Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan is Published by CV. Edu Tech Jaya. This journal aims to publish and disseminate original works and current issues on the subject of research and studies in the field of education. Articles published in journals are the result of research or ideas in the field of education including educational innovation, Studies in Social Education, Studies in Science Education, Education Management, Teaching & Learning, Educational Quality, Educational Leadership, Educational Technology, Language Education, Educational Philosophy, Education religion carried out by researchers, teachers, lecturers, and students. Detailed information for loading articles and article instructions are provided in each issue.
Articles
60 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2 No 2 (2024)"
:
60 Documents
clear
Peenerapan Model Pembelajaran Talking Stick Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Saragih, Rohajayani
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Guru sebagai seorang pendidik harus bisa memberi pengaruh yang positif kepada peserta didiknya. Oleh sebab itu seorang pendidik hendaknya memiliki berbagai model pembelajaran yang cukup efektif agar materi yang diajarkan dapat diterima dengan baik oleh peserta didik dan dapat diamalkan semaksimal mungkin dalam kehidupan sehari-sehari. Model pembelajaran Talking Stick dapat diterapkan untuk segala jenjang pendidikan terutama jenjang Sekolah Dasar. Kelebihan Talking Stick yaitu: Mampu menguji kesiapan siswa, Melatih keterampilan mereka dalam membaca dan memahami materi pelajaran dengan cepat, Mengajak mereka untuk terus siap dalam situasi apapun
Pengaruh Model pembelajaran kooperatif tipe STAD Terhadap Hasil Belajar
Rahayu, Sri
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran yang menggunakan sistem berkelompok yang bersifat umum, sehingga dapat digunakan untuk bidang studi di semua tingkatan, baik di jenjang sekolah dasar maupun sekolah menengah, serta merupakan model yang paling sederhana dan mudah dilaksanakan. Sedangkan materi yang relevan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) khususnya matematika adalah materi-materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar dan tidak memerlukan penalaran yang tinggi dan juga hapalan. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini akan sangat berguna untuk keadaan siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, mengerjakan soal-soal dan saat pelajaran berlangsung siswa masih bersifat pasif dan belum begitu aktif, sehingga siswa akan malu bertanya maupun beraktifitas untuk menjawab pertanyaan dari guru dan menanggapi pelajaran yang diberikan. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan model pembelajaran kooperatif STAD. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat tepat untuk diterapkan pada siswa yang memiliki karakteristik heterogen, baik dari segi kemampuan, jenis kelamin, atau karakteristik yang lain.
Peningkatan Prestasi Belajar Peserta Didik Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Time Token Pada Mata Pokok Perilaku Terpuji
Ridwan, Ramadhani
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penerapan model pembelajaran time token dilaksanakan dengan cara membagikan beberapa kupon untuk seluruh siswa dengan nilai 10 atau 15 detik waktu bicara. Setiap kali berbicara siswa harus menyerahkan satu kupon kepada guru. Bagi siswa yang telah habis kuponnya tidak diperkenankan untuk berbicara lagi. Time Token adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif. Siswa dibentuk ke dalam kelompok belajar, yang dalam pembelajaran ini mengajarkan keterampilan sosial untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau menghindarkan siswa diam sama sekali dalam berdiskusi. Guru memberikan materi pembelajaran dan selanjutnya siswa bekerja dalam masing-masing untuk memastikan semua anggota kelompok telah menguasai materi pembelajaran yang diberikan. Kemudian, siswa melaksanakan tes atas materi yang diberikan dan mereka harus mengerjakan sendiri tanpa bantuan siswa lainnya.Model pembelajaran ini mengajak siswa aktif sehingga tepat digunakan dalam pembelajaran berbicara dimana pembelajaran ini benar-benar mengajak siswa untuk aktif dan belajar berbicara di depan umum, mengungkapkan pendapatnya tanpa harus merasa takut dan malu. Model ini diperkenalkan oleh Arends pada tahun 1998. Pembelajaran ini merupakan struktur yang dapat digunakan untuk mengajar keterampilan sosial. Selain itu, juga untuk menghindari siswa mendominasi pembelajaran atau siswa diam sama sekali
Pengaruh Pembelajaran Konvensional Pada Materi Shalat Jama’ dan Qosar
Daulay, Nurhajizah
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pola pembelajaran konvensional atau sering disebut dengan pendekatan pembelajaran klasik adalah sebuah pola pembelajaran yang menekankan pada otoritas pendidik dalam pembelajaran. Pola pembelajaran ini merupakan pola pembelajaran yang masih banyak dikritik saat ini. Namun demikian, pola pembelajaran ini masih menjadi pola pembelajaran yang paling banyak dipakai para pendidik. Pembelajaran pada metode konvensional, peserta didik lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan kelas dan melaksanakan tugas bila guru memberikan latihan soal-soal. pembelajaran yang efektif dan aman bagi siswa Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran yang umum dilakukan dalam proses pembelajaran, yakni dilakukan dengan cara pendidik menjelaskan dan murid mendengarkan. Model pembelajaran ini banyak dilakukan di negara negara yang belum maju atau belum memiliki sarana prasarana yang lengkap, namun tentu saja terdapat kelebihan dan kelemahannya. di mana kegiatan pembelajaran berpusat pada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran).
Pengaruh Model Kooperatif Tipe TGT Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Akhlak Terpuji
Usman, Usman
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembelajaran merupakan petunjuk strategi pembelajaran yang didesain untuk melaksanakan suatu tujuan pembelajaran tertentu. Model pembelajaran berbeda dari strategi pengajaran pada umumnya, dalam hal ini suatu model pembelajaran didesain untuk mencapai tujuan tertentu. Pemakaian model-model tersebut menghendaki suatu kemampuan untuk menetapkan hasil belajar siswa yang tepat, sehingga model tertentu dapat dipilih agar sesuai tujuan tertentu. Model pembelajaran hanya merupakan alat untuk membantu guru mengajar dengan cara yang lebih efektif dengan membuat pengajaran lebih sistematis dan efisien.Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan Model Team Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda. mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut.
Peranan Agama Dalam Mengajarkan Nilai-Nilai Moral Kebaikan
Hawa, Siti
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Agama mempunyai peran yang sangat penting dalam hidup manusia tidak hanya untuk akhirat saja, tetapi mengatur bagaimana seharusnya manusia hidup didunia. Agama mangajarkan nilai-nilai moral dan mengajak manusia kepada kebenaran. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dikemukakan bahwa pengajaran agama adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran agama islam, sedangkan pengajaran agama berarti “memberikan pengetahuan kepada anak agar mempunyai ilmu pengetahuan agama.”Dalam peroses belajar mengajar maka upaya yang paling dominan adalah pembelajaran. Guru dan siswa bersama-sama aktif dalam menentukan arah, tujuan dan kebijaksanaan pembelajaran, dengan demikan proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efesien.
Penerapan Strategi Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Devita, Devi Maya
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dampak pembelajaran menjadi lebih bermakna. Konstruktivisme berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern Belajar bermakna berarti menginstrksi informasi dalam struktur penelitian ini, Artinya pembelajaran tidak hanya mendengarkan dari guru saja akan tetapi siswa harus bisa mengaitkan dengan pengalaman-pengalaman pribadinya dengan informasi-informasi yang dia dapatkan baik dari temanya, tetangganya, keluarga, surat kabar, televisi, dan lain sebagainya. Keempat, pembelajaran memiliki kebebasan dalam belajar. Maksudnya siswa bebas mengaitkan ilmu-ilmu yang dia dapatkan baik di lingkungannya dengan yang di sekolah sehingga tercipta konsep yang diharapkannya. Kelima, perbedaan individual terukur dan di hargai. Keenam, guru berfikir proses membina pengetahuan baru, siswa berfikir untuk menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan.
Konsep Pengelolaan Lingkungan Belajar Anak Melalui Kegiatan Indoor dan Outdoor di SDN 28 Bilah Hulu
Siregar, Juriani
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Lingkungan belajar adalah salah satu faktor terpenting terwujudnya pembelajaran. Suasana yang kondusif akan sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah. Suasana yang tenang akan mendorong anak mudah berkonsentrasi dalam pembelajaran. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep pengelolaan lingkungan belajar anak melalui kegiatan indoor dan outdoor di SDN 28 Bilah Hulu?. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsep pengelolaan lingkungan belajar anak melalui kegiatan indoor dan outdoor di SDN 28 Bilah Hulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pengelolaan lingkungan belajar anak melalui kegiatan indoor dan outdoor di SDN 28 Bilah Hulu. dilakukan melalui bermain. Pada kegiatan indoor permainan yang dilakukan yaitu mewarwani buah apel, dan kantong bilangan. Sedangkan pada kegiatan outdoor permainan yang dilakukan yaitu permainan balon terjepit dan tutup gelas. Melalui bermain dapat mengembangkankan potensi yang dimiliki anak. Maka dari itu pengelolaan lingkungan belajar indoor dan outdoor mengutamkan keamanan, kenyamanan dan mutu.
Pengaruh Pembelajaran Konvensional Sikap Guru Untuk Menghadapi Siswa Yang Menyontek di Kelas III Pada Anak Sekolah Dasar di SD Negeri 015921 Kedai Ledang
Yunita Siregar, Fitri
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perilaku menyontek menjadi fenomena yang perlu diperhatikan dalam pendidikan. Perilaku menyontek dapat terjadi disemua jenjang pendidikan baik sekolah dasar, sekolah menengah, bahkan perguran tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku menyontek siswa sekolah dasar yang meliputi: alasan siswa sekolah dasar menyontek, cara siswa dasar menyontek dan frekuensi siswa sekolah dasar dalam menyontek. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan sumber data berasal dari wawancara dan teknik penjamin keabsahan data menggunakan triangulasi. Subjek berasal dari kelas III dengan pengambilan sampel informal secara snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan perilaku menyontek disekolah dasar masih terjadi dengan alasan soal terlalu sulit, tidak bisa mengerjakan, takut nilai jelek. cara yang digunakan siswa sekolah dasar dalam melakukan praktik menyontek berbeda-beda meliputi: kode tangan, melihat jawaban teman, membawa catatan kecil dan menulis diatas meja, dan saling melempar penghapus. Frekuensi menyontek siswa sekolah dasar masih bervarariasi, umumnya dilakukan saat ujian berlangsung, namun ada juga yang dilakukanya saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Upaya Meningkatkan Aspek Perkembangan Bahasa Melalui Media Magic Box Pada Anak Usia 8 Tahun di SDN 12 Bilah Hulu
Rivai, Syahbbrina
Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan (JITK) Vol 2 No 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran magic box dalam meningkatkan aspek perkembangan bahasa pada materi hewan pada anak 8 tahun di SDN 12 Bilah Hulu. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Dari data yang dihasilkan melalui observasi, wawancara dan pemberian pre test. Adapun penelitian ini dilakukan di SDN 12 Bilah Hulu Dengan jumlah anak sebanyak 13 anak yang terdiri dari 10 laki laki dan 3 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa anak pada materi mengenal hewan meningkat setelah adanya tindakan dengan menggunakan media magic box. Pada saat dilakukan pre test di pra siklus, persentase perkembangan bahasa anak yaitu 38,46% atau 5 orang yang mulai berkembang sementara itu 61,53% atau 8 orang lainnya belum berkembang. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus 1 yaitu sebanyak 1 anak memperoleh kriteria perkembangan sangat baik dengan persentase 7,69% dan berkembang sesuai harapan sebanyak 4 orang dengan persentase 30,76% sementara 8 orang anak memperoleh kriteria mulai berkembang dengan persentase 61,53%. Kemudian pada siklus 2 mengalami peningkatan yaitu sebanyak 11 anak memperoleh kriteria berkembang sangat baik dengan persentase 84,61% dan 2 anak memperoleh kriteria berkembang sesuai harapan dengan persentase 15,38%. Dengan demikian media magic box dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak usia 8 tahun di SDN 12 Bilah Hulu Dengan demikian media magic box layak digunakan anak.