cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025" : 5 Documents clear
Laporan Kasus: Maksilektomi Medial pada Kasus Inverted Papiloma Berulang yang Bertransformasi Maligna Menjadi Karsinoma Sel Skuamosa pada Cavum Nasi Dextra Suhardjo, Lazuardi Taniputra; Ardani, Diar Mia; Soehartono
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inverted papilloma merupakan salah satu tumor jinak pada epitel mukosa dari rongga hidung dan sinus paranasalis. Tumor ini mempunyai kecenderungan rekurensi dan dapat berprogresi menjadi ganas seperti karsinoma sel skuamousa. Umumnya tumor ini didapati pada laki-laki berusia 40 hingga 70 tahun. Namun hingga sekarang masih belum bisa dipastikan penyebab timbulnya tumor ini. Dalam laporan kasus ini, akan dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 46 tahun yang telah menjalani operasi eksisi tumor setelah didapatkan benjolan pada rongga hidung kanan. Beberapa waktu kemudian, pasien kembali datang dengan munculnya kembali benjolan yang semakin besar pada rongga hidung kanan, disertai dengan gejala hidung buntu sebelah kanan, bengkak wajah kanan, tidak bisa mencium bau-bauan, keluar sekret darah seperti jelly, nyeri kepala, dan penurunan berat badan. Dari hasil CT Scan kepala didapatkan gambaran massa sinonasal disertai penyempitan airway disertai metastasis tulang. Dari pemeriksaan histopatologi awal didapatkan tumor inverted papilloma dengan displasia. Dari seluruh hasil tersebut dicurigai kasus inverted papilloma ini telah berkembang menjadi ganas. Sehingga pasien ini dilakukan tindakan pembedahan terbuka maksilektomi medial. Dari hasil operasi kemudian dilakukan histopatologi dengan hasil jaringan tumor inverted papilloma yang bertransformasi maligna menjadi karsinoma sel skuamosa
Korelasi Refluks Laringofaring dengan Terjadinya Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) Nugrahanitya, Yulia; Murdiyo, H. Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Refluks Laringofaring (RLF) merupakan kondisi inflamasi yang terjadi pada mukosa laring dan faring akibat refluks isi lambung, yang sering dikaitkan dengan berbagai gejala pernapasan. Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah gangguan tidur yang ditandai dengan henti napas berulang akibat sumbatan saluran napas atas. Studi sebelumnya menunjukkan kemungkinan korelasi antara RLF dan OSAS, namun hubungan ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara Reflux Symptom Index (RSI) dan Reflux Finding Score (RFS) pada pasien RLF dengan gejala OSAS yang dinilai menggunakan Epworth Sleepiness Scale for Children and Adolescents (ESS-CHAD) serta STOP-Bang Questionnaire. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien RLF di RSUD Dr. Saiful Anwar selama periode 1 Juli 2023 hingga 31 Juli 2024. Subjek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu pasien RLF dengan skor RSI > 13 dan RFS > 7, serta telah menjalani pemeriksaan klinis terkait OSAS. Hasil: Dari 27 pasien yang memenuhi kriteria inklusi, mayoritas berusia 41-50 tahun (37%) dengan proporsi jenis kelamin perempuan (51,9%). Analisis korelasi menggunakan uji Spearman menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara RSI dan RFS dengan ESS-CHAD maupun STOP-Bang. Hasil uji regresi juga menunjukkan bahwa RSI dan RFS tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap risiko OSAS. Kesimpulan: Penelitian ini tidak menemukan korelasi yang signifikan antara RLF dan OSAS berdasarkan skor RSI, RFS, ESS-CHAD, dan STOP-Bang. Hasil ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyatakan bahwa meskipun kedua kondisi ini sering ditemukan bersamaan, hubungan kausalnya masih belum jelas. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan sampel lebih besar dan metode diagnostik yang lebih komprehensif seperti polisomnografi.
Karakteristik Penyakit pada Poli THT-KL di RS Mitra Sehat Medika, Pandaan Djatioetomo, Yudha Adi Pradana; Deviana; Soerjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Karakteristik Penyakit pada Poliklinik THT-KL di RS Mitra Sehat Medika, Pandaan. Akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas menjadi penting bagi kesejahteraan global. Tanggung jawab pemerintah dalam memberikan layanan tersebut mendasari pentingnya sistem perawatan kesehatan. RS Mitra Sehat Medika di Pandaan, dengan Poliklinik Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT- KL), menjadi fasilitas penting dalam melayani kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik penyakit di Poliklinik THT- KL di RS Mitra Sehat Medika, Pandaan. Analisis retrospektif data pasien dari tahun 2021 dan 2022 dilakukan. Informasi demografi, diagnosis, dan distribusi penyakit dianalisis. Penelitian melibatkan 504 pasien pada tahun 2021 dan 593 pasien pada tahun 2022. Kelompok usia paling umum adalah 11-20 tahun (26% pada tahun 2021, 14% pada tahun 2022). Otitis eksterna, serumen prop, dan otitis media akut adalah tiga diagnosis teratas dalam kedua tahun. Poliklinik THT-KL di RS Mitra Sehat Medika, Pandaan, memiliki pola penyakit yang serupa dengan penelitian lain. Peningkatan kesadaran terhadap pola ini dapat membantu perencanaan layanan kesehatan.
Laporan Kasus: Chronic Invasive Fungal Rhinosinusitis dengan Fistula Oroantral Prasetyo, Samuel; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Chronic Invasive Fungal Rhinosinusitis (CIFRS) adalah infeksi jamur pada sinus yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk fistula oroantral, yaitu hubungan abnormal antara rongga mulut dan sinus maksilaris. Kondisi ini sering terjadi pada individu dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita diabetes mellitus. Diagnosis yang terlambat dan penanganan yang tidak adekuat dapat menyebabkan morbiditas yang tinggi. Tujuan: Laporan ini bertujuan untuk mendokumentasikan kasus CIFRS dengan fistula oroantral pada pasien dengan diabetes mellitus tipe 2, serta mengevaluasi strategi diagnosis dan penatalaksanaan yang efektif dalam menangani kondisi ini. Laporan kasus: Seorang perempuan berusia 51 tahun mengeluhkan keluarnya nanah dari gusi kiri atas sejak satu bulan setelah pencabutan gigi molar atas kiri. Pasien memiliki riwayat sinusitis kronis dan diabetes mellitus tipe 2. Pemeriksaan fisik dan pencitraan menunjukkan sinusitis maksilaris kiri dengan fistula oroantral. Kultur jaringan sinus mengidentifikasi Corynebacterium sp., sementara histopatologi menunjukkan peradangan kronis dan jaringan granulasi. Pasien menjalani Middle Meatal Antrostomy (MMA), prosedur Caldwell-Luc, serta perbaikan fistula oroantral. Namun, karena komorbiditas diabetes mellitus, luka pascaoperasi tidak sembuh sempurna, sehingga dilakukan revisi penutupan fistula. Kesimpulan: Penanganan CIFRS dengan fistula oroantral memerlukan pendekatan multidisiplin, termasuk debridemen bedah, terapi antibiotik, serta manajemen faktor predisposisi seperti diabetes. Keberhasilan perbaikan fistula oroantral bergantung pada pengendalian infeksi sinus dan teknik bedah yang tepat. Diagnosis dini dan penatalaksanaan komprehensif sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Laporan Kasus: Implantasi Koklea pada Kasus Hipoplasia Koklea dan Hipoplasia Nervus Vestibulokoklearis Putri, Giovani Indah Giantoro; Wahyudiono, Ahmad Dian; Handoko, Edi; Putri, Meyrna Heryaning
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 1 (2025): March 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Gangguan pendengaran sensorineural kongenital memengaruhi 1-6 per 1.000 kelahiran, dengan malformasi telinga dalam menjadi penyebab 10-20% kasus, termasuk hipoplasia koklea pada 15-23% kasus. Defisiensi nervus vestibulokoklearis (VCN) memperumit penatalaksanaan, terutama terkait efektivitas implantasi koklea yang masih kontroversial. Tujuan: Melaporkan kasus implantasi koklea pada anak dengan hipoplasia koklea dan hipoplasia nervus vestibulokoklearis, serta mengevaluasi hasil dan tantangan dalam prosedur ini. Laporan kasus: Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun 7 bulan mengalami keterlambatan perkembangan dan bicara. Diagnosis menunjukkan tuli sensorineural sangat berat dengan hipoplasia koklea dan hipoplasia VCN bilateral. Setelah penggunaan alat bantu dengar tanpa kemajuan signifikan, dilakukan implantasi koklea pada telinga kiri. Evaluasi pasca-implan menunjukkan gelombang patologis pada pemeriksaan EABR, tanpa identifikasi Gelombang V hingga intensitas 100 dB. Kesimpulan: Implantasi koklea pada kasus defisiensi VCN masih kontroversial namun dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terapi. Evaluasi menyeluruh dan edukasi keluarga terkait hasil yang bervariasi sangat penting. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi prediktor keberhasilan dan mengoptimalkan hasil rehabilitasi auditori.

Page 1 of 1 | Total Record : 5