cover
Contact Name
Cynthia Erlita Virgin Wuisang
Contact Email
cynthia.wuisang@unsrat.ac.id
Phone
+6281340240129
Journal Mail Official
mmatrasain@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Unsrat, JL Kampus Unsrat, Bahu Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Matrasain
ISSN : 18581137     EISSN : 27231720     DOI : https://doi.org/10.35792/matrasain
Journal of Media Matrasain publishes research results, critical studies/analysis, innovative ideas/thoughts and the results of design works in the fields of architecture and urban planning.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 13 No. 3 (2016)" : 6 Documents clear
PERENCANAAN DAN PERANCANGAN DESA WISATA TAJUR KAHURIPAN DI KABUPATEN PURWAKARTA PROVINSI JAWA BARAT BERBASISKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL SUNDA . Nuryanto; Dadang Ahdiat; R. Irawan Surasetja
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14544

Abstract

Penelitian Program Pengembangan Kelompok Bidang Keilmuan (PPKBK) ini sebagai lanjutan dari PPKBK sebelumnya. Fokus penelitian yaitu pada perencanaan dan perancangan desa wisata Kampung Tajur Kahuripan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya Desa Wisata di Kabupaten Purwakarta yang memiliki ciri khas Arsitektur Sunda, padahal hal tersebut dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan dan perancangan desa wisata berbasiskan Arsitektur Tradisional Sunda dalam rangka mendukung program Visit West Java Year dan Visit Indonesia Year 2014-2019. Lokasi penelitian di Kampung Tajur Kahuripan Kecamatan Bojong Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat. Metoda penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif, dengan cara mengobservasi dan menggali potensi Kampung Tajur Kahuripan dan masyarakatnya untuk dijadikan masukan dalam merencanakan dan merancang desa wisata.Hasil penelitian ini mendapatkan dua rumusan penting, yaitu: (1) Perencanaan desa wisata (planning) yang meliputi: master plan dan site plan yang di dalamnya terdiri dari penyediaan fasilitas bagi wisatawan, pengembangan potensi, pemintakatan fungsi, serta penghijauan; (2) Perancangan desa wisata (design) yang meliputi: rancangan tipologi bangunan penghuni dan wisatawan berbasiskan arsitektur Tradisional Sunda, seperti: imah panggung, leuit, saung lisung, bale sarwaguna, homestay, mesjid, warung souvenir, gazebo, dan lain sebagainya. Bentuk atap bangunan yang meliputi: julang ngapak, jolopong, capit gunting, sontog, badak heuay, dan tagog anjing. Konsep perencanaan dan perancangan Desa Wisata Tajur Kahuripan menggunakan pendekatan arsitektur Tradisional Sunda, mulai dari bentuk sampai dengan material. Kehidupan sosial dan budaya masyarakatnya menjadi faktor penting sebagai daya tarik bagi wisatawan, seperti: proses menggarap sawah, sikap gotong royong, menjaga lingkungan, toleransi antar warga, kesenian tradisional, serta pelaksanaan berbagai upacara tradisi sebagi siklus kehidupan. Kampung Tajur Kahuripan memenuhi kriteria untuk diusulkan sebagai kawasan wisata dengan konsep arsitektur Tradisional Sunda.
MAKNA EMIK RUANG PERMUKIMAN ATAS AIR DI PESISIR PANTAI PULAU NAEN Judy O. Waani; Octavianus H.A. Rogi; Alvin J. Tinangon
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14545

Abstract

Permukiman atas air adalah kawasan yang jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. Masyarakat Suku Bajo merupakan suku yang memiliki kebiasaan ini. Pulau Naen merupakan salah satu tempat yang menjadi tempat tinggal mereka selain dari masyarakat Sanger Talaud. Penelitian ini mencakup dua dari tiga desa yang ada di Pulau Naen yaitu Desa Nain atau juga disebut Nain Induk dan Desa Nain Satu. Bagaimana kemudian masyarakat memaknai ruang permukiman mereka merupakan salah satu masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini yaitu mengungkapkan makna emik ruang permukiman atas air di pesisir pantai Pulai Naen. Namun demikian dalam tulisan ini, peneliti hanya akan melaporkan tema-tema yang muncul dalam penelitian ini. Tema-tema ini akan didialogkan untuk membentuk konsep ruang permukiman. Paradigma penelitian ini menggunakan Fenomenologi Husserl dengan metode penelitian kualitatif. Analisis data menggunakan cara induktif dan pengambilan data berdasarkan purposive sampling. Tujuan sampling atau informan yaitu masyarakat yang tinggal di permukiman atas air. Hasil penelitian ditemukan 1) beberapa makna emik dalam tema-tema ruang dari penelitian yaitu a) ruang basudara, b) para-para rumah, c) jual beli rumah, d) perubahan material rumah, e) tampa fufu, f) parkir parao, g) sumur Boki Tibe Tiah, h) rumah tompal, i) kantor hukum tua, j) jalan desa.  Secara keseluruhan, tema-tema ruang ini, membentuk konsep yaitu ruang konsensus. 2) Temuan lain yaitu cara masyarakat membentuk rumah dan permukiman didasari dengan konsensus atau kesepakatan antar masyarakat. Konsensus biasanya dimulai dari komunikasi keluarga sehingga masyarakat akan membentuk atau membangun rumah mereka terletak dibelakang rumah orang tua atau keluarga terdekat dan secara linier akan berurut dan menjorok ke arah laut dan bukan ke arah darat. Untuk bangunan umum biasanya dibangun di darat ataupun di atas air tapi harus melalui kesepakan bersama. 3) Ruang konsensus berkaitan dengan kesepakatan bersama antar masyarakat yang didasari dengan aturan  tidak tertulis. Aturan tidak tertulis ini dikuasai dan dipahami oleh masyarakat kemudian menjadi dasar tindakan masyarakat dalam pengambilan keputusan untuk membuat ruang-ruang dalam permukiman mereka. Kesepakatan bersama yang kemudian menjadi keputusan ini, lahir dari komunikasi, solidaritas dan kompromi dalam masyarakat.
PENYULUHAN UNTUK PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DAN PERMUKIMAN DI KELURAHAN WINANGUN II, LINGKUNGAN 2, MANADO Judy O. Waani; Hendriek H. Karongkong
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14546

Abstract

Kegiatan IPTEKS bagi Masyarakat (IbM) ini berjudul Penyuluhan untuk Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman Kelurahan Winangun Dua Lingkungan 2 Kota Manado Sulawesi Utara. Tujuan IbM yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya kebakaran yang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Tujuan lain yaitu untuk melibatkan masyarakat bagaimana mengantisipasi atau menanggulang bahaya kebakaran yang bisa terjadi pada bangunan gedung dan permukiman mereka. Produk lain dari kegiatan ini yaitu menghasikan tulisan ilmiah terkait dengan Sistem Penanggulangan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Permukiman baik dari aspek fisiknya juga pada aspek manusianya. Kegiatan IbM ini dilakukan dengan tiga cara yaitu pendampingan, penyuluhan dan praktek lapangan. Kegiatan ini juga menggunakan nara sumber yang ahli pada bidangnya selain secara teori diberikan oleh dosen yang berasal dari Arsitektur sendiri.  Pertumbuhan bangunan berlantai banyak semakin marak di kota-kota besar maupun kota menengah. Kondisi ini bisa dipahami karena bertambahnya penduduk tapi jumlah luasan lahan/tanah tetap. Fenomena tentang pertumbuhan bangunan berlantai banyak, juga terlihat di Kota Manado. Salah satu bahaya yang perlu diantisipasi pada bangunan vertikal dan horizontal adalah kebakaran bangunan. Proteksi kebakaran terhadap bangunan memang dimulai dari perencanaan sampai pada perancangan bangunan. Tujuan perencanaan dan perancangan, terkait dengan keselamatan bangunan untuk 1) protection of life, 2) protection of building, 3) protection of contents, 4) continuity of operation
PELESTARIAN LANSEKAP BUDAYA INDONESIA : MENDOKUMENTASIKAN LANSEKAP VERNAKULAR ETNIS MINAHASA DI WILAYAH PERDESAAN PESISIR PANTAI KECAMATAN KEMA, SULAWESI UTARA Cynthia E.V. Wuisang; Joseph Rengkung; Dwight M. Rondonuwu
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14547

Abstract

Tulisan ini mengkaji lansekap budaya etnis Minahasa, yang difokuskan pada permukiman masyarakat di wilayah perdesaan. Perdesaan di Tana Minahasa (The Greater Minahasa Region terdiri dari beberapa kabupaten seperti Kabupaten Minahasa Utara, kabupaten Minahasa Induk, Kabupaten Minahasa Selatan dan kabupaten Minahasa Tenggara) memiliki ciri dan karakter lokal yang unik dan bervariasi. Filosofi dan pandangan hidup masyarakat Minahasa telah berakar ratusan tahun dan di ekspresikan secara vertikal dalam  hubungan lansekap-manusia dengan Tuhan penciptanya, dalam hubungan horizontal dengan masyarakat lainnya  dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Setiap desa memiliki perbedaan signifikan dalam budaya dan tradisi lokalnya yang tercermin dalam perilaku dan praktek hidup sehari-hari. Penelitian Lansekap Budaya khususnya lansekap vernakular  pada masyarakat Minahasa akan dilakukan dengan mengidentifikasi karakteristik lingkungan fisik dan originalitas perspektif /pandangan hidup masa lalu dan sekarang. Rekam jejak budaya Minahasa telah terdokumentasikan dalam berbagai arsip daerah, nasional dan internasional sejak pertama kali didatangi bangsa Eropa di abad 15 dan etnis Minahasa mengalami periodisasi perubahan budaya secara drastis sejak kolonisasi Belanda. Ancaman kehilangan identitas dan  tradisinya mendorong untuk dilakukan penelitian dengan menemukan kembali dan memperbaharui tradisi dan budaya asli yang pernah berkembang dengan menggali nilai-nilai tangible dan intangible dalam lansekap budaya pada masyarakat etnis Minahasa yang hidup pada jaman sekarang  melalui tradisi dan kearifan lokal yang dimiliki. Riset dilakukan dengan pendekatan etnografi yang secara deskriptif mengkaji pola permukiman (desa)  dan ciri arsitektur vernakular yang masih bertahan hingga saat in. Penelitian ini juga menganalisis norma tradisional, kepercayaan dan nilai-nilai hidup yang mendukung praktek perencanaan, desain dan pengelolaan lansekap permukiman berdasarkan  konstruksi filosofi mempertahankan dan mengkonservasi lansekap budaya. Hasil riset membuktikan lansekap budaya Minahasa khususnya yang terdokumentasi di Kecamatan Kema masih bertahan dalam tekanan globalisasi dan modernisasi namun masih sangat membutuhkan perhatian khusus dalam pengelolaannya. Untuk itu perlu adanya pengelolaan Konservasi Budaya secara komprehensif, terpadu dan berkelanjutan.
KUALITAS LINGKUNGAN MELALUI PEMBUATAN LUBANG RESAPAN BIOPORI Amanda S. Sembel; Dwight M. Rondonuwu
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14548

Abstract

Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi permasalahan global. Masalah banjir yang melanda berbagai kota di Indonesia termasuk Kota Manado menjadi indikator bahwa telah terjadi penurunan kualitas lingkungan. Kelompok Remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) adalah wadah organisasi Gereja yang dalam tugas dan tanggungjawab melayani di ladang Tuhan terpanggil juga untuk peduli pada peningkatan kualitas lingkungan hidup sebagai  Anugerah ciptaan Tuhan yang perlu dijaga dan dipelihara. Generasi muda melalui  kelompok remaja GMIM Sinode dapat berpartisipasi dalam memajukan bangsa melalui kegiatan menjaga dan memelihara lingkungan dengan upaya-upaya mengantisipasi  dampak pemanasan global yang ditandai dengan masalah-masalah yang muncul saat ini seperti masalah banjir, kekeringan, sampah, dan pemanasan suhu perkotaan. Dengan permasalahan tersebut maka perlu adanya sosialisasi tentang peningkatan sadar lingkungan untuk membangun remaja Sinode GMIM Peduli Lingkungan melalui kegiatan Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). LRB merupakan rekayasa teknologi tepat guna untuk menanggulangi masalah keterbatasn lahan sebagai daerah resapan air.Tujuan pembuatan LRB yaitu untuk meningkatkan kepedulian generasi muda GMIM terhadap lingkungan sehingga lingkungan menjadi sehat, hijau, dan lestari. Target luaran yang ingin dicapai pada pembinaan dan pendampingan kelompok Remaja Sinode GMIM Kota Tomohon adalah melalui penyuluhan dan pelatihan untuk menumbuhkan rasa cinta lingkungan bagi generasi muda sebagai pilar-pilar gereja masa depan tentang pentingnya memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos serta menerapkan teknologi yang tepat untuk meningkatkan daya serap air atau konservasi tanah melalui pembuatan lubang resapan biopori di Kota Tomohon.
PERBANDINGAN TRANSFORMASI TIPOLOGIS ANTARA LINGKUNGAN HUNIAN DENGAN POLA PENGADAAN FORMAL DAN POLA PENGADAAN SWADAYA Dimas Hartawan Wicaksono
MEDIA MATRASAIN Vol. 13 No. 3 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v13i3.14549

Abstract

Dari sudut pandang fisik spasial, kawasan hunian adalah penyusun terbesar sebuah kota, sehingga perkembangan wawasan terhadap bagaimana kawasan hunian bertransformasi perlu terus dieksplorasi. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah masih terbatasnya evaluasi dan komparasi terhadap tipe permukiman yang telah berjalan lama, khususnya di Indonesia, dimana setelah menempuh rentang waktu yang panjang beragam transformasi telah terjadi. Penelitian yang dilakukan membandingkan transformasi yang terjadi pada lingkungan perumahan dengan pola pengadaan yang berbeda, yaitu (1) pola pengadaan swadaya - pola pengadaan yang cenderung memberi otonomi bagi masyarakat dalam menentukan huniannya (housing by people/ government as enabler), serta (2) pola pengadaan formal - pola pengadaan yang memberi peran lebih besar bagi pemerintah (government as provider). Pada akhir penelitian ini akan diperbandingkan transformasi yang terjadi pada dua kawasan hunian di Kota Bandung, yaitu kawasan Perumnas Sadang Serang (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan formal) dengan transformasi yang terjadi pada perumahan Koperasi Bina Karya (kawasan hunian yang dikembangkan dengan pola pengadaan swadaya). Perbandingan ini akan menggambarkan bagaimana transformasi terjadi pada perumahan masyarakat berpenghasilan rendah yang dikembangkan melalui pengadaan swadaya dan formal di Indonesia, dan menunjukkan perbedaan pola transformasi yang terjadi pada kedua lingkungan hunian. Berdasarkan analisa yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perumahan yang diadakan secara swadaya memiliki tingkat transformasi, ragam transformasi, dan tingkat perubahan fungsi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan perumahan yang diadakan melalui pola pengadaan formal.

Page 1 of 1 | Total Record : 6