cover
Contact Name
Khoirul Jazilah
Contact Email
khoirul@lecturer.uluwiyah.ac.id
Phone
+6285850536455
Journal Mail Official
amyta.amaliyatutadris@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Mojosari Mojokerto KM. 4. No. 10 Mojokerto.
Location
Kota mojokerto,
Jawa timur
INDONESIA
Amaliyatu Tadris (AMYTA)
ISSN : -     EISSN : 29649226     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Amaliyatu Tadris meliputi :1. Metodologi Pembelajaran, 2. Strategi Pembelajaran, 3. Penelitian Tindakan Kelas, 4. Literasi Media Pembelajaran. 6. Pengembangan Kurikulum, 7. Evaluasi Pembelajaran, 8. Pengembangan Profesi Guru, 9. Integrasi Teknologi dalam Pendidikan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2026): Februari" : 5 Documents clear
Bimbingan Konseling Islami melalui kegiatan ceramah mini untuk mengatasi kenakalan remaja di SMKN 1 Dlanggu tahun 2025 Nur Hakim, Muhammad; khoirul rozikin, Ahmad
Amaliyatu Tadris (AMYTA) Vol. 4 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/vgmqzs95

Abstract

Bimbingan konseling Islami merupakan proses bantuan sistematis yang berbasis nilai-nilai Islam untuk membantu siswa mengenal diri, mengatasi persoalan hidup, dan mengoptimalkan potensi melalui iman dan akhlak. Di SMKN 1 Dlanggu, pendekatan ini diimplementasikan melalui kegiatan ceramah mini sebagai sarana efektif membangun kesadaran spiritual dan moral siswa, khususnya dalam mengatasi kenakalan remaja seperti bolos, pergaulan bebas, dan kurang disiplin. Secara umum, bimbingan konseling meliputi aspek preventif, kuratif, dan pengembangan, dengan fokus pada self-awareness, pengembangan keterampilan psikologis, serta perencanaan masa depan. Dalam kerangka Islami, proses ini menekankan dasar wahyu Al-Qur’an dan Hadis, kesadaran spiritual (taqwa dan iman), integrasi akhlak mulia, pendekatan holistik, serta pencegahan dan pengobatan spiritual. Tujuan utamanya adalah menguatkan hubungan dengan Allah SWT, membentuk karakter akhlak mulia, mencegah perilaku menyimpang, mengatasi masalah pribadi-sosial, mengembangkan potensi seimbang, memperkuat kesejahteraan mental-emosional, dan membangun kesadaran sosial harmonis. Faktor pendukung meliputi dukungan kepala sekolah dan guru, antusiasme siswa, kerja sama dengan tokoh agama, serta fasilitas sekolah. Sementara faktor penghambat mencakup keterbatasan waktu, minimnya kompetensi konselor, kurang disiplin siswa, dan metode ceramah yang monoton. Keterkaitan ceramah mini dengan pengendalian kenakalan remaja di SMKN 1 Dlanggu menekankan integrasi dalam agenda sekolah, pemilihan topik relevan, pelibatan aktif siswa, dan inovasi metode interaktif untuk meningkatkan efektivitas pembinaan karakter Islami secara menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah perilaku, tetapi juga membangun keutuhan spiritual dan moral siswa kejuruan
pengaruh metode PBL dan FGD terhadap hasil belajar PAI kelas X RPL di SMKN 1 Dlanggu Listyawati, Mukhlisatun; Nizar Al-Ajis, Muhammad
Amaliyatu Tadris (AMYTA) Vol. 4 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/ztncmt15

Abstract

This study aims to determine the effect of Problem Based Learning (PBL) and Focus Group Discussion (FGD) methods on student learning outcomes in Islamic Religious Education (PAI) class X RPL at SMKN 1 Dlanggu. This study used a quantitative quasi-experimental method with two groups, namely the experimental class using the PBL model with FGD and the control class using the conventional learning model. The research instrument was an essay test consisting of 5 questions given in the pretest and posttest. The results showed that the initial abilities of both classes were equal, with an average pretest score of 46.79 for the PBL class and 47.31 for the conventional class. After being given treatment, the posttest results showed an average score of 81.14 for the conventional class, higher than the PBL class with FGD which obtained an average score of 76.98. Nevertheless, both methods proved effective in improving student learning outcomes significantly, with an increase of 30.19 points in the PBL class and 33.83 points in the conventional class. This research provides implications that the selection of learning methods must be adapted to student characteristics, learning materials, and implementation context, not only based on the novelty or popularity of the method.
Hubungan Disiplin Kelas dan Motivasi Belajar Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran Aulia Afifayanti, Nada; Nasruddin, Nasruddin; Sitatul Mar’ah, Azmi; Zulihi, Zulihi; Maryati, Sulis; Kahfi, Sahibul
Amaliyatu Tadris (AMYTA) Vol. 4 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/fcgmtf02

Abstract

Tujuan kajian ini adalah menganalisis peran motivasi dan disiplin belajar dalam mengatasi hambatan perilaku peserta didik guna meningkatkan kualitas pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis berbasis studi pustaka terhadap buku dan jurnal ilmiah terbitan sepuluh tahun terakhir dengan mensinergikan temuan empiris serta teori Maslow. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) Disiplin berfungsi sebagai regulator perilaku dan kontrol diri siswa; (2) Motivasi berperan sebagai motor penggerak (internal drive) yang menentukan intensitas keterlibatan akademik; (3) Terdapat hubungan timbal balik (reciprocal) di mana motivasi memicu kedisiplinan, sementara disiplin menjaga stabilitas motivasi. Sinergi keduanya terbukti secara signifikan meningkatkan hasil belajar.  The purpose of this study is to analyze the role of motivation and learning discipline in overcoming students’ behavioral barriers in order to improve the quality of learning. This research employs a descriptive–analytical qualitative method based on a literature review of books and scientific journals published over the last ten years, integrating empirical findings with Maslow’s theory. The results indicate that: (1) discipline functions as a regulator of behavior and a mechanism of students’ self-control; (2) motivation acts as a driving force (internal drive) that determines the intensity of academic engagement; and (3) there is a reciprocal relationship in which motivation stimulates discipline, while discipline maintains the stability of motivation. The synergy between the two is proven to significantly enhance learning outcomes.  
Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Berbasis Ontologi: Integrasi Tarbiyah, Ta’lim, dan Ta’dib Irmawansah, Ika; mariatus solikah, Dewi
Amaliyatu Tadris (AMYTA) Vol. 4 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/hva0x186

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) is currently facing a paradigmatic crisis due to the dominance of pragmatism and technocratism in modern education. These paradigms reduce PAI learning to an instrumental activity oriented toward cognitive achievement, administrative indicators, and procedural efficiency, thereby neglecting the reflective, ethical, and spiritual dimensions that constitute the core of Islamic education. This article aims to reconstruct the methodology of PAI learning by grounding it in the ontological foundation of Islamic education through the integration of the concepts of tarbiyah, ta‘lim, and ta’dib. This study employs a qualitative approach using library research and is analyzed through a philosophical-critical perspective. The findings indicate that the dominance of pragmatism and technocratism is rooted in an immanent and reductionistic ontology that marginalizes the inner and transcendent dimensions of the human being. As an alternative, the ontology of Islamic education positions humans as moral and spiritual subjects who develop holistically. The integration of tarbiyah as a process of nurturing human potential, ta‘lim as the development of reflective reasoning and Islamic literacy, and ta’dib as an ethical orientation toward the formation of adab, constructs a dialogical, reflective, and emancipatory methodological framework for PAI learning. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) menghadapi krisis paradigmatik akibat dominasi pragmatisme dan teknokratisme pendidikan modern. Kedua paradigma tersebut mereduksi pembelajaran PAI menjadi aktivitas instrumental yang berorientasi pada capaian kognitif, indikator administratif, dan efisiensi prosedural, sehingga mengabaikan dimensi reflektif, etis, dan spiritual yang merupakan inti pendidikan Islam. Artikel ini bertujuan merekonstruksi metodologi pembelajaran PAI dengan bertolak dari landasan ontologis pendidikan Islam melalui integrasi konsep tarbiyah, ta‘lim, dan ta’dib. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan dianalisis menggunakan pendekatan filosofis-kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa dominasi pragmatisme dan teknokratisme berakar pada ontologi imanen dan reduksionistik yang menyingkirkan dimensi batin dan transenden manusia. Sebagai alternatif, ontologi pendidikan Islam menempatkan manusia sebagai subjek moral dan spiritual yang berkembang secara holistik. Integrasi tarbiyah sebagai proses penumbuhan potensi insani, ta‘lim sebagai pengembangan nalar dan literasi keislaman yang reflektif, serta ta’dib sebagai orientasi etis pembentukan adab, membentuk kerangka metodologis pembelajaran PAI yang dialogis, reflektif, dan emansipatoris.
Implementasi Pendidikan Agama Islam Bagi Peserta Didik Non Muslim di SMKS YPKP TIK Sentani Iriani, Nur
Amaliyatu Tadris (AMYTA) Vol. 4 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/c7n7cd17

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi, hambatan, serta dampak pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi peserta didik non muslim di SMKS YPKP TIK Sentani. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian lapangan (field research), data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Subjek penelitian meliputi guru PAI, peserta didik non muslim, dan manajemen sekolah. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi PAI diwajibkan bagi seluruh peserta didik tanpa memandang agama, sesuai kebijakan yayasan. Guru berupaya berhati-hati dalam penyampaian materi, namun proses pembelajaran masih cenderung eksklusif pada standar teologis Islam (rukun iman, fiqh) tanpa adaptasi signifikan bagi kebutuhan non muslim. Akibatnya, peserta didik non muslim cenderung pasif, mengalami keterputusan psikologis, dan kebingungan identitas agama. Penelitian ini mengidentifikasi kurangnya pelatihan pedagogi multikultural bagi guru dan kurikulum yang kaku sebagai hambatan utama. Direkomendasikan adanya rekonstruksi kurikulum menuju pedagogi lintas iman (interfaith pedagogy) yang menekankan nilai universal untuk membangun toleransi yang autentik. This study aims to analyze the implementation, challenges, and impacts of Islamic Religious Education (PAI) learning for non-Muslim students at SMKS YPKP TIK Sentani. Employing a descriptive qualitative approach with a field research design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation study. The research subjects included PAI teachers, non-Muslim students, and school management. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman model: data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that PAI is mandatory for all students regardless of religious background, in accordance with the foundation’s policy. Teachers attempt to exercise caution in delivering the material; however, the learning process remains predominantly exclusive to Islamic theological standards (such as the pillars of faith and fiqh) without significant adaptation to the needs of non-Muslim students. As a result, non-Muslim students tend to be passive, experience psychological disengagement, and face religious identity confusion.The study identifies the lack of multicultural pedagogical training for teachers and a rigid curriculum as the main obstacles. It recommends curriculum reconstruction toward an interfaith pedagogy that emphasizes universal values to foster authentic tolerance

Page 1 of 1 | Total Record : 5