cover
Contact Name
Anis Sulalah
Contact Email
lppmstairua@gmail.com
Phone
+6281805111121
Journal Mail Official
stairuahikmah@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Abdul Qohir, Pramian, RT 01 RW 06, Ds. Taman, Kec. Sreseh, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur
Location
Kab. sampang,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Hikmah
ISSN : -     EISSN : 30899060     DOI : 10.64481
Core Subject : Social,
Al-Hikmah is open access peer-reviewed research journal published by Islamic Family Law, Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum Arrahmaniyah (STAIRUA) Sampang, East Java, Indonesia. This journal discusses Islamic law, Islamic Jurisprudence, and social science. This journal warmly welcomes the researchers, lectures, teachers, practitioners, scientists, teachers, and students to publish the result of research and scientific discussions. Al-Hikmah focuses on the issue of Islamic law, Islamic Jurisprudence, and social science concerning of religious studies, philosophy, history, theology, sociology, anthropology, criminology, economics, history, social psychology, political science related to Islamic Law in Asian society. Al-Hikmah regularly publishes articles and research reports twice a year every June and December.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah" : 6 Documents clear
Justice Collaborator pada Pembunuhan Berencana Perspektif Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban Mushaddaq Chalili; Saiful Bahri
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/1tcpgf86

Abstract

Justice collaborator adalah setiap orang yang berperan sebagai pelaku tindak pidana atau diyakini merupakan bagian dari tindak pidana yang dilakukan secara bersama-sama atau kejahatan terorganisir. Akan tetapi bersedia bekerjasama dengan penegak hukum dengan cara memberikan kesaksian dipersidangan mengenai bentuk-bentuk tindak pidana yang berhubungan dengan kejahatan lainnya. Legal opinion dalam penelitian ini adalah konsep justice collaborator dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Hasil penelitian memberikan jawaban bahwa konsep justice collaborator dalam Undang-Undang tersebut terdapat pada Pasal 10 dan 10A dengan memenuhi unsur subjektif (bukan pelaku utama, bukan pemilik rencana, adanya ancaman serius terhadap keselamatan dirinya dan keluarganya baik secara psikis atau fisik). Unsur objektif (berkata jujur, konsisten dalam memberikan kesaksian).
Pola Komunikasi dan Sentimen Warganet Terkait Fatwa MUI Mengharamkan Sound Horeg di Platform YouTube Halimi
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/62s4gj83

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kontroversial terkait fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan penggunaan sound horeg di YouTube, khususnya pada video TVOne berjudul “Dikecam, Sound Horeg Difatwa Haram”. Permasalahan utama penelitian ini adalah belum adanya pemahaman komprehensif mengenai pola komunikasi digital serta karakteristik sentimen warganet Indonesia dalam merespons fatwa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi digital warganet melalui komentar di YouTube serta memetakan distribusi sentimen positif, negatif, dan netral. Metode yang digunakan adalah mixed method dengan pendekatan kualitatif berbasis teori Computer-Mediated Communication (CMC) untuk menelaah bentuk pesan, gaya bahasa, pola interaksi, dan arah komunikasi, serta pendekatan kuantitatif dengan analisis sentimen menggunakan algoritma Naive Bayes. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas komentar warganet bernada positif dan mendukung fatwa, meskipun terdapat kritik minor yang menyoroti relevansi isu. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa ruang digital tidak hanya menjadi media penyebaran fatwa, tetapi juga arena diskursus sosial yang menegosiasikan otoritas keagamaan dalam konteks budaya digital kontemporer.
Epistemologi Isrā’iliyyāt dalam Perbincangan Al-Dakhīl Nugraha Rifqi; Muhammad Agil Atoillah; Muhammad Imrul Qois
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/03pt9g85

Abstract

Penelitian ini mengkaji epistemologi Isrā’iliyyāt dan kapasitas fungsionalnya dalam khazanah tafsir Al-Qur’an. Secara historis, Isrā’iliyyāt, yakni narasi yang bersumber dari tradisi Yahudi dan Nasrani, sering dimanfaatkan oleh mufasir awal karena mampu menyediakan rincian spesifik mengenai tokoh dan tempat kejadian yang minim informasinya dalam riwayat Hadis. Namun, praktik ini menimbulkan kontroversi serius. Seiring perkembangan ilmu tafsir, banyak ulama modern, seperti Muhammad Abduh dan Muhammad Syaltut, mengecam keras penggunaannya, bahkan menilai riwayat ini sebagai penghalang utama bagi umat Islam untuk menangkap petunjuk murni Al-Qur’an. Kekhawatiran ini muncul karena Isrā’iliyyāt berpotensi besar mengandung cerita atau berita yang dibuat-buat (infiltrasi), sehingga mengancam integritas penafsiran.  Mengatasi krisis integritas sumber tersebut, penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode kualitatif deskriptif, berfokus pada identifikasi historis dan klasifikasi narasi Isrā’iliyyāt. Hasilnya, para ulama telah melakukan ijtihad untuk membagi Isrā’iliyyāt menjadi tiga kategori hukum yang tegas: 1) yang diketahui kesahihannya dan sejalan dengan Islam (diterima); 2) yang jelas kebohongannya (wajib ditolak); dan 3) yang didiamkan (Tawqif). Imam Ibn Katsir memberikan panduan epistemologis, di mana riwayat kategori Tawqif boleh diceritakan sebagai pelajaran (‘ibrah), tetapi dilarang keras untuk diimani atau dijadikan landasan keyakinan. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan Isrā’iliyyāt harus melalui filtrasi ketat dan hanya menempati kapasitasnya sebagai pelengkap interpretasi pada ayat-ayat yang membutuhkan detail, bukan sebagai sumber akidah.
Fenomenologi Pernikahan Dini: Antara Fatalisme Teologis atau Kehendak Bebas Roudotul Istihanah
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/em3erw81

Abstract

Menikah adalah hak setiap manusia, namun memilih untuk melakukan pernikahan dini termasuk pendobrakan hak yang dimiliki oleh seorang anak yang belum layak untuk mendapatkan peran berumah tangga. Banyak kasus-kasus pernikahan dini dijadikan sebagai alternatif penyelesaian ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan khususnya yang berkaitan dengan keresahan lingkungan dan pergaulan hingga kepada kondisi anak hamil di luar nikah. Pernikahan dini juga banyak terjadi karena adanya ketidak berdayaan orang tua dalam mengambil keputusan sehingga Tuhan dijadikan tameng untuk membenarkan perbuatan penyelewengan hak pernikahan antara anak dan calon pasangannya. Teori fatalisme teologis mencoba menelisik dari mana sebenarnya akar pernikahan dini, apakah murni dari kehendak Tuhan atau ada intervensi dari keinginan manusia. Dengan menguraikan beberapa indikator sebagai acuan sehingga data yang disusun dapat dianalisis dengan menyesuaikan dengan indikator yang sudah ada.tujuannya adalah tidak hanya untuk validasi semata melainkan sebagai langkah untuk menentukan upaya pencehan yang efektif sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Analisis ini juga mengaitkan dengan hasil penyuluhan sebagai bahan acuan yang ternyata dari pernyataan dan pertanyaan peserta penyuluhan penyebab paling banyak yakni kemauan orang tua, ketidak mampuan orang tua dalam membiayayai pendidikan, sebagai jalan tabarruk terhadap Nabi dan yang terakhir yakni hamil di luar nikah. Demikian tergambar bahwa orang tua menjadi peran krusial dalam pernikahan dini, dan menjadi faktor paling dominan terhadap terjadinya pernikahan tersebut. Kata Kunci: Pernikahan Dini, Fatalisme Teologis, Penyuluhan Pernikahan Dini
Tinjauan Yuridis Pasal 4 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang Wakil Presiden Ditinjau dari Hukum Administrasi Negara Jamali; M. Lutfi El Rozi
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/6dd4hs90

Abstract

Wakil Presiden adalah orang kedua dalam pemerintahan eksekutif namun kewenangannya sangat bergantung pada pelimpahan tugas Presiden serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kewenangan dan pertanggungjawaban Wakil Presiden Indonesia Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Ditinjau Dari Hukum Administrasi Negara. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian normatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kewenangan Wakil Presiden Indonesia secara yuridis belum diatur secara spesipik
Tipologi Islam di Amerika Serikat: Analisis Statis–Dinamis melalui Pendekatan Adonis (al-Tsābit wa al-Mutahawwil) Firmansyah; Anis Humaidi
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/py128p41

Abstract

Artikel ini menganalisis tipologi Islam di Amerika Serikat dengan menggunakan kerangka Adonis tentang al-Thābit wa al-Mutahawwil (yang statis dan yang dinamis) untuk memahami bagaimana komunitas Muslim membangun identitas keagamaan di tengah masyarakat plural dan modern. Pendekatan ini membantu membedakan unsur-unsur ajaran dan tradisi Islam yang dipertahankan secara konsisten (al-thābit) dari elemen-elemen yang mengalami transformasi akibat konteks sosial, politik, dan budaya lokal (al-mutahawwil). Dengan meninjau perkembangan historis Islam di AS, pola organisasi komunitas, serta dinamika ekspresi keagamaan generasi muda Muslim Amerika, artikel ini menunjukkan bahwa tipologi Islam Amerika bergerak antara pelestarian norma universal Islam dan adaptasi kreatif terhadap nilai-nilai demokrasi, kebebasan beragama, serta multikulturalisme. Pendekatan ini menawarkan pemahaman lebih mendalam mengenai bentuk-bentuk keislaman yang berkembang di Amerika, termasuk munculnya Islam progresif, Islam etnis, dan Islam institusional yang mencerminkan dialektika antara tradisi dan perubahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6