cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dimensi Interior
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Artikel merupakan kajian bidang desain interior, Artikel yang dikirim ke jurnal Dimensi Interior adalah artikel yang tidak sedang dikirim ke jurnal/terbitan lain dan belum dipublikasikan dalam jurnal lain. Kategori artikel ilmiah hasil penelitian (laboratorium, lapangan, kepustakaan), ilmiah populer (aplikasi, ulasan, opini), dan diskusi. Diterbitkan 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007" : 6 Documents clear
WUJUD BUDAYA JAWA SEBAGAI UNSUR INKULTURASI INTERIOR GEREJA KATOLIK Sari, Sriti Mayang
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.324 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 44-53

Abstract

The Catholic Church adopts particular rules and meanings. Javanese culture also possesses rules, boundaries and meanings in building construction that includes space forming elements, facilities as well as other supportive elements. Inculturation of both these related cultures has to proceed in balance. Thus, comparisons must be drawn to be able to determine how far can a similar comprehension of meaning be achieved if inculturation of the Javanese culture and the Catholic church were to take place. Observation shows that not all the Javanese culture as an element of inculturation in the interior of the Catholic Church can be implemented physically because a similar comprehension of meaning would then be difficult and would contradict each other. Among the Javanese cultures that can be elements of inculturation in the interior of the Catholic church are in zoning, floor and ceiling elements, colour, the positioning of pews and furnitures for the leader. Abstract in Bahasa Indonesia : Gereja Katolik memiliki peraturan-peraturan dan makna-makna tertentu, Budaya Jawa pun memiliki aturan, batasan, serta makna tersendiri baik dalam tatanan bangunan yang meliputi elemen pembentuk ruang, fasilitas, maupun pendukung lainnya. Sedangkan dalam inkulturasi kedua budaya yang saling berhubungan ini harus berjalan seiring. Oleh karena itu, akan dibandingkan kedua budaya tersebut untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian makna yang dapat dicapai apabila terjadi inkulturasi Budaya Jawa dengan Gereja Katolik. Dari hasil perbandingan tersebut diketahui bahwa wujud fisik Budaya Jawa sebagai unsur inkulturasi interior Gereja Katolik tidak semuanya dapat diterapkan karena tidak adanya kesesuaian makna dan hubungan timbal balik antara keduanya. Wujud Budaya Jawa yang dapat dijadikan unsur inkulturasi dalam interior Gereja Katolik antara lain zoning, elemen pembentuk ruang lantai dan plafon, warna, tata letak bangku umat dan perabot untuk pemimpin. Kata kunci: Interior Gereja Katolik, Liturgi, Inkulturasi Budaya, Budaya Jawa
IMPLEMENTATION AND COMPARISON OF SERVICE LEARNING PEDAGOGY IN A SUBJECT OF INTERIOR DESIGN Santosa, Adi
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.253 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 54-60

Abstract

Referring to the case study in the Department of Interior Design of Petra, the implementation of service learning pedagogy in a subject of design can give additional values for students. Considering aspects of psychology, social, economy, and culture, students can solve the real problems in their society. Compared to two standard systems of approach in pedagogy: teacher-centred approach and learner-centred approach, it is known that implementation of service learning in the subject of Interior Design II is compatible with both of them. The implementation of service learning is conducive for students to develop all of their potencies of domains: cognitive, affective, psychomotor; and factors of education: cognitive and metacognitive, motivational and affective, developmental and social, individual differences. Abstract in Bahasa Indonesia : Gereja Katolik memiliki peraturan-peraturan dan makna-makna tertentu, Budaya Jawa pun memiliki aturan, batasan, serta makna tersendiri baik dalam tatanan bangunan yang meliputi elemen pembentuk ruang, fasilitas, maupun pendukung lainnya. Sedangkan dalam inkulturasi kedua budaya yang saling berhubungan ini harus berjalan seiring. Oleh karena itu, akan dibandingkan kedua budaya tersebut untuk mengetahui sejauh mana kesesuaian makna yang dapat dicapai apabila terjadi inkulturasi Budaya Jawa dengan Gereja Katolik. Dari hasil perbandingan tersebut diketahui bahwa wujud fisik Budaya Jawa sebagai unsur inkulturasi interior Gereja Katolik tidak semuanya dapat diterapkan karena tidak adanya kesesuaian makna dan hubungan timbal balik antara keduanya. Wujud Budaya Jawa yang dapat dijadikan unsur inkulturasi dalam interior Gereja Katolik antara lain zoning, elemen pembentuk ruang lantai dan plafon, warna, tata letak bangku umat dan perabot untuk pemimpin. Kata kunci: Interior Gereja Katolik, Liturgi, Inkulturasi Budaya, Budaya Jawa
NILAI BUDAYA PADA INTERIOR MUSEUM SONOBUDOYO YOGYAKARTA Wardani, Laksmi Kusuma
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2088.889 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 23-33

Abstract

The interior of Sonobudoyo Museum has been utilized for aesthetics, education, and tourism importance and conservation of cultural value. This museum is the result of ideas integrating the rational thinking of Deutsch architect, Thomas H. Karsten with the Java cultural value. The monumental art value and technical innovation in this building, is a process towards modernization, which has been contributing specific characteristics to the city of Yogyakarta as a cultural city. The erection of the building is not just referring to the functional, aesthetical,and technical concept, but also containing material and immaterial value of the Javanese society, so that the building and its environment becomes an object or material that is integrated in the museum collection. Abstract in Bahasa Indonesia : Interior Museum Sonobudoya dimanfaatkan untuk kepentingan estetik, pendidikan, pariwisata dan pelestarian nilai budaya. Museum ini merupakan wujud gagasan yang mengabungkan pemikiran rasional arsitek Belanda Thomas H. Karsten dengan nilai-nilai budaya Jawa. Nilai monumental seni dan inovasi teknik pada bangunan ini, merupakan proses menuju pembaharuan, yang memberi karakter khusus Yogyakarta sebagai kota budaya. Pendirian museum ini bukanlah sekadar mengacu pada konsep fungsi, estetika dan teknik saja, melainkan memuat nilai material dan imaterial masyarakat Jawa, sehingga bangunan dan lingkungannya menjadi obyek atau materi yang menyatu dengan koleksi museum. Kata kunci: Makna, Interior, Museum Sonobudoyo
ANALISIS KINERJA AKUSTIK PADA RUANG AUDITORIUM MULTIFUNGSI STUDI KASUS: AUDITORIUM UNIVERSITAS KRISTEN PETRA, SURABAYA C. Indrani, Hedy; Ekasiwi, Sri Nastiti N.; Asmoro, Wiratno A.
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.78 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 1-11

Abstract

A performance can either be enjoyed or not depending on the acoustic system of the room. The quality of the acoustic system can be measured based on an objective parameter that includes background noise, sound pressure level distribution and reveberation time. The measuring result in a case study shows that an auditorium that has problems relating to background noise level has to consider its ventilation system to avoid high background noise levels. It is important to consider the position of outdoor condensers, ducting joints and openings because the resulted low sound frequency can truly be disturbing during performances, especially to the audiences. Observations drawn on the acoustical performance show that some factors in interior design have to be considered such as room shape and dimension, finishing material and its arrangement in interior elements, to avoid uneven sound distribution and reveberation time that exceeding the standard criteria multifungsional auditoriums. Abstract in Bahasa Indonesia : Suatu pertunjukan dapat dinikmati dengan nyaman atau sebaliknya, sangat tergantung pada kualitas akustik ruang. Kinerja akustik ruang auditorium dapat dinilai berdasarkan parameter objektif yang meliputi bising latar belakang (background noise), distribusi tingkat tekanan bunyi dan respon impuls ruang terutama waktu dengung (reverberation time). Hasil pengukuran terhadap sebuah studi kasus menunjukkan bahwa auditorium yang mempunyai masalah pada tingkat bising latar belakang (background noise level) perlu memperhatikan desain ventilasi untuk menghindari tingkat gangguan bising yang berlebihan. Perhatian juga harus ditujukan pada peletakan outdoor (condensing) AC, sambungan ducting, dan bukaan, karena bunyi frekuensi rendah yang dihasilkan sangat mengganggu selama kegiatan berlangsung, utamanya bagi area penonton. Selanjutnya, untuk menghindari distribusi suara yang tidak merata dan waktu dengung (reverberation time) yang melebihi kriteria yang disyaratkan bagi auditorium multifungsi, maka analisis kinerja akustik menunjukkan beberapa faktor interior yang perlu mendapat perhatian seperti bentuk dan dimensi ruang, serta bahan finishing dan desain peletakannya pada elemen interior. Kata kunci: parameter akustik ruang, tingkat bising latar belakang, distribusi tingkat tekanan bunyi, waktu dengung.
STUDI IMPLEMENTASI KONSEP RUANG HETEROTOPIA PADA INTERIOR GEREJA KATOLIK TRITUNGGAL MAHAKUDUS TUKA-DALUNG BALI Sitinjak, Ronald H. Irianto; Jong, Sherly de
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1426.119 KB) | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp. 12-22

Abstract

Heterotopias space, according to Michel Foucoult, is an unrealistic space or dimension in a realistic one. These sites are very dynamic and can be changed by even the smallest turn of events or time. Some of these changes vary from mild-changes to, what was called by Foucault, counter-sites, a site with two very measurable differences of activities, even the exact opposite activities e.g. real sites to unreal sites and sacred sites to profane sites. This phenomen was found, unexpectedly, in a Catholic Church, Tritunggal Mahakudus in Tuka-Dalung Bali, a building generally known by its high sanctity. A phenomenon that was thought unlikely to be found in a church, especially a Catholic Church, was made possible by cultural changes, one form of Catholic's enculturation movement, and the shifting of time or activity. The main cause of these so called phenomena is the presence and the opening and closing of a gedong's door, a traditional Balinese room usually used in traditional Balinese houses and temples for storing and holding religious and sacred items. These adapted gedong was first used as a Balinese cultural representation in a western-based church, but in practice it serves more purposes than just that. It serves both as the connector and the divider of sanctity of a room. Furthermore, it also became a prominent being of changing situation and activity (from sacred to profane and vice versa) thus becoming a heterotopias room. One of it factors is the placement of these partition wall between sacred area and profane area during different activities. Abstract ini Bahasa Indonesia : Ruang heterotopia menurut Michel Foucault adalah dimensi atau ruang tidak nyata dalam ruang nyata. Dimensi tidak nyata ini relatif dan bisa bergeser. Pergeseran dimensi yang relatif ini bisa terjadi dari pergeseran karakter-karakter ruang yang saling bertentangan, misalnya dari ruang yang nyata ke tidak nyata, ruang sakral ke profan. Fenomena ini, secara tak terduga, juga terjadi di dalam sebuah bangunan gereja Katolik, yang biasanya terkenal dengan kesakralannya yang tinggi. Fenomena ruang heterotopia pada Gereja Katolik Tritunggal Mahakudus (TMK) Tuka-Dalung Bali ini terjadi oleh pergeseran dimensi budaya, sebagai salah satu wujud inkulturasi budaya lokal, dan waktu atau aktivitas. Fenomena ini ditandai dengan terbuka dan tertutupnya pintu gedong, sebuah ruang tradisional Bali yang digunakan untuk menyimpan benda-benda keagamaan dan suci, pada gereja ini. Gedong yang semula ada sebagai perwujudan adopsi budaya lokal pada gereja TMK, dalam prakteknya memiliki fungsi yang lebih, yaitu sebagai penghubung dan pemisah kesakralan sebuah ruangan, sebagai penanda terjadinya perubahan aktivitas (sakral ke profan dan sebaliknya) dan membentuk ruang heterotopia. Salah satu faktor pendukungnya adalah terjadinya pergeseran dinding pembatas area sakral dan profan saat terjadinya perubahan aktivitas. Kata kunci: Ruang, Heterotopia, Interior, Gereja Katolik, Tuka Dalung, Bali.
DESAIN SEBAGAI FENOMENA IDEOLOGI Hidayat, July
Dimensi Interior Vol 5, No 1 (2007): JUNI 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/interior.5.1.pp.34-43

Abstract

Ideology in its basic meaning, according to its etymology, is science of idea. This paper of ideology use ideological approach in discussing design through its generic concept not as political doctrine. Design ideology is a collection of knowledge behind form. Design will become a phenomenon of ideology when it is related with connotative meaning, analysed in ideological semantic level and used by society in certain cultural context. The ideology is related with certain cultural system that is derived from certain religious or other system of belief, life view, traditions, social, economy and natural geographic environment. There are many ideologies represented in design such as rationalism-functionalism, materialism, artificialism, individualism, intuitivism-symbolism, naturalism, spiritualism and communalism. Learning design ideology will give a chance to represent identity with semantic value, not merely as a game of superficial culture without tacit meaning. Through ideological approach and study in representing local identity of building, the implementation of architecture/interior design codes won't be stock at a problematic of periodic and ethnic style. By representing local ideology, the design may still represent its global 'zaitgaist' context in modern style without loosing its local identity. Abstract in Bahasa Indonesia : Secara etimologis, ideologi berasal dari kata idea dan logos, merupakan pengetahuan tentang ide. Kajian ini merupakan apresiasi desain yang mempergunakan pendekatan ideologi berdasarkan konsep awalnya sebagai ide yang ada dibalik bentuk, bukan doktrin politik. Desain menjadi fenomena ideologi pada waktu desain yang memiliki makna konotatif dan dipergunakan oleh masyarakat dari lingkungan budaya tertentu dianalisis dalam kajian semantik. Ideologi berkaitan dengan sistem budaya tertentu yang terbentuk oleh elemen-elemen budaya seperti agama atau sistem kepercayaan, pandangan hidup, tradisi atau adat-istiadat, sistem sosial-ekonomi dan lingkungan alam geografis. Terdapat banyak ideologi yang dapat direpresentasikan dalam karya desain seperti rasionalisme atau fungsionalisme, materialisme, artifisialisme, individualisme, intuitifisme atau simbolisme, naturalisme, spiritualisme dan komunalisme. Pembelajaran tentang ideologi desain akan memberikan manfaat dalam hal representasi identitas sampai pada tataran makna yang ada dibalik bentuk, bukan sekedar permainan budaya permukaan melalui kombinasi berbagai kode-kode langgam desain. Dengan mengeksplorasi dan merepresentasikan ideologi lokal, desain yang ingin menampilkan identitas bisa tetap mempergunakan langgam desain modern (representasi identitas global) yang sesuai dengan semangat jamannya tanpa kehilangan identitas lokal. Kata kunci : ideologi, rasionalisme, fungsionalisme, materialisme, artifisialisme, individualisme, intuitifisme, simbolisme, naturalisme, spiritualisme, komunalisme.

Page 1 of 1 | Total Record : 6