cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2024)" : 33 Documents clear
Implementasi Gaya Vokal Broadway Pada Lagu "My Funny Valentine" Simbolon, Joel Parulian Budianto; Setiarini, Agnes Tika; Latif, Bakhrudin
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12044

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengimplementasikan gaya vokal broadway pada lagu My Funny Valentine. Pada umumnya gaya vokal broadway merupakan gaya vokal klasik yang bergenre jazz. Namun dalam penelitian ini, peneliti memilih karakteristik story telling dalam pengimplementasian lagu My Funny Valentine. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis dari sudut pandang ilmu bentuk musik dan komposisi. Hasil dari penelitian ini pengimplementasian lagu dengan gaya vokal broadway sering melibatkan penekanan pada ekspresi emosional dan story telling yang kuat dengan interpretasi yang mendalam terhadap lagu My Funny Valentine. Penulis menggunakan beberapa pedoman dalam mengumpulkan data, seperti penelusuran situs-situs internet terkait info pencipta, buku yang berhubungan dengan biografi dan lagu My Funny Valentine. Proses penerapan story telling dalam lagu My Funny Valentine diawali dengan pengetahuan yang meliputi intonasi yang tepat, pernafasan yang terkontrol, penekanan dan dinamika yang tepat, serta ekspresi emosional bagi penyanyi. Kemudian analisis bagian lagu yang ingin diceritakan dan melakukan pelatihan. Proses ini mendukung implementasi yang mendalam sehingga pesan dari lagu dan cerita yang ingin disampaikan dapat tersampaikan dengan baik.Kata kunci: gaya vokal, implementasi, BroadwayAbstractThe purpose of this research is to implement the broadway vocal style in the song My Funny Valentine. In general, the broadway vocal style is a classical vocal style with a jazz genre. However, in this research, the researcher chose story telling characteristics in implementing the song My Funny Valentine. Researchers used qualitative research methods with an analytical approach from the perspective of the science of musical form and composition. The results of this research are that implementing songs with a broadway vocal style often involves an emphasis on emotional expression and strong story telling with an in-depth interpretation of the song My Funny Valentine. The author used several guidelines in collecting data, such as searching internet sites related to creator information, books related to biographies, and the song My Funny Valentine. The process of implementing story telling in the song My Funny Valentine begins with knowledge that icludes the correct intonation, controlled breathing, accurate emphasis and dynamic, also emotional expression of a singer. Then analyzing the part of the song you want to tell and conducting training. This process supports in-depth implementation so that the message of the song and story that you want to convey can be conveyed well.keyword: vocal style, implementation, broadway
Adaptasi Gaya Vokal Jazz Dalam Genre Fusion Rock Pada Lagu “Moonlight Serenade” Fortuna, Vialinda Dewi; Setiarini, Agnes Tika; Raharjo, Rahmat
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12000

Abstract

Penelitian tugas akhir ini merupakan respons ketertarikan penulis terhadap kurangnya eksplorasi dalam dunia musik, khususnya pada lagu jazz dengan sentuhan genre rock. Keberagaman genre dalam musik memiliki potensi eksplorasi yang luar biasa, dan diperlukan sesuatu yang baru dan inovatif ke dalam dunia musik yang selama ini terbiasa dengan batasan-batasan dalam genre.Penulis inginmenerapkan ekslplorasi ini berupa penggarapan lagu dengan genre fusion rock. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, dengan pengumpulan data berupa sumber pustaka,diskografi, dan eksplorasi. Penulis bereksplorasi mengenai referensi musik yang akan dibawakan, dan mempelajari berbagai teknik yang akan digunakan. Hasil penelitan pada penyajian lagu Moonlight Serenade dalam genre fusion jazz rockdiharapkan menghasilkan pengalaman musik yang baru dan unik. Kolaborasi antara teknik vokal jazz dan rock menciptakan suasana dinamis yang memadukan kelembutan dengan keagresifan, menciptakan harmoni yang luar biasa. Penggabungan elemen-elemen improvisasi jazz dengan kekuatan dan dinamika rock memberikan dimensi yang kompleks pada interpretasi lagu ini.Kata kunci: Moonlight Serenade, Fusion jazz rock, adaptasi gaya  AbstractThe final project research is a response to the lack of exploration in the world of music, especially in the phenomenon of jazz songs with a touch of the rock genre. The diversity of genres in music has extraordinary exploration potential, and something new and innovative is needed in the music world that has been accustomed to limitations within genres. In this research, the method used is qualitative research, with data collection consisting of literature sources, discography, and exploration. The research results on the presentation of the song "Moonlight Serenade” in the fusion jazz rock genre are expected to produce a new and unique musical experience. The collaboration between jazz and rock vocal techniques creates a dynamic atmosphere that blends gentleness with aggressiveness, creating remarkable harmony. Combining jazz improvisation elements with the strength and dynamics of rock adds a complex dimension to the interpretation of this song.Keywords: Moonlight Serenade, Fusion jazz rock, style adaptation
Kajian Semiotika Teater Pada Pertunjukan Nurbaya Oleh Indonesia Kaya Sundy, Agnestasya Leony; Sahid, Nur; Arisona, Nanang
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12369

Abstract

AbstrakSerial musikal pertunjukan Nurbaya merupakan salah satu karya drama yang disuguhkan secara Virtual. Serial musikal Nurbaya digarap Garin Nugroho bekerjasama dengan tim Indonesia Kaya dan para penulis-penulis baru. Pertunjukan Nurbaya ini terdapat beberapa modifikasi unik yang menampilkan tanda untuk menunjukan makna tertentu. Oleh karena itu peneliti bertujuan untuk menganalisis pertunjukan dengan tanda yang terdapat dalam pertunjukan teatrikal tersebut menggunakan metode penelitian semiotika untuk mengkaji pertunjukan Nurbaya. Hasil analisis semiotika menunjukan bahwa Tim Indonesia Kaya menghasilkan sebuah karya anak bangsa Indonesia yang kreatif. Sekaligus memamerkan tradisi, adat dan budaya Minang lewat Channel YouTube Indonesia Kaya. Jalan cerita yang modern membuat pertunjukan ini semakin spektakuler dan menarik sehingga dapat memperkenalkan budaya secara meluas yang bisa dilihat oleh siapapun dan dapat ditonton dimanapun.
Eksistensi Orkes Keroncong Tresnawara di Yogyakarta Purba, Ravi Tesalonika; Purba, Ezra Deardo; Adi Nugroho, Titis Setyono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.10870

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena musik keroncong yang ada di Yogyakarta. Dalam perkembangannya musik keroncong sampai pada tiga bentuk pakem yaitu keroncong asli, langgam, dan stambul dengan bentuk formasi umum yaitu flute, biola, cak (banyo), cuk (ukulele), gitar, cello, dan bass. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi Orkes Keroncong Tresnawara di Yogyakarta ditinjau dari aspek musikal dan non-musikal dengan beberapa faktor didalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberi manfaat praktis yaitu agar masyarakat umum dapat lebih mengenal serta ikut dalam melestarikan musik keroncong dan manfaat teoritis yaitu dapat menjadi ilmu pengetahuan, referensi, atau acuan dalam melakukan penelitian sejenis berikutnya. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dari Sugiyono dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dokumentasi, pengolahan data dan analisis data. Penelitian ini menggunakan konsep eksistensi dan kreativitas sebagai landasan teorinya. Pembahasan dalam penelitian ini diperoleh dari data verbatim hasil wawancara terpusat pada narasumber yang kemudian dikembangkan menjadi karya tulis berupa paragraf-paragraf agar lebih mudah untuk dipahami. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Orkes Keroncong Tresnawara berhasil untuk tetap eksis di Yogyakarta karena didukung oleh dua aspek, yaitu aspek musikal yang meliputi permainan instrumen, pembawaan vokal, dan perluasan instrumen juga disertai dengan aspek non-musikal yang meliputi visual pemain musik dan manajemen kelompok.Kata kunci: Eksistensi, Orkes Keroncong Tresnawara, Musikal non-musikal.
Pemeranan Tokoh Clara dalam Naskah Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) Karya Seno Gumira Ajidarma Sari, Intan Permata; Sumarno, Rano; Wibono, Joanes Catur
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12558

Abstract

Jakarta 2039 (40 Tahun 9 Bulan Setelah 13-14 Mei 1998) karya Seno Gumira Ajidarma mengisahkan tentang tindakan rasisme dan diskriminasi yang dialami oleh masyarakat etnis Tionghoa khususnya perempuan. Tragedi ini terjadi pada Mei 1998, dimana tragedi ini terdapat penjarahan, kekerasan, dan pemerkosaan terhadap masyarakat etnis Tionghoa yang dipicu oleh krisis moneter pada akhir masa pemerintahan Orde Baru. Argumentasi utama dari penciptaan ini berdasar pada peristiwa kekerasan yang menimpa perempuan etnis Tionghoa pada Mei 1998. Penciptaan ini berfokus pada kronologi kejadian dan trauma yang dialami oleh tokoh bernama Clara yang diakibatkan oleh pemerkosaan. Penciptaan karakter tokoh Clara dengan menggunakan pendekatan akting representasi dan menggabungkan panggung teater dengan teknologi media berbentuk imersif. Playing the Character of Clara in the Script “Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After May 13-14, 1998)” by Seno Gumira AjidarmaThe text "Jakarta 2039 (40 Years 9 Months After 13-14 May 1998)" by Seno Gumira Ajidarma tells the story of the human tragedy, racism and discrimination experienced by the ethnic Chinese community, especially women. This tragedy occurred in May 1998, where this tragedy involved looting, violence and fraud against the ethnic Chinese community which was triggered by the monetary crisis at the end of the New Order government. The main argument of this article is based on the violent incident that befell an ethnic Chinese woman in May 1998. The case in this article focuses on the chronology of events and the trauma experienced by a character named Clara which was caused by this human tragedy. The character creation of Clara uses a representational acting approach and combines the theater stage with immersive technological media.
Bentuk Penyajian Tari Sekapur Sirih di Sanggar Sekintang Dayo Jambi wati, anggun kartika
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.10701

Abstract

The Sekapur Sirih dance originates from Jambi, this dance is a dance to welcome honored guests who come to Jambi. The Sekapur Sirih dance is a group dance danced by 10 female dancers and 2 male dancers, in which 9 female dancers dance, 1 female carrying a cerano and 2 males carrying umbrellas and spears. The Sekapur Sirih dance is only shown at official events to welcome guests. The Sekapur Sirih dance is taken from the Jambi ivory custom of decorating and concocting Sirih.                There are many Sekapur sirih dances in Jambi, but there are many differences in the way they are performed, the music, even the costumes. The Sekapur Sirih dance at the Sekintang Dayo Studio has not changed at all, more precisely, there have been many developments from before, where the Sekapur Sirih dance at the Sekintang Dayo Studio was often performed when guests of honor came to Jambi.                To solve the problem, this study uses the approach of Y. Sumandiyo Hadi's book Text and Context Studies. The textual approach looks at dance from the form of presentation that can be seen from the performers, the theme, movement, accompaniment, make-up and clothing, the place of performance, while the contextual approach looks at the relationship between dance and the supporting community. This approach is to peel the problem. The accompaniment of the Sekapur Sirih Dance uses Jambi regional songs with musical instruments, namely Rebana, Accordeon, Tambourine, Guitar, Violin. The make-up used is beautiful makeup and uses typical Jambi clothing.
Bentuk Penyajian Kesenian Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara di Kaliwanglu, Harjobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Ramadhanti, Yasni; Supriyanti, Supriyanti; Astuti, Budi
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.11908

Abstract

Pada penelitian ini menganalisis bagaimana bentuk penyajian kesenian Jaranan Sentherewe pada Sanggar Kenya Mayangkara menggunakan pendekatan koreografi dengan menggunakan sumber acuan dari buku Y. Sumandiyo Hadi yang berjudul Kajian Tari: Teks dan Konteks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penyajian Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara dibagi menjadi sembilan bagian berdasarkan alur cerita, bagian pra acara yaitu bagian do’a dan sesaji, maju pambuka, buko mlebet, kiprahan celeng, dangdutan pertama, jogedan pertama, jogedan kedua, dangdutan kedua, perangan, dan ndadi. Pada Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara ditarikan Sembilan penari dengan gerak rampak, sigrak, dan tegas serta diiringi oleh Iringan gamelan laras pelog dengan pola iringan langgam dan lancaran yang dipadukan dengan dangdutan dan campursari.  Analisis penari putri dalam Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara memiliki karakter kuat dan tegas dengan postur tubuh yang proposional. Analisis ruang berkaitan level, pola lantai, dan arah hadap bervariasi. Analisis waktu meliputi tempo, ritme, dan durasi yang menjadi penentu lamanya pertunjukan berlangsung. Berdasarkan sumber acuan, Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara dianalisis secara teks meliputi analisis bentuk gerak, teknik gerak, gaya gerak, penari, struktur keruangan, struktur waktu dan analisis konteks meliputi konteks kepercayaan, nilai pendidikan, dan pariwisata. Gaya yang muncul kemudian menjadi karya jaranan kreasi yang menggunakan teknik dasar gerak tubuh, tangan, kaki, kepala khas Jawa Timuran yang memadukan gerak Jatilan Yogyakarta. Jaranan Sentherewe Kenya Mayangkara merupakan salah satu bentuk karya seni Jaranan Sentherewe kreasi yang muncul dari gagasan masyarakat yang memiliki ciri khas bentuk dan gaya penampilan yang spesifik.
Metode Pelatihan Instrumen Baritone Horn Anggota Baru Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta Patmawati, Patmawati; Kaestri, Veronica Yoni; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12463

Abstract

Penelitian ini menitik beratkan pada metode pelatihan anggota baru instrumen baritone horn Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saraswati Drum Corps merupakan salah satu bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa dibawah Institusi Pendidikan yaitu Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pelatihan yang digunakan dalam pelatihan beserta hasilnya. Objek penelitian adalah delapan anggota baru yang tidak semua merupakan mahasiswa musik namun dari mahasiswa Fakultas Seni Rupa, anggota umum dari Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode demonstrasi. Metode demontrasi dalam pelatihan tersebut adalah pelatih memberikan contoh kemudian ditirukan. Dalam metode demontstrasi selain memberikan contoh juga menerapkan ceramah dan tanya jawab dalam proses pelatihan. Hasil dari pelatihan mengunakan metode demontrasi adalah pemain dapat fokus dalam pelatihan dan dapat memainkan karya musik dalam suatu pementasan.Kata kunci: Metode Pelatihan, Baritone Horn, Saraswati Drum CorpsThis research focuses on the training method of new members of the baritone horn instrument Saraswati Drum Corps Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saraswati Drum Corps is one of the Student Activity Units under the Educational Institution, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This research aims to find out the training methods used in the training and the results. The object of the research are eight new members who are not all music students but from students of the Faculty of Fine Arts, general members from junior high school and high school. The method used is descriptive qualitative method. The results of this study can be concluded that the method used in this training is the demonstration method. The demonstration method in the training is that the trainer gives an example and then imitates it. In addition to giving examples, the demonstration method also applies lectures and questions and answers in the training process. The result of the training using the demonstration method is that players can focus on training and can play music in a performance.Keywords: Training method, Baritone horn, Saraswati drum corps
Potensi Non-Fungible Token (NFT) Dalam Industri Musik Di Era Digital Saputera, Alex Januar; Akbar, Mohamad Alfiah; Jayantoro, Setyawan
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12090

Abstract

Pada era digital musisi mendistribusikan musiknya pada layanan streaming musik. Namun musisi belum cukup puas terhadap pendapatan royalti yang dibagikan dari layanan tersebut, karena terlalu kecil dan permasalahan royalti yang dianggap kurang transparan. Kemunculan Non-Fungible Token (NFT) dianggap oleh sebagian musisi dapat memecahkan persoalan royalti dan transparansi dalam industri musik, serta menghilangkan pihak ketiga seperti label dan agregator. Selain itu Non-Fungible Token (NFT) memberi banyak potensi dalam industri musik di era WEB 3.0. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi NFT dalam industri musik pada era digital. Subjek dalam penelitian ini adalah pelaku industri musik yang sudah mengadopsi NFT. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan melakukan wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini NFT dapat memecahkan persoalan royalti, transparansi, dan melengkapi distribusi sebelumnya. Adopsi NFT dalam industri musik juga memberi banyak peluang dan potensi yang berhubungan dengan WEB 3.0, seperti pengarsipan, sistem tiket, utilitas, GameFi, kolaborasi antar seniman dan sebagai lisensi musik. Namun juga terdapat tantangan dan kedala yang menghambat NFT di adopsi sepenuhnya dalam industri musik.Kata kunci: Industri Musik, Non-Fungible Token (NFT), Era DigitalIn the digital era, musicians distribute their music on streaming services. However, musicians are not quite satisfied with the royalty income distributed from these services, because it is too small and the royalty problem is considered less transparent. The emergence of Non-Fungible Tokens (NFT) is considered by some musicians to solve the problem of royalties and transparency in the music industry, and eliminate third parties such as labels and aggregators. In addition, Non-Fungible Tokens (NFTs) provide a lot of potential in music industry especially in the WEB 3.0 era. This study aims to determine the potential of NFTs in the music industry in the digital era. The subjects in this study are music industry players who have adopted NFTs. The research method used is qualitative research with a phenomenological approach, data collection techniques carried out by observation, conducting interviews, and documentation. Results shows that NFTs can solve the problem of royalties, transparency, and complement the previous distribution. The adoption of NFTs in the music industry also provides many opportunities and potentials related to WEB 3.0, such as archiving, ticketing systems, utilities, GameFi, collaboration between artists and as a music license. However, there are also challenges and obstacles that prevent NFTs from being fully adopted in the music industry.Keywords: Music Industry, Non-Fungible Token (NFT), Digital Era
Analisis Bentuk dan Makna Lirik Lagu Kekuatan Serta Penghiburan Karya Caroline Sandell Berg Sormin, Regen Aprianto; Pasaribu, Rianti Mardalena; Purba, Ezra Deardo
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.13673

Abstract

AbastrakArtikel ini meninjau karya lagu berjudul Kekuatan serta Penghiburan dari dimensi musikologis pada unsur musiknya serta turut menyentuh wilayah linguistik pada tahapan peninjauan terhadap lirik lagunya. Penulis melibatkan analisis struktural untuk mengetahui bentuk lagu yang digunakan oleh sang penggubah karya, begitu juga melibatkan kaca mata linguistik yakni semiotika untuk membedah makna yang terkandung dalam lagu Kekuatan serta Penghiburan yang diciptakan oleh Caroline Sandel Berg. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan langkah pengumpulan data meliputi studi pustaka, studi lapangan, dokumenasi, wawancara, analisis skor, dan interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian, lagu Kekuatan serta Penghiburan yang dianalisis menggunakan bentuk three part song form. Hasil telaah semiotika menunjukan bahwa lagu ini bermakna sebagai pelipur lara bagi umat yang sedang berduka. Selain itu, lagu ini turut mengajak umat-Nya untuk percaya bahwa sukacita akan datang setelah duka cita berlalu.Kata kunci: Analisis Bentuk, Kekuatan serta Peghiburan, Musikologi, SemiotikaAnalysis of Form and Meaning of Song Lyrics ‘Kekuatan Serta Penghiburan’ by Caroline Sandell BergThis article analyses the song "Kekuatan serta Penghiburan" (Strength and Comfort) from a musicological perspective. The author employs structural analysis to determine the song form used by the composer, Caroline Sandell Berg. Additionally, a semiotic lens is applied to delve into the meaning embedded within this hymn. This research utilizes a qualitative descriptive approach, with data collection methods including literature review, field study, documentation, interviews, score analysis, and data interpretation. Based on the research findings, "Kekuatan serta Penghiburan" is structured in a three-part song form. Semiotic analysis reveals that the song serves as a source of solace for those who are grieving. Furthermore, it encourages listeners to believe in the promise of joy following sorrow.Keywords: Form analysis, Kekuatan serta Penghiburan, Musicology, Semiotics  

Page 3 of 4 | Total Record : 33