acid level in bamboo shoots before and after 10, 15, and 20 minutes steaming treatment. The research design used was quasi-experiment on 24 chosen samples with purposive sampling. The method used was ion selective electrode method and analyzed with ANOVA test. Based on the result of research obtained that the average of cyanide acid in bamboo shoots before steaming amount as 102,4983 mg/kg, after 10 minutes steaming was 67,8983 mg/kg, after 15 minutes steaming was 51,3617 mg/kg, and after 20 minutes steaming was 40.8283 mg/kg. The result of ANOVA test obtained p = 0.0001 (p <0,05) which showed that there was a difference of cyanide acid level in the bamboo shoot before and after 10, 15, and 20 minutes-steaming.Abstrak: Rebung merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal dan dikonsumsi oleh manusia di berbagai belahan dunia. Kandungan gizi yang dimiliki rebung cukup baik akan tetapi rebung juga mengandung HCN (Asam Sianida) yang berbahaya jika tidak diolah dengan baik. Ada beberapa cara untuk menurunkan kadar asam sianida pada rebung salah satunya adalah teknik pengukusan. Tujuan  penelitian ini yaitu untuk mengetahui perbedaan kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum dan setelah pengukusan selama 10, 15, dan 20 menit. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu pada 24 sampel penelitian diperoleh dengan purposive sampling. Metode yang digunakan adalah metode elektroda selektif ion dan dianalisis menggunakan uji Anova. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil rata-rata kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum pengukusan adalah 102,4983 mg/kg, setelah pengukusan selama 10 menit adalah 67,8983 mg/kg, setelah pengukusan selama 15 menit adalah 51,3617 mg/kg, dan setelah pengukusan selama 20 menit adalah 40,8283 mg/kg. Hasil uji anova didapatkan hasil p=0,0001 (p < 0,05) dimana menunjukkan terdapat perbedaan kadar asam sianida pada rebung bambu sebelum dan setelah pengukusan selama 10, 15, dan 20 menit.
Penggunaan Antikoagulan Naf pada Pengukuran Kadar Glukosa Darah Selama 2 Jam Etiek Nurhayati; Suwono Suwono; Everiandi Nur Fiki
Jurnal Laboratorium Khatulistiwa Vol 1, No 1 (2017): November 2017
Publisher : poltekkes kemenkes pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jlk.v1i1.93

Abstract

Abstract: NaF or Sodium Fluoride are anticoagulants which often used for sampling tests of blood glucose levels because NaF is considered to inhibit the process of glycolysis. The purpose of this study was to determine the difference of blood glucose level that delayed for 2 hours using NaF anticoagulant and without using NaF anticoagulant at students of Medical Laboratory Pontianak. This research method was in the form of Cross-Sectional research. Sampling technique by random sampling with 39 people in total. Glucose examination method used was a method of glucose oxidase using blood serum. The result was the average value of blood glucose level using anticoagulant NaF was 80,256 mg/dl. While the average of blood glucose levels without the use of NaF anticoagulants was 73,589 mg/dl. The data obtained were analyzed statistically using paired t-test result (p = 0,001 <a 0,05). It can be concluded that there was a difference of blood glucose level when using NaF anticoagulant and without using NaF anticoagulant on students of Medical Laboratory Pontianak.Abstrak: Antikoagulan NaF atau Natrium Flourida adalah antikoagulan yang sering digunakan untuk sampling bahan pemeriksaan kadar glukosa darah, karena NaF dianggap mampu menghambat proses glikolisis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kadar glukosa darah sewaktu yang ditunda selama 2 jam menggunakan antikoagulan NaF dan tanpa menggunakan antikoagulan NaF pada mahasiswa/I Analis Kesehatan Pontianak. Desain penelitian menggunakana Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel dengan cara simple random sampling dengan jumlah 39 orang. Metode pemeriksaan glukosa yang digunakan adalah metode glucose oxidase menggunakan sthe erum darah Hasil penelitian adalah rata–rata nilai kadar glukosa darah yang menggunakan antikoagulan NaF adalah 80,256 mg/dl. Sedangkan rata-rata kadar glukosa darah yang tanpa menggunakan antikoagulan NaF adalah 73,589 mg/dl. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji t-berpasangan didapatkan hasil (p = 0,001<a 0,05). Dapat disimpulkan terdapat perbedaan kadar glukosa darah sewaktu menggunakan antikoagulan NaF dan tanpa menggunakan antikoagulan NaF pada mahasiswa /i Analis Kesehatan Pontianak. 

Page 2 of 2 | Total Record : 15