cover
Contact Name
Desti Verani, S.Pd
Contact Email
desti@iphorr.com
Phone
-
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
CHI JOURNAL OF Community Health Issues
ISSN : 28092511     EISSN : 28092724     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan komunitas meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok. Penelitian sesuai tren terbaru dalam kesehatan komunitas ditinjau dari berbagai aspek pada budaya masyarakat yang tinggal di benua Asia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan April dan Desember.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026" : 15 Documents clear
Edukasi Pencegahan hipertensi melalui media poster dengan metode think pair share terhadap pengetahuan dan sikap Happy Aprilia Belkis; Nova Muhani; Dhiny Easter Yanti; Lolita Sary
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.1240

Abstract

Background: Hypertension is now a health problem that is not only experienced by the elderly, but also by adolescents who are at risk of experiencing high blood pressure due to bad habits and unhealthy lifestyles. The prevalnce of hypertension in Lampung Province is 15,10 % of the 6,216,638 population aged 15 years and over. The high cases of hypertension in adolescensts today are caused by one of the low knowledge and attitudes about the risk factors for hypertension. It is necessary to in increase adolescent knowledge and attitudes thourgh poster media with the think pair share method, which is not yet known how effective this method is in increasing knowledge and attitudes in adolescent student. Purpose: To determine the differences in knowledge and attitudes towards preventing hypertension in adolescents through poster media with the think pair share method. Method: The sampling technique wa proposional simple random sampling. Data collection techniques through questionnaire sheets. Data analysis used unvariate (frequency distribution) and bivariate (wilcoxon. Results: There is a difference in knowledge (p-value = 0.001) and attitude (p-value = 0.001) with poster media and the think pair method. Conclusion: There are differences in knowledge and attitudes towards preventing hypertension in adolescents through poster media with the think pair share method.   Keywords: Adolescents; Attitude; Hypertension Prevention; Knowledge.   Pendahuluan: Hipertensi kini menjadi masalah kesehatan yang tidak hanya dialami oleh lansia, tetapi juga oleh remaja yang berisiko mengalami tekanan darah tinggi akibat kebiasaan buruk dan gaya hidup tidak sehat. Prevaleni hipertensi di Provinsi Lampung sebesar 15,10% dari 6.216.638 penduduk berusia 15 tahun ke atas. Tingginya kasus hipertensi pada remaja saat ini disebabkan salah satunya pengetahuan dan sikap yang rendah tentang faktor risiko kejadian hipertensi. Perlu meningkatkan pengetahuan remaja dan sikap melalui media poster dengan metode think pair share yang belum diketahui bagaimana efektifitas metode ini dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pada siswa remaja. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan hipertensi pada remaja melalui media poster dengan metode think pair share. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi ekperimen. Populasi dari penelitian dari kelas 10 dan 11, yakni sebanyak 185 siswa. Teknik pengambilan sampel proposional simple random sampling. Teknik pengumpulan data melalui lembar kuesioner. Analisis data menggunakan unvariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (wilcoxon). Hasil: Ada perbedaan pengetahuan (p-value = 0,001) dan Sikap (p-value = 0.001) dengan media poster dan metode think pair. Simpulan: Ada perbedaan pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan hipertensi pada remaja melalui media poster dengan metode think pair share.   Kata Kunci: Pencegahan Hipertensi; Pengetahuan; Remaja; Sikap.
Aktivitas fisik sebagai bagian pengelolaan glukosa darah pada lansia Dea Restu Ahmad Fadzilla; Lutfi Nurdian Asnindari; Diyah Candra Anita
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2221

Abstract

Background: Population ageing is accompanied by growing burden of non-communicable diseases, including impaired glucose regulation among older adults. Physical activity may improve insulin sensitivity and skeletal muscle glucose uptake, yet community-based evidence remains limited in some settings. Purpose: To association between physical activity and fasting blood glucose among older adults in a community setting. Method: A quantitative cross-sectional study was conducted among 46 older adults attending an elderly community health post in Plembon Kidul, Gunung Kidul, selected using simple random sampling. Physical activity was assessed with the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and classified into low, moderate, and high categories according to WHO criteria. Fasting blood glucose was measured using an Easy Touch device. The association was tested using Spearman’s rank correlation. Results: Most participants reported moderate physical activity (47.8%) and had normal fasting blood glucose (53.0%). Spearman’s correlation analysis showed a significant association between physical activity and fasting blood glucose (p=0.003; r= -0.429), indicating a moderate negative correlation. Conclusion: Higher physical activity was associated with lower fasting blood glucose in older adults. These findings support strengthening community-based, non-pharmacological approaches-particularly physical activity promotion within elderly health posts-to help maintain glucose control in later life.   Keywords: Fasting Blood Glucose; Older Adults; Physical Activity Level; Primary Health Care.   Pendahuluan: Peningkatan usia harapan hidup diikuti bertambahnya beban penyakit tidak menular pada lansia, termasuk gangguan regulasi glukosa. Aktivitas fisik berperan dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan pemanfaatan glukosa oleh otot, namun bukti pada tingkat komunitas masih perlu diperkaya. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia di komunitas Gunung Kidul. Metode: Studi kuantitatif dengan desain potong lintang dilakukan pada 46 lansia di Posyandu Lansia Dusun Plembon Kidul, Gunung Kidul, yang dipilih dengan simpel random sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) dan diklasifikasikan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi sesuai kriteria WHO. Kadar gula darah puasa diukur menggunakan glukometer Easy Touch. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang (47.8%) dan kadar gula darah puasa normal (53.0%). Uji Spearman menunjukkan hubungan negatif bermakna antara aktivitas fisik dan kadar gula darah puasa (p=0.003; r= -0.429), dengan kekuatan korelasi sedang. Simpulan: Aktivitas yang lebih tinggi berasosiasi dengan kadar gula darah puasa yang lebih rendah pada lansia. Temuan ini mendukung penguatan program promotif-preventif berbasis aktivitas fisik di layanan komunitas, khususnya posyandu lansia, sebagai strategi non-farmakologis untuk membantu menjaga kontrol glukosa.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Kadar Gula Darah Puasa; Lansia; Pelayanan Kesehatan Primer.
Analisis hubungan perilaku sleep hygiene terhadap tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir Risma Silviana Agustin; Iwan Ardian; Nutrisia Nu’im Haiya
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2389

Abstract

Background: Students in their final phase of study frequently experienced demands and stress stemming from academic obligations that triggered anxiety and affected their sleep patterns. Poor sleep hygiene was known to elevate anxiety levels, whereas good sleep hygiene behavior could help reduce anxiety levels. Purpose: To analyze the relationship between sleep hygiene behavior and anxiety levels among final-year students. Method: This study employed a quantitative research design with a correlational method using a cross-sectional approach. A total of 140 students in their final study phase participated as respondents, selected through purposive sampling method. Data analysis was conducted using Spearman Rank correlation test at a significance level of α = 0.05. Results: The majority of respondents were 21 years old (54.3%) and female (79.3%). The research findings indicated that 43.6% of respondents demonstrated moderate sleep hygiene behavior, 35.7% poor, and 20.7% good. The respondents' anxiety levels were predominantly in the moderate category (38.6%), followed by mild anxiety (33.6%), and severe anxiety (27.9%). The Spearman Rank test revealed a significant correlation between sleep hygiene behavior and anxiety levels (p = 0.001; r = 0.534), indicating a positive relationship direction with a moderate correlation strength. Conclusion: Data analysis demonstrated a meaningful correlation between sleep hygiene behavior and anxiety levels among students in their final year of study.   Keywords: Anxiety Level; Final Year Students; Sleep Hygiene.   Pendahuluan: Mahasiswa pada fase akhir studi sering merasakan tuntutan dan stres yang bersumber dari kewajiban perkuliahan yang dapat memicu kecemasan dan memberikan dampak terhadap pola tidur. Sleep hygiene yang buruk diketahui dapat meningkatkan kecemasan, sementara perilaku sleep hygiene yang baik dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan perilaku sleep hygiene dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir. Metode: Studi ini menerapkan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional melalui pendekatan potong lintang ( cross-sectional ). Jumlah responden yang terlibat sebanyak 140 mahasiswa pada tahap akhir studi yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Pengolahan data dilaksanakan dengan uji korelasi Spearman Rank pada taraf signifikansi α sebesar 0,05. Hasil: Sebagian besar responden berada pada rentang usia 21 tahun (54.3%) dan berjenis kelamin perempuan (79.3%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 43.6% responden memiliki perilaku sleep hygiene sedang, 35.7% buruk, dan 20,7% baik. Tingkat kecemasan responden mayoritas berada pada kategori sedang (38,6%), diikuti kecemasan ringan (33.6%), dan kecemasan berat (27.9%). Uji Spearman Rank menunjukkan ditemukan keterkaitan yang signifikan antara perilaku sleep hygiene dan tingkat kecemasan (p = 0.001; r = 0.534) menunjukkan arah hubungan positif dengan derajat kekuatan korelasi sedang. Simpulan: Analisis data menunjukkan keterhubungan yang bermakna antara perilaku sleep hygiene dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa di akhir studi.   Kata Kunci: Mahasiswa Tingkat Akhir; Sleep Hygiene; Tingkat Kecemasan.
Laporan kasus gerontik dengan risiko jatuh pada lansia diabetes melitus tipe 2 melalui penerapan latihan jalan tandem Emilia Dani Safitri; Suri Salmiyati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2394

Abstract

Background: The elderly are susceptible to degenerative diseases such as Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM). This long-term condition can impair balance and gait patterns, thereby increasing the risk of falls. Tandem walking exercises serve as an intervention to improve body balance. Purpose: To describe nursing care for an elderly patient with T2DM facing fall risk through the implementation of tandem walking exercises and environmental safety management. Method: A descriptive case study was conducted on Mrs. D (77 years old) using a nursing care process approach. Data were collected through interviews and observations from December 3–12, 2025. The instruments included a gerontic nursing assessment format, featuring the Timed Up and Go (TUG) Test. Results: The assessment revealed that Mrs. D experienced numbness in her feet and instability while walking. Interventions included environmental safety management and tandem walking exercises for 7 days. The final evaluation showed a significant improvement in balance, with a reduction in TUG Test duration by 4.89 seconds (from 21.25 seconds to 16.36 seconds). Conclusion: The implementation of tandem walking exercises and environmental safety management is effective in addressing fall risk in elderly patients with T2DM.     Keywords: Diabetes Mellitus; Balance; Elderly; Fall Risk; Tandem Gait.   Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) rentan terhadap penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus (DM) Tipe 2. Kondisi ini jika diderita dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan dan pola jalan, sehingga meningkatkan risiko jatuh. Latihan jalan tandem merupakan salah satu intervensi untuk meningkatkan keseimbangan tubuh. Tujuan: Untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada lansia DM Tipe 2 dengan masalah risiko jatuh melalui penerapan latihan jalan tandem dan manajemen keselamatan lingkungan. Metode: Studi kasus deskriptif dilakukan pada Ny. D (77 tahun) dengan pendekatan proses asuhan keperawatan. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi pada 3–12 Desember 2025. Instrumen penelitian menggunakan format pengkajian gerontik, termasuk Timed Up and Go (TUG) Test. Hasil: Menunjukkan Ny. D mengeluh kesemutan pada kaki dan goyah saat berjalan. Intervensi yang diberikan meliputi manajemen keselamatan lingkungan dan latihan jalan tandem selama 7 hari. Evaluasi akhir menunjukkan peningkatan keseimbangan yang signifikan dengan penurunan durasi TUG Test sebesar 4.89 detik (dari 21.25 detik menjadi 16.36 detik). Simpulan: Penerapan latihan jalan tandem dan manajemen keselamatan lingkungan efektif dalam mengatasi masalah risiko jatuh pada lansia dengan DM Tipe 2.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Jalan Tandem; Keseimbangan; Lansia; Risiko Jatuh.
Pengaruh pendidikan kesehatan tentang dismenore terhadap tingkat pengetahuan remaja putri Pebiyana Dwiyanti; Iwan Ardian; Nutrisia Nu’im Haiya
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2439

Abstract

Background: Dysmenorrhea is a common reproductive health problem among adolescent girls and can interfere with learning activities as well as quality of life. Limited knowledge regarding dysmenorrhea often leads to inappropriate management and inadequate preventive efforts. Health education is considered an effective strategy to improve adolescents’ understanding of dysmenorrhea and promote appropriate coping behaviors. Purpose: To examine the effect of health education about dysmenorrhea on the level of knowledge among female adolescents. Methods: This study employed a quantitative approach using a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest method. The population consisted of female students at Sultan Agung 3 Islamic Senior High School, Semarang. A total of 82 respondents were selected using purposive sampling. Health education was delivered through an educational lecture using PowerPoint media in a single session. Data were collected using a knowledge questionnaire on dysmenorrhea and analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of α = 0.05. Results: A significant increase in the level of knowledge after the provision of health education. Statistical analysis indicated a significant difference between pretest and posttest scores with a p-value of 0.001 (p < 0.05). Conclusion: Health education about dysmenorrhea has a significant effect on improving the knowledge of female adolescents.   Keywords: Adolescent girls; Dysmenorrhea; Health education; Knowledge level.   Pendahuluan: Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas belajar serta kualitas hidup. Rendahnya tingkat pengetahuan tentang dismenore berpotensi menyebabkan penanganan yang kurang tepat dan minimnya upaya pencegahan. Pendidikan kesehatan menjadi salah satu intervensi yang dapat meningkatkan pemahaman remaja putri mengenai dismenore. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan tentang dismenore terhadap tingkat pengetahuan remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi eksperimen melalui rancangan one group pretest–posttest. Sampel penelitian berjumlah 82 siswi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pendidikan kesehatan diberikan melalui metode ceramah edukatif menggunakan media PowerPoint dalam satu kali pertemuan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang dismenore, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test pada taraf signifikansi α = 0.05. Hasil: Adanya peningkatan tingkat pengetahuan remaja putri setelah diberikan pendidikan kesehatan. Uji statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara nilai pretest dan posttest dengan nilai p = 0.001 (p < 0.05). Simpulan: Pendidikan kesehatan tentang dismenore berpengaruh signifikan terhadap peningkatan tingkat pengetahuan remaja putri.   Kata Kunci: Dismenore; Pendidikan Kesehatan; Remaja Putri; Tingkat Pengetahuan.
The relationship between family support and lifestyle management in type 2 diabetes mellitus patients Puji Astutik; Iwan Ardian; Nutrisia Nu’im Haiya
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2487

Abstract

Background: Adopting a healthy lifestyle is the primary solution for treating type 2 diabetes mellitus. Family support plays a crucial role as an external factor that can strengthen a patient's commitment to adopting a healthy lifestyle. The greater the family support, the better the self-care outcomes for patients with type 2 diabetes mellitus. Purpose: To determine the relationship between family support and lifestyle management in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: The research method used was an observational cross-sectional approach. The study sample consisted of 200 diabetes mellitus patients who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used were the HDFSS and SDSCA questionnaires. Data analysis used the Chi-square test with a significance level of α = 0.05. Results: The results showed that the majority of respondents received good family support, and the majority of respondents' lifestyle management was in the good category. The Chi-square test showed a significant relationship between family support and lifestyle management (p = 0.001), indicating a significant relationship between family support and lifestyle management. Conclusion: There is a significant relationship between family support and lifestyle management.   Keywords: Diabetes Mellitus; Family; Lifestyle; Management; Support.
Persepsi dan penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital: studi kasus pada masyarakat perkotaan Syahrul Ramadhan; Eka Lestari Sitepu
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2496

Abstract

Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna.VVV
Analisis hubungan lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah Rodhyatun Ulfa; Herry Susanto; Indra Tri Astuti
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2497

Abstract

Background: Preschool-aged children are increasingly exposed to gadgets, which can significantly impact their emotional development. Excessive gadget use without parental supervision is known to impair emotional regulation, while controlled usage with appropriate guidance can support healthy emotional development. Purpose: To analyze the relationship between the duration of gadget use and emotional development among preschool-aged children. Method: This study employed a quantitative research design with a correlational method using a cross-sectional approach. A total of 100 preschool-aged children participated as respondents, selected through purposive sampling method. Data analysis was conducted using Spearman Rank correlation test at a significance level of α = 0.05. Results: The majority of respondents demonstrated prolonged gadget usage (>2 hours/day), with significant variations in emotional development. The Spearman Rank test revealed a significant correlation between duration of gadget use and emotional development (p < 0.05), indicating a negative relationship where longer gadget exposure was associated with poorer emotional regulation and increased behavioral problems. Conclusion: Data analysis demonstrated a meaningful correlation between gadget usage duration and emotional development among preschool-aged children. The longer the duration of gadget use, particularly without parental supervision, the greater the tendency for emotional developmental issues.   Keywords: Emotional Development; Gadget Usage; Preschool Children.   Pendahuluan: Anak usia prasekolah semakin terpapar penggunaan gadget yang dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan emosional mereka. Penggunaan gadget yang berlebihan tanpa pengawasan orang tua diketahui dapat mengganggu regulasi emosi, sementara penggunaan terkontrol dengan bimbingan yang tepat dapat mendukung perkembangan emosional yang sehat. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah. Metode: Studi ini menerapkan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional melalui pendekatan potong lintang (cross-sectional). Jumlah responden yang terlibat sebanyak 100 anak usia prasekolah yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Pengolahan data dilaksanakan dengan uji korelasi Spearman Rank pada taraf signifikansi α sebesar 0,05. Hasil: Sebagian besar responden menunjukkan penggunaan gadget yang berkepanjangan (>2 jam/hari) dengan variasi signifikan dalam perkembangan emosional. Uji Spearman Rank menunjukkan ditemukan keterkaitan yang signifikan antara lama penggunaan gadget dan perkembangan emosional (p < 0,05), menunjukkan hubungan negatif dimana paparan gadget yang lebih lama berkaitan dengan regulasi emosi yang lebih buruk dan peningkatan masalah perilaku. Simpulan: Analisis data menunjukkan keterhubungan yang bermakna antara lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah. Semakin lama durasi penggunaan gadget, khususnya tanpa pengawasan orang tua, semakin besar kecenderungan munculnya masalah perkembangan emosional.   Kata Kunci: Anak Prasekolah; Penggunaan Gadget; Perkembangan Emosional.
Hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak usia prasekolah Rizka Fauzia Latif; Indra Tri Astuti; Herry Susanto
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2503

Abstract

Background: Social development was a crucial aspect in forming children's abilities to interact, cooperate, empathize, and adapt to their environment. Parenting styles were one of the main factors that influenced children's social development. Inappropriate parenting styles could impact the weakness of children's social abilities, such as difficulties in communicating, withdrawing, or being unable to follow social rules. Purpose: To identify the parenting styles applied by parents, determine children's social development based on parenting styles, and examine the correlation between parenting styles and preschool children's social development. Method: This study used a cross-sectional design with a sample of 100 preschool children from RA Tarbiyatul Athfal 37 Semarang. Data on parenting styles and children's social development were collected through questionnaires completed by parents. Statistical analysis was conducted using Spearman Correlation test. Results: Showed a significant positive relationship between parenting styles and children's social development (r = 0.653, p = 0.001). Children who received good parenting styles tended to have positive social development, whereas poor parenting styles showed an association with negative social development. Conclusion: There was a strong and significant relationship between parenting styles and children's social development. The implementation of consistent democratic parenting styles, full of affection, and involving open communication was essential to support optimal social development of preschool children.   Keywords: Parenting Styles; Preschool Children; Social Development.   Pendahuluan: Perkembangan sosial merupakan aspek penting dalam pembentukan kemampuan anak untuk berinteraksi, bekerja sama, berempati, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perkembangan sosial anak. Pola asuh yang tidak sesuai dapat berdampak pada lemahnya kemampuan sosial anak, seperti kesulitan berkomunikasi, menarik diri, atau kurang mampu mengikuti aturan sosial. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua, mengetahui perkembangan sosial anak berdasarkan pola asuh, serta mengetahui keeratan hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak usia prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah sampel 100 anak prasekolah dari RA Tarbiyatul Athfal 37 Semarang. Data mengenai pola asuh dan perkembangan sosial anak dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh orang tua. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Korelasi Spearman. Hasil: Menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dan perkembangan sosial anak (r = 0.653, p = 0.001). Anak yang menerima pola asuh kategori baik cenderung memiliki perkembangan sosial yang positif, sedangkan pola asuh kurang menunjukkan keterkaitan dengan perkembangan sosial negatif. Simpulan: Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak. Penerapan pola asuh demokratis yang konsisten, penuh kasih sayang, serta melibatkan komunikasi terbuka sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial anak prasekolah secara optimal.   Kata Kunci: Anak Prasekolah; Perkembangan Sosial; Pola Asuh.V
Pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada diabetes melitus tipe 2 Tri Endah Widiarti; Widiastuti Widiastuti; Sriyati Sriyati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2519

Abstract

Background:  Diabetic foot exercises are exercises performed by diabetics to prevent wounds and improve blood circulation in the feet. Stimulating sensitivity in the soles of the feet affects nerves and can lead to a variety of problems known as neuropathy. The physiological effects of regular foot exercises will achieve both mechanical and reflex effects. Purpose: The aim of this study was to determine the effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Results: The results of data analysis using the Wilcoxon test obtained a correlation coefficient value of -3.994 weak with a significance of 0.000 because the p value ≥0.05, then Ha is accepted and Ho is rejected, which means there is an effect of diabetic foot exercise on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Conclusion: There is an effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients.   Keywords: Foot Exercises; Foot Sensitivity.   Pendahuluan: Senam kaki diabetik merupakan latihan yang dilakukan bagi penderita untuk mencegah terjadinya luka dan membantu peredaran darah bagi kaki. Sensitivitas kaki yang merangsang didaerah telapak kaki yang dipengaruhi oleh saraf dan menyebabkan beragam masalah yang disebut dengan neuropati. Efek fisiologis senam kaki yang dilakukan secara rutin akan mencapai efek mekanis dan refleks yang terjadi.   Tujuan: untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen, dan pendekatan waktu yang digunakan adalah cross- sectional. Hasil: Analisa data menggunakan uji wilcoxon diperoleh nilai koefisien korelasi -3.994 (lemah) dengan signifikansi sebesar 0,000 karena nilai p value ≥0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Simpulan:Terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe.   Kata Kunci: Senam Kaki; Sensitivitas Kaki.

Page 1 of 2 | Total Record : 15