cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
ISSN : 23026383     EISSN : 25021648     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi & Aplikasi (JPPFA) is interested in comparative studies that lead to new insights and challenge of orthodox theories; that have potential for policy impact; and that apply to broad range of settings, including industrial democracies as well as low and middle income countries, countries in political transition and countries recovering from armed conflict and social unrest. JPPFA also considers papers that look at education and development through the policies and practices of official development assistance and commercial education trade. JPPFA engages these approaches to deepen the understanding of the relationship between education policy and development.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2015): Juni" : 10 Documents clear
Front Matter (Cover, Foreword, tabel of Content) Editorial Team JPPFA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.085 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7817

Abstract

PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS PENGUATAN MODAL SOSIAL BAGI MAHASISWA UIN SUNAN KALIJAGA Sri Sumarni; Achmad Dardiri; Darmiyati Zuchdi
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.8 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7811

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan model pendidikan karakter yang sesuai dalam membangun karakter mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh merosotnya karakter mahasiswa yang disebabkan oleh city syndrome, belum siapnya mahasiswa hidup mandiri, dan kondisi yang “terkotak-kotak” karena visi spiritualitas keagamaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perguruan tinggi membutuhkan “jembatan” untuk mengatasi pandangan yang merasa berbeda, yaitu melalui modal sosial yang substansinya adalah menjalin, membangun, memperkuat, dan memperkaya hubungan sesama manusia. Penelitian ini merupakan penelitian Research and Development (R D), menggunakan analisis data model mixed method, dengan memberikan bobot lebih besar pada analisis kualitatif. Hasil implementasi model ini secara kualitatif dapat dilihat dari peningkatan aktualisasi nilai-nilai karakter para mahasiswa, baik nilai ketaatan beribadah, kepedulian, kerjasama, tanggungjawab, maupun kejujuran. Secara kuantitatif, model ini sangat efektif untuk membangun karakter kepedulian dan kerjasama, cukup efektif untuk membangun karakter ketaatan beribadah dan tanggungjawab, serta kurang efektif untuk membangun karakter kejujuran.
PENELITIAN ETNOGRAFI TENTANG BUDAYA SEKOLAH DALAM PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR Sukadari Sukadari; Suyata Suyata; Shodiq A. Kuntoro
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.323 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7812

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) pengembangan budaya Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kasihan, Bantul dalam pembentukan karakter siswa, (2) pengintegrasian unsur penilaian pendidikan karakter dalam kegiatan sehari-hari di sekolah dasar secara utuh, (3) bentuk kegiatan siswa dalam pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah, dan (4) hubungan pergaulan antarwarga sekolah setelah mendapatkan pendidikan karakter melalui budaya sekolah.Metode penelitian yang digunakan adalah metode etnografik dengan pendekatan kualitatif, untuk memahami kehidupan masyarakat sekolah berdasarkan sudut pandang masyarakat sekolah yang bersangkutan. Subjek penelitian ini adalah siswa dan warga sekolah SD N Kasihan, Bantul. Sumber data penelitian adalah: (1) sumber tertulis, (2) sumber lisan, (3) artefak, (4) dokumen dan (5) rekaman. Teknik Pengumpulan datanya adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan sejak, sebelum, selama, dan sesudah penelitian dengan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) Guru dan kepala sekolah SD N Kasihan Bantul telah memahami budaya sekolah dan pendidikan karakter. (2) Pelaksanaan pendidikan karakter melalui budaya sekolah dalam mengintegrasikan mata pelajaran dengan nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter sudah berjalan dengan baik dan signifikan dengan perkembangan perilaku siswa. (3) Kegiatan siswa telah berjalan dengan baik; siswa dapat mengikuti kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minatnya. (4) Hubungan pergaulan antarwarga sekolah berada dalam suasana kondusif dan harmonis.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN HUMANIS RELIGIUS DI MADRASAH Hibana Hibana; Sodiq A. Kuntoro; Sutrisno Sutrisno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.267 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.5922

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji konsep pendidikan humanis religius di Madrasah, 2) mengkaji strategi pengembangan pendidikan humanis religius dalam proses belajar mengajar di kelas, 3) mengkaji konsep pengembangan sikap humanis religius siswa dalam kehidupan di madrasah, dan 4) mengkaji dan menganalisis konsep pengembangan budaya kehidupan yang humanis religius di madrasah. Metode Penelitian: kualitatif, menggunakan paradigma naturalistik fenomenologi. Penelitian dilakukan di MAN Wonokromo Bantul dan MAN Lab UIN Yogyakarta. Tahap penelitian: 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, 4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian adalah: 1) Konsep pendidikan yang humanis adalah  pendidikan yang berbasis pada lima nilai dasar, yaitu nilai kebebasan, kerja sama, kreativitas, kejujuran, dan aktualisasi diri. Sedangkan konsep pendidikan yang religius mengandung lima dimensi secara bertahap, yakni dimensi pengetahuan (ilmu keagamaan), keimanan (aqidah), praktik keagamaan (syariah), pengamalan keagamaan (akhlak), dan penghayatan keagamaan (ma’rifah).  2) Pengembangan pendidikan humanis religius dalam proses belajar mengajar di kelas dilakukan dengan menyediakan sarana yang memadai, menciptakan suasana belajar yang nyaman, membangun guru yang berwibawa dan berkarakter, menyelenggarakan proses pendidikan yang konstruktif, dan membangun lingkungan belajar yang kondusif. 3) Pengembangan sikap humanis religius siswa di madrasah  dilakukan melalui proses belajar mengajar yang mengembangkan nilai, memberikan banyak pengalaman kepada siswa, dan menciptakan lingkungan yang kondusif.  4) pengembangan budaya humanis religius di madrasah dilakukan dengan cara pemantapan visi madrasah, membentuk tim inti, membangun kelas inti, dan menciptakan kelas imbas.
PENDIDIKAN HUMANIS BERBASIS KULTUR SEKOLAH DASAR TUMBUH 1 YOGYAKARTA Suswanto Suswanto; Sodiq A Kuntoro; Suyata Suyata
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.39 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan memaknai pengembangan pendidikan humanis dalam proses pembelajaran dan proses pengembangan kultur sekolah yang dilakukan oleh warga Sekolah Dasar Tumbuh 1 Yogyakarta untuk mewujudkan pendidikan yang bersifat humanis. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelas, guru pendamping khusus, guru bidang studi, staf administrasi, librarian teacher, konselor, siswa, dan komite sekolah. Semua informan tersebut merupakan sumber data primer yang berkenaan dengan pengembangan kegiatan pendidikan dan pembelajaran serta pengembangan kultur sekolah yang bersifat humanis. Data dikumpulkan dengan mengunakan pengamatan nonpartisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan dua model analisis yaitu analisis saat mempertajam keabsahan data dan analisis melalui interpretasi data secara keseluruhan. Dalam hal ini ada empat tahap penting yang sangat berkaitan, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan humanis yang diperoleh peserta didik dalam mengembangkan potensinya terdapat pada: implementasi pendidikan dalam pembelajaran dan pengembangan kultur sekolah. Pertama, nilai-nilai humanis yang ada pada implementasi pendidikan dalam pembelajaran yaitu ada pada pendekatan pendidikan, metode, dan proses pembelajarannya, kedua, nilai-nilai humanis yang terdapat pada pengembangan kultur sekolah yaitu pada bentuk kultur sekolah inklusi serta kegiatan-kegiatan yang terdapat dalam unsur kultur sekolah yang positif.
TUAN GURU SEBAGAI TOKOH PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI PEDESAAN Aswasulasikin Aswasulasikin; Siti Irene Astuti Dwiningrum; Sumarno Sumarno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.315 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.6669

Abstract

Tuan Guru sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di Pulau Lombok mempunyai pengaruh yang besar di tengah-tengah masyarakatnya, karena tokoh masyarakat memiliki keunggulan, baik dalam ilmu pengetahuan, jabatan, dan secara langsung dari keturunan. Tuan Guru sebagai pusat orientasi nilai dan moral ikut bertanggung jawab dalam proses pencerdasan kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Secara kelembagaan Tuan Guru mengembangkan dua jenis pendidikan yaitu pendidikan formal dan non formal yang mendukung secara penuh tujuan dan hakikat pendidikan manusia itu sendiri, yaitu membentuk manusia mukmin yang sejati, memiliki kulitas moral dan intelektual. Pembangunan pendidikan melalui pendidikan formal yang dikembangkan oleh Tuan Guru melalui pendirian Pondok Pesantren yang di dalamnya di dirikan pendidikan dasar dan menengah yang terdiri dari:  madrasah ibtidaiyah (MI) setara SD, madrasah tsanawiyah (MTs) setara SLTP, madrasah aliyah (MA) setara SMA. Sedangkan pembangunan pendidikan non formal di pedesaan dikembangkan dalam bentuk diniyah.
INKLUSIVITAS PESANTREN TEBUIRENG: MENATAP GLOBALISASI DENGAN WAJAH TRADISIONALISME Syamsul Ma'arif; Achmad Dardiri; Djoko Suryo
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.553 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan inklusivitas Pesantern Tebuireng dalam menatap globalisasi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data adalah teknik observasi, partisipasi, interview dan dokumentasi. Teknik analisis datanya adalah teknik analisis domain. Hasil penelitian menunjukkan Pesantren sebagai sebuah lembaga tertua di Indonesia sesungguhnya memiliki karakter unik dan khas yang berbeda dengan lembaga pendidikan agama Islam. Kelenturan sikap dan ekspresi keagamaan yang cenderung inklusif, sering ditunjukkan oleh komunitas pesantren. Hal ini disebabkan karena pada wataknya pesantren memiliki seperangkat aturan, nilai, dan norma yang membudaya dan bersumber pada alquran dan hadistdi samping bersumber pada kesepakatan para ulama. Begitu juga Pesantren Tebuireng, sebagai salah satu pesantren terkemuka di Indonesia terkenal sangat inklusif, senantiasa berusaha menjawab tuntutan-tuntutan globalisasi dengan senantiasa berpegang pada “tradisionalisme” dan kearifan lokal peninggalan Mbah Hasyim Asy’ari dan para leluhurnya. Terbukti dengan paradigma seperti ini, Tebuireng mampu berselayar di tengah tantangan modernitas tanpa harus tercerabut akar-akar kebudayaanya sendiri. Hal ini dapat dijadikan sebagai modal bagi pesantren dalam mendakwahkan prinsip-prinsip ajaran Islam kepada masyarakat tanpa mengalami benturan dan konflik dengan agama lain maupun kepercayaan lokal di Indonesia.
KEBEBASAN SISWA DALAM BUDAYA DEMOKRATIS DI SEKOLAH (STUDI MULTI KASUS DI SMA YOGYAKARTA) Lesilolo, Herly Janet; Zamroni, Zamroni; Suyata, Suyata
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.017 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7809

Abstract

Penelitian bertujuan untuk: (1) mendekripsikan alasan sekolah memberi kebebasan kepada siswa; (2) mendeskripsikan alasan bahwa kebebasan siswa dapat dilaksanakan, jika budaya sekolah adalah budaya demokratis; dan (3) mendekripsikan praktik kebebasan siswa dalam budaya demokratis di sekolah. Metode penelitian: kualitatif naturalistik dengan strategi studi kasus, dan menggunakan jenis studi kasus multiple case study. Tempat penelitian, SMA Kolese De Britto Yogyakarta dan SMA Negeri 1 Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan, (1) Sekolah memberikan kebebasan kepada siswa karena, siswa memiliki keunggulan dan kapasitas. Siswa seharusnya dibiarkan menjadi apa yang mereka pikirkan, rasakan, hadirkan dan lakukan sehingga siswa menjadi mandiri, terinsiprasi dalam mengeksplorasikan kreativitas dan imajinasi. (2) Alasan praktik kebebasan siswa dapat dilakukan dalam budaya demokratis di sekolah karena, budaya demokratis dapat berperan sebagai tenaga penggerak dalam ruang lifelong pembelajaran demokrasi sehingga interaksi, relasi dan perilaku kebebasan siswa tetap teratur secara demokratis, dan (3) Praktik kebebasan siswa yaitu, kebebasan akademik dengan kontrol sosial dan menerapkan kegiatan belajar mandiri. Dalam belajar mandiri, siswa belajar tanpa intervensi guru, siswa secara kritis dan kreatif belajar dengan mengamati, menganalisis, dan sharing. Siswa melakukan interaksi sosial berupa toleransi, saling menghormati dan menerima ide dan kritik, serta kerjasama menciptakan relasi sharing dengan siswa lain membedakan prestasi akademik.
PEMBUDAYAAN NILAI KEBANGSAAN SISWA PADA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP SEKOLAH DASAR ADIWIYATA MANDIRI Trikinasih Handayani; Wuryadi Wuryadi; Zamroni Zamroni
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.799 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7815

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui praksis Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan pembudayaan nilai kebangsaan pada siswa sekolah dasar Adiwiyata mandiri di DIY yang tercakup dalam pembelajaran PLH secara terintegrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dilaksanakan di SD N Ungaran I Yogyakarta. Sumber informasi kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara secara mendalam dan dokumentasi. Instrumen utama peneliti sendiri. Teknik analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajara PLH di SD Negeri Ungaran I secara terintegrasi dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Agama serta Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Kegiatan PLH yang dilakukan oleh sekolah tampak tidak terintegrasi dengan mata pelajaran tertentu, sehingga paradigma integratif tidak kelihatan. Secara formal sekolah menempatkan PLH terintegrasi pada mata pelajaran tersebut, tetapi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan secara eksklusif dipisahkan menjadi kegiatan tersendiri. Konsep integrasi hanya bisa dilaksanakan menyangkut konsep-konsep dasar PLH dengan cara menyisipkan ke materi-materi melalui mata pelajaran tersebut. Pembudayaan nilai kebangsaan pada siswa belum tercakup secara utuh dalam pembelajaran PLH secara terintegrasi, hanya beberapa indikator nilai kebangsaan yang dapat dibudayakan kecuali nilai kesadaran tempat tinggal (geopolitik).
PERSPEKTIF MULTIKULTURAL PADA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI MADRASAH ALIYAH Rohmat Rohmat; Zamroni Zamroni; Achmad Dardiri
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 3, No 1 (2015): Juni
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v3i1.7810

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan makna multikultural menurut guru Pendidikan Agama Islam Madrasah Aliyah (MA) MINAT Cilacap. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-naturalistik. Penelitian dilakukan di MA MINAT Cilacap. Waktu penelitian intensif di lapangan dilakukan Januari 2012- Februari 2014. Subjek penelitian dipilih dari para praktisi pendidikan di MA MINAT Cilacap dan guru Pendidikan Agama Islam yang terdiri atas guru mata pelajaran Alquran/hadis, Akidah/akhlak, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik analisis induktif dengan beberapa langkah utama yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjuukan makna multikultural menurut guru Pendidikan Agama Islam MA MINAT Cilacap yaitu: makna persamaan hak, persaudaraan dan toleransi. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh yang dikembangkan institusi MA MINAT Cilacap yang mengembangkan konsep tawazun (keseimbangan antara dunia dan akhirat) dan mengedepankan tasamuh (toleransi) yang membawa konsep yang baik terhadap pendidikan multikultural. Guru Pendidikan Agama Islam MA MINAT Cilacap memberi makna multikultural antara lain tentang persamaan hak yang harus diberikan lembaga pendidikan sebagai institusi sebagai tempat untuk melakukan pemberdayaan siswa. Persamaan hak menjadi pondasi dasar dalam meminimalisasi konflik yang berkembang dalam masyarakat. Pemberdayaan siswa MA MINAT Cilacap pada sikap persamaan hak memberikan nilai positif pada pembentukan perilaku yang lebih menerima perbedaan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10