cover
Contact Name
Mawaddah Ar Rachmah
Contact Email
neurona.perdossi@gmail.com
Phone
+6282130377088
Journal Mail Official
baybasalamah@gmail.com
Editorial Address
SEKRETARIAT PP PERDOSSI Apartemen Menteng Square, Tower A Blok R-19 Jl. Matraman nomor 30E, RT.5/RW.6, Kenari, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10430
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Neurona
ISSN : 02166402     EISSN : 25023748     DOI : https://doi.org/10.52386/neurona
Core Subject : Health, Science,
Neurona merupakan satu-satunya jurnal yang memuat perkembangan penelitian dan kasus terbaru bidang neurosains oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (PERDOSSI) Pusat di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan bulan Maret, Juni, September dan Desember. Bidang studi cakupan NEURONA meliputi: Stroke dan Pembuluh darah Neurotrauma Neuroonkologi Neuro Infeksi Neuro Behavior Neurorestorasi Neuropediatri Gangguan Tidur Nyeri Kepala Neurootologi Neuro Intervensi Neuro Intensif Neurogeriatri Gangguan Gerak Epilepsi Neuro Epidemiologi
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 37 No 2 (2020)" : 12 Documents clear
KADAR SUBSTANSI P SERUM TINGGI SEBAGAI FAKTOR RISIKO CHRONIC TENSION TYPE HEADACHE PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Daniel Siagian; Made Oka Adnyana; Putu Eka Widyadharma
NEURONA Vol 37 No 2 (2020)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v37i2.119

Abstract

HIGH SUBSTANCE P SERUM LEVELS AS RISK FACTOR FOR CHRONIC TENSION TYPE HEADACHE AMONG MEDICAL STUDENT FACULTY OF MEDICINE UDAYANA UNIVERSITYABSTRACTIntroduction: Several studies revealed that serum substance P (SP) levels increase in people with headache, particularly chronic tension-type headache (CTTH). One of the examples of population at risk of CTTH is medical students because of their stressful academic load. Aim: To determine whether high serumSP levels are the risk factors of CTTH among medical students.Methods: A case-control study was conducted to medical students, aged 19 to 21, of the Faculty of Medicine, Udayana University from December 2018 to January 2019. Subjects were classified into case group (with CTTH) and control group (without CTTH). SP serum levels were measured on both groups. Analyses included univariate, bivariate with Fisher's test to calculate relative risk (RR), and multivariate logistic regression analysis.Results: Sixty-two subjects, predominantly female (51.6%), were involved in this study. In the case group, most of the subjects had mild depression (71%), mild stress (93.5%), pericranial tenderness (61,3%), and elevated SP serum levels (83.9%). From the multivariate analysis, a high level of SP serum (≥ 349,06ng/L) was the risk factor of CTTH (adjusted Odds ratio 9.9; 95% CI 1.06-93.16). Besides that, other factors, for example, mild stress, mild anxiety, mild depression, pericranial tenderness, and sleep disturbances, were related to the prevalence of CTTH(p=0.001).Discussion: This study concluded that high serum SP levels significantly increased the risk of CTTH occurrence among medical students.Keywords: Chronic tension-type headache (CTTH), medical student, SP serum levelsABSTRAKPendahuluan: Beberapa penelitian menunjukkan kadar substasi P (SP) serum meningkat pada penderita chronic tension type headache (CTTH). Salah satu populasi yang rentan mengalami CTTH adalah mahasiswa kedokteran karena beban akademik relatif tinggi yang diduga berkaitan dengan stres psikologis.Tujuan: Mengetahui apakah kadar SP serum merupakan salah satu faktor risiko CTTH pada mahasiwa kedokteran.Metode: Studi kasus kontrol dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berusia 19-21 tahun pada bulan Desember 2018 hingga Januari 2019. Subjek dikelompokkan ke dalam kelompok kasus (dengan CTTH) dan kontrol (tanpa CTTH), kemudian seluruhnya diperiksakan kadar SP serum. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Fisher untuk menghitung risiko relatif (RR), dan analisis regresi logistik multivariat.Hasil: Sebanyak 62 subjek yang mayoritas perempuan (51,6%) ikut serta dalam studi ini. Pada Pada kelompok kasus, sebagian besar mengalami depresi ringan (71%), stres ringan (93,5%), nyeri tekan perikranial (61,3%), dan memiliki kadar SP serum yang tinggi (83,9%). Berdasarkan analisis multivariat, kadar SP serum tinggi (≥ 349,06ng/L) merupakan faktor risiko CTTH (adjusted rasio Odds 9,9; IK 95% 1,06-93,16). Selain itu, faktor depresi ringan, stres ringan, ansietas ringan, nyeri tekan perikranial, dan gangguan tidur masing-masing berhubungan dengan kejadian CTTH (p=0,001).Diskusi: Kadar SP serum tinggi merupakan faktor risiko terjadinya CTTH pada populasi mahasiswa kedokteran.Kata kunci: Chronic tension type headache (CTTH), mahasiswa kedokteran, substansi P
EFEKTIVITAS DONEPEZIL TERHADAP FUNGSI KOGNITIF PASIEN TUMOR INTRAKRANIAL PASCAOPERASI Yusril Harun; Yunni Diansari; Selly Marisdina; Yuli Felistia
NEURONA Vol 37 No 2 (2020)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v37i2.120

Abstract

EFFECTIVITY OF DONEPEZIL IN COGNITIVE FUNCTION OFPOSTOPERATIVE INTRACRANIAL TUMOUR PATIENTSABSTRACTIntroduction: There is still a lack of effective therapy in improving cognitive dysfunction in intracranial tumour patients after surgery. Donepezil is an acetylcholinesterase inhibitor that has been a therapy of Alzheimer's disease and has a significant effect on improving cognitive function.Aim: To determine the effectiveness of donepezil on cognitive function in patients with postoperative intracranial tumours.Methods: A clinical, randomized, double-blind study was conducted on postoperative intracranial tumour patients categorized into two groups (donepezil and placebo). The intervention was donepezil 5mg once a day for three months. For assessment of cognitive function, Mini-Mental State Examination (MMSE) and Indonesian Version of Montreal Cognitive Assessment (MoCA-Ina) was checked at weeks 0 (baseline), 4 (end of the first month), 8 (end of the second month), and 12 (end of the third month). Data were analyzed using SPSS 22.Results: Twenty patients, equally distributed in two groups, were included in the study. Compared to baseline, MMSE and MoCA-Ina scores in the donepezil group increased significantly on the second and third month (p<0.001). There was a remarkable difference in cognitive function between two groups on the third month based on MMSE and MoCA-Ina scores (p=0.027 and 0.024, respectively). At post-intervention, orientation and recalldomain in MMSE showed marked improvement, while visuospatial and delayed recall domain experienced as well in MoCA-Ina. There were no significant side effects of donepezil.Discussion: This results can be considered for administration of donepezil in patients with intracranial tumours after surgery with impaired cognitive function.Keywords: Cognitive function, donepezil, intracranial tumour, MMSE, MoCA-Ina, surgeryABSTRAKPendahuluan: Saat ini belum ada terapi yang efektif dalam memperbaiki gangguan fungsi kognitif pada pasien tumor intrakranial pascaoperasi. Donepezil merupakan inhibitor asetilkolinesterase yang telah menjadi terapi dari penyakit Alzheimer dan memiliki efek yang bermakna dalam memperbaiki fungsi kognitif.Tujuan: Mengetahui efektivitas donepezil terhadap fungsi kognitif pasien tumor intrakranial pascaoperasi.Metode: Studi uji klinis, acak, tersamar ganda dilakukan pada pasien tumor intrakranial pascaoperasi dengan gangguan kognitif yang terbagi dalam dua kelompok (donepezil dan plasebo). Intervensi yang dilakukan berupa pemberian donepezil 5mg satu kali sehari selama 3 bulan. Evaluasi fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) dan Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-Ina) pada minggu 0 (awal), 4 (akhir bulan ke-1), 8 (akhir bulan ke-2), dan 12 (akhir bulan ke-2). Data dianalisis menggunakan perangkat SPSS 22.Hasil: Sebanyak 20 subjek yang terbagi sama pada dua kelompok diikutsertakan pada penelitian ini. Dibandingkan dengan kondisi awal, nilai MMSE dan MoCA-Ina pada kelompok donepezil meningkat secara signifikan pada bulan ke-2 dan ke-3 (p<0,001). Terdapat perbedaan bermakna fungsi kognitif antara kelompok terapi dengan placebo pada bulan ke-3 berdasarkan nilai MMSE (p=0,027) dan MoCA-Ina (p=0,024). Domain pada MMSE yang mengalami perbaikan bermakna setelah terapi donepezil adalah orientasi dan recall, sedangkan pada MoCA-Ina adalah domain visuospasial dan delayed recall. Tidak didapatkan efek samping donepezil yang bermakna.Diskusi: Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam pemberian donepezil pada pasien dengan tumor intrakranial pascaoperasi yang memiliki gangguan fungsi kognitif.Kata kunci: Donepezil, fungsi kognitif, MMSE, MoCA-Ina, operasi, tumor intrakranial

Page 2 of 2 | Total Record : 12