cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 1, No. 2" : 8 Documents clear
Hubungan Berat Badan Lahir Bayi dan Infeksi Nosokomial di ruang Perinatologi Tambunan, Eviana S
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi nosokomial masih merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia karena meningkatkan angka kematian. Infeksi nosokomial paling tinggi ditemukan di ruang perawatan bayi dan angka infeksi tertinggi terjadi di ruang perawatan intensif neonatus. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara berat badan lahir bayi dengan kejadian infeksi nosokomial. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medik bayi yang dirawat di level III Perinatologi RSAB Harapan Kita. Desain studi yang digunakan adalah Kasus Kontro dengan metode analisis regresi logistik ganda. Penelitian ini menemukan jenis infeksi nosokomial terbanyak adalah sepsis (52,91%), bakteremia (35,48%) dan pneumonia (11,61%). Pola jenis kuman yang paling banyak ditemukan adalah bakteri gram negatif (0,3-53,9%). Jenis kuman terbanyak adalah Serratia sp. (2,3-38,1%), Klebsiella pneumonia (kisaran 3,2-6,8%) dan Candida sp. (1-4,2%). Penelitian ini menemukan kejadian infeksi nosokomial berhubungan dengan pemasangan long line intravenous catheter dan/atau kateter umbilikus. Neonatus dengan berat badan <2.500 gram yang menggunakan long line intravenous catheter dan/atau kateter umbilikus berisiko tinggi untuk menderita infeksi nosokomial. Risiko juga meningkat pada neonatus dengan berat badan lahir ≥ 2.500 gram, sementara neonatus dengan dengan berat badan < 2.500 gram yang hanya menggunakan infus, tidak berisiko mengalami infeksi nosokomial. Nosocomial infection is still a health problem on the world because of its increasing morbidity and mortality rates. Nosocomial infection is mostly occured among infant and the highest infection is in the neonatus intensive care unit. The objective of the study is to examine the relationship between birth weight and nosocomial infection of neonatus (pneumonia, bacteremia and septicemia) in level III, Perinatal Ward, Rumah Sakit Anak Bersalin Harapan Kita (RSAB Harapan Kita) in the period of 2002-2004. The data used was the medical record of infants under care in level III, Perinatal Ward, RSAB Harapan Kita. Major sites of infection were septicemia (52.91%), bacteremia (35.48%) and pneumonia (11.61%). The most commonly found pathogens were Gram-negative bacteria: Serratia sp. (range 2.3-38.10%), Klebsiella pneumonia (range 3.2-6.8%) and Candida sp. (1-4.2%). Neonatus with birth weight <2,500 gram using long line intravenous catheter and/or umbilical catheter faced high risk of nosocomial infection. Neonatus with birth weight <2,500 gram having intravenous catheter showed no case of nosocomial infection.
Faktor-faktor Prognosis Kematian Tetanus Neonatorum di RS Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon Tantijati, Lili; Bantas, Krisnawati
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tetap tinggi. Berdasarkan Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1995 adalah 55/1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab utama dari kematian bayi adalah penyakit tetanus neonatorum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara usia saat ditemukan adanya indikasi penyakit neonatarum pada bayi dengan timbulnya kematian yang disebabkan oleh tetanus neonatorum pada bayi-bayi tersebut di Kabupaten Indramayu pada tahun 1996-2001. Penelitian ini menggunakan disain studi epidemiologi kasus-kontrol dengan perbandingan kasus dan kontrol 1:1. Jumlah sampel, 160 penderita tetanus neonatorum. Populasi studi adalah penderita tetanus neonatorum yang dirawat di RSD kabupaten Cirebon dan kabupaten Indramayu tahun 1996-2001. Variabel-variabel yang diteliti adalah variabel kematian (sebagai variable terikat), dan variabel usia neonatus saat onset penyakit, status kekebalan neonatus, berat lahir neonatus, kecepatan pertolongan, jenis, dosis, dan cara pemberian antibiotika; jenis, dosis, dan cara pemberian obat anti kejang dan cara pemberian ATS (sebagai variabel bebas). Semua variabel yang diteliti diukur dengan skala kategorikal. Analisis yang dilakukan secara bertahap meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat. Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor prognosis kematian tetanus neonatorum adalah: usia penderita tetanus neonatorum ≤7 hari (OR = 20.06; nilai p = 0.000), dosis obat antibiotik yang lebih rendah dari standard (OR = 4.34; nilai p = 0.018), kecepatan pertolongan oleh fasilitas kesehatan >2 hari (OR = 6.95; nilai p = 0.000). The Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia is still high. Based on Central Bureau of Statistics (CBS) data, the IMR in 1995 was 55/1,000 live births. One of the main causes of infant death in Indonesia is tetanus neonatorum. The objective of this study was to determine the relationship between neonates’ age of disease onset and the infant death caused by tetanus neonatorum in Indramayu and Cirebon Districts in 1996-2001. The study design was case control study with ratio of the number of cases and control of 1:1. The total number of sample was 160 neonates with tetanus neonatorum, consisted of 80-cases (death) and 80-control (live). The study population was neonates with tetanus neonatorum who were hospitalized in Cirebon and Indramayu District Hospital. All of the study variables were measured using categorical scale. Study was analyzed by multivariate analysis, using unconditional logistic regression method. The result of the study showed that the prognostic factors of tetanus neonatorum death risk were age(OR = 20.06; p value = 0.000), neonates with lower than standard dose of antibiotics (OR = 4.34; p value = 0.018); delay of help by health facilities >2 days (OR = 6.95; p value = 0.000).
Prevalensi dan Determinan Hipertensi di Pulau Jawa, Tahun 2004 Setiawan, Zamhir
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko utama kardiovaskuler yang merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. Peningkatan umur harapan hidup dan perubahan gaya hidup meningkatkan faktor risiko hipertensi di berbagai negara. Tujuan penelitian ini (1) Mengetahui prevalensi hipertensi dan penyebarannya di Pulau Jawa tahun 2004. (2) Mengetahui faktor-faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. (3) Mengetahui kontribusi dan dampak potensial masing masing faktor tersebut. Penelitian dengan rancangan studi Ekologi Multilevel ini menggabungkan variabel tingkat pengukuran individu dengan tingkat pengukuran ekologi dalam analisis bersama, dengan unit analisis individu. Analisis kontekstual dilakukan melalui kerangka konsep hipertensi, menggunakan metode analisis regresi logistik ganda, dengan status hipertensi sebagai variabel dependen. Data variabel dependen dan variabel perancu yang merupakan data pengukuran tingkat individu diambil dari data SKRT 2004. Data sosiodemografi tingkat pengukuran ekologi sebagai variabel independen utama, diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia, Statistik Indonesia, Statistik Kesehatan, Statistik Kesejahteraan Rakyat, dan Data Departemen Dalam Negeri, unit pengamatan provinsi. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi hipertensi di Pulau Jawa 41,9%, dengan kisaran di masing-masing provinsi 36,6-47,7%. Prevalensi di perkotaan 39,9% (37,0-45,8%) dan di perdesaan 44,1% (36,2-51,7%). Hypertension is a main risk factor of cardiovascular disease which is ranked as number one cause of death in the world. The increase of life expectancy and changes in life style have increased the prevalence of hypertension risk factor in both developed and developing countries. The objectives of this study are (1) To know the prevalence and distribution of hypertension in di Java island, in year 2004. (2) To know sosiodemographic factors related to hypertension. (3) To know the contribution of each sosiodemographic factor toward hypertension. The study used multilevel ecologic study design that integrated both individual and ecological level variables measurement. The analysis method used in this study was contextual analysis and multiple logistic regression with hypertension status as dependent variable. The individual level measurement of variables such as hypertension status and age, job, education and sex is taken from Household Health Survey (SKRT) 2004. The sosiodemographic data which was ecological measurement level served as the main independent variables were taken from Indonesian Health Profile, Indonesian Health Statistics, Public Welfare Statistics and data from Department of Internal Affair, particularly from Province Surveillance Unit. The study results showed that the prevalence of hypertension in Java Island was 41.9%, with range of prevalence in provincial level of 36.6-47.7%. The prevalence in urban areas was 39.9% (37.0-45.8%) and in rural areas was 44.1% (36.2-51.7%).
Studi Kasus : Evaluasi Sistem Penanggulangan Kebakaran PT. Indogravure Angela, Theresia Audrey
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran yang terjadi tak terduga akibat kelalaian manusia dan kondisi lingkungan dapat menyebabkan kerugian materi dan fisik serta rasa khawatiran yang menurunklan kondisi kerja. Kebakaran dapat terjadi akibat aliran listrik hubungan singkat, gesekan rol mesin dan gesekan mekanis mesin sehingga perlu diamati secara ketat. Oleh sebab itu, tiap bangunan dan tempat kerja perlu memiliki fasilitas dan tim penanggulangan kebakaran yang memadai. Sebagai perusahaan industri percetakan pembungkus produk, PT. Indogravure (PTI) mengolah bahan unsur kimia dan plastik yang mudah terbakar, antara lain adalah bahan cair (tinta, lem, solar dan bahan bakar) dan bahan padat (plastik, kertas dan besi). PTI memiliki sistem pengendalian kebakaran berupa alat pemadam api ringan (APAR), yang diletakkan di setiap area kerja. Tujuan penelitian ini adalah menilai kelayakan upaya-upaya yang dilakukan tersebut berdasarkan berbagai ketentuan yang berlaku bagi perusahaan industri yang beroperasi di Indonesia. Setiap bulan, pihak maintenance melakukan pemeriksaan rutin dan mengganti tabung APAR yang tidak layak terpaka dengan jenis yang sama. Namun, jumlah, tata letak dan jarak antar APAR belum sesuai aturan dari standar yang berlaku, karena hanya mengikuti saran perusahaan rekanan yang menyediakan APAR. Berdasarkan standar nasional (Per-04/MEN/1980) dan sebagian acuan standar internasional (NFPA-10), PTI direkomendasikan untuk melakukan perubahan sistem APAR, untuk menurunkan risiko kecelakaan kerja. The fire can occur at any time and can not be predicted. Usually the fire is caused by human factor such as neglect of duty and surrounding environmental conditions. The fire can cause huge effect in term of physical and asset loss as well as psychological impact that can reduce work performance. The fire can be caused by electricity short connection, the running of roll machine and mechanical frictions. Thus, the building and work place need to have fire protection system with adequate facilities and team for handling emergency condition. PT. Indogravure (PTI) is a printing packing material industrial company which processed flammable chemical and plastic materials including liquid (i.e. ink liquid, glue liquid, diesel and other fuels) and solid materials ( i.e. plastic material, paper, and iron). The objective of this study is to evaluate the appropriateness of the activities conducted by PTI based on the regulations implemented in Indonesia. It was found that PTI had fire protection system consisted of fire extinguisher located at each working area. PTI also had a routine maintenance activity to check the fire extinguisher, if there was any fire extinguisher which did not work , PTI would replace it by the new one with similar classification. However, PTI had not complied fully to the rules, particularly on the number, location, and distance between fire extinguisher, and simply follow the suggestion from the supplier of fire extinguisher. Based on national and international standards (Per-04/MEN/1980 and NFPA-10), it was recommended for PTI to make some revisions of its fire extinguisher system as to reduce the risk of work accident.
Kesesuaian Risiko Pencemaran Antara Inspeksi Sanitasi dan Pemeriksaan Bakteriologi pada Air Kolam Renang di DKI Jakarta, 2005 Darajat, Endang
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Jakarta, setiap hari diperkirakan 8.000 orang melakukan aktifitas berenang yang membutuhkan air bersih dalam jumlah yang besar. Air bersih yang digunakan berasal dari air tanah dan Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Jumlah orang yang berenang sangat mempengaruhi kualitas air kolam renang yang harus terus dipertahankan agar terhindar dari risiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian hasil pengukuran risiko pencemaran dengan inspeksi sanitasi dan pemeriksaan bakteriologik pada air kolam renang di DKI Jakarta tahun 2005 Penelitian yang menggunakan disain studi cross sectional mengamati mengamati 30 kolam renang. Variabel yang didiamati adalah 13 variabel inspeksi sanitasi dengan menggunakan adalah univariat dan bivariat. Ditemukan bahwa 13 (44%) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran rendah dan 17 (56%) air kolam renang menunjukkan tingkat risiko pencemaran tinggi. Sedangkan untuk kualitas bakteriologik diketahui 11 (36,7%) air kolam renang berkualitas baik dan 19 (63,3%) air kolam renang berkualitas buruk. Kesesuaian yang diperoleh adalah 0,733 yang berarti nilai kesesuaian yang baik. Variabel isi air memiliki tingkat risiko pencemaran paling tinggi. Berdasarkan aspek inspeksi sanitasi didapat 8 aspek prediktif dan 5 aspek non–prediktif. Perlu dilakukan pemeriksaan air kolam renang secara berkala serta penyuluhan dan bimbingan pada pengelola kolam renang dan masyarakat tentang kualitas air kolam renang yang baik terhadap kesehatan. It was estimated in Jakarta, more then 8,000 people swim everyday, so it requires height volume of clean water that comes from ground water as well as DKI Jakarta Municipal Water Corporation. The quality of the swimming pool water will affect the people health. By conducting surveillance, we are able to know the quality of the water and recommending intervention when needed. The objective of this research is to obtain information about compatibility pollution risk level between measurement results of sanitary inspection and bacteriological assessment of the swimming pool water in Jakarta 2005. The research used a sectional cross design with total sample of 30 swimming pools. Variable used in this research are 13 sanitation inspection variables and analized using bivariate method of analyses. About 17 (56%) of swimming pool water shows the high risk level of pollutant. The study also shown that the quality of bacteriology is bed, (19; 63,3%) is in bad quality. The total compatibility of the swimming fool water is in a good value 73. Based on sanitation inspection aspect, there are 8 predictive aspects and 5 non predictive aspects. It is important to inspect the swimming pools water periodically, to explain and to guide the swimming pools organizers as well as the society about the importance of swimming pools water quality for health.
Pengembangan Sistem Informasi Program Kusta Berbasis Geografis di Kabupaten Cirebon Tahun 2005 Haeria, Haeria
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kusta yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae merupakan penyakit menular dengan masalah yang sangat kompleks. Tiga tahun terakhir, Kabupaten Cirebon yang melaporkan 1.207 penderita kusta (Prevalence 1,69/10.000 penduduk), belum mencapai tahap eliminasi sehinga penularan masuh berlansung. Tujuan penelitian mengembangan sistem informasi kusta berbasis geografis yang dapat dijadikan solusi percepatan eliminasi kusta di Kabupaten Cirebon. Metoda yang digunakan adalah System Development Life Cycle, yaitu planning, analysis, design, implementation, maintenance dan evaluation system. Hal tersebut dilakukan dengan memadukan konsep Data Base Management System dan data spasial. Hasil analisis sistem dapat mengidentifikasi masalah manajemen penanggulangan kusta serta alternatif solusi pada level input, proses dan output. Data dan informasi dikumpulkan melalui wawancara, dan telaah dokumen. Sistem ini didesain untuk kemudahan input data dan otomasi proses pengolahan menjadi informasi. Interpretasi epidemiologis kusta pada visual peta dapat mengetahui model difusi transmisi kasus dan jangkauan pelayanan kesehatan (Puskesmas) dalam penanggulangan kusta. Leprosy caused by Mycobacterium leprae is a contagious disease that generates complex problems. Over the last three years, the District of Cirebon reported 1,207 leprosy cases (prevalence rate 1.69/10,000 population) and had not yet reach leprosy elimination situation, thus the disease was keep spreading. The purpose of this system development was to develop an application of Leprosy System Information Program Based on geographical information system for leprosy elimination acceleration program in Cirebon. The method used in this study was System Development Life Cycle method (planning, analysis, design, implementation, maintenance, and evaluation), by combining Data Base Management System concept and spatial data. Data and information needed were collected by interview and document observation. The system was designed for facilitating data input and automation of its process mechanism to produce information. Output were in form of regular report, tabulation, graphic, and area endemic mapping information with urban smallest observation unit. Epidemiologic interpretation on leprosy case from visual map can identify case transmission diffusion model and health service (Puskesmas) range capacity in leprosy elimination.
Indeks Sosio-ekonomi Menggunakan Principal Component Analysis Ariawan, Iwan
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada penelitian survei, kita dapat mengukur tingkat status sosio-ekonomi rumah tangga melalui pemasukan, pengeluaran dan kepemilikan barang-barang berharga. Penggunaan variabel pemasukan dan pengeluaran di negara berkembang memiliki banyak kelemahan, sehingga banyak peneliti lebih suka menggunakan variabel kepemilikan barang berharga untuk mengukur status sosio-ekonomi. Namun, penggunaan variabel kepemilikan barang berharga menimbulkan masalah lain, yaitu banyaknya variabel untuk mengukur status sosio-ekonomi. Tujuan penulisan ini adalah menyederhanakan banyak variabel kepemilikan barang berharga menjadi 1 indeks sosio-ekonomi. Data yang digunakan adalah data Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002-2003 yang memiliki 7 variabel binomial tentang kepemilikan barang berharga dan 3 variabel ordinal tentang keadaan rumah untuk membuat indeks sosio-ekonomi. Indeks dibentuk dengan menggunakan principal component analysis (PCA), korelasi tetrakorik dan polikorik. Kami memperlihatkan bagaimana membuat indeks sosio-ekonomi dengan bantuan perangkat lunak Stata. Matriks korelasi tetrakorik dibentuk dengan perintah tetrachoric dan matriks korelasi polikorik dibentuk dengan perintah polychoric. Dua indeks sosio-ekonomi dibentuk, 1 indeks berdasarkan 7 variabel binomial kepemilikan barang berharga dan 1 indeks lagi berdasarkan ke 7 variabel binomial tersebut ditambah 3 variabel ordinal kondisi rumah. Kedua indeks dibentuk dengan prosedur PCA. Pada model 7 variabel binomial, indeks yang terbentuk dapat menjelaskan 57% varians kepemilikan barang berharga dan pada model 7 variabel binomial ditambah 3 variabel ordinal, indeks dapat menjelaskan 54% varians kepemilikan barang berharga dan kondisi rumah. Kami juga memperlihatkan penggunaan perintah xtile untuk membagi subyek penelitian menurut kuintil indeks sosio-ekonomi. PCA, korelasi tetrakorik dan polikorik dapat digunakan untuk membentuk indeks sosio-ekonomi berdasarakan informasi tentang kepemilikan barang berharga dan kondisi rumah. In household survey, we could measure socio-economic status through income, expenditure and ownership of valuable goods. Measuring income and expenditure in developing countries has many weaknesses, therefore many researchers prefer to use the ownership of valuable goods as proxy of socio-economic status. Using ownership of valuable goods as proxy indicator creates another problem of having many variables for the socio-economic proxy. To show how to simplify many variables of ownership of valuable goods into 1 socio-economic index. Using principal component analysis with Stata. Using Indonesia Demographic & Health Survey 2002-2003 data, 7 binomial variables of ownership of valuable goods and 3 ordinal variables of housing condition to construct socio-economic indices using principal component analysis (PCA), tetrachoric and polychoric correlation.We used Stata to construct the socio-economic index. Correlation matrices were derived using tetrachoric command for tetrachoric correlation and polychoric command for polychoric correlation. Two socio-economic indices were constructed, 1 index was based only on 7 binomial variables of ownership of valuable goods and 1 index was based on 7 binomial variables of ownership of valuable goods and 3 ordinal variables of housing conditions. PCA was used to construct those 2 indices. In 7 variables model, the socio-economic index could explain 57% variance and in 10 variables model, the socio-economic index could explain 54% variance. We also showed the use of xtile command to regroup the subjects based on quintile of socio-economic indices. PCA, tetrachoric and polychoric correlation could be used to construct socio-economic indices based on information of ownership of valuable goods and housing conditions.
Pengaruh Pemeriksaan Kehamilan Terhadap Pemilihan Penolong Persalinan Besral, Besral
Kesmas Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, Angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan masih tergolong rendah. Pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care = ANC) dapat dijadikan sebagai sarana untuk memotivasi ibu hamil agar bersalin ke tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui peranan ANC terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan. Penelitian dengan rancangan potong lintang ini menggunakan data sekunder Survei Evaluasi Manfaat Proyek KKG (Kesehatan Keluarga dan Gizi), analisisnya menggunakan ukuran asosiasi Odds Ratio. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa setelah dikontrol oleh variabel karakteristik responden, ibu hamil yang melakukan ANC minimal empat kali memiliki peluang 2 kali lebih besar untuk melahirkan pada tenaga kesehatan daripada ibu hamil dengan ANC kurang dari empat kali (ORadj = 2,1, 95% CI: 1,4-3,0). Ibu hamil yang mendapat konseling berpeluang 3,7 kali lebih besar untuk bersalin pada tenaga kesehatan daripada yang tidak mendapat konseling (ORadj = 3,7, 95% CI: 2,4-5,7). Untuk meningkatkan angka persalinan oleh tenaga kesehatan, ANC saja belumlah cukup tanpa diiringi dengan konseling. Konseling yang harus diberikan meliputi nasehat tentang kehamilan, melahirkan, dan pemberian ASI, serta anjuran yang tegas kepada ibu hamil agar melahirkan pada tenaga kesehatan. In Indonesia, the proportion of mother who delivered by professional birth attendant is still low. The Antenatal Care (ANC) can be used to motivate mothers to have delivery assisted by health personnel birth attendant. The objective of this study is to know the role of ANC and counselling on birth delivery choice. This study used a secondary data from the Evaluation on Benefit of Family Health Nutrition (FHN) Project, which was conducted in five provinces in Indonesia. Data were analyzed using multiple logistic regressions method. The effect of ANC on birth attendant choice was measured using association measurement of odd ratio. The study showed that mothers who had four times or more ANC had 2.0 times higher chance to have delivery assisted by professional birth attendant than mothers who had less than 4 times ANC, after adjusted for mother’s characteristics (family income, education and occupation of household’s head), (ORadj = 2.1, 95% CI: 1.4-3.0). Mothers who got counselling were delivered by professional birth attendant 3.7 times higher than non counselled mother (OR adj = 3.7, 95% CI: 2.4-5.7). The ANC alone was not sufficient to increase the number of mother who delivered by professional birth attendant, the ANC should be complemented by counselling about pregnancy, birth attendance, breast feeding, and suggestion to have delivery assisted by professional birth attendant.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue