cover
Contact Name
LAILATUL BADRIYAH
Contact Email
lailatulbadriyah0409@gmail.com
Phone
+6281215411992
Journal Mail Official
istisyfa@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Editorial Address
Jl. Raden Fatah Selebar Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Journal of Islamic Guidance and Counseling
ISSN : -     EISSN : 30472717     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/istisyfa
Jurnal Istisyfa spesialisasi dalam Bimbingan dan Konseling Islam, dimaksudkan untuk memberikan sarana diskusi dan mengkomunikasikan penelitian orisinal dan isu-isu relevan. Jurnal ini menerbitkan artikel penelitian yang mencakup seluruh aspek konseling, Psikologi, Bimbingan, Kesehatan Mental, Psikoterapi yang masuk dalam konteks Islam.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2025): September" : 10 Documents clear
Perasaan Mahasantri Dalam Menjalankan Shalat Berjamaah Tepat Waktu Diasrama Putri Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu Yulanda Yulanda
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9913

Abstract

This study aims to describe the emotional experiences of mahasantri in performing congregational prayers on time at the Female Dormitory of UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. This phenomenon is important to examine because congregational prayer in a dormitory setting is not only a form of ritual obedience but also an emotional experience influenced by institutional rules, religious motivation, and social dynamics among the students. This research employs a descriptive qualitative approach, using in-depth interviews and transcript analysis as the primary data collection techniques. The analytical procedures consist of open coding, axial coding, and selective coding to identify relevant categories and thematic patterns. The findings indicate that mahasantri experience a variety of emotions when performing congregational prayers on time. Dominant positive feelings include calmness, relief, happiness, and pride. Wulan stated that she felt “calm and not pressured during the Sunday evaluation,” while Maya expressed that she felt “more proud of myself” after consistently praying on time. Furthermore, Sella described her congregational prayer experience as “happy… the atmosphere feels different, it really feels like being at the pesantren.” However, the study also found negative emotions such as anxiety and fear of punishment when students were late or failed to join the congregational prayer, as expressed by Sella who felt “anxious… afraid of being punished.” Another finding shows that some students experienced an emotional shift from feeling forced to becoming sincere, as reflected in Wulan’s statement: “At first it felt forced… over time I got used to it… eventually I became sincere.” Overall, this study concludes that the emotional experiences of mahasantri in performing congregational prayers on time span a wide emotional spectrum and are influenced by a combination of internal and external factors. Congregational prayer functions not only as a ritual activity but also as a medium for building discipline, spiritual comfort, and emotional development within the dormitory environment. 
Membentuk Kepribadian Islami Remaja Melalui Wudhu Dini Mahfudzah Aulia
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9924

Abstract

Abstract Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran wudhu dalam membentuk kebiasaan hidup bersih, akhlak baik, serta regulasi diri (self-regulation) pada remaja melalui pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tiga informan remaja, kemudian dianalisis menggunakan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wudhu dipahami tidak hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai kebiasaan yang menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan kontrol diri. Informan menjelaskan bahwa praktik wudhu yang dilakukan secara konsisten setiap hari membentuk kesadaran remaja untuk menjaga kesucian, berhati-hati dalam bertindak, serta menghindari perilaku yang berpotensi membatalkan wudhu. Selain itu, wudhu memberikan ketenangan emosional, membantu mengurangi pikiran negatif, menstabilkan emosi, serta meningkatkan ketenangan batin, sehingga berfungsi sebagai sarana regulasi emosi yang efektif. Wudhu juga berperan dalam menjaga kebersihan fisik, seperti mengurangi keringat dan membuat tubuh terasa segar, sehingga mendukung pembentukan gaya hidup sehat. Analisis tematik menunjukkan bahwa wudhu berfungsi sebagai mekanisme pembentukan self-regulation melalui integrasi aspek spiritual, psikologis, fisik, dan sosial, yang secara keseluruhan mendukung pembentukan karakter remaja. Temuan ini menegaskan bahwa wudhu memiliki kontribusi multidimensional dalam perkembangan remaja dan dapat dimanfaatkan sebagai strategi pendidikan karakter di sekolah maupun keluarga. Penelitian lanjutan disarankan untuk melibatkan jumlah informan yang lebih luas guna memperkuat generalisasi hasil penelitian.
Penjelasan tentang Hubb an-Nafs dengan Bentuk Dakwah Bil Lisan pada Mahasiswa yang Merasa Kurang Percaya Diri di Bengkulu Ersa Nur Khasanah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9920

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpercayaan diri pada mahasiswa melalui pendekatan kualitatif berbasis wawancara mendalam. Ketidakpercayaan diri menjadi salah satu isu psikologis yang banyak dialami mahasiswa, terutama ketika mereka berada dalam fase perkembangan yang menuntut penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial, budaya, dan akademik. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga informan yang pernah mengalami ketidakpercayaan diri secara signifikan. Data dianalisis menggunakan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan pemetaan tema-tema utama yang lebih sistematis dan komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan diri pada mahasiswa dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu faktor fisik, sosial, dan psikologis. Faktor fisik, seperti persepsi negatif terhadap warna kulit dan bentuk tubuh, menjadi pemicu awal terbentuknya rasa minder. Faktor sosial berupa bullying, komentar merendahkan, dan perbandingan sosial memperburuk kondisi psikologis mahasiswa dengan menciptakan tekanan interpersonal yang berulang. Sementara itu, faktor psikologis terkait internalisasi komentar negatif dan kecenderungan memikirkan pandangan orang lain menyebabkan munculnya kecemasan sosial dan perilaku menghindar. Dampak dari ketidakpercayaan diri terlihat pada menurunnya partisipasi dalam aktivitas akademik, terbatasnya kemampuan tampil, serta perasaan stagnan dalam perkembangan diri. Penelitian ini juga menyoroti bahwa pendekatan psiko-spiritual melalui integrasi nilai Hubb an-Nafs dan dakwah bil lisan berpotensi membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri yang lebih sehat melalui proses penerimaan diri, penguatan nilai diri, dan komunikasi empatik. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi yang holistik, mencakup aspek fisik, sosial, dan spiritual, untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Pada Anak Melalui Permainan Tebak-Tebakan Surah Pendek Anggi Yulita Handayani
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9918

Abstract

Kepercayaan Diri, Kecemasan Kinerja, Motivasi Intrinsik, Muraja'ah, Dukungan Sebaya. Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis dinamika psikologis, mekanisme koping, dan pergeseran motivasi pada anak-anak (usia 10–12 tahun) yang berpartisipasi dalam kegiatan kinerja publik keagamaan (tebak-tebakan surah pendek acak). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan kerangka teori psikologi kinerja dan motivasi, termasuk Self-Efficacy Theory dan Performance Anxiety. Hasil menunjukkan bahwa partisipasi siswa didorong oleh motivasi ekstrinsik (hadiah), meskipun disertai dengan kecemasan antisipatif yang signifikan (gugup dan takut salah). Kecemasan ini berhasil dimediasi oleh dua strategi koping utama: 1) Ritual Kognitif, yaitu praktik muraja'ah (pengulangan hafalan) mental yang berfungsi meregulasi emosi dan meningkatkan kontrol diri; dan 2) Dukungan Sosial Sebaya, yang bertindak sebagai penyangga terhadap ketakutan akan penilaian sosial negatif. Keberhasilan dalam kinerja memicu internalisasi nilai dan rasa kompetensi yang kuat (self-competence), menggeser orientasi tujuan siswa dari sekadar imbalan menuju komitmen jangka panjang terhadap penguasaan materi (mastery goal orientation). Disimpulkan bahwa kegiatan tebak-tebakan surah pendek berfungsi sebagai katalisator self-efficacy yang efektif, berhasil mengubah kecemasan menjadi pendorong aksi, dan meningkatkan kepercayaan diri serta komitmen belajar yang berkelanjutan.
Peran Sholat dan Dzikir dalam Menumbuhkan Rasa Tenang pada Anak Yatim Lili Sartika Putri
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna subjektif remaja Muslim terhadap peran sholat dan zikir dalam kehidupan emosional mereka. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya praktik religius sebagai mekanisme koping dalam menghadapi tekanan psikologis pada masa remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada tiga informan, kemudian dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sholat dan zikir dipahami sebagai kewajiban spiritual sekaligus sarana pengatur emosi yang efektif. Informan menyatakan bahwa mereka merasa gelisah ketika belum melaksanakan sholat, sebagaimana tercermin dalam ungkapan . Selain itu, waktu tertentu seperti subuh dan maghrib memberikan pengalaman ketenangan lebih mendalam karena dipengaruhi suasana lingkungan. Proses internalisasi nilai religius dimulai sejak masa kanak-kanak melalui peran orang tua atau pengasuh, sehingga membentuk kebiasaan ibadah yang stabil hingga remaja. Penelitian juga menemukan bahwa emosi moral seperti rasa bersalah dan takut hukuman menjadi pendorong penting bagi konsistensi praktik keagamaan. Secara keseluruhan, sholat dan zikir berfungsi sebagai mekanisme koping religius, regulator moral, dan penopang kesejahteraan emosional remaja. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap literatur mengenai religiusitas dan kesehatan mental, serta membuka ruang untuk pengembangan intervensi berbasis spiritualbagi remaja
Upaya Mencegah Perilaku Kecanduan Minuman Keras Pada Remaja di Kota Bengkulu Ozi Rahmadani
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9925

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pencegahan perilaku kecanduan minuman keras pada remaja di Kota Bengkulu dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan yang dipilih secara purposif, kemudian dianalisis menggunakan teknik open coding, axial coding, dan selective coding untuk menemukan pola, kategori, dan tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan kecanduan minuman keras pada remaja ditentukan oleh lima komponen utama, yaitu peran keluarga, religiusitas, lingkungan pergaulan, edukasi, dan dukungan kebijakan. Keluarga terbukti menjadi faktor protektif paling signifikan melalui pengawasan, pembatasan jam keluar, dan pengarahan dalam memilih teman. Religiusitas berperan sebagai kontrol internal yang membantu remaja menahan diri dari perilaku menyimpang, meskipun efektivitasnya dipengaruhi oleh tingkat pemahaman agama yang masih beragam. Faktor risiko terbesar ditemukan pada tekanan teman sebaya yang dapat mendorong remaja untuk mencoba minuman keras, sehingga memerlukan intervensi berbasis kelompok. Selain itu, edukasi yang disampaikan secara kontekstual pada momen yang tepat dan menggunakan narasi kesehatan dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah konvensional. Pembinaan yang bersifat merangkul remaja yang telah terlibat perilaku berisiko juga menjadi strategi penting untuk mencegah keterlibatan lebih lanjut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya pencegahan kecanduan minuman keras pada remaja harus dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, serta kebijakan pemerintah yang mendukung, sehingga tercipta lingkungan sosial yang sehat, aman, dan berkelanjutan bagi perkembangan remaja.
Penjelasan Dakwah Ustadzah Oki “Remaja Membangun Peradaban Islam” Sebagai Dasar Strategi Psikologi Emosional Dakwah Bagi Generasi Z Lidia Yati Sofiana
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9915

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi Generasi Z dalam menjaga akhlak di era digital yang sarat tantangan moral akibat derasnya arus informasi dan paparan media sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tiga informan perempuan Generasi Z, data dianalisis menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan akhlak pada Generasi Z merupakan proses multidimensional yang melibatkan integrasi faktor emosional, spiritual, sosial, dan digital. Regulasi emosi muncul sebagai fondasi utama, ditunjukkan oleh kemampuan informan mengelola emosi, mengenali pemicu emosional, serta melakukan refleksi diri. Spiritualitas dan praktik keagamaan—terutama konsumsi konten dakwah, ibadah, doa, dan perbaikan niat—berfungsi sebagai mekanisme religious coping dalam menjaga stabilitas moral ketika menghadapi tekanan digital maupun sosial. Selain itu, literasi digital terbukti menjadi benteng protektif, di mana para informan secara selektif memilah konten positif dan menolak konten yang berpotensi merusak akhlak. Lingkungan sosial juga memainkan peran penting melalui pemilihan pertemanan yang mendukung, penerapan batasan sosial, serta upaya memperbaiki relasi interpersonal ketika terjadi kesalahan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z menjaga akhlak melalui kombinasi kesadaran emosional, penguatan spiritual, kecerdasan digital, dan manajemen relasi sosial. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan pembinaan akhlak yang komprehensif, adaptif, serta responsif terhadap dinamika kehidupan remaja modern di tengah perkembangan teknologi digital yang cepat.
Akhak Dan Kejujuran Mahasiswa Perantau Valentina Ramadhany
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9936

Abstract

Mahasiswa perantau menghadapi perubahan lingkungan sosial, ekonomi,       dan psikologis yang signifikan ketika tinggal jauh dari keluarga. Salah satu aspek moral yang paling diuji dalam kondisi tersebut adalah kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kejujuran mahasiswa perantau, faktor yang memengaruhinya, serta strategi yang digunakan untuk mempertahankan kejujuran dalam berbagai situasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga informan perempuan berusia 19–21 tahun yang tinggal di kos dan berstatus sebagai mahasiswa perantau. Data dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan tema-tema utama yang merepresentasikan pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau muncul dalam tindakan konkret sehari-hari, seperti membayar sesuai jumlah belanja, mengembalikan barang pinjaman, serta transparansi dalam penggunaan uang kepada orang tua. Namun, kondisi perantauan juga menghadirkan tantangan moral, seperti rasa lebih bebas untuk berbohong karena ketiadaan pengawasan, tekanan finansial, dan pengaruh teman sebaya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa menerapkan strategi pengaturan diri, misalnya menjatah pengeluaran harian, berdiskusi dengan teman dekat, dan meningkatkan kesadaran terhadap konsekuensi perilaku. Kejujuran juga diperkuat oleh pengalaman emosional, seperti rasa senang setelah bersikap jujur dan rasa kapok akibat dihukum saat ketahuan berbohong. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau merupakan hasil interaksi antara nilai moral, self-regulation, pengaruh sosial, dan pengalaman emosional. Kejujuran berfungsi sebagai kemampuan adaptif yang membantu mahasiswa mempertahankan hubungan sosial, mengelola keuangan, dan membangun kepercayaan dalam kehidupan perantauan. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program pendidikan karakter, literasi finansial, serta dukungan lingkungan sosial di perguruan tinggi. Temuan ini juga membuka ruang untuk penelitian lanjutan dengan cakupan informan yang lebih beragam dan pendekatan metodologis yang lebih luas 
Mengembangkan Husnuzon Pada Remaja Agar Terhindar Dari Overthinking Lela Nur Alifah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9930

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk overthinking yangdialami mahasiswa serta menganalisis strategi coping yang digunakan dalammengatasinya melalui perspektif husnuzon, dukungan sosial, dan praktikreligius. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptifdengan teknik wawancara mendalam terhadap tiga mahasiswa semester tiga.Proses analisis data meliputi tahapan open coding, axial coding, dan selectivecoding untuk menemukan pola, kategori, dan tema utama. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa overthinking mahasiswa umumnya dipicu oleh tekananakademik, seperti tugas yang menumpuk dan batas waktu yang berdekatan, sertafaktor relasional yang berkaitan dengan ketidakpastian komunikasi dandinamika hubungan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, mahasiswa menerapkantiga kelompok strategi coping, yaitu coping sosial, coping pragmatis, dan copingreligius. Coping sosial dilakukan dengan berbagi cerita, meminta dukunganteman, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas sehingga dapat mengurangibeban emosional. Coping pragmatis mencakup upaya mengelola tugas secarabertahap, memprioritaskan pekerjaan, serta meningkatkan kemampuanmanajemen waktu. Sementara itu, coping religius meliputi praktik ibadah sepertisalat, doa, dan zikir yang berfungsi memberikan ketenangan emosional dankeyakinan spiritual. Ketiga bentuk coping tersebut bekerja secara sinergis dalammenurunkan tingkat overthinking dan meningkatkan ketahanan psikologismahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi emosi, dukungansosial, dan manajemen tugas yang efektif merupakan elemen penting dalammembantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik dan relasional. Temuanini memberikan implikasi bagi institusi pendidikan untuk mengembangkanprogram pendampingan psikologis, pelatihan manajemen waktu, sertapembinaan religius guna memperkuat kesejahteraan mental mahasiswa.
KEBERMANFAATAN SILATURAHMI DALAM KONTEKS KESEJAHTERAAN MENTAL Elsya Chintya Dewi
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9939

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh silaturahmi terhadap kesehatan mental berdasarkan pengalaman subjektif individu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, sedangkan analisis data dilakukan dengan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silaturahmi berdampak positif terhadap kesehatan mental apabila interaksi berlangsung dalam suasana suportif, seperti saling menghibur, menunjukkan perhatian, dan membangun kenyamanan emosional. Akan tetapi, penelitian juga menemukan bahwa silaturahmi dapat berdampak negatif ketika diwarnai kritik, perbandingan, dan komentar yang merendahkan, sehingga memicu stres emosional, menurunkan kepercayaan diri, dan mendorong individu menarik diri dari hubungan sosial. Selain itu, individu mengembangkan strategi adaptif seperti memfilter relasi dan membatasi interaksi untuk menjaga kondisi psikologis tetap stabil. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa silaturahmi memang berpengaruh terhadap kesehatan mental, namun arah pengaruhnya ditentukan oleh kualitas interaksi interpersonal—bukan oleh frekuensi pertemuan semata. Temuan ini menekankan pentingnya komunikasi suportif dalam lingkungan sosial dan keluarga sebagai upaya menjaga kesejahteraan psikologis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10