cover
Contact Name
Cynthia Erlita Virgin Wuisang
Contact Email
cynthia.wuisang@unsrat.ac.id
Phone
+6281340240129
Journal Mail Official
mmatrasain@unsrat.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Unsrat, JL Kampus Unsrat, Bahu Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Matrasain
ISSN : 18581137     EISSN : 27231720     DOI : https://doi.org/10.35792/matrasain
Journal of Media Matrasain publishes research results, critical studies/analysis, innovative ideas/thoughts and the results of design works in the fields of architecture and urban planning.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 14 No. 3 (2017)" : 6 Documents clear
OPTIMALISASI ENVIRONMENT GAME PADA ARSITEKTUR DAN RUANG LUAR Estephanie Christy Tacoh; Ingerid L. Moniaga
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18467

Abstract

Saat ini di Indonesia mengalami perkembangan seluruh aspek kehidupan, tak terkecuali lingkungan tempat manusia berada. Terbatasnya lahan untuk pembangunan diperkotaan membuat arsitek harus memiliki strategi penataan lingkungan (Environment Game) yang tepat. Dengan adanya penataan pada lingkungan dapat membuat lingkungan memiliki kualitas yang baik. Optimalisasi Environment Game Pada Arsitektur Dan Ruang Luar dapat menghadirkan suatu lingkungan yang berkualitas melalui proses dan strategi yang sederhana dengan memperhatikan nilai-nilai dan norma yang tidak hanya indah secara arsitektural tapi juga mampu memicu reaksi emosional seseorang.
EVOLUTIONARY ARCHITECTURE Irving Richard Muntu; Deddy Erdiono
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18468

Abstract

Evolutionary Architecture merupakan salah satu strategi teori perancangan yang mendeskripsikan konsep arsitektural dalam bentuk ‘kode genetik’, Kode ini dikembangkan oleh program komputer menjadi sebuah rentetan model dengan menerapkan Prinsip morfogenesis, replikasi, kode genetik, mutasi dan seleksi dalam prosesnya. Model-model demikian kemudian dievaluasi serta disimulasikan dan kode dari model yang sukses dipakai untuk menganalisa proses selanjutnya hingga sampai di tahap di mana pengembangannya dipilih untuk membuat suatu prototipe. Dalam Evolutionary Architecture menjelaskan bahwa konsep adalah proses yang terkemudi; yang artinya, dengan peraturan pembentuk wujud atau bentuk yang bukan terdiri dari komponen-komponen, tapi sejumlah proses. Disugestikan bahwa sistemnya bersifat hierarki, di mana satu proses mendorong proses selanjutnya. Dengan cara yang sama, bentuk dan teknologi yang kompleks seharusnya bisa dievolusikan secara hierarki dari bentuk dan teknologi yang sederhana. 
FOLDING ARSITEKTUR Vicky Torondek; Deddy Erdiono
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18469

Abstract

Folding Architecture merupakan suatu proses menghasilkan bentukan dalam desain arsitektur yang pada intinya bereksperimen untuk menghasilkan suatu bentuk konfigurasi melalui suatu proses. Penerapannya ke dalam perancangan arsitektur menggunakan metode “borrowing” yakni meminjam karakter kertas dan mentransformasikannya kedalam sebuah bentuk melalui proses lipat, potong, tekan dll. Peminjaman karakter kertas dipakai sebagai media dalam membuat bentukan, karena sifat kertas yang mudah dilipat dan ditekuk. Setiap proses lipatan itu bertransformasi menjadi sebuah bentuk yang hasilnya tidak terduga sebelumnya. Itu disebabkan karena Folding bersifat spontan dan tidak memiliki cara yang terikat dalam memproses sebuah bentuk. Setiap bentukan yang dihasilkan pasti akan berbeda walaupun prosesnya sama. Dari bentukan inilah yang nantinya akan diolah menjadi suatu desain arsitektur
PENERAPAN ANALOGI LINGUISTIK PADA ARSITEKTUR DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SENI EKSPRESIONIS Keren E. Manaroinsong; - Suryono
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18470

Abstract

Penerapan Analogi Linguistik pada Arsitektur dengan Menggunakan Prinsip Seni Ekspresionis akan menjelaskan suatu konsep linguistik yang ekspresionis dengan cara mengungkapkan dan menata imajinasi pada pola penataan sehingga dapat memudahkan interpretasi yang disampaikan oleh bentuk bangunan. Konsep Analogi Linguistik pada Arsitektur dengan Menggunakan Prinsip Seni Ekspresionis akan mengkaji sebuah  pemahaman sehingga dapat menyatakan dan menyatukannya dengan arsitektur yang pada akhirnya secara produktif dapat mencetuskan seni kreatifitas atau ide-ide rancang bangunan yang komprehensif atau menyeluruh dengan penataan objek yang akan dibangun. Ekspresionis dalam hal ini bahwa bangunan dianggap sebagai suatu wahana yang digunakan arsitek untuk mengungkapkan bentuk atau sikap terhadap suatu bangunan. Maksudnya bangunan dapat memberi ulasan tentang keadaan, tentang lokasi dan masalah bagaimana menjaga agar bangunan tersebut mampu membahasakan nilai-nilai estetika.
PERANCANGAN PUBLIC LANDMARK PADA RUANG TERBUKA PUBLIK Melly Kawulusan; Fela Warouw
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18471

Abstract

Keberadaan ruang public pada suatu kawasan di pusat kota sangat penting artinya, karena meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan baik itu dari segi lingkungan; masyarakat maupun kota melalui fungsi pemanfaatan ruang di dalamnya yang memberikan banyak manfaat. Landmark adalah elemen penting dari bentuk kota karena membantu orang untuk mengorientasikan diri di dalam kota dan membantu orang mengenali suatu daerah. Landmark mempunyai identitas yang lebih baik jika bentuknya jelas dan unik dalam lingkungannya. Pengertian landmark merupakan salah satu unsur pembentuk karakter kawasan yang dapat diartikan sebagai penanda, keberadaan landmark berfungsi sebagai orintasi bagi pengunjung. Sedangkan building atau bangunan secara umum adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang didirikan secara permanen di suatu tempat jadi landmark building merupakan bangunan yang menampilkan karakter yang berbeda dari lingkungan sekitar sehingga dapat menjadi landmark atau penanda dalam suatu kota.
PETA KEBENCANAAN : URGENSI DAN MANFAATNYA Octavianus Hendrik Alexander Rogi
MEDIA MATRASAIN Vol. 14 No. 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v14i3.18472

Abstract

Bencana alam merupakan suatu hal yang sering menjadi momok bagi suatu kota atau kawasan. Bencana banjir bandang di Kota Manado pada tahun 2014 adalah contoh kasus dengan jumlah kerugian yang terbilang besar. Mitigasi resiko kerugian akibat kejadian bencana adalah suatu kebijakan yang tidak dapat diabaikan dan harus dikedepankan dalam setiap strategi pengembangan wilayah suatu kota. Upaya mitigasi bencana secara komprehensif seyogyanya berangkat dari suatu kajian resiko kebencanaan yang secara substansial akan bertumpu pada langkah awal dalam wujud penyiapan basis data kebencanaan berbentuk peta-peta kebencanaan. Dalam garis besar, peta kebencanaan yang harusnya menjadi dasar pengembangan strategi mitigasi bencana untuk tipe bencana tertentu adalah peta resiko bencana yang merupakan produk sintesis dari peta-peta kebencanaan lainnya yang mencakup peta ancaman (hazard map), peta kerentanan (vulnerability map) dan peta kapasitas (capacity map). Untuk menjamin terselenggaranya upaya penanggulangan bencana, khususnya mitigasi resiko bencana, eksistensi keberadaan atau pengadaan peta-peta kebencanaan seharusnya menjadi hal yang prioritas terutama bagi otoritas pemerintahan suatu kota.

Page 1 of 1 | Total Record : 6