cover
Contact Name
Irsal
Contact Email
bengkuluirsal@gmail.com
Phone
+6285381305810
Journal Mail Official
bengkuluirsal@gmail.com
Editorial Address
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam
ISSN : 25273337     EISSN : 26850044     DOI : 10.29300/mtq.v9i2.8963
Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam pernah mengalami kerusakan servers jurnal secara total (di hack), yang mengakibatkan semua artikel yang sudah dipublish mulai Vol.1 No.1 2019 s-d Edisi tahun 2023 hilang semua. Maka untuk menghindari kekosongan artikel, maka tim pengelola jurnal melakukan upload ulang artikel secara quiksubmite Manthiq: Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam di tahun 2022 telah merubah institusi/lembaga penerbit dari IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2021 tentang Perubahan status IAIN Bengkulu menjadi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2024): MEI" : 6 Documents clear
Studi Komparatif Makna Konsep Bumi, Dunia, dan Alam Semesta Rilliandi Arindra Putawa
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.4863

Abstract

Abstract: Comparative Study of the Meaning of the Concept of the Earth, World, and Universe. Metaphysical problems in the field of philosophy are not only limited to general things such as existence, reality, or space-time alone, but there are other problems related to the conception of what humans say as reality that is in front of their eyes. The concepts of the earth, the world, and the universe are three popular concepts that refer to the set of everything that can be achieved by human knowledge. This research is a comparative study that tries to compare the three concepts and can try to analyze the relationship between the three from a philosophical point of view. The results show that the concept of the world is a concept that can refer to the other two concepts and has implications for each meaning. The method used in this study is a qualitative method, with the method of collecting data through library research. The main sources used in this research come from various books and scientific articles that discuss the development of the meaning of each concept that will be studied in this research, namely the earth, the world, and the universe. To strengthen the philosophical analysis of these three concepts, various writings related to the latest philosophical thoughts that have to do with these three concepts will also be used. Keywords: Earth, World, Universe Abstrak: Studi Komparatif Makna Konsep Bumi, Dunia, Dan Alam Semesta. Permasalahan metafisik pada bidang filsafat tidak hanya dibatasi pada hal-hal general seperti keberadaan, realitas, atau ruang-waktu semata, melainkan terdapat permasalahan lain berkaitan dengan konsepsi pada apa yang manusia katakana sebagai realitas yang ada di depan mata. Konsep bumi, dunia, dan alam semesta merupakan tiga konsep popular yang merujuk pada himpunan segala sesuatu yang dapat dicapai oleh pengetahuan manusia. Penelitian ini merupakan studi komparatif yang berusaha membandingkan tiga konsep tersebut dapat mencoba menganalisis hubungan ketiganya melalui sudut pandang kefilsafatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep dunia merupakan konsep yang dapat merujuk kepada kedua konsep lainnya dan memiliki implikasi dari masing-masing pemaknaan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan metode pengumpulan data melalui studi pustaka. Sumber utama yang digunakan pada penelitian ini berasal dari berbagai buku dan artikel ilmiah yang membahas mengenai perkembangan makna dari masing-masing konsep yang akan dikaji pada penelitian ini, yakni bumi, dunia, dan alam semesta. Untuk memperkuat analisis filosofis dari ketigas konsep ini akan digunakan pula berbagai tulisan yang berkaitan dengan pemikiran filosofis terbaru yang memiliki sangkut paut dengan ketiga konsep tersebut. Kata Kunci: Bumi, Dunia, Alam Semesta
Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuri dan Syeikh Siti Jennar Anton Noverdin
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.4864

Abstract

Abstract: Wahdatul Wujud in the Perspective of Hamzah Al Fansur and Sheikh Siti Jennar. One of the early figures who spread Sufism in the archipelago was Shaykh Siti Jenar, who was famous for his concept which was a controversy about the issue of life and death, God and freedom, and the place where the Shari'a was applied. Sheikh Siti Jenar views that human life in this world is called death. On the other hand, what is generally called death is the beginning of an essential and eternal life by him. As a consequence, human life in this world cannot be subject to worldly laws, such as state law. In this study, the author uses a library research method that focuses on aspects of thinking, the history of the two figures, as well as other figures who influence them. So in conducting library research, make a collection of primary and secondary books, which are related to all references that support this writing study. Hamzah Fansuri has thoughts about wahdatul embodiment or embodiment, namely: first, the essence of being, that there is only one being, namely Allah, even though the forms appear to be many. Both Eka in Diversity, that form does not only include its unity even though it has many forms. Third, the creation of nature, the process of creating nature starts from la ta'ayyun, ta'ayyun, tanazzul, by going through the five dignity (phases), and will bertaraqqi to la ta'ayyun while Shaykh Siti Jenar's thoughts about divinity are what are famous on the island of Java as Manunggaling Kawula lan Gusti, which in the author's understanding is almost the same as the teachings of the Wahdatul Being. Where God and nature are one entity or God is immanent with nature (humans). Keywords: Wahdatul Wujud, Perspective of Hamzah Al Fansuri, and Perspective of Sheikh Siti Jennar Abstrak: Wahdatul Wujud dalam Perspektif Hamzah Al Fansuridan Syeikh Siti Jennar. Salah satu dari tokoh awal yang menyebarkan ajaran tasawuf di kepulauan Nusantara ini adalah Syaikh Siti Jenar, yang terkenal dengan konsepnya yang kontroversial tentang persoalan hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara. Dalam riset ini penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research) yang memfokuskam kepada aspek pemikiran, sejarah dari dua tokoh serta tokoh-tokoh lainya yang mempengaruhinya. Maka dalam mengadakan penelitian kepustakaan penyusun melakukan pengumpulan dari buku-buku primer maupun sekunder, yang ada kaitanya dengan seluruh referensi yang mendukung studi penulisan ini. Hamzah Fansuri memiliki pemikiran tentang wahdatul wujud atau wujudiyyah, yaitu: pertama Hakekat Wujud, bahwa wujud itu hanya satu yaitu Allah meskipun wujud itu kelihatan banyak. Kedua Eka dalam Keanekaan, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya meskipun ia bertajalli dalam banyak bentuk. Ketiga Penciptaan Alam, proses penciptaan alam dimulai dari la ta’ayyun, ta’ayyun, tanazzul, dengan melalui lima martabat (fase), dan akan bertaraqqi kepada la ta’ayyun sedanngkan Pemikiran tentang ketuhanan yang dimiliki oleh Syaikh Siti Jenar adalah apa yang masyhur di pulau Jawa dengan sebutan Manunggaling Kawula lan Gusti, yang dalam pemahaman penulis hampir sama dengan ajaran dari paham wahdatul wujud. Dimana Tuhan dan alam adalah satu kesatuan atau Tuhan itu immanen dengan alam (manusia). Kata Kunci: Wahdatul Wujud, Perspektif dari Hamzah Al Fansuri, dan Perspektif dari Syeikh Siti Jennar
Teori Kritis dalam Paradigma Komunikasi Jurgen Habermas Amilatu Sholihah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.4860

Abstract

Abstract: Critical Theory in Jurgen Habermas' Communication Paradigm. This article discusses the thoughts of Jurgen Habermas, especially his thoughts on critical theory in the communication paradigm. This type of research is literature, using a descriptive-analytical qualitative approach, which describes the intellectual history of Jurgen Habermas, the history of the emergence of critical theory in the communication paradigm and Jurgen Habermas's thoughts on critical theory in the communication paradigm. The results of this study indicate that Jurgen Habermas is a second generation philosopher from the Frankfurt school who studies critical theory of communication. His theory started from his predecessor who stated that studying humans is the same as studying nature which is certain and predictable. Even though human nature is dynamic, it cannot be guessed, let alone used as an object. Starting from this condition, Habermas tried to offer his communication theory, so that humans can communicate well when they want to decide something by discussing/communicating. The implications of critical theory of communication in Islamic studies are very helpful for Muslims, especially when someone wants to have a dialectic across cultures, religions and countries. By communicating, it will lead to an attitude of mutual understanding, very high tolerance, not judging each other and not blaming one another. Keywords: Jurgen Habermas, critical theory, communication paradigm. Abstrak: Teori Kritis dalam Paradigma Komunikasi Jurgen Habermas. Artikel ini membahas tentang pemikiran Jurgen Habermas, khususnya pemikirannya tentang teori kritis dalam paradigma komunikasi. Jenis penelitian ini yaitu kepustakaan, dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis, yaitu mendeskripsikan sejarah intelektual Jurgen Habermas, sejarah munculnya teori kritis dalam paradigma komunikasi serta pemikiran Jurgen Habermas tentang teori kritis dalam paradigma komunikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Jurgen Habermas merupakan filosof generasi kedua dari madzhab Frankfrut yang mengkaji tentang teori kritis komunikasi. Teorinya berawal dari pendahulunya yang menyatakan bahwa dalam mempelajari manusia itu sama dengan mempelajari alam yang pasti dan mudah ditebak. Padahal sifat manusia itu dinamis tidak bisa ditebak apalagi dijadikan obyek. Berawal dari kondisi tersebutlah Habermas mencoba menawarkan teori komunikasinya, agar supaya manusia dapat berkomunikasi dengan baik ketika ia ingin memutuskan sesuatu hal denagn cara berdiskusi/berkomunikasi. Implikasi teori kritis komunikasi dalam kajian keislaman ini sangat membantu umat muslim khususnya ketika seseorang ingin berdialektika lintas budaya, agama dan negara. Dengan berkomunikasi maka akan menimbulkan sikap saling memahami, toleran yang sangat tinggi, tidak saling menjudge dan tidak menyalahkan antara satu dengan yang lain. Kata kunci: Jurgen Habermas, teori kritis, paradigma komunikasi.
Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di kota Arga Makmur dalam Perspektif Filsafat Islam Senno Senno
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.4861

Abstract

Abstract: Javanese Mitoni Tradition In Arga Makmur City (Islamic Philosophy Perspective). One of the ritual traditions in Javanese customs that is currently still believed by the Javanese people in Arga Makmur City is the Mitoni ritual. Mitoni is a ceremony performed by mothers who are pregnant with their first child at the age of 7 months. The cycle of life that will be born into the world in Javanese society is used to face the birth stage, where the Mitoni ceremony is considered sacred so that it is still carried out when the baby is still in the womb and at the age of seven months until now. The purpose of this study was to find out about the Javanese Mitoni Tradition in the city of Arga Makmur. The approach used in this research is qualitative research. From the results of research conducted by researchers about the Javanese Mitoni Tradition in Arga Makmur City, North Bengkulu Regency, it can be concluded as follows: Mitoni tradition Mitoni tradition is a tradition that has existed since the ancestors/ancestors first. Mitoni tradition is carried out if someone is pregnant and has reached the age of seven months of pregnancy. Usually this tradition is carried out if the first child enters the age of seven months of pregnancy, the implementation of the mitoni tradition is carried out at the house of someone who has an intention. Islamic Values in the Mitoni Tradition Values of Worship are chanting prayers, namely Tahlil, and reading QS. Yusuf and QS. Maryam with the aim of giving birth to healthy children and becoming pious and pious children. The value of Amaliah is to increase good deeds through charity among others. The value of Ukhuwah Islamiyah is to create a sense of togetherness and a sense of unity, unity in society so that harmony and close friendship between people arise. The value of trust is to believe wholeheartedly that Allah SWT is the only place to worship and ask for all the requests and pleasures that we have received in life. Keywords: Tradition, Mitoni, Islamic Philosofi Abstrak: Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa Di Kota Arga Makmur (Perspektif Filsafat Islam). Salah satu tradisi ritual dalam adat Jawa yang saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa yang ada di Kota Arga Makmur yaitu ritual Mitoni. Mitoni merupakan upacara yang dilakukan oleh ibu yang sedang mengandung anak pertama pada usia kandungan yang memasuki 7 bulan. Siklus kehidupan yang akan lahir kedunia dalam masyarakat Jawa digunakan untuk menghadapi tahap kelahiran, dimana upacara Mitoni dianggap sakral sehingga masih dilakukan saat bayi masih berada dalam kandungan dan pada usia tujuh bulan sampai saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang Tradisi Mitoni MasyarakatJawa di kota Arga Makmur. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti Tentang Tradisi Mitoni Masyarakat Jawa di Kota Arga Makmur Kabupaten Bengkulu Utara dapat disimpulkan sebagai berikut Tradisi mitoni Tradisi mitoni merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak nenek moyang/leluhurter dahulu. Tardisi mitoni dilakukan jika ada seseorang yang sedang mengandung dan sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan. Biasanya tradisi tersebut dilakukan jika anak pertama yang memasuki usia kandungan tujuh bulan, pelaksaan tradisi mitoni dilakukan dirumah seseorang yang mempunyai hajat. Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Mitoni Nilai Ibadah yaitu melantunkan doa-doa yakni Tahlil, dan bacaan QS. Yusuf dan QS. Maryam dengan tujuan anak yang dilahirkan diberi kesehatan dan menjadi anak yang sholeh dan shalehah. Nilai Amaliah yaitu untuk meningkatkan amal yang baik melalui bersedekah antar sesama. Nilai Ukhuwah Islamiyah yaitu dengan mewujudkan rasa kebersamaan dan rasa persatuan, kesatuan dalam masyarakat sehingga timbulnya kerukunan dan erat silaturahmi antar sesama. Nilai Kepercayaan yaitu dengan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT merupakan tempat satu-satunya untuk beribadah dan meminta atas segala permintaan dan kenikmatan yang telah kita peroleh dalam kehidupan. Kata kunci: Tradisi, Mitoni, Filsafat Islam
Moderasi Beragama dalam Bernegara dan Fenomena Ragam Keyakinan dalam Keluarga M. Samsul Ma'arif
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.6929

Abstract

Diversity is an inevitability and a phenomenon that cannot be ignored.  Diversity creates its own challenges, including diversity and differences in beliefs. Religion is a very sensitive belief and often touches the emotional dimension of individuals. When these differences are not managed wisely, they will easily trigger conflict, becoming the root of divisions including state and family relations.  This research was carried out using a qualitative literature study method which aims to describe and analyze how moderate attitudes are needed in national life and the phenomenon of various beliefs in a family. As a result of research, a moderate attitude in responding to diversity is needed. And when a multi-religious family is able to prove that diverse beliefs are not the root of division, then that family deserves to be an example. The right role model for families that are already "colored", not an example and example for young people who are just planning their home lifeKeywords: Phenomenon, Religious moderation, Variety of beliefs
Konsep Sedekah dalam Perspektif Filsafat Dakwah (Studi Kasus Konsep Sedekah Yusuf Mansur) Irwansyah Irwansyah
Manthiq : Jurnal Filsafat Agama dan Pemikiran Islam Vol 8, No 1 (2024): MEI
Publisher : Pascasarjana UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mtq.v8i1.4862

Abstract

Abstract: The Concept of Alms in the Perspective of Da'wah Philosophy (A Case Study of Yusuf Mansur's Alms Concept). Human life that is increasingly complex makes humans have to be able to adapt to existing developments, work together to achieve a happy life in the world and the hereafter. This goal will be easily achieved when humans have a social movement that is in accordance with Islamic religious law. Likewise, in preaching Islam without innovation, a movement will find it difficult to achieve the mission of Islamic teachings. The mission of the teachings of Islam itself is to be a bearer of grace for the whole world. This research is library research, because the objects of study are related to literature. how the concept of alms is carried out by Yusuf Mansur, the researcher concludes that the alms carried out by Yusuf Mansur is the concept of alms in a contemporary way, he invites alms with real reality because it is based on his direct experience which is proven or other people who have direct experience. In addition, Yusuf Mansur's invitation to give alms is based on the basis of the Qur'an, Hadith and scholars' where Yusuf Mansur's alms preaching is in accordance with the context and contemporary da'wah. We can see from Yusuf Mansur's opinion that Yusuf Mansur, that alms is a practice that can get the pleasure of Allah Ta'ala. Yusuf Mansur said that alms are giving something from one person to another with earnest expectations of Allah's pleasure which is carried out spontaneously and voluntarily. That by giving charity can bring God's forgiveness, remove sins, and get God's help. So when we have many sins, we can give charity to remove them. And when we need help from Allah for something, then give charity. While charity can make people continue to do it because they are happy to do it. Practice one! After istiqomah, add it to 2, add it again to 3, continue to practice other sunnahs, then istiqomah. And that alms is one of the keys to open the door for prayer to be granted. So after giving charity, just ask Allah. Keywords: Philosophy of Da'wah, Method of Da'wah, Alms. Abstrak: Konsep Sedekah dalam Perspektif Filsafat Dakwah (Studi Kasus Konsep Sedekah Yusuf Mansur). Kehidupan manusia yang semakin komplek membuat manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada, saling bekerjasama untuk mencapai hidup bahagia dunia dan akhirat. Tujuan itu akan mudah tercapai manakala manusia itu punya suatu gerakan sosial yang sesuai dengan syariat agama Islam. Begitu pula dalam berdakwah Islam tanpa adanya inovasi suatu gerakan akan terasa sulit untuk mencapai misi ajaran Islam. Misi ajaran Islam itu sendiri adalah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam1Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), karena objek-objek kajiannya ialah hal yang berhubungan dengan literaturliteratur kepustakaan. bagaimana konsep sedekah yang dilakukan oleh Yusuf Mansur, maka peneliti berkesimpulan bahwa sedekah yang dilakukan oleh Yusuf Mansur adalah konsep sedekah dengan cara kekinian, ia mengajak sedekah dengan realitas yang nyata karena berdasarkan pada pengalaman ia langsung yang terbukti atau orang lain yang punya pengalaman langsung. Selain itu ajakan Yusuf Mansur bersedekah berdasarkan landasan al-Qur’an, Hadits dan ulama’ yang mana dakwah sedekah Yusuf Mansur sesuai dengan konteks dan dakwah kontemporer.Hal itu kita bisa lihat dari pendapat Yusuf Mansur bahwa Yusuf Mansur, bahwa sedekah merupakan amalan yang bisa mendapatkan ridha Allah Ta’ala.Yusuf Mansur mengatakan bahwa sedekah merupakan pemberian sesuatu dari seseorang terhadap orang lain dengan sungguh-sungguh mengharapkan keridhaan Allah Swt yang dijalankandengan spontan serta sukarela. Bahwa dengan bersedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa, serta mendapatkan pertolongan Allah. Jadi ketika kita banyak dosa dapat dengan cara bersedekah menghapusnya. Dan ketika kita butuh pertolongan kepada Allah akan sesuatu, maka bersedekahlah. Sedangkan sedekah itu bisa membuat orang terus menerus melakukannya karena bahagia melakukannya. Amalakan satu! Setelah istiqomah, tambahkan menjadi 2, tambah lagi jadi 3, terus amalkan sunnah-sunnah yang lain, selanjutnya istiqomahkan. Serta sedekah itu adalah salah satu kunci membuka pintu dikabulkannya do’a. Sehingga setelah bersedekah, tinggal mintanya saja sama Allah. Kata Kunci: Filsafat Dakwah, Metode dakwah, Sedekah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6