cover
Contact Name
Rangga Sururi
Contact Email
rekalingkungan@itenas.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
rekalingkungan@itenas.ac.id
Editorial Address
PHH. Street Mustapa 23 Bandung 40124
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Reka Lingkungan
ISSN : 23376228     EISSN : 27226077     DOI : https://doi.org/10.26760/rekalingkungan
Core Subject : Social,
Fokus keilmuan dari Jurnal Reka Lingkungan meliputi Teknologi dan Manajemen dari bidang Teknik dan Ilmu Lingkungan. Beberapa ruang lingkup dari Jurnal meliputi sebagai berikut, namun tidak terbatas pada lingkup dibawah ini: 1. Ekologi, 2. Kimia Lingkungan 3. Teknik Lingkungan 4. Ilmu Lingkungan 5. Kesehatan Lingkungan dan Toksikologi 6. Manajemen Lingkungan 7. Polusi lingkungan dan pembersihannya 8. Persampahan dan B3 9. Kualitas air dan pengolahan air minum dan air limbah 10. Mikrobiologi lingkungan 11. Pengelolaan sumber daya air 12 Polusi udara 13. Remediasi
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2023)" : 8 Documents clear
EFEKTIVITAS AKTIVATOR MIKROORGANISME LOKAL LIMBAH SAYUR, EM4, DAN KOTORAN SAPI DALAM PEMBUATAN KOMPOS DARI LIMBAH SAYUR DI PASAR FLAMBOYAN Ukhfiya Dewantari; Arifin arifin; Aini Sulastri
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.117-129

Abstract

Flamboyan adalah pasar yang berlokasi di Kota Pontianak yang menghasilkan sampah organik dengan persentase sebesar 89,57 %. Tingginya sampah organik yang dihasilkan dapat menyebabkan limbah organik akan membusuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap serta menjadi vektor penyakit sehingga sanitasi dan estetika lingkungan menurun. Oleh karena itu perlu dilakukan untuk menangani limbah tersebut dengan cara pengomposan. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui kualitas fisik dan kimia kompos berdasarkan PERMENTAN No. 70 tahun 2011 dan mengidentifikasi pengaruh antara aktivator mikroorganisme lokal limbah sayur, EM4 dan kotoran sapi terhadap kualitas kematangan kompos. Metode penelitian ini yaitu pengomposan secara aerobik dengan waktu pengomposan selama 35 hari dan menggunakan jumlah mikroorganisme yang sama yaitu sebanyak 7.850.000 sel. Hasil penelitian yang didapat, kompos yang terbaik terdapat pada aktivator kotoran sapi dengan parameter yang telah memenuhi baku mutu terdiri dari suhu sebesar 31oC, pH sebesar 5,8 , warna coklat kehitaman, bau seperti tanah, bertekstur halus, kadar kalium (K) sebesar 4,4 %, kadar C-Organik 32,9% dan rasio C/N kompos sebesar 23,54 serta aktivator MOL, EM4 dan kotoran sapi tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kematangan kompos.
UJI TOKSISITAS AIR LINDI (LEACHATE) TPA BATU LAYANG, KOTA PONTIANAK TERHADAP IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) DENGAN METODE UJI RENEWAL TEST Bela Maulidia; Suci Pramadita; J Jumiati
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.162-172

Abstract

AbstrakAir lindi dapat mencemari lingkungan sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) apabila tidak diolah dengan baik, sehingga dapat berpotensi bahaya terhadap makhluk hidup diperairan. Instalasi Pengolahan Lindi dapat mengatasi semua jenis polutan tetapi tidak tingkat toksisitasnya dan akan memperburuk masalah  pencemaran, sehingga perlu dilakukan uji toksisitas dengan metode renewal test pengujian toksisitas dengan pergantian larutan uji setiap 24 jam sekali selama 96 jamdan hewan uji yang digunakan yaitu ikan nila (Oreochromis niloticus). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik air lindi, menghitung nilai LC50 dan menganalisa morfologi ikan nila setelah terpapar air lindi. Penelitian ini dilakukan dari pengambilan sampel limbah, aklimatisasi hewan uji, uji pendahuluan, uji toksisitas, dan analisis probit. Hasil karakteristik air lindi yaitu pH sebesar 8,3,nilai Biological Oxygen Demand (BOD) sebesar 377 mg/l, nilai Chemical Oxygen Demand (COD) sebesar 1646 mg/l, TSS sebesar 740 mg/l, N Total sebesar 794 mg/l, Merkuri <0,0008 mg/l, Kadmium <0,001 mg/l, hanya BOD, COD, TSS, N Total yang melewati ambang batas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No.59 Tahun 2016. Nilai LC50 yang didapatkan adalah 2,260% dan nilai Toxic Unit acute (TUa) adalah 44,248% termasuk kedalam kategori High Acute Toxicity. Ikan nila yang terpapar mengalami perubahan warna tubuh dan insang menjadi pucat, mengeluarkan lendir, hilangnya organ ikan bagian mata dan perubahan tingkah laku gerak.Kata kunci: Ikan nila (Oreocromis niloticus), LC50, Renewal Test, Uji Toksisitas.AbstractLeachate can contaminate the environment around the Open Dumping Landfill if it is not treated properly, so it can be potentially harmful to living things in the waters. The Leachate Treatment Plant can handle all types of pollutants but not the level of toxicity that will exacerbate the problem of pollution, so it is necessary to carry out a toxicity test using the renewal test method for toxicity by changing the test solution once every 24 hours for 96 hours. Using tilapia (Oreocromis niloticus) test animals. The purpose of this study was to determine the characteristics of leachate, calculate the LC50 value and analyze the morphology of tilapia after being exposed to leachate. This research was conducted from waste sampling, acclimatization of test animals, preliminary tests, toxicity tests, and probit analysis. The results of the leachate characteristics were pH 8.3, BOD 377 mg/l, COD 1646 mg/l, TSS 740 mg/l, Total N 794 mg/l, Mercury <0.0008 mg/l, Cadmium <0.001 mg/l, only BOD, COD, TSS, N Total which exceeds the threshold of PERMEN LH No. 59 of 2016. The LC50 value obtained is 2.260% and the Toxic Unit Acute (TUa) value is 44.248% included in the High Acute category Toxicity. Exposed tilapia experience changes in body color and gills to become pale, secrete mucus, loss of fish organs in the eye area, and changes in movement behavior.Keywords: Tilapia (Oreochromis niloticus), LC50, Renewal Tes, Toxicity Test.
EVALUASI SISTEM JARINGAN DISTRIBUSI AIR MINUM PDAM KOTA MOJOKERTO INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) WATES ZONA PELAYANAN PENGOLAHAN AIR PRAJURIT KULON Saeril Barikiyah; Teguh Taruna Utama; Sulistya Nengse; Rr Diah Nugraheni Setyowati
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.152-161

Abstract

AbstrakTingkat kehilangan air PDAM Maja Tirta  sebesar 46,51% yang terdiri dari kehilangan air komersial sebesar 8,52% dan kehilangan air sebesar 37,99%  melebihi kriteria batas maksimum menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakinstalayat Republik Indonesia No 27/PRT/M/2016 pada batas maksimum yaitu sebesar 20%. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi dan mengoptimalisasikan jaringan distribusi air pada zona pelayanan Prajurit Kulon. Metode evaluasi pada jaringan distribusi IPA Wates dengan simulasi software Epanet 2.0 dengan kecepatan air dalam pipa dan tekanan air dalam pipa dibandingan dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia No 27/PRT/M/2016. Tekanan air dalam pipapada zona pelayanan Prajurit Kulon yang mengalami negtif pressure yaitu sebesar -3.29 m, kecepatan air dalam pipa yaiitu sebesar 22.72 m/s. Optimalisasi sistem jaringan distribusi IPA Wates zona pelayanan Prajurit Kulon yaitu denganmengganti diameter pipa adalah solusi untuk menghilangkan negatif tekanan, sehingga air dari reservoir dapat dialirkan ke ujung pipa.Kata kunci: Distribusi, Tekanan, Software Epanet 2.0AbstractThe water loss rate for PDAM Maja Tirta is 46.51%, consisting of 8.52% commercial water loss and 37.99% water loss exceeding the maximum limit criteria according to the Minister of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia No. 27/PRT/M/ 2016 at the maximum limit of 20%. The purpose of this research is to evaluate and optimize the water distribution network in Prajurit Kulon service zone. The evaluation method for the Wates IPA distribution network is using Epanet 2.0 software simulation with water velocity in the pipes and water pressure in the pipes compared to the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia No 27/PRT/M/2016. The water pressure in the pipe at the Kulon Soldier service zone which experiences negative pressure is -3.29 m, the water velocity in the pipe is 22.72 m/s. Optimization of the Wates IPA distribution network system in the Warrior Kulon service zone, namely by changing the pipe diameter is a solution to eliminate negative pressure, so that water from the reservoir can flow to the end of the pipe.Keywords: Distribution, Pressure, Software Epanet 2.0.
SIMULATION OF PRESSURE REDUCING VALVE (PRV) INSTALLATION IN THE DISTRIBUTION NETWORK (CASE STUDY: NORTHERN REGION OF SUMBER IPA PALUKAHAN PDAM PADANG CITY) Adetya, Ashifa; Dewi, Nadia Tripermata; Komala, Puti Sri
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.173-183

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan lokasi pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV) yang tepat  pada jaringan perpipaan di Wilayah utara Perumda Air Minum (PDAM) Kota Padang menggunakan satu sumber air. Simulasi hidrolis menggunakan aplikasi EPANET serta data sekunder dari PDAM Padang. Data yang dibutuhkan untuk simulasi terdiri dari data debit reservoir, pelanggan wilayah utara, serta perpipaan. Hasil simulai EPANET kemudian dibandingkan dengan hasil pengukuran lapangan. Terdapat perbedaan tekanan yang cukup signifikan antara simulasi EPANET dengan hasil pengukuran lapangan. Tingginya tekanan hasil simulasi, karena sumber air IPA Palukahan yang memiliki perbedaan elevasi yang besar dengan daerah pelayanan. Pemasangan Pressure Reducing Valve (PRV) merupakan pilihan untuk mengurangi tekanan pada jaringan pipa sampai batas tertentu. Dalam simulasi lokasi pemasangan PRV yang tepat di jaringan distribusi ditentukan agar tekanan di daerah pelayanan yang diperoleh memenuhi persyaratan. Rekomendasi penempatan PRV antara Node 119 dan Node 120 pada ketinggian 30 mdpl. PRV dapat menurunkan tekanan dari 1,9 atm – 10,7 atm menjadi 1,2 atm – 6,9 atm. Pemasangan PRV dapat menjadi langkah awal dalam persiapan pembentukan DMA (District metered Area) di wilayah utara kota Padang dalam rangka menurunkan tingkat kebocoran air.Kata kunci: EPANET, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Palukahan, Jaringan distribusi, Pressure Reducing Valve (PRV), TekananABSTRACTThis study aims to simulate the exact location of the Pressure Reducing Valve (PRV) installation in the pipeline network in the northern area of the Municipal Water Supply Company (PDAM) of Padang City using one water source. The water source used is Palukahan Water Treatment Plant (WTP) which has a relatively high elevation to the service area. The hydraulic simulation used the EPANET and secondary data from PDAM Padang. The data needed for the simulation consists of reservoir discharge data, northern customers, and piping. The results of the EPANET simulations were then compared with the results of field measurements. There is a significant difference in pressure between the EPANET simulation and the field measurement results. The high pressure from the simulation results is due to the Palukahan WTP water source which has a large elevation difference from the service area. Installation of a Pressure Reducing Valve (PRV) is an option to reduce the pressure in the pipe network to a certain extent. In the simulation, the appropriate PRV installation location in the distribution network is determined so that the pressure in the service area obtained meets the requirements. Recommended PRV placement between Node 119 and Node 120 at an altitude of 30 meters above sea level. PRV can reduce pressure from 1.9 atm – 10.7 atm to 1.2 atm – 6.9 atm. Installing PRV can be the first step in preparing for the formation of a DMA in the northern area of Padang City in order to reduce the level of water leakage.Keywords: EPANET, Palukahan Water Treatment Plant (WTP), Distribution Network, Pressure Reducing Valve (PRV), Padang Water Utility (PDAM Padang), Pressure
PEMILIHAN ALTERNATIF JARINGAN DISTRIBUSI AIR MINUM DI KAWASAN PERKOTAAN BETUN KECAMATAN MALAKA TENGAH KABUPATEN MALAKA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Saputra, Andriansyah Ramadhany; Juwana, Iwan
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.105-116

Abstract

Kawasan Perkotaan Betun terletak di Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara timur yang dihuni oleh 23.058 jiwa pada tahun 2021 belum memiliki jaringan perpipaan distribusi air minum. Sebanyak 57,87% penduduk masih menggunakan sumber air minum bukan jaringan perpipaan tidak terlindungi. Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan sistem jaringan perpipaan air minum agar masyarakat terlayani oleh sumber air minum yang terlindungi dengan pemanfaatan air baku dari 7 Mata Air menggunakan bangunan penyadap mata air dan debit minimum sebesar 50 liter/detik yang akan ditampung di reservoir dan di distribusikan kepada masyarakat melalui Jaringan Perpipaan. Kebutuhan air minum dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk serta fasilitas sosial ekonomi, dengan periode perencanaan selama 20 tahun sampai tahun 2042. Total kebutuhan air minum rata-rata yang di proyeksikan pada tahun 2042 adalah 21,12 l/dtk. Perencanaan ini, menggunakan 3 buah alternatif jalur yang selanjutnya dianalisis jalur yang paling sesuai dengan metode dan kriteria teknis Permen PUPR 27/2016. Metode yang dianalisis adalah Pugh Matrix dan Weighted Ranking Technique (WRT). Pipa yang digunakan dalam perencanaan yaitu Polyvinyl Chloride tipe AW (untuk aliran bertekanan) dengan variasi diameter pipa sebesar 32 mm sampai 267 mm. Estimasi Rancangan Anggaran Biaya (RAB) yang diperlukan sebesar Rp10.416.950.133.
ANALISIS POTENSI DAUR ULANG SAMPAH DOMESTIK KABUPATEN SOLOK SELATAN Mhd. Fauzi; Rizki Aziz; Yeggi Darnas; Nanda Chyntia
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.140-151

Abstract

AbstrakPerkembangan ekonomi yang semakin pesat diiringi pertumbuhan penduduk menyebabkan meningkatnya timbulan sampah. Data timbulan dan karakteristik sampah yang terbatas akan membuat pemerintah kesulitan detalam mengembangkan program pengelolaan sampah yang efisien dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis data satuan timbulan, timbulan, komposisi, karakteristik dan potensi daur ulang sampah domestik di Kabupaten Solok Selatan. SNI 19-3964-1994 dijadikan sebagai acuan sampling timbulan dan penentuan jumlah sampel. Pengambilan sampel dilakukan pada 90 titik meliputi 30 titik untuk high income (HI), 45 medium income (MI) dan 15 low income (LI) yang dibagi menjadi 3 kawasan selama 8 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan satuan timbulan rata-rata sampah domestik sebesar 0,347 kg/o/hari dalam satuan berat dan 2,084 liter/o/hari dalam satuan volume. Timbulan sampah domestik yang dihasilkan sebesar 55,85 ton/hari dalam satuan berat atau 336,10 m3/hari dalam satuan volume. Komposisi sampah terbesar adalah sampah organik yaitu >82%, dengan komponen terbesar adalah sampah sisa makanan. Berdasarkan pengujian karakteristik sampah domestik Kabupaten Solok Selatan ini layak untuk dilakukan pengomposan. Potensi daur ulang sampah domestik untuk sampah kertas, plastik, kaca, logam non ferrous dan sampah makanan adalah sebesar 49,98%, 64,19%, 64,65%, 82,48% dan 89,95% dari total timbulan sampah.Kata kunci: Kabupaten Solok Selatan, potensi daur ulang, sampah domestikAbstractWaste production rises as a result of population growth and rapid economic development. It will be challenging for the government to create an effective and sustainable waste management program due to the lack of data on waste generation and characteristics. This study intends to quantify and examine the generation unit, generation, composition, characteristic, and possibilities for recycling of domestic waste in South Solok Districts. The reference used to calculate the number of samples and generation sampling is SNI 19-3964-1994. 90 points, divided into 3 zones for 8 consecutive days, were used for sampling, comprising 30 points for high income (HI), 45 points for medium income, and 15 points for low income (LI). The findings indicated that the average domestic waste generation unit was 2.084 liters/o/day in volume and 0.347 kg/o/day in weight. The amount of domestic waste produced each day is 55.85 tons of weight or 336.10 m3 in volume. Over 82% of waste is organic waste, with food waste making up the majority of this category. Composting is possible based on an analysis of the domestic waste from the South Solok Districts. Paper, plastic, glass, non-ferrous metals, and food waste have a possibilities for recycling of 49.98%, 64.19%, 64.65%, 82.48%, and 89.95% of the total waste generated. Keywords: South Solok Districts, possibilities for recycling, domestic waste
EFISIENSI PENGGUNAAN MATERIAL PRESERVASI MIKROORGANISME (MPMO) DALAM PENYISIHAN TIMBAL (PB) DAN KROMIUM (CR) PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL MENGGUNAKAN REAKTOR BATCH Junita Fachriea Gani; Dyah Asri Handayani Taroepratjeka; Dyah Marganingrum
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.130-139

Abstract

AbstrakKegiatan industri tekstil selain menghasilkan produk tentunya menghasilkan limbah cair. Limbah cair ini memiliki kontaminan timbal (Pb) dan kromium (Cr) karena proses pewarnaan memerlukan logam berat dalam mengikat warna pada serat kain agar tidak mudah luntur. Pengolahan biologi yang berpotensi dalam penyisihan parameter tersebut yaitu material preservasi mikroorganisme (MPMO) karena mengandung bentonit dan Bacillus licheniformis. Bentonit memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi karena mengandung kation Heksadesil Trimetil Ammonium Bromida (HDTMA+) sedangkan Bacillus licheniformis memiliki enzim Chromate Reductase (ChrR) dan Pbr Operon yang dapat menyisihkan Pb dan Cr dengan cara bioremediasi oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efisiensi penyisihan Pb dan Cr oleh MPMO. Pengolahan air limbah tekstil PT X dilakukan pada skala laboratorium dengan 3 variasi reaktor batch selama 16 hari secara aerob, pH 6-7 dan tepung tapioka sebagai nutrisi utama. Sebelum masuk pada tahap pengolahan dilakukan persiapan bakteri yang terjadi selama 10 hari, Volatile Suspended Solid (VSS) digunakan sebagai indikator kesiapan bakteri dan pH sebagai kontrol pertumbuhan bakteri. Metode yang digunakan untuk pengukuran Pb dan Cr yaitu Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) secara nyala. Hasil pengukuran karakteristik limbah cair industri tekstil PT.X konsentrasi Pb 22,2428 mg/L dan Cr 6,8575 mg/L. Penggunaan MPMO dapat menyisihkan konsentrasi Pb 84,21 hingga 86,15% dan Cr 86,48 hingga 88,95% dari limbah cair industri tekstil.Kata kunci: material preservasi mikroogranisme (MPMO), timbal, kromium, industri tekstil.AbstractTextile industry activities in addition to producing products of course produce liquid waste. This liquid waste has lead (Pb) and chromium (Cr) because the coloring process requires heavy metals to bind the color to the fabric fibers and then produce residual dye. Biological treatment is possible in the removal of these parameters of microorganism preservation material (MOPM) because it contains bentonite and Bacillus licheniformis. Bentonite has the ability to adsorb because it contains the cation Hexadesil Trimethyl Ammonium Bromide (HDTMA-Br) while Bacillus licheniformis has the enzyme Chromate Reductase (ChrR) and Pbr Operon which can find Pb and Cr by bioremediation by bacteria. This study aims to determine the efficiency of Pb and Cr by MPMO. PT.X textile wastewater treatment was carried out on a laboratory scale in 3 variations of batch reactors for 16 days by aerobic, pH 6-7 and tapioca flour as the main nutrient. Before entering the processing stage, bacteria were prepared for 10 days, Volatile Suspended Solid (VSS) as an indicator of bacterial readiness and pH as a control of bacterial growth. The methods used to measure Pb and Cr are Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) by flame. The results of the textile industry wastewater characteristics PT.X concentration of Pb 22,2428 mg/L and Cr 6,8575 mg/L. The use of MOPM can concentrate Pb 84.21 to 86.15% and Cr 86,48 up to 88.95% from textile industry wastewater.Keywords: microorganism preservation material (MOPM), lead, chromium, textile industry.
STUDI REMEDIASI TANAH TERCEMAR LOGAM MERKURI (Hg) MENGGUNAKAN TUMBUHAN TEKI (Cyperus rotundus) Maidi F. Titahena; Abraham Mariwy; S Sunarti
Jurnal Reka Lingkungan Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v11i2.95-104

Abstract

ABSTRAKFitoremediasi merupakan metode remediasi yang menggunakan tumbuhan untuk mengurangi konsentrasi logam berat merkuri (Hg) dalam sampel tanah yang diambil dari Desa Wotay Kecamatan Teon Nila Serua Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana tumbuhan teki (C. rotundus) dapat menyerap dan mengalihkan logam berat merkuri. Proses kontak logam merkuri dengan tanah dan tumbuhan teki dalam rumah kaca dilakukan selama 14 hari (reaktor 1) dan 28 hari (reaktor 2). Sampel diuji menggunakan Mercury Analyzer dengan panjang gelombang 253,7 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi merkuri (Hg) yang diserap oleh tumbuhan terdapat pada akar sebesar 0,32 ppm dan daun sebesar 0,35 ppm untuk reaktor uji satu, serta pada akar sebesar 0,91 ppm dan daun sebesar 0,16 ppm untuk reaktor uji dua. Berdasarkan perhitungan, faktor biokonsentrasi (BCF) adalah 0,451 (BCF ˂ 1) untuk reaktor uji satu dan 0,568 (BCF ˂ 1) untuk reaktor uji dua. Sementara itu, faktor translokasi (TF) adalah 1,50 (TF > 1) untuk reaktor uji satu dan 0,163 (TF ˂ 1) untuk reaktor uji dua. Oleh karena itu, tumbuhan teki (C. rotundus) dapat diklasifikasikan sebagai tumbuhan eksklunder (dengan nilai BCF ˂ 1), namun masih mengikuti mekanisme fitoekstraksi karena nilai TF > 1.Kata kunci: fitoremediasi, merkuri, C. rotundus, excluder, fitoekstraksi.                                                            ABSTRACTPhytoremediation is a remediation method that uses plants to reduce the concentration of the heavy metal mercury (hg) in the soil samples taken from wotay vilage teon nila serua district, central maluku regency. this study aims to determine the extent to which the nut plant (c. rotundus) can absorb and transfer the heavy metal mercury. the process of contacting mercury metal with soil and sedge plants in the greenhouse was carried out for 14 days (reactor 1) and 28 days (reactor 2). samples were tested using a mercury analyzer with a wavelength of 253.7 nm. the results showed that the concentration of mercury (hg) absorbed by plants was 0.32 ppm in the roots and 0.35 ppm in the leaves for the first test reactor, and 0.91 ppm in the roots and 0.16 ppm in the leaves for the reactor. test two. based on calculations, the bioconcentration factor (bcf) is 0.451 (bcf ˂ 1) for test reactor one and 0.568 (bcf ˂ 1) for test reactor two. meanwhile, the translocation factor (tf) was 1.50 (tf > 1) for test reactor one and 0.163 (tf ˂ 1) for test reactor two. therefore, the nut plant (c. rotundus) can be classified as an exclunder plant (with a bcf value of ˂ 1), but still follows the phytoextraction mechanism because the tf value is > 1.Keywords: phytoremediation, mercury, c. rotundus, excluder, phytoextraction.

Page 1 of 1 | Total Record : 8