cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
PROSIDING SEMINAR NASIONAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan" : 19 Documents clear
ANALISIS MOLEKULER PROFIL PROTEIN PILLI UNTUK MENGUNGKAP HUBUNGAN SIMILARITAS 26 STRAIN Salmonella typhi ISOLAT JAWA DARMAWATI S; Anwar S.; ARTAMA T.W.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.015 KB)

Abstract

Variasi dan hubungan similaritas 26 strain Salmonella typhi Isolat Jawa merupakan awal untuk melacak protein sub unit pilli spesifik yang memiliki aktivitas hemaglutinasi. Tujuan penelitian analisis molekuler profil protein pilli untuk mengungkap  hubungan similaritas 26 Strain S. typhi Isolat Jawa. Analisis dilakukan terhadap 26 strain yang berasal dari Surabaya, Madiun, Malang,  Salatiga, Magelang, Bandung, Bogor, Jakarta, Yogyakarta dengan elektroforesis  SDS-PAGE. Analisis hubungan similaritas digunakan program MVSP, untuk mengkonstruksi dendogram  yang mencerminkan klasifikasi dari 26 strain S. typhi Isolat Jawa berdasarkan nilai indeks similaritas (S) dengan algoritma UPGMA. Hasil analisis profil protein pili menunjukkan  (1) Jumlah pita protein sub unit pilli bervariasi : 8-17 pita, BM tertinggi 200 kD, terendah 10 kD,  dengan 20 karakter. (2) Protein 100 kD, 50 kD, 45 kD dan 40 kD adalah  protein sub unit pilli yang dimiliki oleh 26  strain S. typhi Isolat Jawa. (3) Dari 26 strain S. typhi Isolat Jawa terdiri dari dua kelompok besar yang mempunyai indeks similaritas 61,2%. Kelompok pertama adalah strain S. typhi Isolat Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan kelompok ke dua adalah strain S. typhi Isolat Jawa Barat dan DKI. Pita 14 (12,5 kD) dan 15 (78kD) dari protein sub unit pilli hanya dimiliki strain S. typhi dari Surabaya. Pita 18(35kD) dan 20 (72kD) dari protein sub unit pilli hanya dimiliki oleh Strain S. typhi dari DKI Jakarta.
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DAN FAKTOR BUDAYA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI DESA TORIYO KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO Siti Amaliah
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.878 KB)

Abstract

Background: Occurrence of diarrhoea is high, specially for the five under years child at Bendosari Public Health Centre, which 30 % from Toriyo village.It caused probably by bed environment saniatation and cultural factor or habitual behaviour. Obyective: To analyse the correlation among environment sanitation and cultural factor with the  occurrence of diarrhea. Methods: The cross sectional design with cluster random sampling. The samples are 68 respondence of housewife.Independent variable are the environment sanitation and cultural factor. Dependent variable is incidence of diarrhea.Statistical analyse with Chi Square test. Result: The water supply using well dig 76,5 %, water of PDAM  23,5%. Faeces disposal with good latrine 45,58 %, no having latrine 54,42 %. Drinking water which not be braised 52,9%,stewed 47,1%.Cleaning the hand after defecate with soap 39,7%,  not with soap 60,3%; cleaning the hand with soap before eating 54,4%, not cleaning the hand 45,6 %. Treatment diarrhoea by self 58,8%, treatment by Public Health Centre 41,2 % There are significant correlation among clean water supply, coverage of bed latrine, drinking uncooked water, cleaning the hand with soap habits, and treatment by self with occurrence of diarrhoea (p < 0,05). Conclusion: There are significant correlation among environment sanitation and cultural factor with occurrence of diarrhoea.Keywords: diarrhoea, cultural factor, sanitation.
EFEKTIFITAS VIRGIN COCONUT OIL ( VCO ) TERHADAP KANDIDIASIS SECARA INVITRO Sri Sinto Dewi; Tulus Aryadi
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.248 KB)

Abstract

Minyak kelapa murni Virgin Coconut Oil (VCO ) merupakan minyak kelapa yang diproses tanpa pemanasan yaitu dengan penambahan enzim, pancingan, sentrifugasi.  Minyak kelapa dari proses tersebut banyak mengandung asam lemak jenuh rantai sedang, yang diyakini sebagai herbal alternative untuk pengobatan dan pencegahan penyakit degeneratif maupun penyakit yang disebabkan mikroorganisme. Kandungan vco yang paling banyak adalah asam lemak jenuh rantai sedang diantaranya : asam laurat, asam kaprilat, asam miristrat, asam palmirat dll yang mudah dicerna oleh tubuh menjadi energi yang siap dipakai. VCO juga diyakini sebagai obat keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans.  Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan UNIMUS pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2007. Sampel berupa  Candida albicans isolate Semarang dan  VCO dari beberapa merk Penelitian dilakukan dengan  uji sensitifitas vco terhadap Candida albicans dengan metoda sumuran dan kandistatin ( antifungi ) sebagi control .Dari penelitian  ini memberikan hasil bahwa vco tidak dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans secara invitro .    Kata kunci : Efektifitas, VCO, Kandidiasis
EVALUASI PERILAKU PENGOBATAN SENDIRI TERHADAP PENCAPAIAN PROGRAM INDONESIA SEHAT 2010 Maya Dian Rakhmawatie; Merry Tiyas Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.386 KB)

Abstract

Latar belakang : Salah satu indikator tercapainya Indonesia Sehat 2010 adalah tercapainya Program Pembangunan Kesehatan. Salah satu upaya agar derajat kesehatan masyarakat lebih optimal adalah pengobatan sendiri. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai dengan keterangan yang tercantum pada kemasannya. Tujuan penelitian : Mengevaluasi perilaku pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah perilaku pengobatan sendiri oleh masyarakat sudah rasional atau masih irasional. Metoda: Metode penelitian survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada sampel terpilih dengan multistage random sampling yang dilakukan di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Jumlah sampel 97 terbagi ke dalam lima kelurahan yang kemudian dari masing-masing kelurahan diambil sampel secara proporsional sesuai dengan jumlah penduduk. Hasil : Rata-rata angka kerasionalan penggunaan obat belum maksimal. Angka rasionalitas pengobatan masing-masing keluhan antara lain; penggunaan obat demam 76,3%; obat nyeri  43,3%; obat batuk kering dan berdahak 13,4%; obat pilek 32,0%; obat flu 93,8%; obat sesak nafas 14,4%; obat maag 70,1%; obat diare 85,6%; obat konstipasi 61,9%, obat jamur 50,5%, obat bisul 38,1%, obat haemoroid 36,1%. Dari hasil penelitian hanya 76,3% masyarakat yang menyatakan pergi ke dokter jika dalam dua hari gejala tidak membaik. Simpulan : Dilihat dari kerasionalitasan penggunaan obat, ternyata hasilnya belum memuaskan.Kata kunci : Pengobatan sendiri, Indonesia Sehat
KADAR KOLESTEROL DARAH PADA PENDERITA OBESITAS DI KELURAHAN KORPRI SAMBIROTO SEMARANG Andri Sukeksi; Herlisa Anggraini
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.899 KB)

Abstract

Penderita obesitas mengalami penumpukan lemak yang berlebihan di dalam tubuh. Penyebab terjadinya obesitas biasanya disebabkan karena pola makan yang abnormal yaitu makan dalam jumlah sangat banyak dan makan di malam hari.. Penderita obesitas mengalami peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh (Hiperkolesterolemia).  Tujuan dari penelitian adalah mengukur nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk menentukan kriteria obesitas, mengukur kadar kolesterol pada penderita obesitas dan mengetahui pengaruh obesitas terhadap kadar kolesterol. Jenis penelitian  adalah deskriptif , populasi penelitian adalah seluruh penderita obesitas di perumahan korpri Kelurahan Sambiroto Semarang. Sampel penelitian adalah  penderita obesitas di RW 8 Kelurahan sambiroto Semarang yang diambil secara total populasi. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung di lapangan dengan melakukan pemeriksaan kadar kolesterol darah. Hasil penelitian adalah dari sampel yang telah dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol  didapat hasil  kadar kolesterol terendah 156,4 mg/dl, kadar kolesterol tertinggi 256,8 mg/dl, kadar kolesterol rata-rata 197,4 mg/dl. Dari hasil yang diperoleh berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) bahwa penderita obesitas tidak selalu kadar kolesterolnya tinggi. Karena kolesterol tidak selalu dipengaruhi oleh obesitas, tapi lebih dipengaruh pada konsumsi makanan yang mengandung kolesterol. Seperti mengkonsumsi daging, jerohan, dan telur yang dapat meningkatkan kenaikan kadar kolesterol dalam darah, karena di dalam makanan daging, jerohan, dan telur terdapat kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Kata kunci : obesitas, kadar kolesterol
TERAPI RELAKSASI TERHADAP NYERI DISMENORE PADA MAHASISWI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG ERNAWATI -; TRI HARTITI; IDRIS HADI
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.318 KB)

Abstract

Nyeri pada saat menstruasi atau  haid sering dikeluhkan  seorang wanita sebagai sensasi tidak nyaman, bahkan karena timbulnya nyeri tersebut dapat mengganggu aktivitas dan memaksa penderita untuk istrahat dan meninggalkan pekerjaan atau aktivitas rutinnya selama beberapa jam atau beberapa hari. Puncak insiden dismenore primer terjadi pada akhir masa remaja (adolescence) dan di awal usia 20, insiden dismenore pada remaja (adolescence) dilaporkan sekitar 92%. Rasa ketidaknyamanan jika tidak diatasi akan mempengaruhi fungsi mental dan fisik individu sehingga mendesak untuk segera mengambil tindakan/terapi secara farmakologis atau non farmakologis. Dalam lingkup keperawatan dikembangkan terapi non farmakologis sebagai tindakan mandiri perawat. Penelitian ini untuk menjelaskan   perbedaan derajat nyeri dismenore sebelum dengan sesudah dilakukan terapi relaksasi pada mahasiswi keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang. Penelitian ini menggunakan Quasi eksperimental dengan rancangan Non Equivalent Control Group Design. Pengambilan subyek dilakukan berdasarkan Proporsional Random Sampling dan  yang memenuhi syarat inklusi yaitu sebanyak  50 orang . Usia responden berkisar antara 17 – 28 tahun, sebelum dilakukan terapi relaksasi nafas dalam mengalami  nyeri sedang sebanyak 31 orang (62,0%) dan sesudah dilakukan teknik relaksasi sebagian besar kategori nyeri ringan sebanyak 35 orang (70,0%). dengan uji Wilcoxon diketahui nilai significant difference p = 0,000, <  (0,05). Sehingga ada perbedaan yang bermakna antara nyeri dismenore sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi nafas dalam  pada mahasiswi  S-1 Keperawatan UNIMUS dan ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam relaksasi dengan nyeri dismenore.Kata Kunci : Tehnik relaksasi nafas dalam, dismenore
PENGARUH LAMA WAKTU SIMPAN PADA SUHU RUANG (27-29oC) TERHADAP KADAR ZAT ORGANIK PADA AIR MINUM ISI ULANG Ana Hidayati M; Yusrin -
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.027 KB)

Abstract

Latar Belakang: Air minum isi ulang adalah air yang mengalami beberapa proses yaitu chlorinasi, aerasi, filtrasi dan penyinaran dengan sinar ultra violet. Air minum isi ulang biasanya tidak habis dalam sekali pakai melainkan dalam beberapa hari. Semakin lama penyimpanan memungkinkan adanya pertumbuhan mikroorganisme yang akan berkembang menjadi bakteri patogen dan  menyebabkan kadar zat organik menjadi meningkat. Kualitas air minum harus sesuai dengan PERMENKES RI nomor 416 / Menkes/ Per/ IX/ 1990, yaitu secara fisik harus jernih, tidak berasa, tidak bewarna, dan tidak berbau. Secara mikrobiologi, tidak boleh mengandung bakteri pathogen, dan secara kimia antara lain kadar zat organik sebagai angka permanganat maksimal 10 mg/l. Penelitian ini bertujuan menetapkan kadar zat organik pada air minum isi ulang berdasarkan lama simpan pada suhu ruang (27-29oC), mengetahui pengaruh lama simpan pada suhu ruang (27-29oC) terhadap kadar zat organik pada air minum isi ulang, dan membandingkan hasil penelitian dengan PERMENKES RI nomor 416/Menkes/ Per/IX/1990 tentang kadar zat organik. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental. Populasi Penelitian : Air minum isi ulang, sampel diambil secara purposif dari tiga depot yang berada di kecamatan Tugu Semarang, dan masing-masing sampel ditetapkan kadarnya secara triplo setelah disimpan selama 0, 1, 2, 3, dan 4 minggu. Variabel bebas adalah lama simpan pada suhu ruang (27-29oC) dan variabel terikat adalah kadar zat organik. Hasil penelitian:  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar zat organik pada air minum isi ulang yang disimpan dari 0 sampai 4 minggu berturut-turut adalah Sampel A: 2,52 mg/l ; 3,87 mg/l ; 4,60 mg/l ; 6,20 mg/l ; 7,73 mg/l. Sampel B : 1,62 mg/l ; 2,76 mg/l ; 3,50 mg/l ; 4,61 mg/l ; 5,65 mg/l. Sampel C : 1,92 mg/l ; 3,67 mg/l ; 4,80 mg/l ; 6,30 mg/l ; 8,02 mg/l. Ada pengaruh lama penyimpanan pada suhu ruang (27oC-29oC) terhadap kadar zat organik pada air minum isi ulang. Hasil penelitian sesuai dengan PERMENKES RI No 416/Menkes/Per/IX/ 1990 tentang syarat kadar zat organik yaitu kurang 10 mg KMnO4/L. Kata kunci: lama simpan, suhu ruang (27-29oC ), kadar zat organik, air minum isi ulang
PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) PADA ANAK USIA 1-2 TAHUN DI KELURAHAN LAMPER TENGAH KECAMATAN SEMARANG SELATAN, KOTA SEMARANG Afiana Rohmani
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama ini banyak pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang terlalu dini bagi bayi dan  berakibat anak diare, produksi ASI berkurang, karena anak sudah kenyang dan jarang menyusui, serta dapat menimbulkan alergi dikemudian hari karena usus bayi masih mudah dilalui oleh protein asing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia pemberian makanan pendamping ASI pertama kali dengan status gizi batita, menganalisis hubungan antara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi batita, menganalisis hubungan antara kesesuaian jenis MPASI terhadap umur dengan status gizi batita dan mengalisis hubungan antara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi batita. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh anak usia 1-2 tahun yang berkunjung ke Posyandu Kelurahan Lamper Tengah, kota Semarang, dengan jumlah sampel sebanyak 60 anak yang menggunakan metode purpose random sampling. Data yang didapatkan antara lain tinggi dan berat badan anak, umur anak, dan pemberian MPASI yang meliputi usia pemberian MPASI, frekuensi pemberian MPASI, kesesuaian jenis MPASI terhadap perkembangan umur dan frekuensi pemberian ASI. Data yang dianalisis menggunakan statistik non parametrik, dengan menganalisis bubungan antar variabel dengan uji korelasi spearman dan analisis uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia pertama pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, terdapat hubungan antara frekuensi pemberian MPASI dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U, tidak ada hibungan antara frekuensi pemberian ASI dengan status gizi pada indek BB/U dan terdapat hubungan antara kesuaian MPASI dengan umur dengan status gizi pada indek BB/U dan TB/U. Dengan demikian perlu adanya penyuluhan terhadap ibu melalui posyandu tentang pola pemberian makanan pada bayi, khususnya kapan bayi dapat diberi MPASI, serta bagaimana pemberian MPASI yang benar, antara lain jenis-jenis MPASI yang disesuaikan dengan perkembangan umur, cara pemberian MPASI, dan porsi pemberian MPASI.Kata Kunci: Makanan, pendampng, asi, anak, batita, status gizi
KADAR PROTEIN KISTA ARTEMIA CURAH YANG DIJUAL PETAMBAK KOTA REMBANG DENGAN VARIASI SUHU PENYIMPANAN Endang Triwahyuni Maharani; Yusrin -
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan nutrisi Artemia terdiri dari protein, karbohidrat, lemak, air dan abu. Protein merupakan kandungan terbesar dapat mencapai 58,58%., sehingga peranannya sebagai pakan sangat dibutuhkan. Kandungan protein di dalam artemia Kista artemia sebagai pakan ikan alami yang telah diawetkan dengan cara pembekuan dibawah suhu 0°C, ditiriskan pada suhu ruang yang memiliki suhu antara 28°C – 31°C, dan pengeringan menggunakan alat ataupun dengan sinar matahari langsung yang suhunya 60°C. Sehingga perlu dilakukan penelitian terhadap kandungan protein berdasarkan suhu penyimpanannya. Sampel penelitian diambil secara purporsif yaitu kista artemia tidak bermerk (curah) yang dibeli dari petambak artemia di kota Rembang sebanyak 100 gram dalam keadaan kering angin kemudian diambil ± 2 gram untuk penetapan kadar air yang dilakukan secara duplo, diambil ± 15 gram dan dibagi menjadi 15 bagian yang setiap 5 bagian disimpan pada suhu   -20°C, 31°C dan 60°C selama 48 jam kemudian pada setiap suhu penyimpanan ditetapkan kadar proteinnya sebanyak 5 kali menggunakan metode kjeldahl.Hasilnya sebagai berikut: 1) Kadar protein pada kista artemia setelah penyimpanan pada suhu - 20°C selama 48 jam adalah 46,77 %; 2) setelah penyimpanan pada suhu 31°C selama 48 jam adalah 46,40 %; 3)  setelah penyimpanan pada suhu 60°C selama 48 jam  adalah 41,57 %; 4) Tidak ada pengaruh suhu terhadap kadar protein pada penyimpanan suhu -20°C dengan 31°C, ada pengaruh suhu terhadap kadar protein pada penyimpanan suhu -20°C dengan 60°C, dan ada pengaruh suhu terhadap kadar protein pada penyimpanan suhu 31°C dengan 60°C.Kata Kunci: kadar protein, kista artemia curah, variasi penyimpanan suhu

Page 2 of 2 | Total Record : 19


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue 2021: Proceeding The 12th International Conference On Lesson Study (ICLS-XII) 2018: PROCEEDING 1ST INSELIDEA INTERNATIONAL SEMINAR ON EDUCATION AND DEVELOPMENT OF ASIA (INseIDEA) 2018: SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI 2017: Proceeding 3rd ISET 2017 | International Seminar on Educational Technology 3rd 2017 2017: Proceeding International Seminar of Occupational Health and Medical Sciences (I-SOCMED) 2017 â 2017: Proceeding International Seminar of Occupational Health and Medical Sciences (I-SOCMED) 2017 “ 2017: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi 2017: PROSIDING IMPLEMENTASI PENELITIAN PADA PENGABDIAN MENUJU MASYARAKAT MANDIRI BERKEMAJUAN 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 2016: Proceeding of International Seminar on Education Technology (ISET) 2016 2016: PROSIDING KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM SUSTAINABLE DEVE 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium 2015: Prosiding Bidang Sosial Ekonomi dan Psikologi The 2nd University Research Colloquium 2015: Prosiding Student Paper Presentation The 2nd University Research Colloquium 2015: Prosiding Bidang Pendidikan,Humaniora dan Agama The 2nd University Research Colloquium 2015: Prosiding Bidang Teknik dan Rekayasa The 2nd University Research Colloquium 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL - HASIL PENELITIAN & PENGABDIAN 2014: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH 2014: PROSIDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN 2014: PROSIDING | Seminar & Call For Paper “Tata Kelola Organisasi dan Arah Pembangunan Ekonomi Indo 2013: PROSIDING SEMINAR NASIONAL STATISTIKA 2013 2013: PROSIDING: SEMINAR INTERNASIONAL LINGUISTIK TRANSDISIPLINER 2013: PROSIDING KONFERENSI NASIONAL PPNI JAWA TENGAH 2012: SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN 2012 2012: PROCEEDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN : Penggunaan Herbal Dalam Kesehatan Perempuan 2011: PROSEDING SEMINAR NASIONAL KEPERAWATAN PPNI JATENG 2011: PROSIDING SEMINAR NASIONAL EKONOMI 2010: Kesehatan Masyarakat, Olahraga, Gizi, dan Pangan 2010: Sain, Teknologi, Kimia Sosial dan Humaniora, Kimia 2010: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN 2010: Bio Molekuler, Analis Kesehatan, Keperawatan 2008: CONTINUING MEDICAL AND HEALTH EDUCATION (CMHE) | Peran Biomolekuler dalam Penegakan Diagnosis 2004: PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL-HASIL PENELITIAN More Issue