cover
Contact Name
ahmad yani
Contact Email
ahmad.yani@bakrie.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ahmad.yani@bakrie.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Journal Communication Spectrum: Capturing New Perspectives in Communication
  • Journal_Communication_spectrum
  • Website
Published by Universitas Bakrie
ISSN : 20878850     EISSN : 26226405     DOI : -
Journal Communication Spectrum Capturing New Perspectives in Communication, terbit dua kali setahun (Februari dan agustus) diiterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Bakrie (FEIS UB) sebagai media atau wacana persepektif baru di bidang ilmu Komunikasi.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012" : 7 Documents clear
ONLINE CONSUMERS AND THE APPLICATION OF USES AND GRATIFICATION THEORY Case Study: The Kaskus Website Kania, Dessy; Agatha, Nadia
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.6

Abstract

Dalam kehidupan keseharian, kita tidak dapat terhindar dari perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat terutama di bidang new media.  Akses untuk website dan internet forum site merupakan salah satu benefit yang ditawarkan dari  new media yang paling diminati oleh pengguna internet di Indonesia.  Bertambahnya  internet forum site yang memberikan kemudahan secara   online untuk para pengguna internet untuk dapat melakukan percakapan dalam bentuk pesan yang di-posting juga menambah keramaian penggunaan internet di Indonesia.  Penelitian ini ingin mengungkapkan bagaimana keberhasilan salah satu  internet forum site yaitu Kaskus sebagai situs lokal yang paling sering dikunjungi dan mempunyai anggota terbanyak sehingga menempati posisi keenam dalam peringkat  10  Top Sites in Indonesia.  Penggunaan teori  uses and gratification diperlukan untuk menganalisis perkembangan situs kaskus serta  consumer online yang sifatnya aktif dan dinamis.  Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif menggunakan in-depth interview baik terhadap para pengelola situs Kaskus maupun pengguna situs sebagai sumber data.  Hasil yang dicapai dari penelitian ini menyatakan bahwa keberhasilan situs Kaskus tidak jauh dari fitur teknologi web 2.0 yang dapat memfasilitasi komunikasi interaktif di antara pengguna dan konten situs yang memang dihadirkan berdasarkan kebutuhan para pengguna situs tersebut. Kata Kunci:   media baru, khalayak aktif, komunikasi interaktif, teori uses and gratification, situs forum internet.
MAKNA DI BALIK TEKS DAYAK SEBAGAI ETNIS HEADHUNTER Putra, R. Masri Sareb
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.7

Abstract

Ngayau atau head hunting ialah tradisi etnis Dayak di masa lampau untuk mencari kepala musuh sebagai tanda bukti kekuatan. Para pelancong dan antropolog barat tertarik mengeksploitasi sisi-sisi eksotik penduduk Borneo tersebut, salah satu di antaranya adalah praktik ngayau. Pembingkaian ngayau oleh pelancong dan antropolog barat, berakibat pada pencitraan yang hingga kini masih melekat pada etnis Dayak.  Citra Dayak sebagai suku bangsa pengayau kembali  muncul, ketika terjadi konflik etnis di Kalimantan, padahal secara de facto praktik ngayau sudah lama ditinggalkan.  Labeling etnis Dayak sebagai headhunter sudah semestinya ditanggalkan sebab praktik ngayau disepakati untuk dihentikan pada tahun 1894 dalam musyawarah besar Dayak se-Borneo di Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah, yang difasilitasi pemerintah kolonial. Metode hermeneutika dapat membongkar mitos dengan mencari hakikat dari sebuah teks atau realitas, dengan mengacu pada sejarah dan tradisi pada waktu teks itu ditulis. Usaha rasional menemukan  true conditions (sensus plenior) yang ditawarkan hermeneutika, sesungguhnya termasuk penelitian komunikasi. Artikel ini berupaya mencari hakikat makna dari teks yang ditulis para pelancong dan antropolog asing dari abad 18 hingga masa kemerdekaan. Para penulis mencoba mengonstruksi & membingkai tulisan mereka dengan mengacu pada sejarah dan tradisi pada masa itu.Ternyata, di balik teks-tertulis terdapat realitas yang tidak ditulis atau dinafikan dan inilah titik awal dari bias yang dilakukan penulis dan media yang menyebarkannya. Kata Kunci: hermeneutika, makna, ngayau, pembingkaian
POTENTIALS OF FACEBOOK AS A PEDAGOGICAL TOOL FOR COLLEGE LECTURERS Julia Julia, Julia
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.8

Abstract

Dengan ditemukannya komputer dan World Wide Web (www) dalam dua dekade terakhir, cara baru dalam  online-communication -yang dikenal sebagai teknologi  Web 2.0, seperti blogs,  micro-blogging,  podcasts,  wikis, situs jaringan sosial, dunia maya (virtual world), video sharing, dan  photo sharing– telah muncul dengan potensi keunikannya masing-masing di dunia komunikasi dan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat penggunaan situs jejaring sosial, Facebook.com, sebagai alat bantu pendidikan bagi dosen dan mahasiswa di Universitas Pelita Harapan (UPH). Dengan menggunakan metode kualitatif melalui proses wawancara terhadap 10 dosen, peneliti menanyakan beberapa pertanyaan seputar penggunaan Facebook dan apa alas an mereka menggunakan medium tersebut sebagai alat bantu dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Facebook ketika digunakan secara rutin, mendorong relasi yang baik antara dosen dan mahasiswa, yang kemudian menghasilkan perilaku positif pada lingkungan belajar-mengajar yang merupakan hasil yang belum pernah diantisipasi. Kata kunci: Facebook, situs jejaring sosial, interaksi di kelas, komunikasi dan pendidikan, perangkat pedagogi
ANALISIS FRAMING SEBUAH KONFLIK ANTARBUDAYA DI MEDIA Widiastuti, Tuti
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.9

Abstract

Masalah utama antarmanusia di abad ke-20 adalah kebencian yang ditekankan kepada anggota dari budaya dan kelompok ras yang berbeda. Kebencian pada budaya dan kelompok ras yang berbeda tampak pada polarisasi komunikasi antarbudaya. Komunikasi merupakan medium di mana konflik diciptakan dan diatasi. Ketika melakukan komunikasi dengan orang-orang dari budaya lain, maka identitas sosial lebih memegang peranan penting. Pada saat mengobservasi tingkah laku orang lain, orang berusaha untuk membuat atribusi mengenai efek lingkungan pada tingkah laku mereka dengan penjelasan tingkah laku individu, yang berdasar pada stereotip dan prasangka yang diperparah dengan adanya etnosentrisme. Bahayanya, penilaian yang cenderung mengedepankan etnosentrisme sering kali salah, semena-mena dan tidak ada dasarnya sama sekali. Dalam masyarakat yang semakin individual dan heterogen ini, media memainkan peranan penting sebagai salah satu atau bahkan satu-satunya sumber sosialisasi dari realitas sosial di masyarakat. Alih-alih membentuk realitas obyektif di masyarakat, media bahkan memelihara dan menginstitusikan kenyataan subyektif berdasarkan stereotip yang berkembang di masyarakat, dan bukan yang obyektif. Kata kunci: konflik antarbudaya, budaya individualistik, budaya kolektivistik, etnosentrisme, stereotip dan prasangka
AN EXAMINATION OF MEDIA CONVERGENCE AND ITS IMPLICATION ON MASS COMMUNICATION NOTION Handayani, Bintang
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.10

Abstract

Komunikasi massa yang pada perkembangannya telah melahirkan teori efek media dan teori kritis  serta studi budaya tidak dapat dipisahkan dari sifat jangkauan massif pada khalayak sehingga dapat memengaruhi individu, masyarakat, dan nilai-nilai kultural. Konsepsi komunikasi massa berkaitan dengan media sebagai institusi mengukuhkan teori agenda setting, sedangkan TV sebagai media juga melahirkan teori kultivasi yang dianggap memiliki terpaan yang kuat terhadap sudut pandang individu dalam melihat lingkungannya. TV dapat mengultivasi individu sehingga melahirkan kecemasan danketakutan. Berbeda dengan kenyataan tersebut, internet dan  Computer Mediated Communication (CMC) menawarkan pilihan dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, hiburan, dan aktualisasi diri. Selain itu kontrol pengguna (komunikan) yang sejajar dengan  news producer (komunikator) dalam pengeksposan seleksi konten dan distribusi juga membawa perubahan. Pada awal perkembangan perspektif dalam konvergensi dimulai pada fase dimana penelitian komunikasi massa lebih banyak berkaitan dengan teori komunikasi dua langkah yang melahirkan teori efek media. Kedua, momen perkembangan teknologi komunikasi dan informasi  (Information Communication Technology/ ICT). Fase ketiga terlihat dari momen keterikatan masyarakat (sejak awal 1990 hingga sekarang)  pada media baru dan kultur digital. Apakah konvergensi media dan fenomena media baru menandakan berakhirnya konsepsi media massa? Berdasarkan paparan tersebut, studi ini menelaah secara kritis bagaimana konvergensi media memengaruhi teori  agenda setting, teori kultivasi, teori kritis dan studi budaya. Kata kunci: konvergensi media,  agenda setting, kultivasi, teori kritis dan studi budaya.
STRATEGI PENGGUNAAN E-TKI SEBAGAI WAHANA DALAM MENGATASI KESENJANGAN INFORMASI Primawati, Anggraeni
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.11

Abstract

Informasi yang diterima calon TKI dan TKI masih kurang karena pemerintah yang bertugas dalam pelayanan dan penempatan TKI belum optimal dalam memberikan informasi kepada mereka. Berbagai keluhan yang disebabkan oleh kurangnya akses dan fasilitas pelayanan informasi dapat diminimalisir, apabila pemerintah semakin intensif dalam menyampaikan informasi hingga menjangkau tiap calon TKI dan TKI. Informasi ini berguna untuk memberdayakan TKI sehingga mereka tidak mudah percaya kepada sponsor, calo atau perusahaan jasa tenaga kerja dan berani menolak tindakan sewenang-wenang majikan yang bertentangan dengan hak dan kewajiban mereka sebagai TKI. Metode dalam penulisan ini adalah studi kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam strategi untuk memenuhi informasi itu, peranan difusi inovasi dan teknologi informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan kinerja pelayanan informasi kepada TKI. Penggunaan sarana teknologi informasi dan komunikasi disadari sebagai suatu keharusan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dari tiap upaya memberikan informasi kepada TKI. Pelayanan informasi dapat diberikan tidak hanya melalui komunikasi tatap muka tetapi juga melalui internet atau informasi online yang didukung oleh e-TKI. Penguatan sistem informasi melalui penerapan tahapan strategi difusi inovasi dan informasi ini adalah untuk memberikan pelayanan terhadap informasi TKI yang cepat, mudah, efektif, efisien dan terintegrasi secara online. Kebijakan pengembangan e–TKI ini merupakan komitmen pemerintah untuk terus menyempurnakan sistem pelayanan informasi TKI kepada masyarakat. Kata kunci: e-TKI, inovasi, difusi informasi dan inovasi
BRAND SOCIAL RESPONSIBILITY: An Integrative Perspective Wijaya, Bambang Sukma
Journal Communication Spectrum : Capturing New Perspectives in Communication Vol 1, No 2 (2011): August 2011 - January 2012
Publisher : Department of Communication Science, Bakrie University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36782/jcs.v1i2.2097

Abstract

This article presents a description of brand social responsibility (BSR) integrally from a philosophical and strategic perspective. Philosophically, BSR can be defined as the brand's good faith in offering products responsibly, starting from the intention, input, process, and output, to outcome stages, to positively and beneficially impact consumers and society at large. Strategically, BSR is the effort of a brand in communicating its values ​​through activities that carry social meaning or show social responsibility for humanity and the natural environment. Some crucial traits determine BSR strategy's success; the program must be charitable, linkable, responsible, sustainable, investable, communicable, collaborative, and inspirational. Charitable is related to the brand's sincere, empathic, altruistic, compassionate, and philanthropic attitudes. Linkable is about brand relevance, as well as meaningful connections in community involvement. Responsible refers to moral and social considerations of its impacts and consequences. Sustainable is the extent to which the brand's social mission contributes to the survival of the brand itself and the continuity of the brand good perceived by the community. Investable relates to the ability of the program to attract investment potentials, whether economic (financial, capital, material), social (relations, communities, networks), political (regulatory impact, government support, moral movement), cultural (lifestyle, habits, and people's mindset according to the brand's social mission), and psychological (happiness, satisfaction, well-being). The program must be Communicable, in the sense that the message delivered is clear, engaging, and useful, in a pleasant, creative, and effective manner, without harmful excesses. The program must also be Collaborative, attracting many partners, sponsors, and volunteers to get involved. Finally, the BSR program should be Inspirational, mobilizing other brands, competitors, and the community to do the same good. TANGGUNG JAWAB SOSIAL MEREK: Pendekatan Integratif Artikel ini memaparkan gambaran tanggung jawab sosial merek (BSR) secara terpadu dari perspektif filosofis dan strategis. Secara filosofis, BSR dapat diartikan sebagai itikad baik merek dalam menawarkan produk secara bertanggung jawab, mulai dari niat, masukan, proses, dan luaran, hingga tahapan hasil, yang berdampak positif dan menguntungkan bagi konsumen dan masyarakat luas. Secara strategis BSR merupakan upaya suatu merek dalam mengkomunikasikan nilai-nilainya melalui kegiatan yang mengandung makna sosial atau menunjukkan tanggung jawab sosial terhadap kemanusiaan dan lingkungan alam. Beberapa ciri penting menentukan keberhasilan strategi BSR; program harus charitable, linkable, responsible, sustainable, investable, communicable, collaborative, dan inspirational. Charitable terkait dengan sikap merek yang tulus, empatik, altruistik, welas asih, dan filantrofis. Linkable adalah tentang relevansi merek, serta hubungan penuh makna dalam keterlibatan komunitas. Responsible mengacu pada pertimbangan moral dan sosial dari dampak dan konsekuensinya. Sustainable adalah sejauh mana misi sosial merek berkontribusi terhadap kelangsungan merek itu sendiri dan keberlanjutan persepsi sebagai merek yang baik di mata masyarakat. Investable berkaitan dengan kemampuan program untuk menarik potensi investasi, baik ekonomi (finansial, modal, material), sosial (relasi, komunitas, jaringan), politik (dampak regulasi, dukungan pemerintah, gerakan moral), budaya (gaya hidup, kebiasaan, dan pola pikir masyarakat sesuai dengan misi sosial merek), dan psikologis (kebahagiaan, kepuasan, kesejahteraan). Program harus Communicable, dalam arti pesan yang disampaikan jelas, menarik, dan bermanfaat, dengan cara yang menyenangkan, kreatif, dan efektif, tanpa ekses yang merugikan. Program juga harus Collaborative, menarik banyak mitra, sponsor, dan relawan untuk terlibat. Terakhir, program BSR harus Inspirational, mampu menginspirasi merek lain, pesaing, dan komunitas untuk melakukan hal yang sama. To cite this article (7th APA style): Wijaya, B. S. (2011). Brand Social Responsibility: An Integrative Perspective. Journal Communication Spectrum, 1(2), 203-218 

Page 1 of 1 | Total Record : 7