cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 42 Documents
Efektivitas Irigasi Nasal dalam Pencegahan Transmisi COVID-19 Tandio, Aditya Leonard; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 2 No. 1 (2023): March 2023
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mendorong penelitian untuk mereduksi atau mencegah transmisi. Penyebaran droplet dari saluran pernapasan menimbulkan tantangan dalam prosedur yang melibatkan saluran pernapasan. Penggunaan antiseptik dan larutan lainnya untuk irigasi nasal, mulai direkomendasikan untuk pencegahan transmisi COVID-19. Virus Korona menginfeksi sel host dengan ikatan glikoprotein virus dan reseptor ACE-2 host yang ditemukan paling banyak pada mukosa nasal. Transmisi SARS-CoV-2 dipengaruhi oleh tingginya viral load cavum nasi dan nasofaring sebagai potensi reservoir. Mekanisme kerja irigasi nasal adalah meningkatkan mucociliarry clearance, memperbaiki integritas sel dan menghambat apoptosis tergantung dari ion yang bekerja. Penggunaan sediaan povidone iodine 10% yang diencerkan menjadi 0.5% selama 15 detik sebelum melakukan insisi mukosa hidung di ruang operasi relatif aman dan direkomendasikan untuk menurunkan potensi transmisi. Produksi asam hipoklorid dapat ditingkatkan dengan irigasi nasal larutan isotonis atau hipertonis sehingga meningkatkan pertahanan imun terhadap replikasi virus. Namun, studi in vitro dan in vivo masih perlu dilakukan untuk melakukan evaluasi efektivitas penggunaan povidone iodine pada irigasi nasal untuk menginaktivasi virus korona.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencari cara menurunkan transmisi COVID-19 seperti penggunaan ACE-2 agonist atau ARB topical. Hingga saat ini, penggunaan irigasi nasal dalam memutus rantai transmisi harus dilakukan secara komprehensif dengan tindakan-tiindakan preventif lainnya dan penggunaan alat pelindung diri yang sesuai
Pengaruh Radioterapi terhadap Rinitis Alergi Tanudjaja, Beatrice; Retnoningsih, Endang
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Peningkatan respon imun oleh sel-sel T Helper 2 (TH-2) dan penurunan respon sel-sel T-reg mendorong sistem imun menimbulkan reaksi alergi terhadap paparan alergen. Penurunan dari produksi sitokin yang menginduksi imunitas TH-1 juga menyebabkan meningkatnya respon imun tipe TH-2. Radiasi pengion yang digunakan pada radioterapi pasien kanker dapat menyebabkan perpindahan tipe respon imunitas dari TH-1 ke TH-2. Tujuan: Melaporkan satu kasus yang menggambarkan pengaruh radioterapi terhadap rinitis alergi. Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 19 tahun mengeluh mengalami pilek dan bersin beruntun pada paparan dengan debu rumah, kapuk, dan dingin, sejak 3 bulan setelah selesai menjalani radioterapi untuk Karsinoma Nasofaring (KNF), dan pada pemeriksaan tes cukit kulit (SPT) pasien dinyatakan positif alergi debu rumah. Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai pengaruh radioterapi terhadap reaksi inflamasi TH-2 melalui database Google Scholar, dan Proquest didapatkan dua jurnal yang relevan dengan kasus yang dilaporkan. Hasil: Radioterapi dapat meningkatkan aktifitas imunosupresi oleh sel-sel T-reg yang dapat menurunkan reaksi alergi. Sebaliknya, radioterapi konvensional setelah beberapa minggu juga dapat menyebabkan perpindahan tipe imunitas dari TH-1 ke arah TH-2, dan menyebabkan penurunan barier epitel mukosa hidung terhadap alergen. Kondisi ini disertai menurunnya aktivitas T-reg oleh sel- sel kanker yang tereliminasi, dapat memicu reaksi alergi pada individu yang secara genetik rentan terjadi alergi. Kesimpulan: Paparan radioterapi dan aktifitas sel-sel kanker dapat mempengaruhi manifestasi klinis rinitis alergi melalui perubahan pada imunitas tubuh dan perubahan barier epitel mukosa hidung.Kata kunci: alergi, rinitis alergi, the hygiene hypothesis, T-reg, T Helper 2, T Helper 1, radioterapi, kanker, karsinoma nasofaring.
Cholesterol Granuloma Sinus Etmoid Wirattami, Ayunita Tri; Suheryanto, Rus
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Cholesterol Granuloma biasanya dikaitkan dengan penyakit telinga tengah kronis dan sering terjadi pada sel mastoid dan kavum timpani. Cholesterol Granuloma adalah reaksi benda asing yang terjadi di jaringan mukosa diakibatkan oleh pengendapan kristal kolesterol, dan ditandai dengan giant cell, makrofag, dan hemosiderin dalam histologinya. Tujuan: menganalisa faktor-faktor yang turut berperan dalam pembentukan Cholesterol Granuloma dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menyingkirkan diagnosis banding, serta tatalaksana yang dapat dilakukan. Kasus: Perempuan usia 63 tahun, datang dengan keluhan mata kanan kabur. Pasien mengeluh mata kanan kabur sejak kurang lebih 1 tahun lalu. Tidak didapatkan keluhan THT CT Scan dan MRI tampak adanya lesi pada sinus etmoid kanan yang meluas hingga kavum orbita kanan. Diskusi: Kasus ini didapatkan hasil histopatologi yang sesuai dengan gambaran Cholesterol Granuloma yaitu didapatkan potongan jaringan ikat dengan sebaran sel-sel radang limfosit, histiosit. Tampak fokusfokus kartilago dan trabekula tulang, yang kemungkinan adalah bagian dari pengambilan jaringan saat operasi. Tampak pula cholesterol cleft, dengan hemosiderin, makrofag dan pembuluh-pembuluh limfatik dilatasi. Tatalaksana untuk Cholesterol Granuloma adalah bedah reseksi. Endoscopy sinus surgery telah menggantikan tindakan yang tradisional menggunakan pendekatan eksternal dengan keberhasilan yang sebanding.
Gambaran Fungsi Pendengaran pada Anak dengan Riwayat Infeksi TORCHS di Poliklinik Neurotologi RSUD dr. Saiful Anwar Periode 1 Januari 2016-31 Desember 2018 Kurniawan, Steffi; Indrasworo, Dyah
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Fungsi pendengaran memiliki pengaruh yang signifikan dalam perkembangan bicara, berbahasa serta interaktif sosial anak. Ketulian akibat faktor infeksi dapat terjadi saat sebelum dan setelah proses kelahiran. Salah satu penyebab tersering ketulian kongenital akibat paparan masa pre natal adalah TORCHS (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Virus, Syphilis). Infeksi TORCHS merusak telinga bagian dalam, otak yang menyebabkan gangguan perilaku dan neurologik dan struktur mata hingga menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan. Tujuan: Mendapatkan gambaran fungsi pendengaran pada anak dengan diagnosa suspek TORCHS di Poliklinik Neurotologi RSUD dr. Saiful Anwar periode 1 Januari 2016 – 31 Desember 2018. Metode:Ppenelitian deskriptif untuk melihat gambaran  fungsi pendengaran pada anak dengan riwayat infeksi TORCHS. Kerangka operasional semua data rekam medis pasien anak yang diduga mengalami gangguan pendengaran akibat infeksi TORCHS di poliklinik neurotologi periode 1 Januari 2016 – 31 Desember 2018. Dicatat variabel - variabel yang diikuti dan disajikan dalam bentuk tabel.  Hasil: Penderita terbanyak yang mengalami gangguan pendengaran akibat infeksi TORCHS yang telah dilakukan pemeriksaan OAE dan BERA adalah laki – laki sebesar 60%. Berdasarkan usia angka kejadian tertinggi pada rentang usia 0-6 bulan yaitu 16 orang (45,7 %). Terbanyak jenis tuli terbanyak yaitu tuli sensorineural yaitu 19 orang (54,3 %). Berdasarkan riwayat infeksi yaitu infeksi CMV sebanyak 16 orang (45,7 %). Penderita tuli sensorineural terbanyak akibat akibat CMV sebesar 47,6 %. Penderita dengan infeksi TORCHS terhadap gangguan fungsi pendengaran didapatkan berat badan terbanyak dengan berat badan normal sebesar 74,9 %.   Kata kunci: Tuli sensorineural, Infeksi TORCHS
Profil Hasil Pemeriksaan Skin Prick Test Positif dengan Manifestasi Klinisnya di Poliklinik Khusus Alergi Imunologi THT-KL RSUD dr. Saiful Anwar Malang Periode Januari 2020-Februari 2021 Devito, Agustinus Betha; Putri, Meyrna Heryaning
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Skin prick test merupakan tes standar yang digunakan dalam menegakkan diagnosis alergi. Skin prick test memberikan informasi keberadaan immunoglobulin E (IgE) spesifik terhadap protein dan peptida antigen atau yang dikenal dengan alergen. Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh immunoglobulin E (IgE) yang spesifik terhadap alergen tertentu yang berkaitan dengan sel mast. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk mengetahui profil hasil pemeriksaan skin prick test positif dan manifestasi klinisnya pada pasien yang berobat di poliklinik khusus alergi imunologi THT-KL Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang selama periode Januari 2020 – Februari 2021. Hasil : Dari 72 pasien yang memiliki hasil skin prick test positif didapatkan distribusi terbanyak memiliki rentang umur 26-45 tahun yaitu dengan presentasi sebesar 44,5%, sedangkan distribusi jenis kelamin laki-laki adalah yang terbanyak dengan presentasi 75%. Tenaga kesehatan merupakan pekerjaan terbanyak yang melakukan tes alergi dengan skin prick test positif yaitu sebanyak 22,2%. Pada penelitian ini didapatkan hasil skin prick test positif terbanyak adalah alergen inhalan dengan presentase sebanyak 45,8%. Distribusi diagnosa alergi terbanyak berdasarkan kriteria ARIA adalah RAIR dengan 36,1%. Berdasarkan distribusi penyakit penyerta yang berkaitan dengan rinitis alergi terbanyak yaitu rinosinusitis 30,5% Kesimpulan : Pada penelitian skin prick test dengan hasil positif dari beberapa variable yang diteliti didapatkan hasil terbanyak dari distribusi umur yaitu usia 26-45 tahun, distribusi jenis kelamin adalah laki-laki, distribusi pekerjaan adalah tenaga kesehatan, distribusi berdasarkan jenis alergen yaitu alergen inhalan, distribusi rinitis alergi berdasarkan kriteria ARIA adalah RAIR dan distribusi berdasarkan rinitis alergi dengan penyakit penyerta terbanyak adalah rinosinusitis. Kata Kunci : Skin prick test, immunoglobulin E, alergen, rinitis alergi, penyakit penyerta 
Corpus Alienum Glotis Kartini, Fiqih Fakhriana; Murdiyo, H. Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 1: March 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Benda asing pada laringotrakeal jarang terjadi dan dapat menimbulkan keadaan darurat yang mengancam jiwa. Tujuan : Melaporkan dan menganalisis 1 kasus neglected corpus alienum tulang ayam dengan pentalaksanaan trakeotomi dan bronkoskopi ekstraksi Kasus: Laki-laki 19 tahun datang dengan keluhan suara parau dan nyeri tenggorok yang semakin memberat. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan adanya corpus alienum tulang ayam di glottis sehingga direncanakan ekstraksi dengan mengamankan jalan napas terlebih dahulu. Diskusi: Penataksanaan ekstraksi benda asing di glottis memerlukan trakeotomi untuk mengamankan jalan napas. Kesimpulan : Benda asing laring jarang terjadi terutama pada orang dewasa dan presentasi klinis hanya dengan disfonia dan tidak ada distres pernapasan merupakan suatu kondisi yang sangat langka .Kata kunci: Corpus alienum, Glotis
Gambaran Pasien Abses Leher Dalam dengan Diabetes Melitus dan Tanpa Diabetes Melitus di Bagian IK THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019 Intan, Monica
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Infeksi abses leher merupakan sebuah penyakit serius yang berada pada ruang potensial dan fasia pada bagian leher. Infeksi ini bisa berkembang menjadi abses atau selulitis. Diabetes melitus merupakan salah satu permasalahan kesehatan mayor di dunia. Diabetes mellitus merupakan faktor resiko yang signifikan yang berhubungan erat terjadinya infeksi yang dapat menyebabkan kematian dan komplikasi. Tujuan: Mengetahui gambaran pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus dan tanpa diabetes melitus 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019. Metode: penelitian deskriptif cross sectional untuk melihat gambaran pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus dan tanpa diabetes melitus di bagian IK THT-KL di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2019. Hasil: pasien abses leher dalam dengan diabetes melitus lebih banyak pria dengan jumlah 11 orang (61,1%) sedangkan wanita sebanyak 7 orang (25%). Lokasi tersering abses pada pasien diabeters didapatkan pada ruang submandibular (60%) dan ruang submental (28%). Abses melibatkan lebih dari satu ruang leher dalam ditemukan pada pasien DM dan non-DM dengan kuman terbanyak berupa Klebsiella Pneumoniae.   
Benda Asing Kait Gorden di Esofagus pada Anak Usia 8 Bulan dengan COVID-19 Sujana, Widia Isa Aprillia
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Kasus tertelan benda asing masih merupakan  masalah yang sering terjadi pada anak. Benda asing tajam di esofagus memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi sehingga memerlukan diagnosis yang tepat dan tatalaksana yang segera. Infeksi COVID-19 pada anak seringkali asimptomatik, pada kasus anak dengan pemeriksaan serologi ECLIA positif, prosedur esofagoskopi segera perlu dilakukan dengan protokol COVID-19. Tujuan: Memahami lebih mendalam penegakan diagnosis dan penatalaksanaan ekstraksi benda asing tajam (kait gorden) di esofagus pada anak dengan protokol COVID-19. Laporan kasus: Anak laki-laki usia 8 bulan menelan 1 buah kait gorden. Presentasi klinis dan hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya benda asing berdensitas logam di esofagus dan hasil pemeriksaan ECLIA positif. Pasien direncanakan esofagoskopi ekstraksi dan eksplorasi dengan pembiusan umum dan protokol COVID-19. Metode: Telaah literatur berbasis bukti melalui pencarian PubMed dan Google Scholar serta buku ajar yang yang memiliki relevansi dengan topik serta naskah lengkap tersedia. Hasil: Pengambilan benda asing tajam esofagus pada anak direkomendasikan dengan menggunakan endoskopi kaku dengan pembiusan umum dan dikerjakan dalam waktu <24 jam. Teknik yang digunakan berhubungan dengan arah ujung tajam dari benda asing. Skrining preoperasi, penggunaan APD, dan ruangan operasi bertekanan negatif serta pembuatan surgical tent mengurangi resiko transmisi. Kesimpulan: Penegakan diagnosis yang tepat, intervensi endoskopi segera dengan teknik dan pemilihan alat ekstraksi yang tepat, dan dengan pembiusan umum direkomendasikan pada penanganan kasus tertelan benda asing tajam pada anak. Skrining preoperasi dan penerapan protokol COVID-19 wajib dilakukan pada pasien anak dengan kecurigaan COVID-19.Kata Kunci: tertelan benda asing, benda asing tajam esofagus, anak, esofagoskopi, COVID-19 AbstractBackground: Foreign body ingestion case still a common problem among children. Sharp foreign body have high morbidity and mortality rate that need correct diagnosis and management. COVID-19 infection in children usually asymptomatic, in the case of children with ECLIA positive, esophagoscopy procedure need to be done with COVID-19 protocol. Purpose: To understand diagnosis and management of sharp foreign body (curtain hook) extraction in children with COVID-19 protocol. Case report: A boy 8 month old have been reported ingested a curtain hook. Clinical presentation and radiography examination showing foreign body in esophagus and ECLIA positive. The patient planned to undergoing esophagoscopy extraction and exploration with general anesthesia and COVID-19 protocol. Methods: Evidence-based literature review via PubMed, Google Scholar and also textbook that relevant with topic and script available. Result: Rigid endoscope extraction with general anesthesia within 24 hours is recommended for esophagus foreign body in children. The sharp egde of the foreign body determine the technique being used. Preoperative screening, PPE use, and negative pressure operating room also creation of surgical tent reduce the risk of transmission. Conclusion: Right diagnosis, immediate endoscopic intervension with right technique and extraction tool under general anesthesia are recommended for sharp foreign body ingestion in children. COVID-19 protocol is a must to child patient with sucspicion of COVID-19.Keywords: foreign body ingestion, sharp foreign body in esophagus, children, esophagoscopy, COVID-19
Perbaikan Tuli Konduksi Pasca Pemberian Terapi LPR Erlangga, Eggi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Refluks ekstraesofageal (EER) berhubungan dalam proses inflamasi pada seluruh mukosa kepala dan leher, sinus paranasal, tuba Eustachius dan telinga tengah, nasofaring, hingga ke saluran napas bagian bawah. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh LPR, sejauh ini diketahui berhubungan dengan disfungsi pada tuba Eustachius dan otitis media.Tujuan : Melaporkan dan menganalisis 1 kasus gangguan pendengaran dan LPR. Kasus: Laki-laki 74 tahun datang dengan keluhan penurunan pendengaran disertai dengan suara parau dan rasa berlendir di tenggorok. Pasien didapatkan tuli campur sedang dekstra dan tuli sensorineural sedang berat sinistra dan suspek LPR. Paska terapi didapatkan perbaikan ambang dengar dan gejala LPR.  Diskusi: Setelah pemberian terapi, terjadi perbaikan tuli konduksi pada kedua telinga. Tuli sensorineural yang masih didapatkan pada pasien dapat disebabkan dari proses degeneratif. Pada pasien disarankan untuk menggunakan alat bantu mendengar agar pendengaran pasien menjadi lebih baik.. Kesimpulan : Penyakit refluks laringofaring berhubungan dengan gangguan pendengaran dan ketulian. Kata kunci: Tuli campur, tuli sensorineural, refluks laringofaringeal  
Profil Pasien Sudden Sensorineural Hearing Loss di Klinik Neurotologi RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2015 – 31 Desember 2019 Sudarmanto, Yohanes; Indrasworo, Dyah
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 1 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) adalah keadaan darurat medis saat penurunan pendengaran terjadi tiba-tiba dan bukan akibat penyumbatan mekanis. Diagnosis cepat sangat penting akibat adanya jendela waktu intervensi medis dalam pemulihan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik klinis pasien dengan SSNHL yang berguna sebagai data dasar atau landasan dalam penelitian lanjutan kasus SSNHL. Metode: Penelitian deskriptif potong lintang dilakukan pada pasien terdiagnosis SSNHL dengan pendekatan retrospektif rekam medik periode 1 Januari 2015 -30 Desember 2019. Karakteristik klinis pasien SSNHL ditampilkan dalam bentuk proporsi relatif maupun pengukuran tendensi sentral. Hasil: Terdapat total 27 kasus SSNHL yang diikutsertakan dalam penelitian ini. SSNHL lebih sering terjadi pada perempuan (59,3%), usia rata-rata 45 tahun, unilateral (81,4%), dengan telinga kanan merupakan sisi yang lebih sering mengalami keluhan. Rerata waktu kedatangan adalah hari ke-9. Keluhan yang paling sering menyertai SSNHL adalah vertigo dan tinnitus. Derajat gangguan sangat berat identik dengan pola audiogram total loss. Tipe timpanogram sebagian besar adalah tipe A (81,8%) dengan sebagian besar skor SDS dan SRT tidak mencapai 100% atau threshold. Pada kasus unilateral pola audiogram yang jelek cenderung memberikan hasil negatif pada tes refleks stapedius ipsilateral namun tidak terjadi pada sisi telinga kiri pada kasus bilateral SSNHL. Kesimpulan: Perhatian khusus akan kewaspadaan SSNHL pada populasi perempuan di usia pertengahan perlu ditekankan, penelitian lanjutan terkait faktor risiko perlu dipertimbangkan. Secara umum, peningkatan kewaspadaan dan pengetahuan akan tanda kehilangan pendengaran mendadak perlu ditingkatkan untuk mempersingkat awitan gejala dengan waktu kedatangan ke fasilitas kesehatan. Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Tuli Saraf Mendadak, Karakteristik Klinis, Kegawatadaruratan Medis