cover
Contact Name
Kurnia Rahmad Dhani
Contact Email
kurniadhani@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
idea.jurnalisiyogyakarta@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jl. Parangtritis Km. 6,5 Kotak Pos 1210, Glondong, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55001
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IDEA: Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : 14116472     EISSN : -     DOI : -
IDEA draws its contributions from academics and practitioner-researchers at the interface of the performing arts. It acts as a forum for critical study, innovative practice, and creative pedagogy, addressing themes that may be domain-specific (e.g., dance, music, theatre, puppets, karawitan, ethnomusicology, culture and arts) or situated at the convergence of two or more disciplines. The journal invites original, significant, and rigorous inquiry into all subjects within or across disciplines related to the performing arts. It encourages debate and cross-disciplinary exchange across a broad range of approaches. The spectrum of topics includes Ethnomusicology, Karawitan, Music, Music Education, Dance, Theatre, Puppet, and Arts education.
Articles 33 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2024)" : 33 Documents clear
Workaholic sebagai Inspirasi Penciptaan Skenario Film Pendek Haru Biru Zuhri, Wan Luthfia Nur; Yuliadi, Koes; Dhani, Kurnia Rahmad
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12533

Abstract

Haru Biru adalah karya naskah skenario yang diangkat dari fenomena orang-orang workaholic. Workaholisme sebagai sumber ide penciptaan karya diangkat berdasarkan semakin banyaknya orang yang gila kerja hingga mengabaikan kehidupan dan kesehatan pribadi maupun kehidupa sosialnya. Penulisan naskah skenario ini menggunakan pendekatan struktur tiga babak sebagai kerangka teoritik dalam pengembangan narasi. Naskah ini bercerita tentang tokoh bernama Biru yang gila kerja hingga jatuh sakit dan tidak dapat melanjutkan karirnya, hingga akhirnya memilih untuk bunuh diri karena depresi. Proses penulisan ini menghasilkan satu naskah film pendek lengkap yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk film pendek yang terdiri dari total 15 scene dengan 8 halaman dengan durasi 15 menit. Workaholic as Inspiration for Creating the Scenario for the Short Film Haru BiruHaru Biru is a screenplay that explores the phenomenon of workaholism. The story is inspired by the increasing number of people obsessed with work that neglect their personal and social lives. The screenplay uses a three-act structure as a theoretical framework for narrative development. The script tells the story of a character named Biru, who is a workaholic and eventually falls ill and is unable to continue his career, leading him to choose suicide due to depression. The writing resulted in 15 scenes and an eight-page script, then adapted into a 15-minute short film.
Analisis Situasi Belajar Vokal Anak Di The Sound Of Music School Yogyakarta GINTING, RADU JENARI; BINTARTO, GATHUT; SITINJAK, LINDA
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12511

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebaruan yang terjadi di Lembaga Kursus Musik The Sound of Music School Yogyakarta yang baru berdiri selama 1 tahun. Fasilitas, guru, silabus, buku ajar, dan siswa yang baru menciptakan suatu adaptasi suasana belajar dengan dinamika yang unik. Penelitian ini memaparkan penerapan silabus dan materi ajar yang dibuat oleh guru pertama sekaligus supervisor lembaga kursus musik untuk diajarkan kepada siswa. Analisis terhadap situasi belajar di lembaga tersebut difokuskan pada pembelajaran vokal anak yang sementara ini paling banyak diminati. Tinjauan penyusunan silabus didasarkan pada pendekatan sintetik dan analitik yang dipaparkan oleh Wilkins dan Krahnke. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan observasi lapangan, pengumpulan data primer berupa observasi situasi belajar yang diamati langsung di kelas, wawancara mendalam kepada guru, dan pengumpulan data sekunder berupa silabus dan buku ajar. Tinjauan analisis situasi belajar didasarkan pada rekomendasi baku pedagogi vokal anak berdasarkan studi Molchanova dan Rooney baik yang sudah maupun belum diterapkan oleh guru pada saat mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan sintetik yang mengajarkan pengetahuan musik secara akumulatif sudah dilakukan oleh guru dengan dukungan materi ajar dari buku ajar berupa pengenalan notasi, vokalisasi (warm up), sight singing, aural dan pembelajaran lagu. Sementara itu pendekatan analitik dilakukan ketika siswa sudah menyelesaikan materi buku ajar dan dilatih untuk tampil pada acara khusus. Guru hanya berfokus pada bagian vokalisasi dan pembelajaran lagu. Beberapa  inkonsistensi terjadi pada materi silabus seperti pengenalan notasi diarahkan untuk membuat karya musik yang tidak terdapat materinya di buku ajar dan tidak cocok diajarkan untuk siswa grade 1, kesalahan penulisan simbol-simbol notasi, dan paparan sukat lagu yang belum diajarkan pada materi pengenalan notasi. Pembelajaran secara analitik juga mendapati bahwa materi vokalisasi yang dilakukan guru belum memadai secara teori musik dan teknis olah vokal untuk membawakan lagu Karena Ku Sanggup dari Agnes Monica yang relatif sulit. Hal tersebut menjadi bahan revisi buku ajar dan penyusunan materi silabus untuk grade yang lebih tinggi yang belum disusun sampai saat penelitian ini selesai dilakukan.Kata kunci: Analisis, Situasi Belajar, Vokal Anak, Silabus Sintetik, Silabus AnalitikAnalysis of Vocal Learning Situation of Children at The Sound Of Music School YogyakartaAbstractThis research is undermined by the novelty that has occurred at the Institute of Music Course The Sound of Music School Yogyakarta which has just been in existence for 1 year. Facilities, teachers, syllabus, textbooks, and new students create an adaptation of learning atmosphere with unique dynamics. This study shows the application of syllabus and teaching materials created by the first teacher as well as the supervisor of the institute of music courses to be taught to students. The analysis of the learning situation at the institute focused on the vocal learning of children who are currently most in demand. The review of the preparation of the syllabus is based on the synthetic and analytical approaches presented by Wilkins dan Krahnke. The study uses qualitative research methods with field observation, the collection of primary data such as observation of learning situations observed directly in the classroom, in-depth interviews with teachers, and collection of secondary data in the form of syllabus and textbooks. The results of the research shows that the synthetic approach that teaches music knowledge accumulatively has been done by teachers with the support of textbooks such as introduction of notation, vocalization (warm up), sight singing, aural and song learning. Meanwhile, the analytical approach is done when students have completed textbooks and are trained to perform at special events. The teacher focuses only on the vocalization and song learning part. Some inconsistencies occurred in the curriculum material such as the introduction of notations directed to make musical works that do not contain the substance in the textbook and are not suitable to be taught to grade 1 students, errors in the writing of the notation symbols, and the exhibition of songs that have not been taught on the introductory notation material. Learning analytically also found that the vocalization material performed by the teacher was not sufficient in music theory and vocal technique to bring the song “Karena Ku Sanggup” from Agnes Monica, which was relatively difficult. This is a revision of the textbook and the preparation of the syllabus material for higher grades that has not been prepared until this research is completed.Keywords: Analysis, Learning Situation, Child Vocals, Synthetic Syllabus, Analytical Syllabus 
Penciptaan Naskah Drama Harta Nami Nauli berdasarkan Cerita Rakyat Asal Usul Pohon Haminjon di Provinsi Sumatera Utara Siregar, Faried Noor; Arisona, Nanang; Yuliadi, Koes
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 18, No 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/idea.v18i1.12375

Abstract

Naskah drama ini bertujuan mengangkat legenda asal usul pohon kemenyan (haminjon) di Provinsi Sumatera Utara sebagai inspirasi utama. Legenda tersebut menciptakan konstruksi sosial masyarakat petani kemenyan, membentuk pola perilaku, dan memberikan makna dalam menjaga hutan adat. Fenomena ini menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan naskah drama panggung berjudul "Harta Nami Nauli." Penulis akan menerapkan teori resepsi yang dikemukakan iser untuk membahas konteks dalam legenda asal usul pohon kemenyan. Penciptaan naskah drama ini juga mengadopsi pendekatan alur dramatik Aristoteles, dengan tahap permulaan, jalinan kejadian, puncak laku, dan penutup yang menggambarkan perjuangan kelompok dalam mempertahankan keberlanjutan hutan adat mereka. "Harta Nami Nauli" menjadi simbol kekayaan pengetahuan warisan leluhur dan komitmen masyarakat untuk menjaga harmoni dengan alam. Naskah drama ini mencoba menggambarkan bagaimana kearifan lokal dan nilai-nilai leluhur dapat menjadi panduan hidup dalam menghadapi tantangan modernisasi. The Creation of the Drama Script Harta Nami Nauli Based on the Folklore of the Origin of the Haminjon Tree in North Sumatra ProvinceThis drama script aims to explore the legend of the origin of the agarwood tree (kemenyan) in North Sumatra Province as its main inspiration. The legend shapes the social construction of kemenyan farmers, influencing behavioral patterns and imbuing meaning in the preservation of traditional forests. This phenomenon serves as the primary source of inspiration for the creation of a stage drama script titled "Harta Nami Nauli." The writer will apply Iser's reception theory to delve into the context of the legend of the kemenyan tree. The creation of this drama script also adopts Aristotle's dramatic structure approach, encompassing the beginning, plot development, climax, and conclusion, illustrating the group's struggle to maintain the sustainability of their ancestral forest. "Harta Nami Nauli" symbolizes the wealth of ancestral knowledge and the community's commitment to maintaining harmony with nature. The drama script endeavors to portray how local wisdom and ancestral values can serve as life guides in facing the challenges of modernization.

Page 4 of 4 | Total Record : 33