cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 472 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2016)" : 472 Documents clear
Studi Implementasi RCM untuk Peningkatan Produktivitas Dok Apung (Studi Kasus: PT.Dok dan Perkapalan Surabaya) Nurlaily Mufarikhah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.421 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17032

Abstract

Dok apung merupakan salah satu fasilitas galangan yang ada di PT.Dok dan Perkapalan Surabaya, yang terdiri dari dok I,II,IV dan V. Dok apung mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan reparasi kapal. Oleh karena itu, PT.Dok dan Perkapalan Surabaya melakukan tindakan perawatan untuk menjaga kinerja dok apung. Mengingat begitu pentingnya peran dok apung, maka dilakukan penelitian tindakan dan rencana perawatan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas dok apung dengan menggunakan metode RCM. Penelitian dengan metode RCM (Reliability Centered Maintenance) secara umum dibagi menjadi 2 yaitu, secara kualitatif dan secara kuantitatif. Analisa kualitatif terdiri dari FMEA (Failure Mode and Effect Analysis), FTA (Fault Tree Analysis), dan LTA (Logic Tree Analysis). Sedangkan analisa kuantitatif terdiri dari perhitungan MTTF (Mean Time to Failure), MTTR (Mean Time to Repair), penentuan reliability, dan failure rate dengan menggunakan software weibull 6++. Dari hasil analisa kualitatif terdapat 4 komponen MSI (Maintenance Significant Item), yaitu capstan, ponton, crane dan pompa. Dari hasil analisa kuantitatif didapatkan komponen yang memengaruhi reliability dok apung. Reliability yang paling rendah yaitu ponton, pompa, capstan dan crane. Penilaian reliability didasarkan pada akibat yang ditimbulkan dari kerusakan atau kegagalan komponen terhadap sistem, sedangkan nilai MTTF (Mean Time to Failure) paling rendah pada crane dan pompa yaitu 120 dan 150 hari. Secara teoritis, penerapan RCM (Reliability Centered Maintennace) akan meningkatkan keandalan komponen. Tindakan dan rencana perawatan yang disarankan berdasarkan metode RCM (Reliability Centered Maintenance) yaitu melakukan pengecekan secara rutin serta melakukan training pada bagian maintenance mengenai konsep perawatan. Interval maintenance pada crane dan ponton  dilakukan setiap 1 bulan sekali, sedangkan interval maintenance pada capstan dan pompa dilakukan setiap 2 bulan sekali.
Analisis Tegangan pada Kapal Perang Tipe Corvette Akibat Beban Slamming Sugiyarto Sugiyarto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.387 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17055

Abstract

Kapal perang biasanya desain untuk dapat melaju pada kecepatan  tinggi dan harus memiliki manouver yang bagus. Namun pada kenyataannya, pada waktu beroperasi, kapal perang dihadapkan pada kondisi lingkungan yang tidak menentu yang menyebabkan terjadinya slamming. Slamming disini menyebabkan terjadinya kegagalan struktur pada kapal sehingga membahayakan keselamatan. Tugas akhir ini menganalisa tegangan pada kapal perang tipe Corvette akibat beban slamming. Beban slamming yang terjadi akibat variasi tinggi gelombang 4, 5, dan 6 serta variasi sudut hadap 90 derajat, 135 derajat dan 180 derajat. Dari analisa yang didapatkan bahwa semakin tinggi beban gelombang maka semakin tinggi peluang terjadinya slamming, intensitas terjadi slamming, beban slamming dan tegangan yang diakibatkan beban slamming. Kondisi paling ekstrim terjadinya slamming terjadi pada sudut 180 derajat pada tinggi gelombang 6 meter dengan nilai probabilitas terjadinya slamming mencapai 0.71 serta jumlah kejadian slamming per jam mencapai 527 kali kejadian. Beban terbesar akibat slamming mencapai 92,619 kPa pada bagian 0.15 dari FP. Tegangan yang terjadi masih memenuhi standart aturan BKI.
Analisa Kekuatan Memanjang Floating Dock Konversi Dari Tongkang Demgan Metode Elemen Hingga Dwi Rendra Pramono; Asjhar Imron; Mohammad Nurul Misbah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.003 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17084

Abstract

Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan memanjang dari floating dock yang merupakan hasil konversi dari tongkang dengan panjang 91.3 m dengan mengacu pada kriteria untuk kekuatan memanjang yang telah ditentukan oleh BKI (Biro Klasifikasi Indonesia). Pengecekan harga tegangan dilakukan pada tiga kondisi pembebanan yaitu (1) kondisi muatan kosong, (2) kondisi floating dock tercelup, dan (3) kondisi muatan penuh dengan ada kapal docking diatasnya (kondisi kerja). Analisa dilakukan menggunakan program Finite Element Analysis (FEA) dengan membuat pemodelan keseluruhan floating dock dan pembebanannya. Pemodelan struktur berdasarkan data construction profile dan pemodelan dilakukan dengan surface model untuk pelat, penumpu dan line model untuk penegar. Kondisi batas menggunakan 3-2-1 Minimal Supports berdasarkan Guideline DNV-GL. Hasil dari pemodelan dilakukan validasi dengan uji konvergensi. Dari hasil analisa tersebut didapatkan deformasi sebesar 19.955 mm dan tegangan max sebesar 78.827 MPa untuk kondisi muatan kosong, deformasi sebesar 21.572 mm dan tegangan max sebesar 196.34 MPa untuk kondisi floating dock tercelup, deformasi sebesar 18.189 mm dan tegangan max sebesar 137.54 MPa untuk kondisi kerja. Kekuatan memanjang floating dock telah terpenuhi karena hasil tegangan pada kondisi kerja sebesar 137.54 MPa lebih kecil daripada tegangan izin yaitu sebesar 160 MPa dan tegangan pada kondisi muatan kosong sebesar 78.827 MPa lebih kecil daripada tegangan izin yaitu sebesar 120 MPa. Meskipun pada kondisi tercelup tegangan yang dihasilkan tidak memenuhi aturan dari klas namun hasil tersebut dapat diterima karena kondisi tersebut hanya terjadi sesaat pada kondisi nyata floating dock dan harga tegangan sebesar 196.34 MPa tersebut tidak melebihi yield strength dari material yang digunakan yaitu sebesar 235 MPa.
EVALUASI PENGUKURAN ANGIN DAN ARUS LAUT PADA DATA SENTINEL-1, DATA BMKG, DAN DATA IN-SITU (Studi Kasus: Perairan Tenggara Sumenep) FRISTAMA ABRIANTO
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.931 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17145

Abstract

Arus air laut merupakan pergerakan massa air secara vertikal dan horizontal sehingga menuju keseimbangannya, atau gerakan air yang sangat luas yang terjadi di seluruh lautan dunia. Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air karena tiupan angin atau perbedaan densitas atau pergerakan gelombang panjang. Penelitian ini dilakukan di daerah Perairan Tenggara Sumenep untuk mendapatkan data berupa estimasi angin dan arus laut. Dengan metode ekstraksi fitur pada Citra SAR, didapatkan hasil berupa estimasi angin yang kemudian dilakukan pemodelan arus laut. Dari data tersebut dilakukan evaluasi hasil estimasi angin dan arus laut dari citra satelit SAR Sentinel-1, data model arus laut dari BMKG dan data arus laut secara in-situ. Hasil ekstraksi fitur dari Citra Sentinel-1 didapatkan hasil rata-rata angin pada 4 Februari 2016 sebesar 1,44 m/s dengan arah menuju 292°40’12”; 16 April 2016 sebesar 0,99 m/s dengan arah menuju 265°16’12”; dan 25 April 2016 sebesar 3,76 m/s dengan arah menuju 264°25’12”. Hasil pemodelan arus pada data Citra Sentinel-1 tanggal 4 Februari 2016 memiliki kecepatan rata-rata 0,18 m/s dan arah 198°36’0”; tanggal 16 April 2016 memiliki kecepatan rata-rata 0,08 m/s dengan arah 132°22’47,9”; tanggal 25 April 2016 memiliki rata-rata kecepatan 0,95 m/s dengan arah rata-rata 92°3’36”.
VALIDASI ALGORITMA ESTIMASI KONSENTRASI CHL-A PADA CITRA SATELIT LANDSAT 8 DENGAN DATA IN-SITU (STUDI KASUS: LAUT SELATAN PULAU LOMBOK, NTB) Umroh Dian Sulistyah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.757 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17153

Abstract

Perairan laut selatan Pulau Lombok memiliki produktivitas perairan yang tinggi yang menandakan kesuburan suatu perairan. Chl-a merupakan salah satu faktor yang erat hubungannya dengan kesuburan di perairan laut  selatan Pulau Lombok. Dengan memanfaatkan teknik penginderaan jauh membuat pemetaan distribusi Chl-a lebih efisien dan akurat untuk mengekstrak parameter fisik air tersebut. Akurasi parameter fisik yang diturunkan dari data penginderaan jauh tergantung pada algoritma koreksi atmosfer serta algoritma model untuk menghitung konsentrasi Chl-a. Pada penelitian ini, dengan menggunakan Landsat 8 akan dilakukan validasi algoritma estimasi konsentrasi Chl-a Jaelani terhadap data in-situ di perairan laut selatan Pulau Lombok dengan menggunakan metode koreksi atmosfer 6SV dan Flaash serta digunakan produk reflektan-permukaan (surface reflectance) USGS yang sudah terkoreksi atmosfer. Hasil validasi konsentrasi Chl-a dengan algoritma Jaelani memiliki NMAE terbaik dari citra olahan Landsat 8 dengan koreksi atmosfer metode 6SV yaitu sebesar 26,095%. Dalam penelitian ini dibuat algoritma model estimasi konsentrasi Chl-a yang sesuai dengan karakteristik perairan laut selatan Pulau Lombok dengan korelasi tertinggi (R2 = 0,551) menggunakan perbandingan log(Rrs(λ4)) dan log(Rrs(λ5)). Hasil validasi konsentrasi Chl-a dengan algoritma model Chl-a baru memiliki NMAE terbaik dari hasil citra olahan Landsat 8 dengan koreksi atmosfer metode 6SV yaitu sebesar 13,484%. Hal ini menunjukkan bahwa algoritma model Chl-a baru untuk perairan laut selatan Pulau Lombok lebih baik dalam mengekstrak data kualitas air dari data penginderaan jauh pada lokasi penelitian dibandingkan dengan algoritma Chl-a Jaelani.
Analisis Ketelitian Geometrik Citra Satelit Pleiades 1B dan Geoeye untuk Pembuatan Peta Dasar RDTR Kawasan Pesisir (Studi Kasus: Kecamatan Bulak, Surabaya, Jawa Timur) Moh. Mahfudhdin Alawy
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.072 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17176

Abstract

Tersedianya berbagai macam citra satelit resolusi tinggi dengan ketelitian yang sangat baik yaitu kurang dari satu meter menunjukkan telah berkembangnya teknologi penginderaan jauh saat ini, hal tersebut menjadi kemajuan pula pada ketelitian berbagai peta dasar yang mengharuskan skala yang tinggi misalkan minimal 1:5000 pada penyusunan peta dasar rencana detil tata ruang baik perkotaan, industri maupun pesisir yang mana akan diulas pada penelitian ini. Tentunya untuk memenuhi skala yang tinggi, citra satelit resolusi tinggi tersebut harus diolah dan dikoreksi geometriknya untuk meminimalisir kesalahan. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data citra satelit resolusi tinggi Pleiades 1B tahun 2015 dan Geoeye tahun 2013. Sebagaimana untuk memenuhi ketelitian skala peta yang tinggi yaitu minimal 1:5000, maka pada penelitian ini kedua citra tersebut dilakukan proses koreksi geometrik dengan metode transformasi yang digunakan adalah Affine dan Polynomial Orde 2. Sebagai data penunjang yaitu data Titik Kontrol Tanah (GCP) sebanyak 9 titik dan titik Independent Check Point (ICP) sebanyak 23 titik yang diukur menggunakan GPS Geodetic serta 21 data pengukuran Jarak Planimetris, data ini digunakan untuk proses koreksi geometrik sampai dengan uji ketelitian geometric yang dilakukan pada masing-masing citra . Pada akhirnya hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari kedua citra yang telah dilakukan penelitian memiliki hasil nilai ketelitian yang memenuhi standar ketelitian peta sampai dengan skala 1:5000 pada kelas 1, dengan rincian proses koreksi geometrik  rektifikasi menghasilkan nilai RMS Error yang menunjukkan bahwa metode Polynomial Orde 2 pada citra Pleiades 1B 0,158 dan Geoeye 0,089 memiliki nilai RMS Error yang lebih baik dari metode Affine pada Pleides 1B 0,253 dan Geoeye 0,173, ketelitian geometrik horizontal CE90 citra satelit Geoeye dengan nilai 0,697 yang lebih baik dibandingkan dengan Pleiades 1B yeng memiliki nilai 0,731, begitu juga pada uji ketelitian planimetris yang menunjukkan citra Geoeye dengan nilai ketelitian 0,506 lebih baik dari Pleiades 1B sebesar 0,648.
Pemodelan Persamaan Hubungan Kualitas Perairan Menggunakan Citra Landsat 8 untuk Pendugaan Habitat Padang Lamun (Studi Kasus: Pantai Sanur, Bali) Muhammad Wahyu Tri Pamungkas
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.056 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17184

Abstract

Padang lamun adalah salah satu jenis vegetasi yang berperan penting di ekosistem laut, karena merupakan sumber pakan dan tempat tinggal bagi ikan dan biota laut lain, serta sebagai pencegah abrasi pantai. Namun, ekosistem ini kurang mendapat perhatian dan terus mengalami kerusakan, salah satunya yaitu ekosistem lamun di pantai Sanur yang merupakan daerah wisata, dimana kerusakannya mencapai sekitar 15%. Sehingga perlu dilakukan pengamatan perubahan habitat lamun secara temporal untuk memantau kerusakan yang terjadi. Pengamatan perubahan habitat lamun dilakukan menggunakan persamaan hubungan antara kualitas perairan, yang meliputi suhu, salinitas, kecerahan, dan kedalaman perairan terhadap habitat padang lamun yang didasarkan pada rentang nilai kualitas perairan yang sesuai bagi habitat lamun menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004. Data kualitas perairan diperoleh dari pengolahan citra satelit Landsat 8 tahun 2014 dan 2015 menggunakan algoritma pengolah citra yang telah ada. Berdasarkan data lapangan, diperoleh koefisien pengaruh suhu terhadap keberadaan lamun sebesar -0,04574, koefisien salinitas sebesar 0,40224, koefisien kecerahan sebesar -0,44463, dan koefisien kedalaman sebesar 0,61788. Dengan memasukkan data kualitas perairan ke dalam persamaan hubungan tersebut, diperoleh perubahan habitat padang lamun. Pada tahun 2014 diperoleh luas 393,62 Ha yang sesuai bagi habitat padang lamun, kemudian berkurang 39,11 Ha menjadi 354,51 Ha pada tahun 2015.
Evaluasi Algoritma Wouthuyzen dan Son untuk Pendugaan Sea Surface Salinity (SSS) (Studi Kasus: Perairan Utara Pamekasan) Nafizah - Nafizah
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.262 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17194

Abstract

Pulau Madura merupakan pulau penghasil garam terbesar di Indonesia. Salah satu parameter yang digunakan dalam penentuan daerah potensi tambak garam adalah salinitas perairan (Sea Surface Salinity). Untuk memetakan persebaran salinitas perairan sebagai salah satu data pendukung dalam menganalisis potensi tambak garam dapat memanfaatkan citra satelit. Berbagai metode ekstraksi informasi salinitas perairan telah dikembangkan dan dimanfaatkan. Pengkajian pengukuran salinitas telah dilakukan dan menghasilkan algoritma salinitas perairan. Dalam penelitian ini, dilakukan evaluasi pada dua algoritma yang berbeda yaitu algoritma Wouthuyzen (2008) dan algoritma Son (2009) untuk melakukan estimasi nilai salinitas perairan di perairan utara Pamekasan, Madura. Sebelum dilakukan pemrosesan dengan algoritma, Citra Landsat-8 1T dikoreksi atmosfer dengan Second Simulation of a Satellite Signal in the Solar Spectrum-Vector (6SV). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa perbedaan nilai salinitas perairan dari algoritma Wouthuyzen  dengan data in-situ berkisar antara 2,66 hingga 3,91 psu. Sedangkan selisih salinitas algoritma Son dengan data in-situ 2,14 hingga 3,00 psu. Adapun nilai NMAE algoritma Wouthuyzen dengan data in-situ sebesar 7,2 %, sedangkan pada algoritma Son sebesar 10,6 %.
Pasang Surut Surabaya Selama Terjadi El-Nino Iva Ayu Rinjani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.098 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17199

Abstract

Pengaruh fenomena El Nino juga dapat dipelajari dan dianalisis menggunakan data fluktuasi pasang surut di permukaan laut. Pasang surut adalah naik turunnya permukaan laut disebabkan oleh kombinasi dari gaya gravitasi bulan, matahari dan Bumi. Selain itu, perubahan suasana seperti perubahan tekanan, angin dan suhu akan mempengaruhi pola pasang surut dan aktivitas pasang surut. Hasil kajian menunjukan penurunan MSL terjadi di Perairan Surabaya mengikuti persamaan linier dengan persamaan Y= 114.1-0.3782x (R2=20,69%) dengan penurunan MSL sebesar 4,347 cm sepanjang tahun 2014-2015.
Pembuatan Alur Pelayaran dalam Rencana Pelabuhan Marina Pantai Boom, Banyuwangi Muhammad Didi Darmawan
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.946 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.17259

Abstract

Pantai Boom merupakan pantai yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Pantai ini terletak di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Banyuwangi, Jawa Timur. Pantai tersebut rencananya akan dibangun pelabuhan marina. Pelabuhan harus dilengkapi dengan beberapa fasilitas untuk mendukung rencana tersebut seperti salah satunya adalah alur pelayaran. Untuk membuat alur pelayaran diperlukan penelitian mengenai pasang surut, topografi dasar laut, serta jenis kapal yang melintas untuk memastikan kapal yang berlayar aman dari kemungkinan kecelakaan. Penelitian ini menggunakan data hasil pemeruman, data pasang surut yang diperoleh dari pengamatan langsung, serta berbagai jenis kapal yacht. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa rencana dermaga sebaiknya dibangun 60 meter menjorok ke arah laut dengan panjang dermaga 25 meter. Dalam keadaan air rendah terendah (LLWL), ketiga jenis kapal yang ditentukan dapat merapat ke rencana Dermaga Pelabuhan Marina Pantai Boom, Banyuwangi. Daerah yang tidak bisa dilewati pada saat LLWL, pada saat MSL daerah tersebut sudah dapat dilewati oleh ketiga jenis kapal tersebut. Pada keadaan muka air tinggi tertinggi (HHWL), Kapal Yacht Class 8 dan 6 dapat melewati sebagian perairan sungai Pantai Boom.         Waktu yang tidak tepat untuk melakukan pelayaran pada saat LLWL dari alur pelayaran yang telah dibuat yaitu antara pukul 04:00 – 06:00 WIB pada saat bulan November 2015-Februari 2016 dan pukul 16:00-18:00 pada saat bulan Juni-Agustus 2016. Sedangkan Waktu yang tepat untuk melakukan pelayaran pada saat HHWL yaitu antara pukul 20:00–23:00 WIB pada saat bulan Desember 2015- Maret 2016 dan pukul 8:00-11:00 pada saat bulan Juni-September 2016.