cover
Contact Name
Gatot Prayoga
Contact Email
gatotprayoga@bkpsl.org
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbkpsl@gmail.com
Editorial Address
Secretariat of Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management), Environmental Research Center (ERC-IPB) Building, Floor 4, IPB Dramaga Campus, Bogor, 16680 West Java, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
(Journal of Environmental Sustainability Management)
Core Subject : Science, Social,
The Journal of Environmental Sustainability Management (JPLB) published manuscripts/articles which are original work or research in the field of environmental management in a broad sense encompassing physical, chemical, biological, socio-economic, socio-cultural, community health, environmental health, and law.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "JPLB, Vol 2, No 1 (2018)" : 5 Documents clear
History of environmental impact assesment in Indonesia F S Dhiksawan; S P Hadi; A Samekto; D P Sasongko
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.2.1.55-68

Abstract

This research on the history Environmental Impact Asessment (EIA) in Indonesia is aimed at obtaining an overview of the changes in regulations concerning EIA. It methods and materials in the form of library study including journals, books, and research documents on the history of EIA. The research produced an overview of the early history of EIA in Indonesia. The overview starts from the participation of the Government of the Republic of Indonesia in the Conference on the Human Environment (UNCHE) Stockholm in 1972. In 1973 Indonesia began inserting environmental consideration into the national development program based on the Decree of the People's Consultative Assembly Number IV of 1973 in the Broad Outlines of State Policy Chapter III Part B item (10). Environment law was firstly enacted in Indonesia in 1982. As time went by, the environmental laws went changes in 1997 and 2009. This law mandated the enactment of government regulation concerning EIA. EIA was first implemented in Indonesia based on the Government Regulation Number 29 of 1986. It was replaced with the Government Regulation Number 51 of 1993. Then It was revoked and replaced with Number 27 of 1999. After 3 (three) years replaced with Number 27 of 2012 on environmental license.
Teknologi alamiah penjamin kualitas kompos (studi kasus: kompos di Desa Tekelan, Kabupaten Semarang) W Oktiawan; B Zaman; Purwono Purwono
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.2.1.69-75

Abstract

Limbah peternakan sapi di Desa Tekelan terdiri dari limbah padat, semi padat (slurry) dan limbah cair. Masyarakat memanfaatkan limbah padat untuk membuat kompos secara tradisional. Tujuan penelitian ini yaitu pengujian indeks perkecambahan sebagai indikator kematangan kompos. Teknologi alamiah (fitotosisitas) dapat digunakan untuk menjamin kualitas kompos. Teknologi ini bersifat sederhana, tidak memerlukan peralatan utama, biaya perawatan minimal, sampel yang diperlukan sedikit, tidak mengenal musim, benih mudah dibeli dimana-mana, benih bertahan lama, dan waktu perkecambahan cepat. Metode penentuan kematangan dan kestabilan kompos menggunakan uji indeks perkecambahan yang didasarkan pada nilai Germination Index (GI). Biji kacang hijau (Vigna Radiata) ditaburkan pada kapas yang dibasahi dengan ekstrak kompos. GI dihitung berdasarkan nilai perkecambahan relatif (G) dan panjang akar relatif (L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai GI kotoran sapi segar sangat rendah hanya sebesar 47, sedangkan kompos yang berumur seminggu memiliki nilai GI sebesar 58. Kompos kotoran ayam menghasilkan nilai GI 74. Ketiga kompos ini mengindikasikan bahwa kompos belum matang dan stabil (GI<80). Nilai GI kompos dengan waktu komposting 2, 3, dan 4 minggu >80 yang mengindikasikan bahwa kompos telah matang dan stabil.
Studi kapasitas beban pencemaran sungai berdasarkan parameter organik (BOD, COD dan TSS) di Batang Lembang Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat A Azhar; I Dewata
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.2.1.76-87

Abstract

Kota Solok merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Sumatera Barat yang dialiri oleh sungai yang bernama sungai Batang Lembang. Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya pengunaan sungai Batang Lembang berdampak pada daya dukung lingkungan sungai. Untuk dapat menjaga kualitas air sungai diperlukan kajian daya tampung air sungai. Lokasi penelitian ini adalah air Sungai Batang Lembang segmen Kota Solok yang melintasi Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan, sedangkan parameter kunci pencemaran air ialah TSS, BOD, dan COD. Parameter kualitas air Sungai Batang Lembang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kualitas air dan Pengelolaan Pencemaran Air. Penetapan daya tampung beban pencemaran mengaplikasikan Qual2Kw. Hasil penelitian daya tampung terhadap beban pencemaran Sungai Batang Lembang Sungai kota Solok untuk parameter TSS beban maksimum harus dikurangi sebesar 28,490.00 kg/hari dan minimum 1,425.60 Kg/hari, BOD sebesar 336.96 Kg/hari dan minimum 77.76 Kg/hari dan COD sebesar 16,264.80 Kg/hari dan minimum 3,039.12 Kg/hari agar kualitas air sungai dapat terjaga dengan baik. Selanjutnya diperlukan pembatasan izin serta kebijakan oleh pemerintah pada beberapa ruas tertentu agar mutu dan kualitas sungai dapat dipertahankan.
Potensi sumber bakteri resisten antibiotik berdasarkan kondisi kualitas air dan penggunaan lahan di Sungai Code, Yogyakarta: suatu tinjauan metodologis M P Hadi; L N Fadlillah; M Y Widasmara; W I Muziasari; Subaryono Subaryono
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.2.1.88-100

Abstract

Resistensi antibiotik merupakan ancaman utama terhadap kesehatan manusia. Penggunaan antibiotik tidak hanya dilakukan pada manusia, tetapi juga di bidang pertanian khususnya peternakan dan perikanan. Pengaturan penggunaan antibiotik pada peternakan dan perikanan tidak dapat dilakukan secara selektif, sehingga berpeluang terhadap terjadinya sebaran bakteri antibiotik ke alam bebas menjadi lebih masif. Bakteri ini dapat berubah dan mentransfer antibiotic resistant gene (ARG). Di Indonesia, data paparan ARG di alam bebas belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan, pada tulisan ini disajikan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ARG, potensi sumber bakteri AR dan menganalisis parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap AR. Sungai Code merupakan sungai ideal dari hulu ke hilir, yang diduga perairannya belum terjadi kontaminasi. Penggunaan lahan di DAS Code antara lain pertanian, peternakan, perikanan, perkotaan. Terdapat beberapa rumah sakit yang berpotensi sebagai sumber bakteri ARG. Sampel air diambil pada 13 titik untuk diuji BOD dan Bakteri Coli. Hasil dari penelitian tesebut diharapkan dapat diketahuinya potensi penyumbang antibiotik terbesar pada lingkungan terhadap antibiotik berdasarkan kondisi kualitas air dan penggunaan lahan. Metode ini juga dapat digunakan untuk evaluasi pengelolaan lingkungan.
Mereduksi amonia kotoran ternak unggas dengan menggunakan kapur dan tanaman kedelai A Bustan; A Pudjirahaju
Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management) JPLB, Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) se-Indonesia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup IPB (PPLH-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36813/jplb.2.1.42-54

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk membantu masyarakat peternak di Kalimantan Tengah dalam mengatasi permasalahan tentang pencemaran udara yang sering dikeluhkan oleh warga masyarakat yang terdampak akibat adanya aktivitas peternakan di sekitar pemukiman karena munculnya bau berupa amonia yang ditimbulkan dari kotoran ternak serta banyak lalat yang beterbangan. Upaya mengatasi hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kapur beserta tumbuhan kedelai untuk mengatasi pencemaran udara. Metode untuk mengetahui seberapa besar intensitas bau amonia dari setiap kandang ternak baik yang diberi perlakuan maupun yang tidak diberi perlakuan kesemuanya diukur dengan menggunakan alat detektor amonia model AR8500. Hasil penelitian menemukan bahwa pemberian kapur dan penanaman kedelai adalah suatu perlakuan yang paling tepat karena mampu menurunkan intensitas bau amonia hingga 64,07%, dari 1,67 ppm (kandang kontrol tanpa perlakuan) menjadi 0,60 ppm. Selanjutnya disusul kandang dengan perlakuan pemberian kapur turun hingga 59,28%, dari 1,67 ppm menjadi 0,68 ppm, serta penanaman kedelai di sekeliling kandang juga mampu menurunkan intensitas bau amonia hingga 53,29% dari 1,67 ppm turun menjadi 0,78 ppm. Sementara dosis penggunaan kapur yang paling rasional baik ditinjau dari faktor ekonomi maupun fungsinya dalam menurunkan intensiatas bau amonia sebanyak 525 kg atau sekitar 0,88 kg/m2. Angka ini setara dengan Rp 882/m2.

Page 1 of 1 | Total Record : 5